
Siang hari, Arhan membantu Aina memompa ASI untuk persediaan Aksa nanti. Melihat bola kenyal milik istrinya yang bulat berisi, mata Arhan membola. Dia menelan ludahnya kasar, pemandangan itu membuat tenggorokannya terasa kering.
"Apa yang Abang lihat? Hayo, pasti mikir jorok kan?" ledek Aina sembari tersenyum kecil, raut wajah mesum Arhan nampak jelas di matanya.
"Kenapa emangnya kalau mikir jorok? Istri Abang sendiri kok, apa salahnya?" sahut Arhan dengan santainya.
"Tuh kan benar, dasar otak mesum!" cela Aina sembari tersenyum sinis.
"Terserah Aina saja! Mau bilang Abang mesum kek, otak kotor kek, Abang tidak peduli! Kenyataannya semua ini milik Abang, terserah Abang mau ngapain!" tegas Arhan.
"Milik Abang? Bleeeek, milik Abang tuh ada di tubuh Abang sendiri. Jangan ngaku-ngaku!" bantah Aina, lalu mencibir suaminya.
"Sudahlah sayang, pusing Abang! Jadi pergi gak? Kalau gak, kita main di kamar saja!" ajak Arhan, kemudian mengusap wajahnya kasar. Lama-lama melihat dada Aina yang terbuka membuatnya berkeinginan untuk menjajal tubuh istrinya.
"Jadi dong, tunggu sebentar! Satu kantong lagi kok," jawab Aina.
"Kelamaan sayang, keburu rudal Abang bangun nih." goda Arhan sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau bangun, tinggalin aja di rumah! Gitu aja repot," canda Aina, lalu terkekeh dengan sendirinya.
"Tinggalin? Aina pikir apaan, main tinggalin aja." ketus Arhan.
"Ya, siapa tau aja bisa dibongkar pasang." Aina kembali terkekeh.
"Astaga sayang, udah pintar godain Abang sekarang ya. Untung saja Abang udah rapi begini. Jika tidak, habis Aina Abang telan!" geram Arhan.
"Hahahaha," Tawa keduanya menggelegar memenuhi seisi kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai memompa ASI Aina, keduanya turun menuju lantai bawah. Arhan menaruh ASI tersebut di dalam freezer, kemudian keduanya melenggang ke kamar mama Leona.
Di dalam sana, Leona dan Airlangga tengah asik bermain dengan cucu mereka di kasur. Setelah pintu terbuka, Arhan dan Aina mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Ma, Pa, Arhan nitip Aksa ya! Kami mau keluar sebentar." ucap Arhan, lalu mengambil Aksa dan menggendongnya sebentar.
"Kalian mau kemana?" tanya Leona sembari menautkan alisnya. Keduanya nampak rapi, sangat serasi.
"Gak tau Ma, Abang nih. Katanya mau jalan, kayak ABG saja!" sahut Aina memojokkan suaminya.
"Loh, kok jadi nyalahin Abang? Bukannya Aina juga mau jalan sama Abang?" sambung Arhan, lalu memasang muka kesal terhadap istrinya.
"Ya sudah, pergi saja! Kenapa harus diributkan? Papa sama Mama bisa kok jagain Aksa!" tambah Airlangga.
__ADS_1
Aina mengambil Aksa dari tangan Arhan, kemudian mencium pipi putranya dengan sayang. "Mama pergi dulu ya Nak, Aksa jangan rewel ya! Kasian Oma sama Opa,"
"Rewel juga gak apa-apa kok Nak, kapan lagi merepotkan Oma sama Opa? Biar mereka ngerasain lagi gimana rasanya punya baby!" tambah Arhan, lalu terkekeh sembari menatap Leona dan Airlangga bergantian.
"Ya sudah, sini Aksa nya! Kalian pergilah, nanti keburu sore!"
Leona mengambil Aksa dan menaruhnya di atas kasur. Setelah menyalami dan mencium punggung tangan kedua mertuanya, Arhan dan Aina berlalu meninggalkan kamar itu.
Kini keduanya sudah duduk di dalam mobil, Arhan melajukan mobilnya menyusuri jalanan ibukota.
"Aina mau kemana sayang?" tanya Arhan meminta pendapat istrinya.
"Terserah Abang saja!" jawab Aina sembari menoleh ke arah suaminya.
"Kok terserah sih, kasih masukan dong!" balas Arhan, lalu menggenggam tangan kanan Aina dengan sebelah tangannya.
"Aina tidak tau Bang, kan Abang yang ngajakin Aina keluar?" sahut Aina sembari menautkan alisnya.
Arhan menghela nafas berat, dia pikir Aina punya pemikiran tersendiri mau jalan kemana. Tapi ternyata Aina juga bingung harus kemana.
"Aina mau nonton gak?" tanya Arhan yang masih fokus dengan stir mobilnya.
"Hahaha, memangnya kenapa? Aina kan masih bisa dikategorikan ABG, sayang sedikit dapat suami yang sudah tua seperti Abang." Arhan pun terkekeh mengakui kebenarannya.
