
Di pesawat, Aina dan Nayla tergugu melihat isi di dalamnya yang sangat jauh dari ekspektasi mereka. Tidak ada yang menyangka, ternyata jet pribadi tak seperti pesawat pada umumnya.
"Ini pesawat apa hotel sih Bang? Mewah banget," kagum Aina dengan mata membulat besar.
"Hahaha, Aina bisa aja. Namanya juga jet pribadi sayang, ya beginilah bentuknya." jawab Arhan terkekeh.
"Kok diketawain sih Bang? Aina kan belum pernah naik ini sebelumnya, pesawat biasa aja belum pernah." jelas Aina dengan wajah cemberut nya.
"Hehehe, maka dari itu Abang sengaja memesan jet ini untuk kita. Bukankah sekarang Aina sudah menaikinya, apa lagi yang dipikirkan?" tanya Arhan sembari memeluk pinggang istrinya.
"Tidak ada, tapi Aina takut Bang. Nayla juga pasti takut, iya kan Nay?" tanya Aina kepada Nayla yang masih mematung di tempat duduknya.
"Iya Ai, belum terbang aja kakiku sudah gemetaran. Gimana nanti kalau sudah terbang?" sahut Nayla yang terlihat sedikit gelisah, ini juga pengalaman pertama baginya naik pesawat.
"Tidak perlu takut, yakin saja! Kalau sudah terbang mah enak." tambah Hendru meyakinkan keduanya.
"Ya sudah, kalau Aina takut ikut Abang aja yuk! Aina bisa tidur bersama Aksa di dalam." ajak Arhan, kemudian menggendong putranya yang tengah tertidur menuju kamar.
"Nayla, Hendru, aku masuk dulu ya! Kalian gak apa-apa kan aku tinggal." tanya Aina, dia sebenarnya tidak enak hati meninggalkan Nayla bersama Hendru, namun dia juga takut duduk sendirian tanpa Arhan di sampingnya.
"Masuk saja Nyonya! Nayla aman kok bersama saya." jawab Hendru sembari tersenyum lebar, Nayla pun menautkan alisnya bingung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di kamar, Aina ikut berbaring di samping Aksa. Saking takutnya, Aina menutup wajahnya dengan bantal. Guncangan pesawat yang akan mengudara sudah mulai terasa hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar.
"Aina kenapa sayang? Kok wajahnya ditutupi begitu?" tanya Arhan sembari mengulum senyumannya.
Arhan bangkit dari tidurnya, kemudian berbaring di samping Aina dan memeluknya dengan erat.
"Peluk Aina kuat-kuat Bang! Aina benar-benar takut," gumam Aina dari balik bantal yang masih setia menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Jangan takut sayang, Abang di sini bersama Aina!" Arhan mengangkat bantal yang menutupi wajah istrinya, lalu membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.
"Kalau begitu Aina tidur aja ya, Abang tidak akan kemana-mana!" Arhan mengusap kepala Aina dengan lembut, lalu mengecupnya dengan sayang. Aina pun semakin mengencangkan pelukannya.
Di luar sana, wajah Nayla nampak pucat. Dia berusaha keras menahan ketakutannya dan meremas sanding sofa dengan kuat. Sementara keringat dingin mulai mengucur deras pada pelipis dahinya.
"Kamu kenapa? Masih takut?" tanya Hendru dengan tatapan tak biasa.
"Ti, tidak, nervous sedikit aja." jawab Nayla, lalu meremas lututnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan lain masih setia meremas sanding sofa.
Melihat raut wajah Nayla yang begitu, Hendru memberanikan diri menyentuh tangan Nayla, lalu menggenggamnya dengan erat. Hal itu membuat jantung Nayla serasa mau copot.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla sembari menautkan alisnya, dia berusaha keras menarik tangannya dari genggaman Hendru, namun tenaganya tidak cukup kuat melakukan itu.
"Jangan marah, aku hanya ingin membantumu menghilangkan ketakutan ini! Jika kamu mau bersandar, maka bersandar lah di pundak ku!" tawar Hendru sembari menepuk pundaknya dengan tangan yang lain.
"Tidak perlu, begini aja cukup!" tolak Nayla.
Bagaimana mungkin dia berani menyandarkan kepalanya di pundak Hendru, sementara bersentuhan tangan begitu saja sudah membuat jantungnya berhenti berdenyut.
Di dalam sana, Aina sudah tertidur di dalam dekapan suaminya. Seulas senyum terpahat indah di wajah Arhan, dia terus saja mengusap kepala Aina agar tidur istrinya semakin nyenyak. Tidak lama, Arhan pun ikut tertidur menyusul mimpi indah Aina.
"Dasar kepala batu! Disuruh bersandar di pundak ku malah tidak mau." umpat Hendru, lalu tersenyum memandangi wajah Nayla yang begitu polos.
