
Malam berlalu begitu cepat, sinar mentari pagi tak bosan menyinari seisi alam semesta. Begitupun dengan cinta Arhan terhadap Aina, tak akan ada habisnya.
Usai mandi, Arhan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Sementara Aina tengah duduk di kursi menyusui. Aina terus saja menatap Arhan yang tengah sibuk mengenakan pakaian.
"Bang, gak usah ke kantor napa? Aina takut di rumah," pinta Aina yang masih duduk sambil menyusui putrinya. Sepertinya trauma itu masih menghantui jiwanya.
Arhan menaikkan sebelah alisnya. "Kok gitu sih ngomongnya? Abang kan kerja sayang, ini untuk Aina dan buah hati kita juga. Lagian di rumah ada Baron, ada anak buahnya juga yang berjaga di setiap sudut, Aina jangan mikir aneh-aneh ya!" bujuk Arhan, lalu menghampiri Aina dan berjongkok di lantai.
"Tapi pulangnya jangan lama-lama ya!" Aina memajukan bibirnya.
"Gak kok sayang. Setelah pekerjaan Abang selesai, Abang pasti langsung pulang. Aina mau dibeliin apa?" tawar Arhan, siapa tau Aina menginginkan sesuatu.
"Aina gak mau apa-apa, maunya Abang aja." sahut Aina dengan manja.
"Tuh, mulai kan. Giliran begini aja, suka banget mancing-mancing. Kasihanilah suamimu ini sayang, udah jelas sarangnya gak bisa dimasukin!" gerutu Arhan, lalu menarik hidung Aina gemas.
"Sekali-sekali ngerjain suami gak papa dong, masa' Aina terus yang dikerjain." seloroh Aina sembari tersenyum menampakkan barisan giginya yang sangat rapi.
"Ok boleh, tapi tunggu Abang pulang dari kantor ya! Nanti kita cari cara lain buat itu!" Arhan pun meluruskan ucapan Aina, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Hehe, gak jadi deh. Tahan dulu sampai 25 hari ke depan!" sahut Aina sembari menjulurkan lidahnya.
"Kelamaan sayang, bisa berkarat nanti senjatanya." keluh Arhan dengan wajah lesunya.
"Gak papa, kalau berkarat kita gerinda aja biar licin." seloroh Aina sembari tertawa terbahak-bahak.
"Yeay, enak aja. Aina pikir batu akik," Arhan mengacak rambut Aina hingga berantakan. "Eh, kok mendadak ngilu sih?" imbuh Arhan sembari mengarahkan pandangannya ke bawah.
"Hehehe, mungkin lagi pengen online dia nya." Kembali Aina tertawa sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Makanya jangan mancing mulu! Dia terlalu sensitif, dengar suara Aina aja udah ngebet pengen perang. Hahaha...," Arhan pun ikut tertawa melihat kelakuan juniornya itu. Wajar sih, sudah hampir 20 hari Arhan berpuasa.
Arhan kembali bangkit dari jongkoknya, berjalan ke arah cermin dan merapikan pakaiannya. Tidak lupa pula Arhan menyisir rambut dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
"Tampan dan wangi, suami siapa sih?" goda Aina sembari terus menatap Arhan tanpa kedip.
"Udah sayang! Kalau digodain terus, Abang gak jadi deh berangkat ke kantor. Apa Aina siap menanggung segala resikonya?" ancam Arhan sambil menatap Aina dari pantulan cermin.
"Hehe, jangan dong Bang! Abang gak kasihan liat Aina yang masih terluka seperti ini?" jawab Aina dengan wajah memelas.
"Kasihan dong sayang, cepat sembuh ya istri Abang yang paling cantik!" seru Arhan.
__ADS_1
"Makasih suamiku yang paling tampan." sahut Aina.
Puas bersenda gurau tak karuan, Arhan kembali menghampiri Aina. "Sayang Abang mau sarapan di bawah apa di kamar?"
"Di kamar aja Bang, kasihan putri kita kalau ditinggal!" jawab Aina.
"Ok, biar Abang ambilkan sarapannya!"
Arhan berjalan menuju pintu. Baru beberapa langkah, dia berbalik dan kembali menghampiri Aina.
"Kenapa Abang balik lagi?" Aina mengerutkan keningnya.
"Abang lupa sesuatu. Putri kita belum dikasih nama loh sayang, padahal udah dua minggu. Masa' Aina gak kepikiran sih?" tanya Arhan mengingatkan.
"Hehe, iya juga ya. Emangnya Abang udah mikirin siapa namanya?" jawab Aina dengan pertanyaan pula.
"Ada sih, tapi masih abu-abu. Aina punya pilihan gak?" tanya Arhan meminta pendapat.
