
Arhan dan Hendru sudah tiba di perusahaan. Dua minggu mangkir membuat beberapa pekerjaan di kantor jadi terbengkalai, ada yang bisa dihandle oleh Hendru ada juga yang tidak.
Kini Arhan harus berpacu menyelesaikan satu persatu berkas penting yang sudah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya sama sekali. Arhan sudah terbiasa dan sudah lihai dalam hal ini.
Diwaktu yang bersamaan, anak buah Baron berhasil menemukan tempat persembunyian penjahat bayaran yang sudah mencelakai Aina tempo hari.
Dengan segala kemampuan yang mereka miliki, salah satu berhasil ditangkap setelah melalui drama yang cukup panjang. Sementara yang satunya lagi berhasil kabur melewati pintu rahasia dan segera mengirim pesan kepada Tasya.
"[Mereka sudah menemukan tempat persembunyian kami. Dori tertangkap dan saya harus pergi meninggalkan kota ini. Jika Bos ingin selamat, maka pergilah sejauh mungkin! Dori pasti sudah mengatakan semuanya, mereka terlalu banyak, dia tidak akan selamat]"
"Bruuk!"
Tasya terduduk lemas di atas bangku, kakinya mulai bergetar. Apa mungkin orang-orang itu adalah suruhannya Arhan? Jika benar, berarti nasibnya kini sudah di ujung tanduk.
Sementara di TKP, Dori sedang dihajar habis-habisan oleh anak buah Baron layaknya piala bergilir. Satu berbanding sepuluh tentu saja tidak akan sepadan. Bahkan pria itu diperlakukan persis seperti yang dilakukannya pada Aina tempo hari.
Puas melempar tubuh ringkih itu ke sana kemari, Tobi kemudian mengikatnya di tiang, menghancurkan wajahnya dan juga menghantam pinggang dan perutnya hingga memuntahkan darah segar.
"Bagaimana rasanya? Enak?" seru Tobi sembari tertawa terbahak-bahak.
"Sudah cukup! Tolong ampuni saya, saya hanya disuruh." gumam Dori yang sudah kehilangan separuh nyawanya.
"Hahaha... Hebat sekali. Apa saat menyiksa wanita hamil itu kau tidak merasa kasihan sedikitpun? Beraninya sama wanita," Tobi mengepalkan tangannya erat.
"Katakan dimana wanita itu bersembunyi!" imbuh Tobi sembari melayangkan bogem mentahnya ke perut Dori.
"Dia di apartemen," Dori akhirnya membuka suara karena tak sanggup lagi menahan siksaan yang begitu menyakitkan. Tulang belulangnya terasa remuk, dadanya sangat sesak, bahkan kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya.
__ADS_1
Dori menyebut alamat Tasya dengan sangat jelas hingga Tobi pun tersenyum sumringah.
"Bakar tempat ini, pastikan semuanya hancur hingga menjadi abu! Jangan sampai meninggalkan jejak!" titah Tobi, kemudian meninggalkan gudang tua itu begitu saja.
Tobi dan yang lainnya masuk ke dalam mobil, bersiap menuju apartemen yang disebutkan Dori tadi. Sementara empat orang lainnya masih tinggal untuk menyelesaikan tugas mereka.
Sesuai perintah, gudang itu pun dibakar hingga api dengan cepat menjalar dan melahap santapan siang yang masih terikat di tiang. Begitulah jiwa iblis Baron dan anak buahnya, mereka bisa menjadi apapun sesuai situasi dan kondisi.
Di apartemen, Tasya dengan cepat mengemasi barang penting miliknya dan menyusunnya di dalam koper. Jelas sekali apartemen yang dia tinggali sudah tidak aman lagi baginya jika Dori benar-benar buka suara.
Setelah menutup resleting koper, Tasya dengan cepat mengganti pakaian. Mengenakan celana jeans hitam dan kaos berwarna putih, lalu menimpanya dengan hoodie berwarna navy. Tak lupa pula dia mengenakan kaca mata hitam yang bisa menutupi sebagian wajahnya agar tidak dikenali, lalu memakai sneakers berwarna putih.
