Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 140.


__ADS_3

Malam hari, mereka semua kembali ke kediaman Airlangga. Aksa bersama Arhan dan Hendru berada dalam satu mobil, sementara Baron ada di dalam mobil lainnya bersama Kevin. Sebelum pulang, Baron mengantarkan remaja itu ke rumahnya terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, mereka langsung disambut oleh Aina yang sengaja menunggu di teras. Keterlambatan mereka pulang menjadi pertanyaan tersendiri di benak Aina. Sejak sore tadi hatinya merasa tidak tenang memikirkan Aksa yang tak kunjung pulang, padahal Baron dan Tobi sudah menjemputnya sejak beberapa jam yang lalu.


"Aksa, kok kamu bisa pulang bareng Papa? Bukankah yang jemput kamu tadi Om Baron sama Om Tobi?" tanya Aina sambil menautkan alisnya.


"Mobil Kak Baron tadi rusak di jalan Ma, kebetulan Papa lewat jadi Aksa numpang sama Papa aja." jawab Aksa berbohong, dia tidak mau Aina mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Aina menilik mata Aksa untuk mencari kebenaran, lalu memutar pandangannya ke arah Arhan dengan ekspresi yang sama.


"Yang dikatakan Aksa itu benar sayang," imbuh Arhan membenarkan ucapan Aksa. Aina pun mengangguk percaya.


"Aksa, kamu masuklah! Mandi dulu, nanti Papa tunggu di bawah!" seru Arhan.


"Iya Pa. Ma, Aksa mandi dulu ya." Setelah pamit, Aksa langsung melenggang memasuki rumah. Hendru pun menyusul masuk dan meninggalkan Arhan dan Aina berdua saja.


Seperti biasa Aina menyalami dan mencium punggung tangan Arhan, lalu Arhan pun memeluknya dan mencium kening istrinya itu.


"Kok pulangnya telat sih Bang?" tanya Aina dengan manja dan memeluk lengan Arhan. Keduanya melangkah memasuki rumah.


"Tadi ada meeting mendadak di luar kantor, makanya Abang telat. Pas pulangnya ketemu mobil Baron yang lagi parkir di pinggir jalan." jawab Arhan santai untuk meyakinkan Aina.


"Hmm..." Aina manggut-manggut mempercayai ucapan Arhan. Selama ini suaminya itu memang tidak pernah membohongi dirinya hingga tak ada kecurigaan sama sekali.


Arhan mengusap rambut Aina sambil tersenyum kecil. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain selain berbohong.

__ADS_1


"Dimana anak-anak?" tanya Arhan mengalihkan pembicaraan. Ruang keluarga terlihat kosong sehingga pertanyaan itu muncul di benaknya.


"Ada di kamar mereka, tadi lagi belajar. Sekarang gak tau deh," jawab Aina.


"Ya udah, Aina lihat mereka dulu gih. Kalau mereka udah selesai belajar, suruh turun ke bawah. Ada yang ingin Abang sampaikan kepada mereka semua. Sekarang Abang mandi dulu, gerah soalnya." titah Arhan sambil tersenyum kecil.


Aina mengangguk pelan dan mengikuti Arhan memasuki lift. Sesampainya di atas, Aina masuk ke kamar anak-anak sedangkan Arhan langsung masuk ke kamarnya.


Di kamar, Arhan mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ada perasaan berdosa berkecamuk di hatinya, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan saat ini? Jika Aina tau kejadian sebenarnya, Arhan sangsi Aina tidak akan sanggup menerimanya. Segera Arhan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menghilangkan perasaan bersalahnya.


Di kamar lain, Aina langsung menyampaikan pesan Arhan kepada Avika, Aryan dan Inara yang baru saja selesai belajar.


Saat ini Avika sudah duduk di bangku kelas 1 SMP, sedangkan Inara sudah duduk di bangku kelas 6 SD dan Aryan kelas 5 SD. Besok Inara akan menghadapi ujian akhir sekolah, sedangkan Avika dan Aryan masih menunggu beberapa hari lagi untuk melangsungkan ujian kenaikan kelas.


