
Usai mengisi perut, semuanya berlalu meninggalkan meja. Arhan sengaja membawa Nayla dan Hendru ke kamarnya, dia berencana mengajak keduanya mengunjungi air terjun yang tak jauh dari tempat itu.
Arhan dan Aina duduk berdampingan, ada Aksa juga di pangkuan Arhan. Sementara Nayla dan Hendru duduk di sofa yang ada di seberangnya, keduanya duduk dari ujung ke ujung seperti anjuran pemerintah saat covid melanda negeri ini.
"Aku dengar di sini ada Air Terjun Mata Jitu, katanya tempat itu sangat indah. Mendiang Putri Diana saja pernah ke sana."
"Aku dan Aina juga ingin mengunjungi tempat itu, tapi katanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di sana. Kalian mau ikut gak?" tanya Arhan menyampaikan niatnya, siapa tau Nayla dan Hendru tidak ingin ikut dengan mereka.
"Aku ikut," jawab Nayla dengan spontan, dia juga ingin menikmati keindahan yang ada di sana.
"Kau bagaimana Hendru?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
"Terserah, aku ikut saja kemanapun kalian pergi." jawab Hendru dengan datarnya, tak ada ekspresi sedikitpun di wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah! Bawa saja pakaian ganti, siapa tau kalian ingin mandi di sana! Sebelum gelap kita sudah harus kembali ke sini!" jelas Arhan dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.
Nayla bangkit dari duduknya tanpa sepatah katapun, dia berjalan meninggalkan semua orang.
Sesampainya di depan pintu kamar, Nayla menoleh ke belakang, siapa tau ada Hendru yang mengikutinya seperti tadi malam. Untungnya batang hidung pria itu tak nampak di matanya.
Dengan wajah sedikit datar, Nayla memasuki kamar, kemudian mengambil pakaian ganti untuk dibawa ke tempat tujuannya.
Tidak lama, Hendru juga keluar dari kamar Arhan, dia sengaja membiarkan Nayla menghilang lebih dulu. Dia masih kesal dengan gadis itu dan ingin menjaga jarak dengannya.
Pukul 10 pagi, semua sudah keluar dari kamar. Dua orang petugas ikut menemani mereka mencapai air terjun yang ingin mereka kunjungi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, tibalah mereka di tempat itu. Tempat yang sangat indah, gemercik air sayup-sayup terdengar dalam kesunyian alam. Air Terjun Mata Jitu yang keindahannya bisa memukau siapa saja yang datang ke sana.
Pemandangannya sangat asri, lengkap dengan pepohonan nan menghijau. Membuat Air Terjun Mata Jitu menjadi primadona di Pulau itu.
Air terjun yang telah menjadi bagian cagar alam Indonesia ini, konon telah terbentuk jutaan tahun yang lalu. Perpaduan air terjun yang berwarna hijau tua dan muda seakan menghipnotis wisatawan untuk menceburkan diri dan bermain di dalam air itu.
__ADS_1
Aina berdecak kagum, matanya terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga. Tak disangka tempat itu sangat bagus dan indah. Tidak salah dia memilih tempat itu untuk berlibur.
"Bang, apa Aina tidak salah lihat? Tempat ini indah sekali," ucap Aina, matanya tak berkedip sekalipun.
"Hahahaha, matanya biasa aja sayang. Ini memang indah, tapi istri Abang lebih indah dari ini." sanjung Arhan, dia terkekeh dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apaan sih Bang? Kebiasaan deh, gak di rumah, gak dimana, gombal mulu." ketus Aina dengan bibir sedikit manyun.
"Loh, kok ngambek sih sayang? Aina maunya gimana, mau lihat Abang godain wanita lain?" canda Arhan sembari tersenyum kecil.
"Coba aja kalau berani! Bersiap-siap aja Aina sunat untuk kedua kalinya!" ancam Aina dengan tatapan membunuhnya.
"Jangan dong sayang, nanti rasanya gak enak lagi buat Aina! Bukankah ukurannya udah pas?" goda Arhan dengan ucapan mesumnya, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Abang...," Aina menggertakkan giginya kuat, tatapan matanya nampak begitu tajam.
