
Pukul 3 sore Aina terbangun dari tidurnya, cairan bening di sudut matanya mengalir begitu saja saat menyadari tubuhnya tergeletak di atas brankar rumah sakit.
"Sayang, kamu udah bangun?" Arhan menggenggam tangan Aina dengan erat, namun Aina menariknya dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Sayang, maafin Abang ya." lirih Arhan penuh penyesalan.
"Kenapa menyelamatkan saya? Kenapa tidak membiarkan saya mati saja? Harusnya Anda senang karena beban hidup Anda akan berkurang jika saya mati." Suara Aina yang bergetar membuat Arhan semakin merasa bersalah.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Abang gak mau kehilangan Aina." Arhan bangkit dari duduknya dan memeluk Aina yang masih lemah tak berdaya.
"Kenapa tidak mau? Bukankah Anda sendiri yang menyuruh saya pergi dari hidup Anda?" Air mata Aina semakin tak terbendung mengingat bagaimana santainya Arhan saat mengusir dirinya.
"Gak sayang, Abang gak ngusir Aina. Maafin Abang ya, Abang tau Abang salah. Pukul saja Abang jika Aina mau, Abang emang pantas dihukum!" ucap Arhan sembari mengusap pucuk kepala Aina.
"Saya tidak punya hak untuk menghukum Anda. Tolong lepaskan saya, saya harus pergi dari sini!" Aina menepis tangan Arhan dan berusaha mendorong Arhan agar menjauh darinya.
"Aina gak boleh pergi sayang, Aina tuh istri Abang. Aina akan selalu di sisi Abang sampai kapanpun, kita akan menua bersama sampai anak-anak kita menikah dan memberikan cucu buat kita." bujuk Arhan yang membuat tangisan Aina pecah seketika itu juga.
"Udah, jangan nangis lagi ya! Abang sayang sama Aina. Aina gak salah, Abang yang salah karena gak peka sama perubahan sikap Aina." Kembali Arhan mengusap pucuk kepala Aina dan mengecupnya dengan sayang.
"Abang bohong, Abang gak sayang sama Aina. Abang jahat sama Aina, buktinya Abang ngusir Aina dari hidup Abang." isak Aina sesegukan.
"Gak sayang, Abang gak ngusir Aina. Abang hanya emosi karena Aina terus aja bersikap dingin sama Abang, maafin Abang ya. Sekarang Abang ngerti kenapa Aina bersikap seperti itu sama Abang. Aina jangan sedih lagi ya, nanti dede bayinya juga sedih." bujuk Arhan, lalu mengusap perut rata Aina dan mengecupnya dengan sayang.
__ADS_1
"Dede bayi?" gumam Aina mengulangi kata itu.
"Iya sayang, ada dede nya Aksa dan Avika di dalam sini. Makanya Aina gak boleh sedih lagi ya, Abang yang salah karena gak bisa memahami Aina. Sekali lagi maafin suami Aina yang bodoh ini ya." ucap Arhan mengakui kebodohan dirinya, lalu mengecup perut Aina dan beralih mengecup kening istrinya.
Aina menyapu matanya yang sudah sembab, dia sama sekali tak menyangka bahwa ada nyawa lain yang sedang berkembang di dalam rahimnya. Apa karena itu sikapnya jadi berubah beberapa hari ke belakang? Dia jadi lebih mudah terbakar api cemburu dan merasa tidak diinginkan oleh suaminya sendiri.
"Udah ya, Aina jangan mikir aneh-aneh lagi! Sampai kapanpun hanya Aina lah satu-satunya wanita yang ada di hidup Abang. Lupakan masa lalu Abang yang kelam itu! Abang benar-benar sudah berubah, cinta Abang hanya untuk Aina seorang."
Aina mengangguk lemah dan memeluk Arhan dengan erat. Dia juga sangat mencintai Arhan dan takut kehilangan suaminya itu.
"Jangan usir Aina lagi ya! Aina gak punya siapa-siapa lagi selain Abang, Aina rasanya ingin mati saat tau Abang tidak menginginkan Aina lagi." lirih Aina pilu.
