Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 83.


__ADS_3

Arhan tiba di kamar menyusul Aina yang kini tengah duduk di sofa. Tatapan yang aneh, bibir yang mengerucut membuat nyali Arhan menciut seketika.


"Mati aku, apa dia benar-benar marah?" batin Arhan sembari mengusap wajahnya berkali-kali.


"Apa liat-liat?" ketus Aina dengan dinginnya, seolah ingin menelan suaminya hidup-hidup.


Arhan menghela nafas berat, duduk di samping Aina adalah pilihan yang tepat untuk meredakan emosi istrinya. Ditambah sedikit pelukan di pinggang Aina.


"Jangan pegang-pegang! Bukan muhrim," ketus Aina sembari mendorong pundak Arhan agar menjauh darinya.


Arhan meneguk ludahnya dengan susah payah. "Bukan muhrim?"


Kalimat itu kembali terlontar di mulut Arhan. Bukan muhrim dari mananya? Udah jelas halal begitu, bahkan ada cebong nya yang tengah tumbuh di dalam sana.


"Sayang, jangan marah gini dong! Abang hanya-"


"Stop! No sayang-sayang, pergi sana!" Aina membuang pandangannya dan beranjak menuju ranjang.


"Sayang," Arhan mengacak rambutnya, bingung harus gimana membujuk istrinya itu.


Aina membaringkan tubuhnya di atas kasur, memunggungi Arhan yang masih terpaku di tempat duduknya.


Enak saja menjitak kepalanya di hadapan sang mertua. Dia pikir Aina gak malu? Lain ceritanya jika melakukan itu di kamar mereka.


"Sayang, Abang minta maaf. Jangan marah lagi ya!" bujuk Arhan sembari melangkah menuju ranjang. Duduk dan mengusap punggung Aina dengan sayang.


"Udah dibilang jangan pegang-pegang! Anda tuli?" bentak Aina sembari menggerakkan bahunya.


"Deg!"


Anda? Sejak kapan Aina selancang ini pada suaminya. Tidak biasanya Aina seperti ini, Arhan tidak kenal lagi dengan sikap istrinya. Kemana Aina yang lembut selama ini?


"Aina, ngomongnya bisa baik-baik gak? Siapa Anda? Abang ini suami Aina," geram Arhan yang mulai tersulut emosi.


"Marahin aja Aina terus! Abang udah berubah, Abang gak sayang lagi sama Aina," Aina mengambil bantal dan menutupi wajahnya hingga sesak.


Arhan mulai kelimpungan dan segera merampas bantal itu dari wajah Aina. Apa istrinya sudah tidak waras? Pikirnya dari dalam hati.


"Cukup sayang! Abang minta maaf kalau Abang salah. Abang sayang Aina, dulu, kini dan seterusnya. Aina jangan marah lagi ya! Kasihan adek bayinya nanti stres, Aina gak sayang sama calon baby kita?"


Aina terdiam menelaah kata-kata Arhan barusan. Mana mungkin dia tidak sayang sama calon anaknya. Cahaya yang akan menyinari hidupnya hingga tua nanti.


"Pergilah, jangan ganggu Aina lagi!" usir Aina, kemudian memperbaiki posisi tidurnya. Otaknya tiba-tiba blang, entah apa yang terjadi dengannya. Apa emosi wanita hamil selalu begitu? Atau dia saja yang mengalaminya.

__ADS_1


"Abang akan pergi, tapi Aina jangan marah lagi ya!" Arhan mengecup kening Aina lalu turun mencium perut istrinya yang sudah semakin membesar.


"Sayang Papa jangan nakal ya! Kasihan Mamanya," gumam Arhan mengajak sang calon baby berbicara.


Setelah Aina tertidur, Arhan kembali mengecup kening istrinya lalu mengesap bibir Aina dengan lembut. Sekilas dia teringat kembali kata-kata Airlangga di bawah tadi. Mungkin benar pengaruh hormon, Arhan pun tidak mempermasalahkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Bahkan bulan pun ikut berganti.


Hari ini tepat 7 bulan usia kandungan Aina. Kebetulan hari ini diadakan syukuran di kediaman Airlangga.


Awalnya Aina ingin mengadakan syukuran di panti asuhan. Namun Arhan menolak dan meminta diadakan di rumah saja. Takut istrinya kelelahan jika kelamaan berada diluar. Berbeda jika diadakan di rumah, Aina bisa beristirahat jika tubuhnya mendadak drop.


Para tamu mulai berdatangan. Tidak banyak, ada sekitar 100 orang anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan yang berbeda. Keluarga dan tetangga sekitar. Semuanya duduk di lantai beralasan karpet permadani, tidak ada yang istimewa ataupun diistimewakan.


Acara berjalan khidmat dan lancar. Setelah mendengarkan ceramah dari ustadz yang diundang, lanjut dengan doa bersama. Setelah itu makan bersama dengan anak-anak kurang beruntung tersebut.


Melihat wajah riang anak-anak yang makan begitu lahapnya, mendadak air mata Aina jatuh begitu saja. Sedih, pilu, nyesek hingga ulu hati mengingat nasibnya yang tidak jauh berbeda dengan mereka.


