Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 116.


__ADS_3

Inda tengah duduk di gazebo taman belakang, kepalanya menengadah menghadap langit. Bulan sabit nampak begitu indah dikelilingi bintang-bintang yang berkerlipan. Hembusan angin membuat suasana malam semakin mencekam. Tak terasa air mata gadis itu mengalir begitu saja.


Apakah menerima Baron sebagai calon suaminya merupakan keputusan yang tepat? Bagaimana jika nanti Baron tidak bisa menerima keadaannya? Karena terkadang mulut bisa berbohong, namun tidak dengan hati.


"Mikirin apa? Kok pipinya basah?" Suara besar Baron membuat Inda terperanjat hingga lamunannya buyar seketika.


Inda menoleh dan menatap Baron dengan lekat. "Gak ada, tadi kemasukan binatang jadi matanya perih." sahut Inda berbohong, lalu menyapu wajahnya.


"Yakin?" Baron mengerutkan keningnya dan duduk di samping Inda.


"Iya, yakin." angguk Inda, lalu melirik calon suaminya itu.


Baron merapatkan bokongnya dan menarik Inda ke dalam dekapan dadanya. Dia tau gadis itu masih ragu dengan keputusannya, Baron bisa melihat itu dengan jelas. Dia paling pintar dalam membaca air muka seseorang, tidak mudah mengelabui seorang Baron karena hal itu merupakan makanan sehari-harinya.


"Apa kamu masih ragu untuk menghabiskan sisa umurmu bersamaku?" tanya Baron sembari mengusap lengan Inda turun naik.


"Ngomong apa sih? Jangan fitnah!" ketus Inda dengan bibir mengerucut.


"Bukannya fitnah, tapi perasaanku mengatakan seperti itu. Jika kamu belum siap menerimaku, jangan dipaksain! Karena sesuatu yang dijalani dengan keterpaksaan gak akan baik ujungnya. Aku gak mau kamu menyesal nantinya. Pikirkan dulu dengan matang karena jika aku sudah mendapatkan yang aku inginkan, aku gak akan pernah melepaskannya lagi." jelas Baron.


Inda mendongak dan menatap manik mata Baron dengan intim. "Kamu salah paham Kak Baron. Aku bukannya terpaksa, tapi aku takut kamu gak bisa menerimaku. Yang namanya perasaan pasti bisa berubah kapan aja, apalagi dengan keadaanku yang seperti ini." ungkap Inda.


"Sok tau, kamu aja gak pernah tau gimana aku yang sebenarnya. Tau darimana perasaanku akan berubah terhadapmu? Ngomong aja jarang-jarang, ketemu pun selalu kucing-kucingan seperti ini. Tungguin seisi rumah pada tidur dulu baru bisa seperti ini. Sebenarnya kamu ini cinta gak sih sama aku?" Baron yang terkenal garang mendadak berubah dengan mode hello kitty nya.


"Astaga Kak Baron, kok jadi ngambek gini sih? Kayak anak kecil aja, keseringan main sama Aksa nih jadinya ketularan lebay." geram Inda sembari menjauh dari Baron.


"Makanya jangan kebanyakan mikir! Besok kita langsung nikah aja ya, gak perlu pesta yang penting ambil wajibnya aja!" ajak Baron yang sudah ngebet betul memperistri wanita idamannya itu.


"Besok?" Inda bergidik ngeri sembari menautkan alisnya.


"Iya, besok. Kamu masih ragu padaku?" Baron menatap lekat manik mata Inda mencari kepastian.

__ADS_1


"Kenapa gak malam ini aja sekalian?" seloroh Inda sembari menahan tawanya.


"Ide yang bagus. Kalau gitu kita kawin dulu aja malam ini, besok lanjut nikahnya!" Baron tersenyum licik dan mengangkat tubuh mungil Inda dengan enteng.


"Kak Baron jangan! Lepasin aku, jangan gila!" Inda meronta ronta dan memukul dada Baron yang terus saja melangkah membawanya menuju paviliun.


"Cleeeek!"


Baron membuka pintu dan menutupnya kembali, kemudian menguncinya agar Inda tidak bisa melarikan diri darinya.


Baron merebahkan tubuh mungil itu di atas kasur, kemudian menekan tubuh Inda di bawah kungkungan nya.


"Kak Baron jangan! Gak boleh begini," tolak Inda dengan wajah memelas.


"Boleh Inda, siapa bilang gak boleh? Toh, kamu akan tetap jadi istriku kok." Baron mulai melepaskan pakaiannya hingga menyisakan segitiga nya saja.


