
Pukul 10 pagi menjelang siang, Dokter Kemal masuk ke ruangan Aina dan meminta semua orang meninggalkan ruangan. Hanya Arhan yang boleh menetap menemani Aina melakukan pemeriksaan.
Di luar sana, Airlangga dan Hendru tengah berpamitan kepada Leona dan Nayla. Keduanya harus ke kantor menyelesaikan pekerjaan.
Setelah kedua pria tampan itu menghilang, Nayla duduk di kursi tunggu sembari memangku Aksa, Leona pun ikut duduk di sebelahnya.
"Nayla, apa tanggapan kamu tentang pembahasan kita tadi?" tanya Leona penasaran.
"Kenapa membahas itu lagi sih Ma?" sahut Nayla dengan pertanyaan pula.
"Gak apa-apa Nak, Mama penasaran aja. Hendru itu pria yang baik, dia sudah lama ikut Mama dan tinggal di rumah. Mama yakin dia bisa membahagiakan kamu." jelas Leona.
"Semua tergantung Hendru Ma," jawab Nayla.
"Jadi kamu bersedia?" tanya Leona memastikan.
"Terserah Mama aja!" sahut Nayla.
Leona nampak begitu bahagia, garis senyum tipis terukir jelas di wajahnya. Meski Nayla dan Hendru bukan darah dagingnya, tapi dia sudah menganggap keduanya seperti anak sendiri.
Punya satu anak membuat Leona merasa kesepian, apalagi sebelum ini Arhan jarang sekali tinggal di rumah.
Saat Arhan masih resmi menjadi suami Tasya, dia lebih sering tinggal di apartemen sebab Tasya tak suka rumah tangganya mendapat campur tangan dari orang lain, termasuk mertuanya.
Dan saat bercerai pun, Arhan jarang sekali pulang ke rumah. Kalau tidak di apartemen, dia pasti menginap di hotel bersama para gadis bayarannya.
Namun semenjak kejadian malam itu, Arhan mulai sering pulang ke rumah. Dan hal itu berlanjut hingga detik ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruangan, Arhan begitu setia mendampingi Aina yang tengah diperiksa oleh dokter. Berharap Aina dan calon baby nya sehat dan bisa pulang ke rumah mereka.
"Bagaimana Dok? Istri dan anak saya sehat kan? Apa ada kendala?" tanya Arhan dengan berbagai macam pertanyaan, ada perasaan was-was di hatinya mengingat usia kandungan Aina yang masih seumur jagung.
__ADS_1
Dokter Kemal tersenyum, "Untuk saat ini semuanya baik, istri dan anak Bapak sangat sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"
Arhan menghela nafas lega, "Apa itu artinya istri saya sudah boleh pulang, Dok?"
"Boleh, tapi harus tetap mengikuti instruksi dari saya! Kalau begitu saya pamit dulu, satu jam lagi saya tunggu di ruangan!"
"Baik Dok, terima kasih."
Setelah berjabat tangan, Dokter Kemal berlalu meninggalkan ruangan. Arhan kembali duduk di sisi ranjang dan mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Sayang Papa yang sehat ya di dalam perut Mama," Arhan menempelkan telinganya di perut Aina, lalu mengecupnya penuh cinta. Aina hanya bisa tersenyum melihat kelakuan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berkonsultasi dengan Dokter Kemal di ruangannya, Arhan keluar membawa secarik kertas yang ada di genggamannya.
Kali ini Arhan dengan senang hati mengurus segala sesuatunya sendirian, dia ingin merasakan nikmatnya menjadi ayah untuk calon buah hatinya yang kedua. Menebus waktu yang terbuang sia-sia saat Aina mengandung Aksa dulu.
Di waktu yang bersamaan, Leona nampak sibuk membereskan barang-barang Aina dan merapikan penampilan menantunya. Dia terkesan layaknya ibu kandung yang mengurus putrinya sendiri.
Leona mengecup pucuk kepala Aina, "Tidak perlu berterima kasih! Mama yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai harganya untuk keluarga kita."
Seketika, mata Aina berbinar menahan air mata yang sudah menumpuk di kelopak matanya. Tidak pernah terbersit di pikirannya memiliki keluarga utuh seperti saat ini.
