Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 129.


__ADS_3

Arhan mendorong pintu dan mendapati Aina yang tengah mengomel sembari membersihkan kamar yang sudah berantakan ulah dua tikus kecil tadi. Sebelum keduanya turun, mereka membuat kamar itu tak ubahnya seperti kapal pecah.


Arhan menghirup udara sebanyak-banyaknya, bersiap mendengarkan omelan Aina yang sebentar lagi akan menghancurkan gendang telinganya. Hal seperti ini sudah biasa terjadi sejak Aksa menginjak bangku Sekolah Dasar. Arhan sendiri sudah tak heran lagi dengan ini.


"Apa lagi yang dilakukan bocah tengik itu?" tanya Arhan sembari melangkah menuju ranjang. Arhan berusaha santai, siapa tau bisa meredam kemarahan Aina.


"Apa lagi apa lagi, makanya jangan sibuk kerja terus. Itu anak udah kelewatan banget nakalnya, pasti nurunin kelakuan bapaknya." omel Aina dengan air muka menggelap.


Arhan mengerutkan keningnya. Tidak salah lagi, ujung-ujungnya pasti dia sendiri yang jadi sasarannya. Mau marah pun gak mungkin, mana berani Arhan membantah ucapan istrinya.


Setelah mengecap asam garam selama delapan tahun pernikahan, Arhan sudah tak pernah lagi memperdebatkan sikap Aina. Mau marah, mau ngomel, mau banting barang-barang, masa bodoh, yang penting istrinya senang dan nyaman.


Arhan menekuk kakinya di sisi ranjang. "Sini, duduk dulu!" ucap Arhan sembari menepuk pahanya. Bermaksud menyuruh Aina duduk di pangkuannya.


"Gak mau, ajarin dulu putra kesayangan Abang itu! Kalau begini terus, bentar lagi Aina pasti terkena stroke." ketus Aina dengan mata berkaca.


"Jangan gitu ngomongnya! Mau gimana pun Aksa itu putra kita. Mungkin dia sedang menyesuaikan diri,"


Arhan meraih tangan Aina dan membawa istrinya itu duduk di pangkuannya. "Aina dengar Abang ya! Aksa itu baru delapan tahun sayang, Aina gak bisa menghadapi dia dengan emosi. Yang ada dia malah semakin bandel,"


Aina memajukan bibirnya beberapa senti. "Aina udah capek ngomong lembut sama dia, tapi gak pernah di dengar sedikitpun. Abang tau apa yang dia lakukan pada Inara tadi?"


Arhan menggelengkan kepalanya. "Gak tau,"

__ADS_1


"Hasil gambar yang udah susah payah dibikin sama Inara dirobek sama dia. Yang paling parah, dia mengejek Inara dan bilang Inara itu bukan adiknya. Emang dasar gak tau terima kasih, dia gak sadar siapa yang udah bantu merawat dia dari bayi?" gerutu Aina.


Seulas senyum terurai di bibir Arhan, dia sangat mengerti maksud ucapan istrinya itu. "Ya udah, nanti Abang akan bicara sama dia. Aina jangan marah lagi ya, gak baik!"


"Gimana gak marah kalau modelnya begitu. Sama persis kayak bapaknya,"


Aina bangkit dari duduknya. Saat hendak melangkah, Arhan kembali menarik tangannya hingga menghantam tubuh Arhan. Keduanya terbaring di atas kasur dengan posisi Aina yang berada di atas menindih tubuh suaminya.


"Apaan sih Bang? Main tarik-tarik aja," ketus Aina, kemudian mencoba bangkit dari posisinya.


"Hehehe... Abisnya nyerocos terus dari tadi. Mumpung udah begini kita main dulu yuk, obat lelah." Arhan menyunggingkan senyum nakalnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Main main, gak capek tiap malam main terus. Aneh deh, makin tua makin genit." keluh Aina dengan tatapan datarnya.


"Itu lah yang namanya tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Emangnya Aina mau punya suami yang gak bergairah lagi sama Aina?" seloroh Arhan.


"Makanya nikmati masa-masa seperti ini. Anak-anak udah mulai dewasa, gak ada lagi yang bakalan ganggu kita."


