
Usai mandi dan mengenakan pakaian santai, Arhan meminta petugas resort menyiapkan makan malam di outdoor sesuai keinginan istrinya. Aina ingin mengisi perut sembari menikmati suasana pulau nan begitu indah pada malam hari.
Setelah mengambil tempat duduk, Arhan memangku Aksa di pahanya, kemudian menghubungi Hendru. Sementara Aina menghubungi Nayla untuk bergabung bersama mereka.
Dari kamar yang bersebelahan, Hendru keluar dari pintu. Saat berjalan menuju meja, langkahnya terhenti ketika melihat Nayla keluar dari kamarnya. Hendru sengaja menunggu gadis itu agar bisa berbarengan. Namun ternyata Nayla malah menghindarinya dan berjalan menggunakan langkah seribu.
"Nayla, tunggu!" teriak Hendru sembari berlari kecil, lalu berusaha keras menghadang langkah Nayla.
Mata Nayla menyala menatap Hendru yang sudah berdiri di hadapannya. "Menyingkir lah Tuan Hendru, aku mau lewat!" ketus Nayla kesal, lalu berusaha menerobos tubuh Hendru.
"Nayla, jangan kekanak-kanakan gini dong! Kalau aku salah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu, aku hanya ingin menjagamu, tidak lebih!" jelas Hendru meluruskan kesalahpahaman diantara mereka, kemudian menggenggam pergelangan tangan Nayla dengan erat.
"Aku tidak butuh penjelasan mu, tolong lepaskan aku!" ketus Nayla dengan tatapan mematikan, lalu berusaha keras menarik tangannya.
"Tidak akan. Selama kamu belum bisa memaafkan aku, maka biarkan saja seperti ini!" gertak Hendru dengan tatapan tak kalah mematikan.
"Apa kamu sudah gila? Cepat lepaskan aku! Aina sedang menungguku untuk makan malam." bentak Nayla yang mulai tersulut emosi, wajahnya memerah menahan kekesalannya.
"Emangnya aku pikirin, biarkan saja Aina dan Arhan menikmati makan malam mereka berdua! Dan kita akan kelaparan hingga besok pagi di sini." ucap Hendru sembari mengulum senyumannya, dia senang melihat kemarahan Nayla, menurutnya wajah gadis itu sangat menggemaskan.
"Dasar gila! Apa begini caramu memperlakukan wanita?" umpat Nayla, kemudian memukul lengan Hendru berulang kali.
"Hahaha, kurang kencang Nayla. Tidak ada rasanya," ucap Hendru terkekeh.
"Oh, jadi kamu menantang ku. Baiklah, jangan panggil namaku Nayla jika aku tidak bisa membuatmu merengek minta ampun!" ketus Nayla sembari menggertakkan giginya kuat.
Nayla mendekati Hendru dengan tatapan yang tak biasa, hal itu membuat Hendru menjadi salah tingkah. Seulas senyum terpahat indah di wajahnya saat merasakan hembusan nafas Nayla yang hangat.
Entah apa yang Hendru pikirkan, jantungnya berdegup kencang melihat wajah Nayla yang semakin dekat dengan bibirnya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Nayla sembari tersenyum kecil.
"Nayla, apa kamu yakin?" tanya Hendru balik, dia berpikir kalau Nayla akan menciumnya di tempat itu.
"Tentu saja yakin, bahkan sangat yakin." sahut Nayla dengan suara lembutnya, hal itu membuat bulu kuduk Hendru meremang. Dadanya berdenyut ngilu saking gugupnya berdekatan dengan Nayla.
Melihat Hendru yang sudah terbawa suasana, Nayla dengan cepat menempelkan bibirnya di pundak Hendru, kemudian menggigitnya sekuat tenaga. Sontak saja Hendru merintih menahan perih, benar-benar perih hingga membuat cairan bening itu mengalir dari sudut matanya.
"Aduh, sakit Nayla." rintih Hendru hingga genggaman tangannya terlepas.
__ADS_1
"Sukurin, emang enak?" ledek Nayla, kemudian berlari meninggalkan Hendru sendirian.
Hendru terpaku di tempatnya berdiri, kemudian mengusap pundaknya yang masih menyisakan rasa perih. Seketika, senyuman di wajahnya mengambang mengingat kelakuan Nayla yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Gadis nakal, tunggu saja pembalasanku!" gumam Hendru sembari mengacak rambutnya sendiri.
Setibanya di meja makan, Nayla bergegas duduk di samping Aina. Seulas senyum terukir indah di wajahnya, membuat Aina bingung hingga menautkan sepasang alisnya.
"Hei, ada apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Aina penasaran.
"Tidak ada apa-apa, barusan ketemu orang gila di ujung sana." jawab Nayla dengan santainya.
"Orang gila? Kok bisa?" tanya Aina dengan mata terbuka lebar, mana mungkin ada orang gila di tempat seperti itu.
"Entahlah, mungkin orang gilanya pengen liburan juga." sahut Nayla sembari tersenyum kecil.