Setengah jam berlalu, Arhan datang membawa kantong plastik yang berisikan obat-obatan dan vitamin sesuai resep yang diberikan Dokter Kemal tadi.
"Bagaimana sayang, sudah siap untuk pulang?" tanya Arhan sembari menekuk kakinya di sisi ranjang, senyum kebahagiaan terukir jelas di wajah tampannya.
"Sudah Bang," sahut Aina sembari tersenyum kecil.
Arhan membantu Aina bangkit dari duduknya, kemudian memapah tubuh ringkih Aina menuju pintu. Leona menyusul dari belakang menenteng tas kecil dan kantong plastik tadi. Nayla pun menyusul sembari menggendong Aksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pukul 1 siang, mobil yang dikendarai Arhan sudah tiba di halaman rumah. Setelah semua turun, Arhan membopong tubuh Aina memasuki rumah.
"Kenapa harus digendong sih Bang? Aina bisa jalan sendiri kok," keluh Aina sembari menekuk wajahnya, dia merasa malu dihadapan Leona dan Nayla.
"Sssttt, jangan banyak bicara! Mulai hari ini, ikuti aja kemauan Abang!" sahut Arhan, kemudian mengecup pucuk kepala Aina.
Sesampainya di ruang keluarga, Leona dan Nayla menekuk kakinya di sofa. Sementara Arhan melanjutkan langkahnya menuju anak tangga.
"Ma, Arhan titip Aksa dulu ya!" seru Arhan, kemudian melanjutkan langkahnya.
Setibanya di kamar, Arhan membaringkan Aina di atas kasur, lalu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Aina.
"Aina istirahat dulu ya, gak boleh banyak gerak apalagi banyak pikiran! Aina ngerti kan?" ujar Arhan mengingatkan istrinya.
"Iya Bang, Aina ngerti kok." sahut Aina.
"Nah, gitu dong. Itu baru istri Abang, harus nurut kalau dibilangin!" Arhan tersenyum sumringah, lalu menarik hidung Aina gemas.
Setelah Aina memejamkan mata, Arhan mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang, lalu melangkah menuju pintu.
Di bawah sana, Leona tengah menikmati makan siang bersama Nayla dan Aksa. Arhan melanjutkan langkahnya menuju dapur, kemudian memanggil Inda dan memintanya menyiapkan makanan untuk Aina.
Sebelum Inda selesai menyiapkan makanan, Arhan ikut bergabung bersama Leona dan Nayla. Dia pun mengisi perutnya dengan sedikit makanan, dia juga mengambil Aksa dari tempat duduknya.
"Maafin Papa dan Mama ya Nak, kami tidak bermaksud mengabaikan Aksa. Kondisi Mama masih lemah, ada adek Aksa di perut Mama. Sebentar lagi Aksa punya teman main," ucap Arhan sembari merengkuh tubuh mungil putranya, ada perasaan bersalah di hatinya saat melihat wajah polos Aksa.
"Jangan ngomong gitu Arhan, Aksa belum ngerti apa-apa. Lagian Aksa gak pernah rewel kok, kan ada Mama sama Nayla." sahut Leona.
"Makasih ya Ma, Nayla. Kalian sangat membantu sekali, Arhan khawatir memikirkan keadaan Aina. Tubuhnya masih rentan, Arhan takut terjadi sesuatu pada Aina dan calon anak kami." jelas Arhan dengan wajah gusar.
"Mama mengerti, kamu fokus aja sama Aina. Aksa biar menjadi tanggung jawab Mama,"
Usai makan siang, Arhan memberikan Aksa pada Leona. Jagoan kecil itu nampak mengantuk, bahkan kepalanya sudah terkulai di lengan Leona.
__ADS_1
"Mama ke kamar dulu ya, biar Aksa istirahat di kamar Mama aja!" Leona berlalu meninggalkan meja makan, sementara Nayla nampak sibuk mengemasi piring kotor dan membawanya ke dapur.
Setelah Inda memberikan nampan ke tangan Arhan, dia pun ikut berlalu meninggalkan ruang makan. Sudah waktunya Aina makan dan minum obat.