Langsung saja Arhan menarik tengkuk Aina dan mengesap bibir ranum istrinya itu dengan lembut. Dia paling tidak bisa menahan diri kalau sudah melihat lekukan pinggul istrinya yang begitu aduhai.


Meski sudah jadi ibu dari tiga anak sekalipun, tubuh Aina masih tetap sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah, malahan Aina nampak semakin cantik saja di usianya yang hampir menyentuh kepala tiga.


Di paviliun, Baron masih duduk bersama Aksa. Dia sudah mencoba menasehati tikus kecil itu, tapi Aksa sepertinya masih kekeh dengan pendiriannya. Baron sendiri sedikit kewalahan menghadapi sikap keras kepala putra sahabatnya itu.

__ADS_1


Lalu Inda datang dengan perutnya yang mulai membuncit. Pernikahan Inda dan Baron memang sudah berjalan selama lima tahun tapi baru di tahun ini Inda diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak. Bagi Baron hal itu bukanlah masalah, ada atau tidaknya anak cintanya pada Inda tidak akan pernah luntur.


Inda duduk di tengah-tengah keduanya dan mengusap kepala Aksa dengan sayang. Inda sendiri sangat menyayangi tikus kecil itu karena dia juga turut serta mengasuh Aksa sejak dari bayi.


"Aksa, kamu sekarang udah besar kan? Kamu pasti bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Belajarlah bersikap baik kepada semua orang yang ada di rumah ini. Mereka semua keluarga kamu termasuk Inara, dia itu adik kamu juga." Inda menjeda ucapannya dan membawa Aksa ke dalam dekapannya.


"Inara itu anaknya Bunda Nayla sama Ayah Hendru. Dan kamu itu putra kesayangan mereka berdua. Sebelum Inara lahir, kamu lah yang selalu jadi kebanggaan mereka. Kamu lebih sering tidur bersama mereka daripada sama Mama Papa. Papa Arhan kadang iri liat kamu yang sangat menyayangi Ayah Hendru." Inda menghela nafas sejenak.


"Ayah Hendru sama Bunda Nayla pernah marahin kamu gak? Gak kan? Itu tandanya mereka masih sayang sama kamu, bagi mereka kamu adalah putra pertama yang nantinya akan menjaga Inara kalau mereka udah gak ada. Apa kamu tega membiarkan Inara sendirian tanpa keluarga? Gak kan?"


Aksa mengangkat kepalanya dan menatap Inda dengan lekat. "Tapi aku gak suka sama Inara, dia itu cengeng."


Inda menyunggingkan senyumannya hingga menampakkan barisan giginya yang rapi. "Namanya juga anak perempuan. Avika sendiri juga cengeng kan. Tapi kenapa kamu gak benci sama Avika?"


"Beda lah, Avika kan adik aku." jawab Aksa dengan enteng.


"Inara juga adik kamu, bedanya kalian lahir dari orang tua yang berbeda. Tapi kasih sayang mereka itu tidak ada yang berbeda. Mama sama Papa sayang sama kalian berempat, Ayah dan Bunda juga sayang sama kalian semua. Makanya Aksa harus belajar menyayangi Inara!"


"Aksa pikir-pikir dulu ya, sekarang Aksa mau ke dalam dulu. Udah waktunya mandi, ntar diomelin Mama lagi." Aksa beranjak dari pelukan Inda dan berjalan menuju rumah besar.


Aksa yang merasa dirinya sudah besar memang selalu berucap layaknya orang dewasa. Aina kadang hampir dibuat mati berdiri olehnya. Dia selalu ingin tau urusan yang sebenarnya belum menjadi makanannya.


Meski baru berusia delapan tahun, tapi ketampanan tikus kecil itu sudah terpancar sejak dini. Gaya bicaranya sangat cool dan tegas. Suka ya suka, tidak ya tidak. Dia paling tidak suka berbelit-belit dalam berucap.

__ADS_1


Untuk penampilan, dia memiliki style nya sendiri yang tak bisa diatur oleh siapapun. Mulai dari gaya rambut hingga outfit sekalipun. Dia bahkan memiliki desainer langganannya sendiri.


Kadang Arhan hanya bisa gigit jari melihat keunikan putranya itu. Bukan masalah uang, tapi entah dari mana putranya itu bisa mengenali hal-hal seperti ini di usia yang masih begitu muda.


__ADS_2