
Malam yang ditunggu-tunggu pengantin baru akhirnya datang juga. Setelah para tamu meninggalkan kediaman Airlangga, Basir juga berpamitan kepada besannya.
"Tuan Airlangga, terima kasih untuk jamuan nya, kami pamit dulu! Tolong jaga putriku dengan baik, sayangi dia seperti putrimu sendiri!" ucap Basir sembari mengulurkan tangannya, ada rasa bersalah karena selama ini tidak bisa menjaga Nayla. Keadaan memaksa mereka untuk berpisah sehingga Nayla harus berjuang sendiri dalam hidupnya.
"Hehe, Pak Basir jangan khawatir! Nayla itu sudah seperti putriku sendiri, sering-seringlah berkunjung!" jawab Airlangga sembari menyambut uluran tangan Basir.
"Semuanya, kami undur diri dulu." Basir menangkup kedua tangannya ke arah semua orang.
Di luar sana, Basir memeluk Nayla dengan erat. Tinggal berjauhan bukan berarti dirinya tak menyayangi sang putri, semua demi kebaikan Nayla yang tidak pernah akur dengan ibu sambungnya, apalagi dengan adiknya.
"Hendru, tolong jaga anak Bapak dengan baik ya! Sayangi dia sepenuh hati, selama ini dia kurang mendapatkan kasih sayang dari Bapak. Jika dia salah, tegur dia dengan cara baik, jangan sekali-kali melayangkan tangan padanya!" pinta Basir penuh harap.
"Bapak tenang saja, Hendru tidak akan pernah menyakiti Nayla!" jawab Hendru penuh keyakinan.
"Nayla, Bapak pulang dulu ya Nak. Berbaktilah pada suamimu, jangan sekalipun membangkang! Jadilah istri yang baik dan penurut!" pesan Basir sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediaman Airlangga.
Nayla tertunduk lesu menatap kepergian sang ayah yang sebenarnya masih sangat dirindukannya, namun keadaan sudah berbeda. Meski sudah lama tak tinggal bersama, tapi rasa sayangnya tak akan pernah hilang, bagaimanapun hanya Basir yang tersisa setelah kepergian ibunya.
Melihat kesedihan di wajah istrinya, Hendru menarik Nayla ke dalam dekapan dadanya. "Jangan sedih, ini hari bahagia kita. Tidak boleh ada air mata di wajah cantik ini, aku belum sempat menikmatinya." bujuk Hendru yang tiba-tiba saja mengeluarkan gombalan mautnya, lalu mencubit hidung Nayla gemas.
"Apaan sih Hendru," Nayla tertunduk malu di dada suaminya.
"Makanya senyum, biar cantiknya gak ilang!" goda Hendru lagi.
"Ah sudahlah, ayo masuk!" Nayla menjauhkan diri dari Hendru, kemudian berjalan lebih dulu memasuki rumah.
"Tunggu Nayla!"
Hendru berlari kecil menyusul Nayla yang sudah tiba di ambang pintu.
Sesampainya di dalam, semua orang masih duduk menunggu mereka. Keduanya ikut duduk di hadapan semua orang.
"Aduh," Rintihan yang keluar dari mulut Aina tiba-tiba mengalihkan pandangan semua orang ke arah dirinya.
"Sayang, Aina kenapa?" tanya Arhan dengan wajah panik, kemudian berjongkok di hadapan Aina.
"Aina, kamu kenapa Nak?" tanya Leona yang tak kalah paniknya. Takut sesuatu terjadi pada menantu dan calon cucunya.
"Gak papa Ma, Aina sepertinya kelelahan. Aina izin ke kamar dulu ya Ma, Pa." seru Aina.
__ADS_1
"Sini, biar Abang gendong!" tawar Arhan yang sudah tak karuan melihat wajah pucat Aina.
"Gak usah Bang, Aina bisa jalan sendiri kok!" tolak Aina yang merasa malu di hadapan semua orang.
"Jangan menolak!" Arhan memperlihatkan tatapan mata elangnya, seketika Aina menciut dan pasrah saja mengikuti keinginan suaminya.
Setelah Aina dan Arhan menghilang dari pandangan semua orang, Airlangga menarik tangan Leona, bermaksud mengajak istrinya untuk istirahat di kamar mereka.
"Ayo Ma, Papa juga mau istirahat. Capek banget," seru Airlangga sembari tersenyum kecil.
"Nayla, Hendru, masuklah ke kamar kalian! Kalian pasti capek juga kan, selamat bersenang-senang." seloroh Leona menggoda pengantin baru tersebut.
"I-iya Ma, Mama duluan aja!" sahut Nayla terbata, wajahnya seketika memerah mendengar ucapan Leona barusan.