Tasya memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas kasur dan menarik koper menuju lift. Saking cemas dan takut, dia sampai lupa mengunci pintu apartemennya kembali.
Lima menit setelah Tasya meninggalkan apartemen dan melajukan mobilnya menuju bandara, mobil yang ditumpangi Tobi pun tiba di sana.
"Jangan takut, kami tidak akan menyakiti kalian!" seru Tobi, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift. Sementara yang lainnya berjaga di sana.
Sesampainya di lantai 11, Tobi terpaku saat mendapati pintu apartemen Tasya yang sudah terbuka. Dengan segera dia mendorongnya dan menyusuri setiap sudut. Bahkan kamar dan kamar mandi pun tak luput dari pantauan nya.
"Sial, dia sudah kabur." batin Tobi setelah membuka lemari pakaian yang sudah kosong.
Sejenak mata Tobi mengarah pada meja, ada secangkir teh yang masih ternganga di atas sana. Dia pun mendekat dan mengangkat cangkir itu dengan sebelah tangan. "Masih panas, berarti wanita itu baru saja pergi." gumam Tobi dengan kening sedikit mengkerut.
Tobi menaruh kembali cangkir itu di atas meja, lalu melayangkan langkah seribu memasuki lift. Setelah pintu lift terbuka, dia pun berlari menuju pintu utama.
"Cepat, kita harus mengejarnya!" teriak Tobi dengan lantang, membuat seisi lobby menggema.
__ADS_1
Tobi duduk di samping bangku kemudi karena di sini dia lah ketuanya. Setelah semua naik, mobil itu pun melaju kencang menyisir jalan raya.
"Kita harus mencari wanita itu kemana?" tanya Rian yang tengah mengemudikan mobil itu.
"Bandara! Aku yakin wanita itu pasti ingin kabur ke luar kota, bisa juga luar negeri." jawab Tobi dengan penuh keyakinan.
Menjelang sore, Arhan menutup laptop dan merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Sejenak tangannya melebar merenggangkan otot-otot yang mulai terasa kaku, lalu memijat tengkuknya yang sedikit terasa pegal.
Setelah tubuhnya merasa rileks, Arhan bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan dengan sedikit senyuman yang terukir di bibirnya.
"Ratna, antar berkas-berkas yang ada di atas meja kerjaku itu pada Hendru!" titah Arhan.
"Baik Pak, apa Bapak mau pulang sekarang?" jawab Ratna dengan pertanyaan pula.
"Ya, istriku sedang menunggu." angguk Arhan, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift.
Baru saja Arhan menempelkan bokongnya pada bangku kemudi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat Arhan merogoh kantong celananya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Baron.
"Ya, ada apa?" ucap Arhan.
"Satu dari penjahat itu udah berakhir, satunya lagi berhasil lolos. Sementara mantan istrimu berusaha kabur, anak buah ku sedang mencarinya. Kemungkinan dia di bandara menunggu penerbangan." jelas Baron dari rumah sana.
"Bilang sama anak buah mu! Apapun yang terjadi, iblis betina itu gak boleh lolos!" titah Arhan dengan wajah memerah memendam kemarahan.
"Baiklah, itu aja yang ingin aku katakan padamu. Aku tutup dulu, putramu dari tadi gak berhenti menggangguku. Jika aja bocah ini bukan anakmu, udah aku lahap dia sampai habis." geram Baron, lalu memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak.
Arhan mengangkat sebelah bibirnya, setidaknya satu persatu iblis itu bisa merasakan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
__ADS_1
Setelah menyimpan ponselnya, Arhan segera menyalakan mesin mobil dan melajukan nya menuju arah pulang. Meski belum penuh satu hari, tapi rasa rindunya terhadap Aina sudah sangat memuncak.