Hendru memberanikan diri memperbaiki posisi Nayla, lalu menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya. Tanpa ragu, dia pun melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Nayla. Entah kenapa, dia merasa tenang di sisi gadis itu. Mungkinkah Hendru mulai mencintai Nayla? Entahlah, hanya dia yang tau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar pukul 4 sore, jet pribadi yang mereka tumpangi sudah mendarat tepat di pulau moyo. Pulau yang indah dengan air lautnya yang sangat jernih. Suasana di sana benar-benar asri, begitu sejuk dipandang mata.
"Sayang, ayo bangun! Kita sudah sampai," ucap Arhan sembari mengguncang lengan Aina, kemudian menggendong Aksa yang sudah terbangun lebih dulu.
Aina membuka matanya perlahan, kemudian menggeliat meregangkan ototnya. Menyadari jet mereka sudah mengambang di pinggir pulau, Aina pun bergegas bangkit dari pembaringannya.
"Kita sudah sampai Bang?" tanya Aina sembari berlari menuju jendela. Pemandangan yang tertangkap sorot matanya nampak begitu indah, mata Aina membulat dengan mulut sedikit menganga.
__ADS_1
"Wow, tempat yang sangat indah. Ayo lah kita turun!" ajak Aina yang sudah tak sabar ingin menjajal pulau itu. Dia tak hentinya tersenyum, lalu menghampiri Arhan dan mengambil Aksa dari gendongan suaminya. Arhan hanya bisa tersenyum melihat raut kebahagiaan di wajah istrinya.
Arhan dan Aina melenggang meninggalkan kamar dengan Aksa yang bergelayut di leher Aina. Sesampainya di luar, keduanya tertegun mendapati pemandangan langka yang terpampang di hadapan mereka.
"Astaga sayang, apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa bisa sedekat itu?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
Keduanya masih tertidur nyenyak di atas sofa. Hendru tersandar pada tampuk sofa, sementara Nayla tersandar di pundak Hendru.
Arhan tak habis pikir, ternyata Hendru masih berselera dengan wanita. Selama yang dia tau, Hendru tidak pernah dekat dengan gadis manapun selama ini.
"Entahlah Bang, Aina juga tidak tau. Apa mereka punya hubungan?" jawab Aina dengan pertanyaan pula.
"Bisa jadi," balas Arhan sembari mengangkat bahunya.
"Ya sudah, bangunkan saja Bang!" pinta Aina, kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
Arhan menghampiri Hendru, kemudian menarik kuping asisten pribadinya itu dengan kasar. Hal itu membuat Hendru terlonjak hingga pelukannya terlepas dari pinggang Nayla. Nayla ikut terbangun saat merasakan pergerakan di pinggangnya.
"Astaga Tuan, apa yang kau lakukan? Mengagetkan aku saja," ketus Hendru sembari menepis tangan Arhan, kemudian mengucek matanya pelan.
Sementara Nayla nampak kelimpungan, dia dengan cepat beringsut dari posisinya. Pipinya merona menahan rasa malu, bisa-bisanya dia tertidur di pundak Hendru tanpa sadar sedikitpun.
"Hebat ya, di belakang kami beraninya mengganggu Nayla. Apa kau sudah bosan hidup?" geram Arhan sembari mengeratkan rahangnya.
"Tidak, siapa yang mengganggu?" elak Hendru, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa aku mengganggumu Nayla?" tanya Hendru sembari menoleh ke arah Nayla dengan tatapan tak biasa.
Nayla membulatkan matanya lebar. "Ti, tidak Tuan. Maaf ya, aku tidak sengaja tertidur di pundak Tuan Hendru. Aku yang salah, tadinya aku takut." jelas Nayla gugup, dia tak berani menatap wajah Arhan.
"Ya sudahlah! Ayo turun, kita sudah sampai!" Arhan berusaha keras menahan tawanya melihat ekspresi wajah keduanya yang begitu membagongkan.
Setibanya di depan pintu, Arhan mengambil Aksa dari gendongan Aina, kemudian menggenggam tangan istrinya dengan erat. Keduanya melenggang turun menyusul koper mereka yang sudah tersusun rapi di bawah sana.
Sementara Nayla dan Hendru nampak seperti tom and jerry yang tengah bermusuhan. Tatapan mata Nayla membuat Hendru menjadi tidak enak hati.
__ADS_1
"Brengsek! Beraninya Tuan memelukku seperti tadi!" ketus Nayla dengan tatapan membunuhnya. Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hendru begitu saja.
"Tunggu Nayla, aku bisa menjelaskannya!" teriak Hendru, lalu bergegas menyusul Nayla yang tengah berapi-api memendam kemarahannya.