Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 139.


__ADS_3

Setelah meyakinkan Aksa, Baron menyerahkan preman itu kepada anak buahnya lalu membawa Aksa dan Kevin ke rumahnya.


Aksa disuruh membersihkan diri begitupun dengan Kevin. Baron kemudian membuka pintu lemari dan meminjamkan bajunya kepada kedua remaja itu. Setelah itu Baron membuatkan teh untuk mereka berdua dan memesan makanan secara online.


Sembari menunggu makanan yang dia pesan tiba, Baron segera menghubungi Arhan dan menceritakan kejadian tersebut secara rinci. Arhan yang mendengar itu tentu saja tidak langsung percaya, tidak mungkin putra sulungnya senekat itu pikirnya.


Satu jam kemudian Arhan tiba di kediaman Baron bersama Hendru. Keduanya mendapati Baron, Aksa dan Kevin tengah menyantap makanannya. Bahkan wajah Aksa terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Arhan dan Hendru duduk di hadapan mereka, Arhan sengaja menahan diri untuk tidak bertanya terlebih dahulu sampai mereka bertiga menyelesaikan makannya.


Setengah jam berlalu barulah Arhan membuka suara dan bertanya tentang kebenaran berita tersebut. "Apa yang sudah kamu lakukan? Ceritakan pada Papa!"


Mata Arhan memerah menanyakan itu, dia tidak habis pikir kenapa putranya yang baru berumur belasan tahun bisa bertindak sekejam itu. Darah apa yang mengalir di tubuh Aksa sehingga membuatnya kehilangan kendali tanpa rasa iba sedikitpun.


Aksa menatap Arhan tanpa ekspresi seakan tak bersalah sama sekali. "Aku hanya membela diri, Pa. Preman itu yang duluan menyerang kami dan menusuk temanku. Mana mungkin aku diam saja melihatnya?"


Arhan mengusap wajahnya berkali-kali, berat sekali rasanya menghela nafas setelah mendengar pengakuan Aksa barusan. "Apa membela diri harus dengan cara membunuh orang? Tidak bisakah kamu melumpuhkannya saja? Ini tindak kriminal Aksa, kamu bisa dipenjara."


"Biar saja aku dipenjara, aku tidak takut."


"Aksa... Ini bukan perihal takut atau tidak takut. Ini menyangkut masa depan kamu, Nak. Bagaimana kalau tindakanmu itu terekam CCTV, atau kalau ada orang yang merekamnya bagaimana? Pikirkan dampak dari perbuatan mu itu, apa kamu tidak kasihan sama Mama? Mama pasti syok mendengar ini." terang Arhan.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan kasih tau Mama, cukup kita aja yang tau!" jawab Aksa enteng. Dia juga tidak ingin Aina mengetahuinya, dia khawatir Aina tidak bisa menerima kenyataan ini.


Sementara Aksa masih asik berdebat dengan Arhan, Baron menerima telepon dari Tobi. Pria itu mengatakan kalau Rido baik-baik saja, setelah ditangani dokter dia mulai siuman dan menanyakan keadaan Aksa. Tentu saja hal itu membuat Baron merasa lega. Kini yang menjadi kekhawatirannya adalah Aksa. Baron sendiri sedikit sangsi mengingat kejadian itu terjadi di depan umum.


Lalu Baron menyalakan televisi, dia ingin melihat apakah kejadian itu masuk berita atau tidak. Baron memang sudah mengutus anak buahnya untuk menghapus jejak digital yang terekam pada CCTV, tapi semua itu belum cukup membuatnya lega. Bagaimana kalau ada yang mengungkap kejadian itu kepada polisi dan juga menunjukkan bukti-bukti yang akan menjerat Aksa nantinya.


Setengah jam berlalu, yang ditakutkan Baron akhirnya kejadian juga. Mereka semua bisa menyaksikan dengan jelas breaking news yang diputar di layar televisi. Polisi sudah mendapatkan informasi dan tengah melacak kejadian itu. Beruntung tidak ada bukti yang menyeret nama Aksa, tapi hal itu belum cukup membuat Aksa aman.


