Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 106.


__ADS_3

Hari berganti hari, Baron tak lagi memikirkan semua itu. Dia mulai kembali pada mode dingin, cuek dan kaku nya terhadap wanita. Namun tidak berlaku untuk Aina dan Nayla yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri.


"Auuuuh... Aina tolong!" Rintihan Nayla terdengar dari arah pintu kamar. Aina yang kebetulan baru keluar dari kamar terpaku karena pendengarannya. Segera Aina putar arah dan berjalan menuju kamar Nayla.


Mata Aina terbuka dengan sempurna saat mendapati sahabatnya yang sudah merangkak di ambang pintu. "Nayla...,"


Segera Aina berjongkok dan membantu Nayla untuk berdiri, namun rasa sakit di perut Nayla sudah tidak bisa ditahan lagi. Wajahnya sudah basah dengan keringat yang bercucuran tanpa henti.


"Aina, tolong aku! Aku gak kuat lagi." rintih Nayla sembari terus menahan bagian bawah perutnya.


Aina tau persis bagaimana rasa sakit yang dihadapi Nayla saat ini, dia juga pernah merasakan hal yang sama saat melahirkan Aksa tempo hari. Dia juga tau sudah waktunya Nayla melahirkan.


"Tunggu bentar, Nayla!"


Aina kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil kursi roda, lalu membawanya keluar dan membantu Nayla mendudukinya. Setelah itu mendorongnya menuju lift.


"Ting!"


Pintu lift terbuka lebar, Aina kembali mendorong kursi roda yang diduduki Nayla dengan terburu-buru.


"Inda, Lola," teriak Aina yang sudah gelisah dalam mode paniknya.


Inda dan Lola berlari menghampiri Aina karena terkejut mendengar teriakan nyonya mereka yang sangat lantang.


"Ada apa Nyonya?" Mata kedua pelayan itu terbelalak menyaksikan Nayla yang tengah merintih kesakitan.


"Inda, tolong jaga kedua anakku! Aku harus ke rumah sakit, Nayla sepertinya mau melahirkan."


Tanpa menunggu jawaban, Aina lanjut mendorong kursi roda hingga halaman rumah. Kembali suara lantangnya menggelegar saat memanggil sopir dan juga pengawal pribadinya. Aina tau Arhan akan marah jika dia keluar rumah tanpa pengawalan.


"Pak Anang, Baron,"


Pak Anang yang tengah berada di kamar mandi tak mendengar teriakan Aina. Sementara Baron sendiri langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah membentuk otot-otot nya.


Baron yang hanya mengenakan singlet langsung berlari menghampiri sumber suara. "Ada apa Aina?" Seketika matanya membulat melihat Nayla yang sudah meringkuk menahan sakit.


"Baron, antar aku ke rumah sakit! Nayla mau melahirkan, cepat gak ada waktu lagi!" desak Aina yang sudah kehilangan akal.


Baron mengangguk dan segera mengangkat tubuh Nayla, lalu mendudukkannya di bangku belakang. Dia ikut-ikutan panik tanpa peduli tubuhnya yang masih dipenuhi dengan keringat, bahkan dia hanya mengenakan singlet dan celana pendek.


Aina menyusul masuk dan duduk di samping Nayla, sementara Baron sendiri sudah duduk di bangku kemudi. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah menghilang dari gerbang dan melaju menyusuri jalan raya.

__ADS_1


"Sakit Aina, aku tidak kuat lagi." isak Nayla yang kini tengah berada di pelukan Aina.


"Sabar Nayla, kamu harus kuat! Sebentar lagi kamu akan bertemu malaikat kecil itu, kamu tahan bentar ya!"


Aina mencoba menenangkan Nayla. Sebelah tangannya terus saja mengusap lengan sahabatnya, sementara tangan satunya berada di perut Nayla. Aina mengelus perut buncit itu dengan lembut. "Anak Mama yang sabar ya, kasihan Bunda."


"Baron, bisa cepat sedikit!" seru Aina.


Baron tak menyahut, namun kakinya bermain menginjak pedal gas hingga mobil itu bak melayang di udara. Untung saja jalanan tidak terlalu ramai.


Beberapa menit berlalu, mobil yang dikendarai Baron sudah masuk ke gerbang rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan dan segera turun. Kembali Baron menggendong Nayla.


"Dokter, Suster," teriak Baron dengan suara besarnya.


Baron membaringkan Nayla di atas brankar. Beberapa orang suster membawanya ke ruang bersalin.


"Tolong tunggu di luar!" ucap seorang suster. Tidak lama, seorang dokter menyusul masuk ke dalam.


Di perusahaan, Hendru dan Arhan baru saja menyelesaikan meeting penting yang mengharuskan mereka untuk ikut. Padahal Hendru sendiri sudah ingin mengambil cuti mengingat kandungan istrinya yang sudah memasuki bulan.