Kini ruangan tersebut sudah sepi, hanya ada Nayla dan Hendru berdua saja di sana. Seketika tatapan keduanya saling bertemu, sedetik kemudian saling melempar pandang ke arah lain.
"Ayo, ke kamar! Aku juga capek," ajak Hendru sembari menggenggam tangan Nayla.
"Kamu duluan aja, aku masih ingin di sini." tolak Nayla sembari menarik tangannya dari genggaman Hendru.
Hendru mengerutkan keningnya. "Apa kamu mau terus-terusan duduk di sini? Ini sudah malam Nayla,"
"Apa mau aku gendong seperti Aina tadi?" seloroh Hendru sembari berjongkok.
"Ti-tidak, aku bisa jalan sendiri." tolak Nayla, lalu segera bangkit dari duduknya.
Nayla berjalan dengan langkah panjang, membuat Hendru tertinggal beberapa langkah darinya. Hendru hanya bisa tersenyum, sadar akan kepanikan Nayla saat ini. Wajar saja, ini adalah malam pengantin bagi mereka, malam pertama yang akan mengubah hidup keduanya.
Sesampainya di lantai atas, Arhan sudah berdiri di depan pintu. Wajah keduanya nampak panik hingga memerah, untuk apa bos jahil itu berdiri di sana.
"Nayla, ini titipan dari Aina. Katanya harus dipakai malam ini. Jika tidak, dia akan sedih. Kamu tau sendiri kan kalau istriku lagi hamil, jadi jangan mengecewakan dia!" jelas Arhan sembari menyerahkan sebuah box ke tangan Nayla.
"Iya, aku akan memakainya. Bagaimana keadaan Aina?" tanya Nayla penasaran.
"Gak papa, dia cuma butuh pelukan hangat dari suaminya. Kalian pikir kalian saja yang bisa bermesraan?" Arhan terkekeh dengan sendirinya.
"Sudahlah, aku masuk dulu. Aina sudah menungguku di dalam, mau main petak umpet sebentar biar panas. Pastikan kamu memakainya!" seloroh Arhan sembari menatap Hendru, lalu berbalik dan masuk ke kamarnya.
"Brengsek kau Arhan," Hendru ingin sekali menghajar Arhan, namun terlambat karena sudah keburu masuk dan mengunci pintu.
__ADS_1
Nayla sejenak menatap box yang ada di tangannya, sedetik kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Hendru pun berjalan di sebelahnya sembari tersenyum kikuk.
Setibanya di kamar pengantin mereka, Hendru bergegas mengunci pintu. Sesaat, Nayla terlonjak mendengar suara cetekan yang begitu jelas di telinga.
"Kenapa pintunya di kunci?" tanya Nayla sembari berbalik, seakan lupa siapa dirinya saat ini.
"Loh, kok nanyanya gitu? Kamu mau pintunya dibuka, biar semua orang bisa melihat aktivitas malam pertama kita?" jawab Hendru sembari mengerutkan keningnya.
"Deg"
Nayla meneguk ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya tiba-tiba mengering. Entah apa yang sedang dipikirkan Hendru saat ini.
"Pergilah tidur! Aku belum ngantuk," ucap Nayla sembari melangkah menuju sofa.
"Hah??? Kamu menyuruhku tidur sendiri?" Lagi-lagi Hendru mengerutkan keningnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Nayla tak menyahut, kali ini dia tengah fokus membuka box yang ada di tangannya. Entah apa yang diberikan Aina kepada dirinya.
"Bum!"
Mata Nayla membulat sempurna saat mengeluarkan isi yang ada di dalam box. Sialnya, dia terlanjur mengangkat benda tersebut sehingga Hendru pun bisa melihatnya dengan jelas.
"Wow,"
Sadar akan tatapan Hendru yang tak biasa, Nayla bergegas menyembunyikan barang tersebut di belakangnya. Seketika pipinya merona menahan malu yang menyiksa.
"Hahaha, kenapa wajahnya seperti tomat busuk gitu?" seloroh Hendru.
"Diam Hendru!" kesal Nayla dengan tatapan mematikan.
"Hahahaha,"
"Ingat sayang, kamu udah janji mau memakainya. Jika tidak, aku akan mengatakannya pada Aina!" Hendru tak kuasa menahan tawanya, lalu melenggang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sial, kenapa aku se ceroboh ini sih? Gimana cara mengelak kalau gini?" Nayla mengetuk jidatnya merutuki kebodohannya sendiri.
"Dasar Aina gila! Kenapa memberiku baju haram seperti ini?" gerutu Nayla sembari meremas lingerie berwarna merah itu hingga remuk.
Ingin sekali Nayla berteriak sekencangnya, tapi tak mungkin. Bisa-bisa semua orang terbangun dan mengerumuni kamarnya.
__ADS_1