"Astaga Kak Baron, kamu benar-benar udah gila ya." Inda menutup matanya saat menangkap keberadaan ular buntet milik Baron yang sudah bangun dari tidurnya.


Tanpa permisi, Baron segera mengesap bibir mungil Inda dan melu*matnya bak permen. Rasanya benar-benar manis hingga Baron semakin tak kuasa menahan diri. Baron menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Inda hingga keduanya saling membelit lidah bahkan bertukar liur.


Puas mengesap bibir merah delima Inda, Baron mengecup telinga gadis itu dan menggigitnya lalu mengitarinya dengan lidah. Inda menggeliat geli dengan sedikit lenguhan yang keluar dari mulutnya.


Baron semakin turun dan menjilati leher jenjang Inda, memberikan sedikit gigitan kecil hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


"Kak Baron, jangan diterusin lagi! Tunggu sah dulu ya!" pinta Inda memelas.


Baron menghentikan aksinya dan menatap manik mata Inda dengan tatapan menuntut. Dia tak sanggup lagi menahan hasrat yang kian bergejolak di dirinya, namun dia juga tidak mau menyakiti Inda.


"Maafin aku ya, aku gak akan maksa jika kamu belum siap."


Baron memungut pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Terpaksa dia melakukan pelepasan sendiri karena tak mungkin melepaskannya pada Inda.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Baron keluar dan mendapati Inda yang tengah duduk di sisi ranjang. Baron mendekat dan duduk di samping Inda lalu memeluknya.


"Maafin aku ya, aku gak bermaksud merendahkan kamu. Aku sayang sama kamu, hanya saja aku sedikit bermasalah dengan kondisi kesehatanku. Hasrat ku terkadang tak bisa dibendung, apalagi saat melihatmu. Karena itulah aku memutuskan untuk pergi tempo hari, aku benar-benar menderita karena harus melawan keinginan itu setiap harinya. Aku bisa melihatmu tapi gak bisa menyentuhmu, hal itu membuatku tersiksa. Percayalah, aku gak akan nyakitin kamu!" jelas Baron panjang lebar.


"Gak papa, aku ngerti." Inda menyentuh wajah Baron dan memeluknya erat.


"Makasih ya, aku beruntung memiliki calon istri sepertimu. Aku benar-benar cinta sama kamu, aku janji gak akan pernah nyakitin kamu." ucap Baron penuh keyakinan.


"Aku juga cinta sama kamu." sahut Inda sembari tersenyum dengan manisnya.


"Sejak kapan kamu cinta sama aku?" tanya Baron penasaran.


"Udah lama," jawab Inda jujur.


"Berapa lama?" tanya Baron ingin tau.


"Sejak kamu baru datang ke rumah ini. Awalnya aku kesal karena kamu gangguin aku terus, tapi entah kenapa aku suka dengan gombalan receh kamu itu." ungkap Inda tersipu malu.


"Astaga Inda, jadi kamu sengaja mempermainkan aku? Berarti saat aku melamar mu waktu itu-"


"Aku mau, tapi aku takut kamu gak bisa nerima keadaan aku." lirih Inda penuh penyesalan.


"Jahat banget sih, satu tahun loh aku tersiksa karena kamu. Tega kamu sama aku," Baron melepaskan pelukannya dan berbaring di atas kasur dengan posisi membelakangi Inda.


"Kak Baron, jangan marah! Maafin aku, aku gak ada maksud seperti itu." Inda mendekati Baron dan memeluknya dari belakang.


"Aku kecewa sama kamu. Jika saja waktu itu kamu jujur dan nerima aku. Mungkin sekarang kita udah punya anak Inda, satu tahun terbuang begitu aja. Aku bahkan hampir mati mikirin kamu." lirih Baron dengan mode hello kitty nya.


"Maafin aku, aku emang salah." lirih Inda yang merasa bersalah atas kebodohannya. Inda melepaskan pelukannya dan menjauh dari Baron.


"Kenapa pelukannya dilepas? Kamu gak boleh ke mana-mana, malam ini kamu harus tidur di sini sebagai hukumannya. Ayo, peluk aku lagi!"

__ADS_1


Inda tersenyum melihat perangai Baron yang tak sebanding dengan wajah garangnya. Ternyata hati Baron jauh lebih lembut dari dugaannya. Inda kembali berbaring dan memeluk Baron dengan erat, kemudian memejamkan matanya. Baron segera berbalik dan mengecup kening Inda dengan sayang. Keduanya saling berpelukan dan mulai masuk ke alam mimpi masing-masing.


__ADS_2