Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 96.


__ADS_3

Malam hari, Arhan dan anggota keluarga lainnya sudah berkumpul di meja makan. Suasana rumah kembali ramai sejak keluarga kecil Arhan pulang dari rumah sakit.


Sebelumnya rumah itu terasa hampa, hanya ada Nayla, Hendru dan beberapa pelayan saja. Kini canda tawa kembali terdengar seperti saat masih ada Airlangga dan Leona di sana. Sekarang tanggung jawab itu diambil alih oleh Arhan sendiri.


Usai makan malam, semua orang berpindah ke ruang keluarga. Arhan pun menggendong Aina seperti siang tadi.


Sementara Aina dan Nayla menyibukkan diri menonton televisi yang menyiarkan film India, Arhan pun mengajak Baron dan Hendru ke luar. Ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan dengan kedua pria itu.


"Hendru, Baron, tunggu aku di paviliun!" seru Arhan dengan satu anggukan kepala. Hendru dan Baron pun mengangguk setuju, lalu meninggalkan ruangan.


"Sayang, Abang duduk di luar sebentar ya!" Arhan mengusap kepala Aina. "Nayla, tolong jagain Aksa ya!" imbuh Arhan. Aina dan Nayla pun mengangguk bersamaan.


Setelah Arhan menghilang dari pandangan keduanya, Aina dan Nayla kembali fokus menatap layar televisi yang ada di hadapan mereka. Sementara Aksa sibuk sendiri dengan mainannya.


Setibanya di paviliun, Arhan memilih duduk di sisi ranjang. Sementara Hendru dan Baron duduk di sofa.


"Apa yang ingin kau bicarakan pada kami? Sepertinya penting banget," tanya Hendru membuka percakapan.


Arhan melipat kedua tangannya di dada. "Ini mengenai penculik itu,"


"Apa kau udah tau siapa dalangnya?" sambung Baron dengan santainya.


"Ya, dia mantan istriku." ungkap Arhan dengan tatapan dingin.


"Nah, benar kan? Aku udah yakin dari awal, kau aja yang gak percaya padaku." ucap Baron.


"Bukannya gak percaya, aku hanya ingin memastikan. Kalau salah gimana?" gerutu Arhan.


"Aku udah lama bergelut di bidang ini, instingku gak akan pernah salah!" sahut Baron dengan sombongnya.


"Iya, iya, kau memang pintar." angguk Arhan.


"Apa kau sangat yakin bahwa Tasya pelakunya?" tanya Hendru memastikan.


"Istrimu juga tau, tanya sendiri kalau kau gak percaya! Aku sempat dengar mereka membicarakan itu siang tadi. Yang membuatku naik pitam, wanita siluman itu berusaha membunuh putriku. Kalian gak akan tau bagaimana sakitnya Aina saat perutnya ditendang oleh iblis itu." Mata Arhan seketika memerah seperti ada setan yang bertengger di manik matanya.


"Hah?" Hendru dan Baron terlonjak dengan mata melotot tajam. Tak ada yang percaya bahwa mantan istri Arhan ternyata sekejam itu.

__ADS_1


"Kenapa dengan mata kalian?" Arhan menautkan alisnya sembari menatap satu persatu dari mereka.


"Gak papa, kau kenapa Baron?" tanya Hendru yang malah menyudutkan Baron.


"Kau yang kenapa? Malah nanyain aku," ketus Baron dengan tatapan siluman nya.


"Matamu itu loh, biasa aja!" geram Hendru.


"Lalu, matamu sendiri gimana?" kesal Baron yang tak mau kalah dari Hendru.


"Hufft, mulai deh. Aku di sini ingin minta pendapat sekaligus mencari solusi, bukan melihat kalian berdebat!" keluh Arhan, hembusan nafasnya terdengar berat.


"Asisten mu itu loh, cari masalah aja bisanya." Baron menaikkan sebelah bibirnya. "Kau mau aku apakan wanita itu? Mau diakhiri sekalian?" imbuh Baron dengan entengnya.


"Jangan, itu terlalu cepat! Siksa dulu sampai hancur berkeping-keping, wanita seperti dia tidak boleh dikasih hati. Bila perlu masukkan iblis itu ke kandang buaya setelah puas menyiksanya!" Arhan mengeratkan rahangnya dengan gigi menggertak kuat. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang siksa dibayar siksa.


"Hahahaha...," tawa Hendru mendadak membuat suasana menjadi aneh.


"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut. Apa otak Hendru sudah tidak waras? Orang lagi serius, dia malah cekikikan tanpa alasan yang jelas.