Seorang saksi menjelaskan bahwa terjadi kegaduhan hingga membuat seorang remaja tergeletak bersimbah darah, dia juga menjelaskan kalau seorang remaja telah menikam seorang preman hingga meregang nyawa. Namun saat polisi sampai di lokasi, mereka tidak menemukan bukti apa-apa. Semua sudah dibersihkan dengan sangat rapi, bahkan CCTV saat kejadian juga sudah hilang tanpa jejak.


Tentu saja kepolisian meyakini kalau kejadian itu sudah disabotase oleh seseorang yang memiliki kekuatan tinggi. Sayangnya tidak ada bukti sama sekali, polisi tentu saja kesulitan dalam bertindak.


Segera Baron menghubungi Tobi dan memintanya untuk membawa Rido ke tempat yang aman. Jika Rido tetap dirawat di sana, tentunya polisi akan sangat mudah menemukan mereka dan mengungkap kejadian sebenarnya. Tobi mengangguk dan langsung membawa Rido keluar dari rumah sakit tersebut.


"Aksa, kamu sayang sama Papa kan?" tanya Arhan.


"Sayang lah Pa, kenapa masih bertanya?" jawab Aksa.


"Kamu juga sayang sama Mama dan adik-adik kamu kan?" imbuh Arhan.


"Tentu saja sayang, pertanyaan Papa membagongkan tau." ketus Aksa.

__ADS_1


"Kalau begitu kali ini kamu harus nurut sama Papa!" sambung Arhan.


"Tergantung, kalau bisa nurut Aksa pasti nurut." jawab Aksa dingin.


"Kamu akan Papa kirim ke tempat Opa dan Oma di Korea, lanjutkan sekolah kamu di sana. Papa tidak ingin kamu masuk penjara, setidaknya sampai kasus ini dihentikan oleh pihak kepolisian." jelas Arhan.


"Gak mau, Aksa gak mau dikirim ke sana. Aksa gak mau ninggalin Mama," ucap Aksa menolak keputusan sepihak papanya itu.


"Aksa, Ayah tau kamu sayang sama Mama Aina. Tapi untuk saat ini sebaiknya kamu nurut sama Papa. Semua ini demi kebaikan kamu dan Mama. Kalau kasus ini terungkap, kamu tau apa yang akan terjadi sama Mama? Mama tidak hanya bisa syok, tapi juga bisa jantungan Nak." timpal Hendru ikut bicara. Hendru sendiri tidak mau putra kesayangannya itu dipenjara gara-gara kasus ini.


"Tapi Yah-"


"Aksa, tolong kali ini saja dengarkan kami! Kami semua sayang sama kamu, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu Nak. Masa depan kamu masih panjang, kamu lah harapan Papa. Nantinya kamu akan menjadi pewaris keluarga Airlangga, kamu yang akan meneruskan bisnis Opa dan Papa, kamu juga yang akan menjadi pelindung untuk keluarga kita. Tapi sebelum waktunya tiba, kamu harus pergi dari sini. Lanjutkan sekolah kamu di sana!" tegas Arhan penuh penekanan.


Aksa menilik wajah Arhan untuk beberapa saat, kemudian beralih menatap Hendru lalu memutar lehernya ke arah Baron. Mereka bertiga mengangguk untuk meyakinkan Aksa, begitupun dengan Kevin yang merupakan sahabat terbaik Aksa dan Rido.


"Aksa, aku sangat setuju dengan saran Om Arhan dan semuanya. Aku juga akan melanjutkan sekolahku di luar negeri, aku gak mau terlibat kasus ini. Aku gak ingin mengecewakan kedua orang tuaku." sambung Kevin.


"Lalu bagaimana dengan Rido? Dia tidak memiliki siapa-siapa di sini." balas Aksa.


"Rido akan menjadi tanggung jawab Papa. Setelah dia sembuh, Papa akan mengatur kepindahannya ke luar kota. Papa juga akan membiayai sekolahnya sampai lulus kuliah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia! Beberapa tahun yang akan datang, kalian pasti bertemu lagi. Papa tau kalian saling menyayangi, ikatan persahabatan kalian tidak akan terputus. Papa jamin itu," jelas Arhan.

__ADS_1


Aksa memutar manik matanya, rasanya sudah tidak ada lagi alasan buat menolak permintaan sang papa. Demi kebaikan semua orang, Aksa pun bersedia meninggalkan ibukota.


__ADS_2