"Hehehe, iya, iya, Abang diam!" Arhan pun tertawa geli melihat ekspresi wajah istrinya.
Di pondok, Nayla masih tertegun menikmati pemandangan indah itu. Dia mengeluarkan ponsel, lalu mengabadikan momen tersebut. Nayla juga mengambil gambar keluarga kecil Aina yang tengah berendam di dalam air.
"Nayla, Hendru, kemari lah!" panggil Aina yang tengah asik bermain air bersama Arhan dan putranya.
"Iya, tunggu sebentar!" sahut Nayla.
Aksa nampak kegirangan mengobok-obok permukaan air, tawanya terdengar begitu lucu. Membuat beberapa orang yang ada di pemandian itu gemas.
Setelah puas mengambil potret dirinya dan pemandangan indah di sana, Nayla menyimpan ponselnya di dalam tas. Kemudian menyusul Aina, dia bahkan tak menghiraukan Hendru yang masih duduk di dekat pondok.
Dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya, Nayla pun mendekat. Namun dia tak berani masuk karena gadis itu tidak bisa berenang. Dia takut tenggelam dan terbawa arus air.
"Nayla, kenapa di pinggir aja? Ayo sini!" ajak Aina sembari melambaikan tangan kanannya.
__ADS_1
"Aku di sini aja Aina, aku takut." sahut Nayla, dia duduk di pinggir dengan kaki terjuntai ke dalam air.
"Loh, kok takut sih? Ini dangkal kok, kamu tidak akan tenggelam!" jelas Aina, kemudian menghampiri Nayla dan menarik kakinya hingga tercebur ke dalam air.
"Ahh, Aina, apa yang kamu lakukan?" teriak Nayla histeris. Dia benar-benar takut, lalu memeluk Aina dengan erat.
"Hahaha, tidak apa-apa Nayla. Turunkan saja kakimu!" ucap Aina.
"Tapi Aina...,"
"Tidak apa-apa, coba aja dulu! Aku akan memegang mu," Aina memegang lengan Nayla saat gadis itu berusaha menapakkan kakinya di dasar air.
Setelah berhasil berdiri dengan kakinya sendiri, Nayla pun mulai leluasa bergerak di dalam sana, ketakutannya pun hilang seketika.
"Hendru, ngapain di sana sendirian? Bergabunglah bersama kami!" teriak Arhan, dia bingung memikirkan cara untuk mendekatkan kedua insan yang masih bermusuhan itu.
"Iya, iya, aku ke sana." sahut Hendru, kemudian melangkahkan kakinya menghampiri semua orang.
Setelah Hendru masuk ke dalam air, Arhan pun menarik tangan Aina. Keduanya sengaja menjarak, memberi ruang untuk kedua insan itu berdekatan.
Arhan menyibukkan diri dengan istri dan putranya. Sementara Nayla mulai canggung berhadapan dengan Hendru. Dia berusaha menjauh, namun saat melangkahkan kakinya, dia tiba-tiba tergelincir.
Karena tak mampu menyeimbangi bobot tubuhnya, Nayla pun tersungkur tepat di hadapan Hendru. Tubuhnya membentur Hendru hingga keduanya tenggelam ke dasar air.
Nayla yang sejatinya belum bisa berenang, dengan cepat memeluk Hendru karena takut tubuhnya terseret air.
Saat Hendru berhasil bangkit, dia tertegun melihat Nayla yang tengah bergelayut di tubuhnya. Deru nafasnya terdengar memburu karena tak bisa mencuri nafas saat tenggelam tadi.
"Nayla, apa yang kamu lakukan?" tanya Hendru dengan tatapan tak biasa, gadis itu memeluknya erat hingga Hendru kesulitan mencuri nafas.
Mendengar itu, Nayla bergegas membuka matanya. Dia tergugu melihat tubuhnya ada di dalam dekapan Hendru.
Nayla membuka matanya lebar dan segera melepaskan pelukannya. "Ma, maaf, aku tidak sengaja." ucap Nayla sembari menekuk wajahnya, dia benar-benar malu akan hal itu, kemudian menjauhi Hendru dan keluar dari dalam air.
__ADS_1
Aina dan Arhan yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil, mereka berdua sengaja berpura-pura tidak melihat itu.