Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 135.


__ADS_3

Malam hari Aina duduk di depan meja rias memoles wajahnya dengan make up seadanya. Arhan yang baru keluar dari kamar mandi seketika tertegun melihat istrinya yang nampak cantik jelita meski sudah memiliki tiga anak sekalipun.


Dari awal hingga kini tak sedikitpun kecantikan Aina memudar, malahan semakin cantik hingga membuat Arhan jatuh cinta setiap harinya.


"Jadi pergi?" tanya Arhan sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Jadi dong," jawab Aina cuek tanpa menoleh ke arah Arhan sedikitpun.


"Ya udah, Abang pakai baju bentar ya." Arhan bergegas membuka pintu lemari dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan.


Aina melirik Arhan sembari tersenyum kecut. "Yang ngajakin Abang siapa?"


Sontak saja Arhan mengerutkan kening sambil berbalik dan menatap Aina dengan intens. "Maksud Aina apa?"


"Aina perginya sama anak-anak, Abang gak usah ikut!" ucap Aina sambil tersenyum kecil, lalu meninggalkan meja rias dan berjalan menuju pintu.


Mendengar itu, rahang Arhan tiba-tiba mengerat kuat. Segera dia berlari dan berdiri di daun pintu sambil merentangkan kedua tangannya.


Aina mengulum senyumannya. "Abang mau ngapain? Mau jadi foto model?"


"Terserah Abang dong, mau jadi foto model kek, apa kek. Intinya Aina gak boleh pergi tanpa Abang!"


"Kenapa?" Aina menautkan alisnya sambil tersenyum.


"Kalau Abang bilang gak boleh ya gak boleh!" tegas Arhan.


"Kenapa gak boleh? Aina perginya sama anak-anak kok," jelas Aina.


"Sama anak-anak kek, siapa kek. Pokoknya gak boleh pergi tanpa Abang!" ucap Arhan penuh penekanan.


"Dasar suami aneh, tadi diajakin sok jual mahal. Sekarang malah dilarang," Aina mengerucutkan bibirnya dan berbalik, lalu menekuk kakinya di sisi ranjang.


Arhan yang melihat itu langsung berjalan menghampiri Aina dan duduk di sampingnya.


"Bukannya gak boleh sayang, tapi Aina tau sendiri kan di luar sana berbahaya buat Aina. Abang gak mau kejadian dulu terulang lagi, Aina ngerti maksud Abang kan?" terang Arhan.


"Alasan aja," keluh Aina dengan bibir mengerucut.


"Bukan alasan sayang, tapi-"


"Mama, Papa,"

__ADS_1


Belum selesai Arhan berbicara, ucapannya sudah terpotong saat ketiga tikus kecil itu menyelonong masuk ke dalam kamar mereka.


Ketiga tikus kecil itu berhamburan memeluk Aina.


"Jadi pergi kan Ma?" ucap Avika dengan imutnya.


"Gak jadi, gak dibolehin sama Papa." jawab Aina yang sengaja memprovokasi buah hatinya.


"Kok gak boleh sih Pa? Papa kenapa sih?" tanya Aryan dengan pipi menggembung sambil berkacak pinggang.


Arhan menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tau Aina sengaja menyudutkan dirinya agar anak-anak menekannya.


"Bukan gak boleh sayang, tapi-"


"Papa jahat, padahal kami bertiga udah siap dari tadi loh." Avika mengerucutkan bibirnya dan menatap Arhan penuh kekesalan.


"Bukan begitu sayang, Papa gak larang kok. Papa sebenarnya pengen ikut tapi gak dibolehin sama Mama."


Kini giliran Arhan yang memprovokasi anak-anak. Pandangan mereka pun beralih pada Aina.


"Kok gak boleh sih Ma? Bagus dong kalau Papa ikut, pasti seru kalau ada Papa." ucap Inara.


"Nah, itu dia yang Papa maksud tadi. Kata Mama, Papa di rumah aja. Padahal Papa pengen ngajakin kalian jalan-jalan loh." imbuh Arhan.


"Ma, Papa boleh ikut ya. Enak loh kalau ada Papa, apapun yang kami minta pasti dibeliin." desak Avika sambil mengguncang lengan Aina.