Di saat masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, mereka malah pergi untuk selamanya. Bertahan dalam pahitnya kenyataan hidup yang harus diterima. Berdiri tegak meski kaki sudah tak kuat menopang penderitaan. Bermandi air mata meraih mimpi yang akhirnya sirna begitu saja.


"Sayang, Aina kenapa?" Arhan menarik Aina ke dalam pelukannya, mengusap air mata yang masih berjatuhan di wajah cantik istrinya.


"Sssttt... Jangan nangis sayang!" Arhan semakin mempererat pelukannya.


"Papa, Mama angis ya?" Aksa ikut mengoceh melihat Aina yang masih setia menumpahkan air matanya.


"Gak kok sayang, Mama gak nangis." Dengan cepat Aina menyeka wajahnya, tidak ingin Aksa kebingungan melihatnya seperti ini.


Memasuki usia 2 tahun, Aksa tumbuh menjadi anak yang periang dan banyak bicara. Keingintahuannya akan sesuatu kadang membuat semua anggota keluarga kelimpungan untuk menjawab pertanyaannya. Kadang harus berhati-hati dalam berbicara ataupun bertindak, memorinya terlalu kuat untuk merekam.


"Aksa abisin nasinya dulu ya! Tuh liat, kakak-kakaknya udah pada selesai makan." seru Nayla yang duduk di samping Aina, dia mengerti perasaan Aina saat ini. Dua kali mengandung tidak satupun keluarganya yang menemani, semua sudah bahagia di sisi Sang Pencipta.


"Nty, Asya au ain ama tatak." pinta Aksa yang ingin bermain dengan kakak-kakaknya.


"Boleh, tapi abisin dulu nasinya. Ini tinggal dua suap lagi." jawab Nayla.


Aksa mengangguk setuju. Setelah Aksa menghabiskan nasinya, Nayla pun membawanya ke halaman samping. Tak lupa mengajak anak-anak panti untuk bermain bersama.


Senang rasanya melihat keceriaan yang tercipta di tengah-tengah mereka. Berbagi kebahagiaan meskipun tak seberapa, setidaknya bisa membuat anak-anak tersebut bahagia untuk sesaat. Melupakan kenyataan hidup yang begitu pahit, namun harus ikhlas menjalaninya.


Sore menjelang senja, tibalah waktunya mereka semua untuk kembali ke panti. Tak lupa Aina dan Arhan memberikan bingkisan dan amplop untuk setiap anak. Memeluk mereka layaknya putra putri sendiri.

__ADS_1


"Dah sayang," Aina melambaikan tangannya saat bus yang disediakan melaju meninggalkan kediamannya. Semua orang ikut melambaikan tangan, tak terkecuali dengan Aksa yang nampak begitu kegirangan setelah bermain dengan kakak-kakaknya.


Setelah kepergian mereka, semua orang berbalik dan melangkah memasuki rumah.


"Ma, Pa, Aina pamit ke kamar dulu ya. Gerah banget rasanya, Aina juga mau langsung istirahat." ucap Aina meminta izin pada mertuanya.


"Iya sayang, pergilah! Mama tau kamu lelah," sahut Leona sembari mengusap kepala Aina.


"Aksa ikut Mama ya, mandi terus bobo." ajak Aina.


"Dak au, Asya bobo ma anty aja." tolak Aksa sembari memeluk kaki Nayla dengan erat.


"Jangan sayang! Aunty bobonya sama Om Hendru, gak muat kasurnya." jelas Aina.


"Dak au," Lagi-lagi Aksa menolak dengan kerasnya.


"Gak papa kok, biar Aksa tidur sama kami aja!" timpal Hendru.


"Gak papa, gak papa. Kalau Aksa tidur sama kalian terus, kapan Aksa punya adek dari kalian?" seru Arhan.


"Hahaha..." Gelak tawa bergemuruh di ruangan tersebut.


"Pa, kita ke kamar aja yuk! Gak enak dengerin pembicaraan anak muda," ajak Leona.


"Anak muda? Terus menurut Mama Papa ini sudah tua?" geram Airlangga.


"Kenapa marah? Bukankah kenyataannya begitu?" seloroh Leona.


"Enak saja, ayo Papa buktikan!" Airlangga menarik tangan Leona menuju kamar mereka.


"Pa, bikin adek yang banyak untuk Arhan ya!" teriak Arhan menertawakan kedua orang tuanya itu.


Seketika, gelak tawa kembali bergemuruh memecah keheningan malam.


"Gak nyangka ternyata Papa begitu, pantesan anaknya juga begitu." seloroh Aina, lalu melenggang begitu saja menuju anak tangga.


"Aina, jangan mulai!" geram Arhan sembari menyusul istrinya.


Nayla dan Hendru hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.


"Kita ke kamar juga ya!" Hendru mengecup kening Nayla dengan sayang.


"Huup, Aksa gendong sama Om ya."

__ADS_1


Setelah menggendong Aksa, Hendru pun menggenggam tangan Nayla dan membawanya ke kamar mereka. Tidak masalah meski ada Aksa sekalipun, bocah kecil itu sudah dianggapnya seperti putra sendiri. Kakak laki-laki yang akan menjaga anaknya kelak.


__ADS_2