Ya, usia antara Aina dan Arhan memang terpaut cukup jauh. Aina baru berusia 21 tahun, sementara Arhan sudah berusia 31 tahun. Untung saja wajah Arhan tidak mengikuti usianya, jadi masih bisa mengimbangi wajah imut istrinya.
"Hahahaha, syukurlah kalau Abang sadar." Aina pun ikut terkekeh mendengar celetuk suaminya.
Tidak lama, Arhan memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah gedung. Gedung bioskop yang sudah cukup tua, namun masih menjadi andalan para muda mudi hingga saat ini.
"Abang serius mau nonton?" tanya Aina memastikan.
"Serius sayang, Abang pengen ngerasain bagaimana rasanya berpacaran kayak anak muda jaman sekarang." jawab Arhan sembari mematikan mesin mobilnya.
"Hah, sudah setua ini gak pernah ngerasain pacaran?" Aina membulatkan matanya.
"Sssttt, matanya biasa aja sayang! Kesannya kok kayak ngeledek gitu sih?" keluh Arhan dengan tatapan tak biasa.
"Gak ngeledek kok Bang, Aina gak nyangka aja. Punya banyak wanita tapi gak pernah pacaran, kedengarannya sedikit aneh." Seulas senyum terukir indah di wajah Aina.
"Maka dari itu, Abang pengen kita memulainya dari awal. Anggap saja kita berdua ABG yang baru pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta!" pinta Arhan, kemudian membalas senyuman Aina.
__ADS_1
"Hahahaha, ada-ada saja Abang nih. Ingat, kita sudah punya Aksa! Abang gak malu sama putranya?" ucap Aina.
"Kenapa musti malu? Bukankah cinta gak memandang usia?" jawab Arhan.
"Benar juga sih. Ayolah, turun! Aina juga belum pernah nonton di bioskop sebelumnya."
Sesampainya di lobby, Arhan membeli dua tiket. Kemudian membeli cemilan dan minuman untuk menemani kebersamaan mereka.
Layaknya muda mudi yang tengah kasmaran, Arhan menempel terus dengan istrinya. Sudah seperti perangko saja.
Di dalam sana, keduanya duduk di bangku tengah. Kebetulan hari ini bioskop itu memutar film luar. Film bergenre percintaan dan pengkhianatan yang menguras emosi. Semua orang mulai serius menatap layar yang terpampang di hadapan mereka.
Aina menggenggam tangan suaminya dengan erat, kemudian merebahkan kepalanya di lengan Arhan. Emosinya seakan terbawa melihat penderitaan pemeran wanita. Tanpa sadar, air matanya ikut menetes membasahi lengan Arhan.
"Kenapa sayang?" tanya Arhan yang menyadari kegalauan istrinya.
"Tidak apa-apa, Aina sedih saja melihat kelakuan pria itu. Bagaimana kalau Aina berada di posisi wanita itu, Aina tidak akan sanggup." lirih Aina.
"Sssttt, Aina ngomong apa sih? Ini hanya film, jangan dimasukin hati!" ucap Arhan.
"Tapi kebanyakan film itu diambil dari kisah nyata kan Bang? Pasti wanita itu sangat menderita." lirih Aina.
"Hahahaha, Aina kebanyakan mikir sih. Jadinya parno gitu." ucap Arhan, kemudian mengusap kepala Aina dengan sayang.
"Abang benar, Aina takut Abang seperti itu. Aina takut dikhianati, Aina takut disakiti, Aina juga takut ditinggalkan." jelas Aina, kemudian memeluk Arhan dengan erat.
"Apa itu artinya Aina sudah menerima Abang sepenuhnya?" tanya Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aina mengangguk kecil, kemudian mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Arhan dengan lembut. Pelukannya semakin erat menekan tubuh Arhan.
"Aina mencintai Abang. Abang janji ya tidak akan pernah ninggalin Aina. Hanya Abang dan Aksa yang Aina miliki saat ini."
Mendengar itu, mata Arhan berbinar menahan butiran bening yang menumpuk di kelopak matanya. Dadanya berdesir dengan jantung berdegup kencang.
"Abang juga cinta sama Aina. Abang janji tidak akan pernah ninggalin Aina. Aina adalah nafas Abang, mana mungkin Abang sanggup kehilangan Aina."
Arhan bergeser dari duduknya, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Aina. Dia mengecup bibir ranum istrinya penuh cinta, lalu membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.
"Terima kasih sudah mau mencintai Abang. Abang tidak akan pernah menyia-nyiakan Aina." Arhan mengecup pucuk kepala Aina dengan lembut.
"Aina memang bukan yang pertama di hati Abang, tapi Aina lah yang terakhir. Tidak akan ada wanita lain selain Aina. Percaya sama Abang, hanya Aina satu satunya!"
Sampai film berakhir, keduanya tetap setia dengan posisi itu. Bahkan saat menikmati cemilan pun, keduanya enggan beringsut dari posisinya.
__ADS_1