"Mana mungkin ada orang gila di sini, apa kamu mengigau?" sambung Arhan yang juga kebingungan mendengar ucapan Nayla.
"Ada ta...,"
Belum sempat Nayla berucap, Hendru sudah muncul diantara mereka. Nayla pun mengalihkan pandangannya, kemudian menyibukkan diri dengan Aksa.
"Aksa sayang, Aksa sama Aunty aja yuk!" ajak Nayla, kemudian mengambil Aksa dari pangkuan Arhan.
"Siapa yang gila Hendru?" tanya Arhan, dia tak sengaja mendengar umpatan Hendru barusan.
"Tidak ada, Tuan salah dengar mungkin." elak Hendru dengan wajah sedikit gugup.
"Aneh, kenapa banyak sekali orang gila di sini?" tanya Aina sembari mematut wajah Nayla, kemudian berpindah menatap wajah Hendru.
"Hahaha, sudah sayang, tidak usah dipikirkan! Toh orang gilanya ada di sini semua," celetuk Arhan terkekeh.
"Apa maksud Abang? Dimana orang gilanya?" tanya Aina dengan kening sedikit mengkerut.
"Hahaha. Ya sudahlah, nanti saja kita bahas! Lebih baik kita makan dulu, Abang sudah lapar!" ucap Arhan mengalihkan pembicaraan, dia sudah tak sanggup melawan cacing yang sedang berdemo di dalam perutnya.
Berhubung makan malam sudah tersaji di atas meja, Aina pun mengisi piring Arhan dengan makanan secukupnya, kemudian mengisi piringnya. Disusul Hendru dan Nayla setelahnya.
Arhan dan Aina nampak fokus menikmati makanannya, sementara Nayla asik menyuapkan Aksa sembari sesekali menyantap makanannya. Hendru hanya bisa tersenyum melihat Nayla yang begitu telaten mengurus Aksa.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Arhan yang tak sengaja menangkap ekspresi wajah Hendru.
__ADS_1
"Ti, tidak, siapa yang senyum-senyum sendiri? Tuan tidak lihat aku lagi makan," bantah Hendru dengan wajah sedikit memerah.
"Oh, begitu ya. Aku pikir kau lagi tidur dan sedang bermimpi indah." canda Arhan, dia tau pasti kalau Hendru sedang memperhatikan Nayla.
"Sudahlah Tuan, makan saja! Keselek baru tau rasa," ucap Hendru, kemudian melanjutkan makannya dengan lahap.
Sekitar satu jam berlalu, mereka semua meninggalkan meja makan. Karena cuaca malam tak bagus untuk Aksa, Arhan memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Sementara Nayla dan Hendru juga kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Saat Nayla hendak menutup pintu, tiba-tiba Hendru datang dan menahan pintu tersebut dengan kakinya. Nayla membuka matanya lebar, dia berusaha keras menutup pintu itu sekuat tenaga, namun kekuatannya tak sebanding dengan Hendru.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Pergilah, jangan menggangguku!" bentak Nayla dengan lantang.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" jawab Hendru dengan santainya.
"Jangan gila Tuan Hendru! Kalau ada yang lihat bagaimana?" ketus Nayla dengan tatapan membunuhnya.
"Biarkan saja! Aku tidak peduli," sahut Hendru dengan seulas senyum di wajahnya.
"Astaga, bagaimana cara bicara dengan orang sepertimu? Apa otakmu terbuat dari batu?" geram Nayla yang sudah kehilangan akal menghadapi Hendru.
"Kalau begitu biarkan aku masuk! Tidak lama kok, 15 menit saja." pinta Hendru sembari mengacungkan 10 jarinya.
"Dasar bodoh! Itu 10 bukan 15," umpat Nayla sembari mengulum senyumannya.
"Ya sudah, kalau begitu 10 menit saja." ucap Hendru, kemudian terkekeh dengan sendirinya.
"Jangankan 10 menit, 1 detik saja aku tidak mau. Pergilah!" tolak Nayla sembari melotot tajam.
"Nayla, please! Kenapa susah sekali membuatmu mengerti?" keluh Hendru dengan wajah memelas.
"Percuma memohon padaku, aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
Nayla menginjak kaki Hendru dan menekannya dengan kuat, hal itu membuat Hendru merintih menahan sakit, lalu dengan cepat menarik kakinya.
"Emang enak?" ledek Nayla, kemudian mendorong pintu hingga tertutup rapat dan bergegas menguncinya.
"Dasar wanita psikopat! Harus berapa kali aku tersiksa karena ulah mu hah?" teriak Hendru merutuki perlakuan Nayla yang selalu saja menyakiti raganya.
"Rasain, siapa suruh menggangguku terus?" sahut Nayla dari dalam sana.
__ADS_1
"Ok. Mulai detik ini, aku tidak akan mengganggumu lagi! Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!" teriak Hendru, kemudian meninggalkan tempat itu dengan wajah merah padam.