"Ada juga, tapi belum fix. Nanti aja kita pikirin lagi!" jawab Aina.
"Ok, ya udah. Abang ke bawah bentar!" Arhan melanjutkan langkahnya dan berlalu meninggalkan kamar.
Sesampainya di meja makan, Arhan disambut oleh Baron, Hendru dan juga Nayla. Ada Aksa juga yang tengah asik menikmati sarapannya lebih dulu. Sementara yang lain sengaja menunggu Arhan dan Aina karena ingin sarapan bersama.
"Udah Papa, Asya anteng kan?" ucap Aksa dengan comelnya.
"Iya dong, anak siapa dulu." sahut Arhan membanggakan dirinya.
"Pa, Mama Ina ana?" tanya Aksa yang tak melihat keberadaan Aina di sana.
"Mama Ina di kamar sayang. Mama gak bisa turun, adiknya Aksa lagi ne*nen," jelas Arhan.
Seakan mengerti maksud ucapan sang papa, Aksa pun berhenti mengoceh dan melanjutkan makannya.
"Kenapa kalian belum makan juga?" Arhan menautkan alisnya.
"Nungguin Anda Pak Bos," sahut Hendru.
"Makan aja duluan, Aina mau makan di kamar katanya!" ucap Arhan.
"Yaelah, kenapa gak bilang dari tadi?" ketus Hendru.
__ADS_1
"Salah sendiri, yang nyuruh nungguin siapa? Mau makan, ya makan aja!" Arhan pun tertawa seikhlasnya.
Arhan mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Saking banyaknya yang diambil, satu piring itu pun jadi membumbung tinggi.
"Rakus amat, ngambil makanan sebanyak itu apa gak mubazir?" cela Hendru sambil geleng-geleng kepala.
"Ini buat berdua Samsudin, kau kira perutku ini baskom?" seloroh Arhan.
Usai mengambil makanan dan minuman, Arhan menyusunnya di atas nampan lalu meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam lift.
Di kamar, Arhan mendapati Aina yang baru saja ingin menaruh putrinya ke dalam box. "Eh, Aina mau ngapain?" seru Arhan yang masih berdiri di ambang pintu.
Tau bahwa Arhan akan marah melihatnya begitu, Aina pun kembali duduk dan meletakkan sang putri di pangkuannya. Sementara Arhan menatapnya dengan intim sambil melangkah menuju sofa.
Setelah menaruh nampan di atas meja, Arhan segera menghampiri Aina. "Jangan ngeyel dong sayang, kaki Aina tuh belum kuat. Kalau putri kita terlepas gimana?"
Aina menekuk wajahnya. "Iya Bang, maafin Aina ya."
"Udah gak papa, tapi jangan diulang lagi ya!" ucap Arhan sembari mengusap kepala Aina dengan penuh kasih sayang.
Aina mengangguk lemah, benar juga yang dikatakan Arhan barusan. Bukan untuk kebaikannya saja, tapi juga demi keselamatan putrinya.
Arhan segera mengambil putrinya dan menaruhnya di dalam box, kemudian membantu Aina berdiri dan memapahnya menuju sofa.
Setelah mendudukkan Aina dan meluruskan kakinya, Arhan pun menyuapi Aina makan sambil sesekali menyuap makanan ke mulutnya sendiri.
Tidak lama, ponsel Arhan berdering saat menerima video call dari Korea sana. Segera Arhan mengangkatnya.
"Halo Ma," sapa Arhan sembari tersenyum sumringah.
"Halo sayang, bagaimana keadaan kalian di sana? Apa Aina udah baikan?" tanya Leona.
"Udah Ma, ini menantu Mama lagi sarapan. Manja banget, maunya disuapin." seloroh Arhan sambil mengarahkan layar ponselnya ke wajah Aina.
"Bohong Ma, Abang sendiri yang pengen nyuapin Aina." sanggah Aina sembari mencubit lengan Arhan geram.
"Hahaha... Liat tuh, anak Mama dicubitin." seloroh Arhan yang tak hentinya menggoda Aina.
"Jangan percaya Ma! Mama tau sendiri kan kalau Abang tuh kurang waras, jadi kerjaannya nyalahin Aina mulu." jawab Aina sembari tersenyum.
"Hehe, iya, iya, Mama tau kok. Kamu jaga kesehatan ya. Mulai sekarang jangan keluar rumah tanpa pengawalan!" saran Leona.
__ADS_1
"Iya Ma, Aina juga gak berani kok." sahut Aina.
Setelah berbicara panjang lebar, Leona pun memutuskan sambungan telepon mereka. Dia juga sempat melihat wajah cucunya yang tengah terlelap. Rasa bahagia tentu menyelimuti hatinya, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk pulang ke ibukota dan melihat cucu-cucunya.