Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 133.


__ADS_3

Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Arhan dan Aina turun menuju ruang makan. Keduanya sarapan bersama sebelum Arhan berangkat ke kantor, ada Nayla dan Hendru juga yang ikut sarapan bersama mereka.


Usai sarapan, Arhan dan Hendru meninggalkan rumah. Tak lupa keduanya mengecup kening istri masing-masing sebelum masuk ke dalam mobil.


Setelah kepergian kedua pria itu, Aina kembali menyibukkan diri dengan urusan rumah. Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga dari tiga anak yang memiliki karakter berbeda, terlebih putra sulungnya yang selalu bertingkah semaunya sendiri. Sok cool sehingga merasa bahwa dirinya sudah dewasa sebelum waktunya.


Sejak menginjak usia sekolah dasar, Aksa yang dulunya cerewet mendadak berubah menjadi anak yang kaku dan pendiam. Jarang bicara dan lebih suka menyendiri dengan kesibukannya sendiri.


Semua itu berawal dari cerita Baron yang mengatakan bahwa Aina adalah wanita hebat dan kuat. Baron juga menceritakan bahwa Aina pernah hampir kehilangan nyawanya saat mengandung Avika, berlanjut saat Aina baru saja mengandung Aryan.


Kenapa Baron sampai menceritakan itu kepada Aksa yang kala itu baru berumur enam tahun?


Saat itu Aksa bertengkar hebat dengan Avika dan dia marah besar pada Aina yang lebih membela adik perempuannya itu. Padahal jelas sekali waktu itu kesalahan berawal dari Avika.


Sebab itulah Baron menjelaskan itu semua pada Aksa, Avika lahir dalam keadaan prematur sehingga gadis kecil itu harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.


Oleh sebab itu, Avika tidak boleh stres apalagi mengalami tekanan mental. Waktu itu saja dia sempat mengalami kejang-kejang setelah pertengkaran hebat dengan sang kakak.


Aksa yang mendengar itu tiba-tiba menjadi murka dan marah. Dia menyesal karena sudah membuat adik perempuannya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Dia juga menyesal karena sudah menyalahkan Aina karena terlalu memanjakan Avika.


Setelah Aksa mengetahui keadaan Avika yang sebenarnya, dia tidak pernah lagi mengganggu adik perempuannya itu meski terkadang Avika lah yang lebih dulu mengganggunya.


Dari situlah Aksa mulai berubah, dia lebih banyak diam dan seakan tak peduli dengan siapapun di rumah itu. Padahal dalam hatinya dia sangat menyayangi Aina dan kedua adiknya, namun dengan cara yang berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang hari Baron sudah standby di depan gerbang TK menunggu Inara dan Aryan keluar. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, kini giliran Aksa dan Avika yang keluar dari gerbang sekolah mereka.


Sebenarnya Inara dan Aryan pulang lebih awal dari Aksa dan Avika. Kelas TK keluar pukul sebelas siang, Arhan sengaja memasukkan keduanya les tambahan sehingga pulangnya jadi jam satu siang. Berbarengan dengan Aksa dan Avika yang juga keluar di jam yang sama. Hal itu tentunya mempermudah Baron karena tidak perlu bolak-balik mengantar jemput keempat tikus kecil itu.


Seperti biasa, Aksa duduk di depan sementara ketiga adiknya duduk di bangku penumpang. Setelah semuanya duduk dengan rapi, Baron pun melajukan mobilnya menuju arah pulang.

__ADS_1


Tidak ada percakapan di dalam mobil itu, ketiga tikus kecil yang duduk di belakang sana sudah tertidur saking lelahnya. Sementara Aksa sendiri masih setia dalam mode diamnya.


Setengah jam berlalu, mobil mewah itu berhenti tepat di halaman rumah. Menyadari mobil yang sudah berhenti melaju, ketiga tikus kecil itupun terbangun dan melompat turun setelah Baron membukakan pintu.


"Mama, Bunda, kami pulang." pekik Avika, Aryan dan Inara berjamaah.


Aina dan Nayla yang tengah duduk di teras rumah pun langsung bangkit dari duduk mereka, lalu merentangkan tangan menyambut pelukan hangat ketiga tikus kecil itu.


"Ma, tadi Avika dapat nilai seratus." ucap Avika kegirangan, dia melepaskan tasnya dan mengeluarkan buku tulis kemudian memperagakan nilainya pada Aina dan Nayla.