Aina menilik Arhan dengan tajam dan mencubit pinggang suaminya itu sepintas lalu. "Iya iya, Papa ikut bersama kita. Kalian semua tunggu di bawah aja. Papa mau ganti baju dulu."


"Yeay, asik, Papa ikut kita." Avika, Aryan dan Inara berseru penuh kebahagiaan.


Setelah melompat-lompat kegirangan, ketiga tikus kecil itu berlari meninggalkan kamar. Arhan yang melihat itu langsung tersenyum tapi tidak dengan Aina, dia malah kesal karena Arhan berhasil memprovokasi ketiga bocah lucu itu.


"Puas?" ketus Aina.


"Hahaha... Jangan marah dong sayang! Emangnya Aina benar-benar gak mau keluar sama Abang." Setelah tertawa, Arhan mengerutkan keningnya.


"Mau dong, Aina cuma kesal aja gara-gara tadi. Bilangnya gak mau ngeluarin duit, masa' Aina yang bayarin?" keluh Aina dengan wajah cemberut.


"Makanya jangan bodoh! Yang bilang gak mau ngeluarin duit siapa? Aina aja yang terlalu cepat ngambil kesimpulan, udah jelas semua milik Abang milik Aina juga. Termasuk-"


"Sssttt... Jangan mulai! Cepat ganti baju!" potong Aina yang sudah tau arah pembicaraan suaminya.

__ADS_1


"Hehehe... Tunggu Abang bentar ya!" Arhan mengacak rambut Aina dan bergegas mengenakan pakaian.


Malam ini Aina sangat cantik mengenakan dress pendek selutut berwarna latte, sedangkan Arhan terlihat sangat tampan dengan kemeja pendek polos berwarna sama, sangat serasi dengan jeans hitam yang melekat di kakinya.


"Huh, dasar tukang jiplak." Aina menautkan alisnya dengan bibir mengerucut.


"Kok jiplak sih, bukannya keren seperti ini? Terlihat seperti pasangan couple gitu." jelas Arhan.


"Ingat umur! Udah tua juga," cibir Aina.


"Gak papa tua, yang penting istrinya masih muda dan cantik." sanjung Arhan yang membuat Aina tersipu malu.


"Bleeek, gombal aja terus."


"Hahaha..."


Usai perdebatan membagongkan itu, Aina meninggalkan kamar lebih dulu dan turun menemui anak-anak yang sudah menunggu di teras rumah.


"Lama banget sih Ma, Papa mana?" seru Avika yang sudah tidak sabar sedari tadi.


"Papa lagi dandan," jawab Aina asal.


"Dandan?"


Ketiga tikus kecil itu melotot kan mata mereka seperti buah anggur. Bukankah yang biasanya berdandan itu perempuan? Lalu kenapa Papa mereka juga dandan?


"Mana ada, Mama tuh emang suka cari gara-gara sama Papa." seru Arhan yang tiba-tiba muncul di belakang Aina.


Aina mengulum senyumannya dan segera menjauh dari Arhan. Jangan sampai Arhan menangkapnya dan melakukan hal bodoh di depan anak-anak.


"Kak Aksa mana?" tanya Arhan yang tak melihat putra sulungnya diantara mereka.


"Kak Aksa lagi di paviliun sama Om Baron. Tadi udah Avika ajak tapi Kak Aksa nya gak mau." jawab Avika.


"Ya udah, kalian masuk ke mobil dulu sama Mama!" seru Arhan.


Ketiga tikus kecil itu berhamburan ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman, Aina pun menyusulnya dan membukakan pintu untuk mereka.


Tidak lama, Arhan kembali setelah menemui Baron dan Aksa di paviliun. Arhan masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


Setelah Arhan melajukan mobilnya, mobil lain menyusul di belakang. Ada Dori dan Andi yang sengaja Arhan perintahkan untuk mengawal mereka.

__ADS_1


Tentu saja Arhan sudah mempertimbangkan semuanya. Ibarat kata pepatah, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Sebelum kejadian, lebih baik berjaga-jaga.


Arhan sudah trauma melihat Aina yang harus berjuang keluar masuk rumah sakit akibat kelakuan manusia iblis yang tidak bertanggung jawab. Apalagi kali ini ada anak-anak yang ikut bersama mereka. Keselamatan mereka tentunya menjadi prioritas utama bagi Arhan.


__ADS_2