Hendru menghentikan langkahnya saat merasakan getaran di kantong celananya. Dia mengeluarkan ponsel dan menatapnya dengan kening mengerut.


"Siapa?" tanya Arhan yang ikut menghentikan langkahnya.


"Ya Aina, ada apa?" kata Hendru setelah mengangkat panggilan tersebut. Padahal Hendru sendiri baru saja ingin pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Hendru membelalakkan matanya mendengar celotehan Aina yang tak kunjung berhenti.


"Makasih Aina, aku segera ke sana." Panggilan terputus, Hendru kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Ada apa?" tanya Arhan penasaran.


"Aku harus ke rumah sakit, Nayla mau melahirkan." Hendru langsung menghilang dari hadapan Arhan.


Segera Arhan menyusul hingga keduanya memasuki lift yang sama. Setibanya di parkiran khusus, Arhan meminta kunci kepada Hendru. Dia yang akan mengemudi karena ragu mengingat pikiran Hendru yang tengah gelisah tak menentu.


Seperempat jam kemudian, mobil yang dikendarai Arhan sudah terparkir di depan rumah sakit. Hendru melompat turun dan meninggalkan Arhan begitu saja.


"Dimana Nayla?" Suara Hendru yang bergetar membuat Aina dan Baron terperanjat.


"Sabar Hendru, istrimu masih di dalam. Dokter sedang menanganinya." jawab Baron yang sudah berdiri di samping Hendru, lalu menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


Hendru kian gelisah sembari mondar mandir layaknya setrikaan, tidak lama terdengar suara tangisan bayi yang begitu lantang hingga ke luar.


"Hendru, itu suara tangisan bayimu. Dia sudah lahir," seru Aina dengan mata berkaca, setetes cairan bening nampak mengalir di sudut matanya. Dia bersyukur karena Nayla bisa melahirkan secara normal.


Hendru tak kuasa menahan diri, air matanya tumpah mendengar suara tangisan itu.


"Woi, kenapa menangis? Harusnya kau bahagia menyambut kedatangan bayimu. Dasar cengeng!" seloroh Baron sembari tertawa kecil. Dia sebenarnya tau air mata itu adalah air mata kebahagiaan, tapi bukan Baron namanya kalau sehari saja tak membuat ulah dengan kekonyolannya.


"Baron," lirik Aina dengan mata melotot tajam.


"Hahahaha... Iya Nyonya Arhan," kekeh Baron. Dia sendiri sangat bahagia karena mendapat keponakan satu lagi.


Arhan tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu cantik tanpa riasan sedikitpun, sementara Aina sendiri tidak menyadari kedatangan suaminya.


Pintu ruangan terbuka lebar, Aina dan Hendru segera menghadang langkah dokter yang muncul di hadapan mereka.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" cerca Hendru.


"Hehe, keduanya baik dan sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" jawab dokter sembari tertawa kecil.


"Syukurlah," Aina menghela nafas lega, begitupun dengan Hendru.


"Boleh saya masuk, Dok?" tanya Hendru yang sudah tidak sabar ingin melihat istri dan anaknya.


"Silahkan!"


"Makasih, Dok,"


Setelah memberi izin, dokter itu pun meninggalkan semua orang.


Hendru segera masuk dengan hati yang diselimuti kebahagiaan berlimpah, akhirnya dia resmi menjadi seorang ayah dari darah dagingnya sendiri.


Aina ingin menyusul, namun langkahnya terhenti saat tangan seseorang menariknya hingga tubuhnya membentur tubuh tinggi kekar itu.


"Aaaaaaaa..." teriak Aina saking terkejutnya, dia pikir ada orang jahat yang ingin menyakitinya lagi.


"Sssttt... Kenapa berteriak sayang? Ini Abang," bisik Arhan sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aina.


Aina mendongak dengan wajah pucat. "Abang?" Aina memukuli dada Arhan bertubi-tubi, hampir saja jantungnya berhamburan keluar ulah suaminya itu. Aina pun mengerucutkan bibirnya kesal.


"Hehehe, kenapa marah sayang? Harusnya Abang yang marah sama Aina, udah dari tadi Abang di sini tapi Aina gak liat Abang sedikitpun. Apa kehadiran Abang udah gak berarti lagi bagi Aina?"

__ADS_1


Aina mengalungkan tangannya di leher Arhan. "Ngomong apa sih Bang? Aina gak ngeh, udah jelas pikiran Aina lagi fokus sama Nayla."


"Woi, tolong hargai perasaan orang! Kalau mau bermesraan jangan di sini, ini tempat umum." ketus Baron penuh kekesalan, batinnya menjerit karena selalu saja melihat keromantisan orang-orang yang membuat mood nya rusak. Dia pun memilih pergi daripada harus jadi nyamuk di tempat itu. Entah kapan dia akan merasakan hal yang sama.


__ADS_2