"Wow, princess Mama memang pintar. Pertahankan ya Nak, jangan sampai nilainya merosot!" jawab Aina, lalu memeluk Avika dan mengecup pipi gembul putrinya itu.


"Anak Bunda memang pintar." timpal Nayla yang ikut bangga melihat prestasi Avika, lalu memeluknya dan mengecup pipi Avika seperti yang dilakukan Aina barusan.


"Aryan juga pintar loh Ma, ini lihat!" Aryan tentunya tak mau kalah dengan sang kakak dan memperlihatkan hasil gambarnya kepada kedua wanita itu.


Sesaat Aina dan Nayla saling menatap dengan kening mengkerut beberapa lapis. Keduanya malah ingin tertawa melihat hasil gambar Aryan yang sangat lucu menurut mereka. Niat hati ingin menggambar seekor sapi, tapi malah sapinya terlihat seperti bebek dengan moncong panjangnya yang lancip.


"Iya, gambar Aryan bagus banget. Dapat inspirasi dari mana sih Nak?" seloroh Nayla menahan tawanya.


"Gak tau, tiba-tiba aja kepikiran." jawab Aryan dengan polosnya, lalu menyimpan gambarnya lagi ke dalam tas.


Aina dan Nayla kemudian menatap Inara yang tengah terpaku dalam mode diamnya.


"Inara kok diam aja sih Nak? Ada tugas apa di sekolah tadi?" tanya Aina sembari menarik tangan Inara dan memangku nya.


"Sama seperti Aryan Ma, menggambar juga." jawab Inara lesu.


Nayla mendekati Inara dan membelai rambut ikal putrinya itu. "Coba Bunda lihat, Inara bikin gambar apa?"


Inara melepaskan tasnya dan mengeluarkan secarik kertas dengan gambar beberapa orang yang saling bergandengan tangan. Di sana tertulis nama masing-masing dari mereka, tapi dari gambar tersebut ada satu anak yang berada agak jauh dari mereka.

__ADS_1


Anak itu tersisih sendirian, tidak ada satupun yang menggenggam tangannya. Siapa lagi kalau bukan Aksa si bocah kecil sok cool dan sok ganteng itu.


"Kak Aksa nya kenapa terpisah sendirian Nak?" tanya Nayla mencari tau.


"Kan memang seperti itu Bunda. Kata Bu Guru bikin gambar keluarga sehari-hari, Kak Aksa kan gak pernah ngumpul sama kita. Lalu-"


"Bagus, Mama Ina suka. Inara emang berbakat dalam menggambar." Aina mengedipkan matanya ke arah Nayla memberi isyarat agar Nayla tidak usah banyak bertanya.


"Ya udah, sekarang kalian semua masuk dan ganti baju. Jangan lupa cuci tangan, lalu turun lagi untuk makan!" seru Aina.


Dalam hitungan detik, ketiga tikus kecil itu pun berhamburan memasuki rumah. Jangan ditanya lagi perihal makan memakan, mereka lah juaranya. Nayla pun menyusul masuk menyiapkan makanan untuk ketiganya.


Aksa yang baru saja turun langsung menghampiri Aina yang masih menunggunya.


"Siang Ma," sapa Aksa dengan kedua tangan yang berada dalam saku celananya.


"Siang sayang, bagaimana sekolahnya?" tanya Aina ingin tau.


"Seperti biasa Ma, Aksa masuk dulu ya."


Dengan cool nya Aksa melanjutkan langkahnya memasuki rumah, Aina yang melihat itu hanya bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya menilik dinginnya kulkas es batu itu.


"Hahahaha... Tuan muda dingin," seloroh Baron yang tiba-tiba muncul di belakang Aina.


Aina berbalik dan menilik Baron dengan intens. "Siapa Tuan muda?"


"Siapa lagi kalau bukan putramu yang satu itu? Dia meminta satpam sekolah memanggilnya dengan sebutan Tuan muda. Benar-benar membagongkan,"


Tawa Baron seketika pecah mengatakan itu, kemudian dia berlalu meninggalkan Aina yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Aina sungguh tak mengerti jalan pikiran Aksa yang makin ke sini makin membuatnya bingung. Apa dia seorang ibu yang buruk sehingga tak bisa memahami keanehan putranya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2