Mereka bertiga juga sudah memiliki kamar sendiri-sendiri mengikuti jejak kakak tertua mereka yang tak lain adalah Aksa. Namun siapa sangka sebentar lagi mereka akan berpisah dengan kakak tertua mereka itu.


Saat hendak memasuki lift, kebetulan Arhan juga keluar dari kamarnya dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Anak-anak berhamburan memeluknya dan bergelayut di tubuh pria jangkung itu.


Terpaksa Arhan berjalan seperti robot hingga membuat Aina tertawa terpingkal-pingkal.


"Udah ya, capek Papa. Kalian udah pada besar tapi masih aja seperti anak kecil. Lama-lama Papa bisa kurus ulah kalian bertiga." keluh Arhan dengan nafas tersengal.


"Cemen banget sih Pa, gitu aja udah ngeluh." ledek Aryan, lalu menjulurkan lidahnya.


"Iya, badan aja yang besar tapi tenaga Papa lemah." ejek Avika dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Papa kalah jauh dari Ayah, Ayah aja kuat gendong kami bertiga." imbuh Inara membanggakan sang ayah yang tak lain adalah Hendru.


Mendengar itu, air muka Arhan tiba-tiba berubah gelap. Bisa-bisanya ketiga bocah itu meremehkan dirinya bahkan membandingkannya dengan Hendru. Jika tidak memikirkan bahwa mereka itu adalah anak-anaknya, mungkin sudah dia ulek ketiganya untuk dijadikan sambal.


Sesampainya di ruang makan, mereka semua duduk di bangku masing-masing menunggu Aksa dan yang lainnya.


Sementara di atas sana Aksa baru saja keluar dari kamar dan berpapasan dengan Hendru juga Nayla.


Nayla yang sudah mengetahui kejadian itu langsung memeluk Aksa dengan erat. Bening kristal di sudut matanya mengalir begitu saja karena tak rela melepaskan Aksa untuk melanjutkan sekolahnya di Korea.


"Kenapa Aksa melakukan itu, Nak?" Nayla menangkupkan kedua tangannya di pipi Aksa. "Sekarang bagaimana? Bunda gak bisa jauh dari Aksa." lirih Nayla pilu.


"Bunda jangan sedih, Aksa baik-baik aja kok. Aksa akan kembali setelah studi Aksa selesai. Sampai saat itu tiba, Bunda harus janji akan selalu jagain Mama. Jangan sampai Mama tau tentang ini!" ucap Aksa dengan mata berkaca.


Dia juga sedih harus meninggalkan rumah dan keluarga yang sangat dia sayangi, tapi apa boleh buat. Keputusan sudah diambil, Aksa harus ikhlas menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri.


Kalau boleh memilih, sebenarnya Aksa lebih memilih mendekam di dalam penjara dari pada harus pergi ke Korea. Dengan begitu dia tidak perlu meninggalkan ibukota. Dia masih bisa bertemu keluarganya saat mereka datang membesuknya.


Tapi semua keputusan ada di tangan sang papa. Arhan pasti sudah mempertimbangkan ini semua dengan sangat matang. Dia tidak ingin nama baik keluarga Airlangga tercoreng gara-gara kasus itu.


Meski Arhan sendiri tau bahwa kesalahan tidak sepenuhnya tertuju pada Aksa, tapi tindakan Aksa tetap saja salah karena sudah menghilangkan nyawa seseorang.


Arhan tidak membela Aksa dan tidak juga menyalahkannya. Mungkin sudah jalannya seperti itu. Sebagai seorang pria, Arhan sangat bangga karena Aksa mampu membela diri dan menjaga sahabatnya. Arhan hanya menyesali tindakan main hakim sendiri yang dilakukan putra sulungnya itu.


Visual Aksa Remaja 👇

__ADS_1



__ADS_2