"Gak sayang, mana mungkin Abang tega ngusir Aina. Abang hanya emosi, Abang janji gak akan mengulanginya lagi. Abang gak sanggup hidup tanpa Aina, Aina segalanya buat Abang. Apalagi ada buah cinta kita di rahim Aina, Abang beruntung memiliki istri yang begitu sempurna seperti Aina. Aina udah menjadikan Abang pria paling bahagia di dunia ini."
Pukul 5 sore, Hendru dan Nayla tiba di rumah sakit membawa tiga bocah kesayangan Aina. Aina yang masih terbaring lemah di atas brankar nampak tersenyum menyambut kedatangan ketiga anaknya itu.
"Sore Mama Ina, kami datang." seru Nayla yang tengah menggendong Inara.
"Mama Ina cepat sembuh ya," sambung Hendru yang tengah menggendong Avika.
"Mama, Mama kenapa di sini?" tambah Aksa yang langsung berlari menaiki brankar yang ditiduri Aina, lalu memeluk Aina dengan tangan mungilnya.
Aina membalas pelukan Aksa dan mencium pipi bakpao putranya itu dengan sayang. "Maafin Mama ya Nak," lirih Aina.
__ADS_1
"Mama sakit apa? Biar Aksa aja yang obati!" celetuk bocah itu dengan wajah seriusnya.
"Hahahaha..." Semua orang tertawa melihat tingkah menggemaskan jagoan itu.
"Mama gak sakit sayang, tapi Mama tuh lagi mengandung. Ada dede Aksa dalam perut Mama," timpal Arhan menjelaskan, dia kemudian mengambil Avika dari gendongan Hendru dan membawanya ke pelukan Aina.
Sementara Nayla sendiri juga menghampiri Aina dan mendudukkan Inara di atas brankar. Aina memeluk ketiga putra putrinya itu secara bersamaan. Air mukanya berseri melihat ketiga anaknya yang sangat menggemaskan itu.
Hendru menarik tangan Arhan dan membawanya keluar, dia sengaja membiarkan Aina melepaskan kerinduan terhadap ketiga bocah itu. Keduanya memilih duduk di kursi tunggu.
"Kau bilang Tasya sudah selesai, nyatanya yang menabrak Aina itu adalah utusannya. Baron berhasil menangkap pengendara itu dan sudah menginterogasinya. Sayangnya dia tak mau buka suara dan memilih melompat dari gedung tempat Baron menyekapnya." jelas Hendru yang baru saja mendapat laporan dari Baron.
Arhan menggertakkan giginya kuat. Kebenciannya semakin menjadi-jadi kepada mantan istrinya itu. Arhan pikir dengan memberinya pelajaran saja sudah cukup untuk membuatnya sadar. Nyatanya iblis betina itu masih saja mengintai Aina dengan berbagai macam cara.
"Mungkin pelajaran yang diberikan Baron saat itu masih kurang untuknya, berarti dia harus disingkirkan secepatnya. Aku tidak mau Aina terus-terusan menjadi sasarannya, sudah dua kali istri dan anakku nyaris saja meregang nyawa." Arhan menjeda ucapannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Bilang sama Baron untuk menyelesaikan wanita sialan itu jika berhasil menemukannya, pastikan dia mati dulu sebelum Baron meninggalkannya!" imbuh Arhan yang sudah tidak mau lagi berbelas kasih terhadap wanita iblis itu.
Hendru mengangguk kecil pertanda mengerti, mungkin memang inilah jalan satu-satunya agar Aina terbebas dari ancaman iblis betina itu. Dia juga kasihan melihat wanita yang tak berdosa itu harus menanggung kekejaman mantan istri suaminya sendiri.
Arhan bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki ruangan Aina, Hendru pun menyusul dan berdiri di samping Nayla yang tengah memegangi Inara agar tidak jatuh dari brankar.
Sementara Arhan sendiri duduk di samping Aina yang masih asik bersenda gurau bersama satu pangeran dan dua princess kesayangannya.
__ADS_1
Sesaat ruangan itu menjadi hiruk ulah celotehan Aksa dan Avika, bahkan Inara yang masih berusia 4 bulan seakan mengerti dengan ucapan kedua kakaknya. Sementara Avika sendiri mulai mengeluarkan bahasa planet nya yang membuat papa mama dan ayah bundanya tertawa terbahak-bahak.