"Kau ini bodoh atau oon sih, udah jelas buaya nya ada di sebelahku." sindir Hendru sembari melirik ke arah Baron.


"Sorry, aku tidak tertarik." Hendru kembali tertawa. "Sekarang udah jelas kan? Ini tugas Baron, kalau begitu aku ke dalam dulu. Istriku sedang menunggu, udah saatnya melepas penat." Hendru bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku.


"Cih, emangnya kau aja yang punya istri? Aku juga punya keles," celetuk Arhan dengan bibir sedikit miring.


"Ya, kau benar. Tapi sayangnya, istrimu gak bisa dimasukin. Sabar ya!" seloroh Hendru, kemudian melenggang begitu saja meninggalkan paviliun.


"Kampret, bisa-bisanya dia menyindirku." kesal Arhan sembari mengepalkan tangannya.


"Hahahaha...," Baron pun tertawa terbahak-bahak.


"Kau juga, apanya yang lucu?" geram Arhan sembari melayangkan tinjunya di udara.


Baron mengangkat bahunya seakan tak merasa bersalah sedikitpun.


"Dasar bujang lapuk!" Arhan melempar bantal ke wajah Baron, lalu menyusul Hendru meninggalkan perjaka tua itu sendirian.

__ADS_1


"Aku bukan bujang lapuk woi, kau liat aja nanti. Aku juga bisa memiliki istri seperti kalian," teriak Baron, namun tak terdengar di telinga Arhan.


"Sampai kapan aku diolok-olok terus sama mereka? Hufft...," Baron menghela nafas berat dan membuangnya kasar.


Secara tidak langsung, Baron merupakan wujud lain dari Hendru. Pria yang tidak pernah dekat dengan wanita apalagi berpacaran. Namun Hendru sedikit lebih beruntung karena sudah bertemu dengan cinta sejatinya, berbeda dengan Baron yang sampai saat ini masih setia dengan status perjaka tuanya.


Bukannya tidak tertarik dengan wanita, hanya saja Baron belum bertemu dengan jodohnya. Seumur hidup dia selalu dihadapkan dengan wanita-wanita liar di luar sana, karena itulah dia menganggap semua wanita itu sama saja.


Malam semakin larut, Aina sampai ketiduran di depan televisi menunggu suaminya. Sementara Nayla masih sibuk bermain dengan Aksa.


Tidak lama, Hendru dan Arhan tiba di ruang keluarga dengan langkah beriringan. Keduanya mendekati istri masing-masing dan mengecup kening mereka.


"Sayang, ke kamar yuk!" ajak Hendru sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Iya Mas, tunggu bentar ya!" sahut Nayla, lalu mengumpulkan kembali mainan Aksa yang berserakan.


"Aksa, Bunda sama Ayah mau tidur. Aksa mau bobok sama siapa Nak?" tanya Nayla sambil mengusap kepala Aksa.


"Bobok ama Bunda," sahut Aksa dengan lucunya.


"Aksa, bobok sama Papa aja ya!" timpal Arhan, dia tidak enak hati karena selalu saja merepotkan Nayla.


"Dak au," tolak Aksa dengan bibir manyunnya.


"Hehe, ya udah. Sini, gendong sama Ayah!" Hendru dengan entengnya mengangkat tubuh mungil Aksa dan menaruhnya di pundak.


"Ye, Asya tebang." sorak Aksa begitu riang.


"Kau liat kan? Putramu aja lebih memilihku, berhati-hatilah!" seloroh Hendru, lalu menggenggam tangan Nayla dan melangkah menuju anak tangga.


"Woi, ngapain lewat tangga? Kasihan, istrimu lagi hamil! Udah disediain lift mahal-mahal, tapi gak dipakai," sorak Arhan.


"Boleh kami memakainya?" tanya Hendru dan berbalik. Karena lift itu baru mulai beroperasi, Hendru takut Arhan marah jika memakainya tanpa izin.


"Gak boleh, naiknya pakai tali aja biar dikirain maling. Terus digebukin sampai mampus." gerutu Arhan.


"Hahahaha..., sebaiknya kau masuk Stand Up Comedy aja! Bakat mu lumayan juga," Hendru terkekeh dan melanjutkan langkahnya menuju lift.

__ADS_1


Arhan hanya bisa tersenyum menatap punggung Hendru dan Nayla yang semakin menjauh dari pandangannya, berkelakar seperti itu bukanlah hal yang tabu baginya. Apalagi saat bersama Aina.


Arhan pun mematikan televisi, lalu menggendong Aina dan masuk ke dalam lift. Sudah waktunya istirahat karena esok hari akan banyak pekerjaan yang menunggu.


__ADS_2