
Malam hari, Aina nampak sangat cantik dengan gaun yang dikenakannya. Arhan sampai terpana melihat kecantikan istrinya. Terlebih setelah Aina mengenakan aksesoris yang dibelikan suaminya sore tadi, membuat Arhan bergeming tanpa kedip.
"Loh, kok liatin Aina nya gitu banget? Ada yang salah?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.
"Tidak, tidak ada yang salah." Arhan menghampiri Aina dan memeluknya dari belakang.
Seketika, pantulan tubuh keduanya terpampang nyata di depan cermin.
"Di acara nanti, Aina jangan jauh-jauh dari Abang ya!" bisik Arhan tepat di telinga istrinya.
"Kenapa?" tanya Aina sembari mengulum senyumannya, bulu kuduknya tiba-tiba meremang merasakan hembusan nafas Arhan yang begitu hangat.
"Pokoknya gak boleh jauh-jauh, Aina harus berdiri di sisi Abang sampai acara selesai!" jelas Arhan, kemudian mengecup sisi rahang Aina dengan lembut.
"Posesif banget sih, takut banget ya istrinya digodain orang!" celetuk Aina sembari tersenyum kecil.
"Ya begitulah kira-kira, awas aja kalau kecentilan di sana!" tegas Arhan sembari memandangi kecantikan istrinya dari pantulan cermin.
"Iya, iya, lagian untuk apa kecentilan sama orang lain. Satu aja udah bikin puyeng," sahut Aina, lalu terkekeh dengan sendirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bawah sana, Nayla sudah menunggu di ruang keluarga. Gadis itu tak kalah cantiknya dengan Aina, begitupun dengan Leona yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Nayla, kamu cantik sekali Nak? Aina mana?" tanya Leona yang tidak melihat keberadaan menantunya di sana.
"Mama bisa aja, Aina masih di atas Ma. Mau Nayla panggilin?" sahut Nayla tersipu malu, pipinya memerah mendengar pujian Leona barusan.
"Tidak perlu, tunggu saja!" Leona memilih duduk sembari menunggu anak dan menantunya turun dari kamar.
Tidak berselang lama, Aina dan Arhan turun dari kamar mereka. Keduanya nampak sangat serasi dengan pakaian bernuansa hitam yang melekat di tubuh masing-masing.
"Malam Ma, kalian sudah siap? Papa sama Hendru mana?" sapa Arhan setelah menapakkan kakinya di ruang keluarga.
"Papa masih di kamar, gak tau kalau Hendru." sahut Leona sembari memandangi anak menantunya bergantian.
"Nayla, pergilah ke paviliun! Takutnya anak itu ketiduran," pinta Arhan, lalu menekuk kakinya di ujung sofa.
Setelah Nayla menghilang dari pandangan mereka, Aina ikut duduk di samping Arhan. Tidak lama, Airlangga pun keluar dari kamar dan bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Apa semua sudah siap?" tanya Airlangga sembari merapikan dasi yang dikenakannya.
"Sudah Pa, mau jalan sekarang?" sahut Leona, kemudian bangkit dari duduknya dan membantu merapikan dasi suaminya.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?" balas Airlangga, kemudian melangkah menuju pintu utama bersama Leona.
Malam ini Arhan dan Aina terpaksa meninggalkan Aksa bersama Inda, mereka takut Aksa kelelahan dan rewel karena acara tersebut akan sangat ramai dihadiri kolega mereka.
Setelah berpamitan dengan Inda, Arhan dan Aina menyusul kedua orang tua mereka menuju halaman rumah.
Di paviliun, Hendru berdecak kagum melihat Nayla yang tengah berdiri di depan pintu. Pria itu seakan terhipnotis oleh kecantikan Nayla.
"Hendru, apa kamu sudah siap?" tanya Nayla sembari tersenyum kecil.
"Nayla, kamu cantik sekali." kagum Hendru dengan mata terbuka lebar.
"Jangan menggodaku! Ayo cepat, semua sudah menunggu!" ajak Nayla, kemudian berbalik hendak meninggalkan Hendru.
"Tunggu Nayla!" Hendru berlari kecil menyusul gadis itu.
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah menuruti keinginanmu?" ucap Nayla sembari berbalik, lalu menatap Hendru dengan tatapan tak biasa.
"Terima kasih karena sudah mau mengenakan gaun ini untukku, kamu benar-benar cantik." sanjung Hendru dengan nafas terengah.
"Kamu salah, gaun ini memang indah. Tapi jika wanita yang memakainya bukan kamu, belum tentu akan terlihat seindah ini." sanjung Hendru sembari
memepet tubuh Nayla.
"Hendru, apa yang kamu lakukan? Menjauhlah dariku!" pinta Nayla gugup, bibirnya bergetar melihat wajah Hendru yang sangat dekat dengan dirinya.
Melihat wajah Nayla yang begitu, Hendru jadi gemas, kemudian menempelkan bibirnya tepat di bibir ranum Nayla yang merekah.
"Mmm," Suara Nayla tiba-tiba tertahan saat Hendru melu*mat bibirnya penuh kelembutan. Nayla yang awalnya canggung, seketika terlena di bawah penguasaan Hendru.
"Maafkan aku Nayla, aku tidak bermaksud kurang ajar padamu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat melihatmu seperti ini."
Setelah melepaskan pagutannya, Hendru membawa Nayla ke dalam dekapan dadanya, kemudian mengecup kening Nayla dengan sayang.
"Aku mencintaimu Nayla, beri aku kesempatan untuk memilikimu! Aku janji akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab," ucap Hendru penuh keyakinan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin memilih aku? Di luar sana masih banyak gadis cantik yang lebih pantas untukmu!" tanya Nayla yang masih diambang keraguan.
"Jika aku tidak yakin, mana berani aku mencium mu?" jawab Hendru sembari mengusap kepala Nayla.
"Ya sudah, sekarang lepaskan aku! Semua orang sudah menunggu, tidak enak dengan mereka." balas Nayla sembari mendorong dada Hendru.
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku," keluh Hendru dengan wajah cemberut nya.
"Nanti aku jawab, ayo cepat!" Nayla menarik tangan Hendru menuju halaman depan.
Sesampainya di depan, semua orang tersenyum melihat tangan Nayla yang masih bertaut dengan tangan Hendru. Seketika, Nayla terlonjak dan bergegas melepaskan tangan Hendru dari genggamannya. Betapa malunya dia di hadapan semua orang.
"Pantesan lama, ternyata ada udang dibalik bakwan." sindir Arhan sembari tersenyum miring.
"Abang jangan gitu dong, kasian mereka!" ucap Aina sembari mencubit lengan suaminya.
"Hahaha, kok jadi Abang yang disalahin?" keluh Arhan sembari mengusap lengannya.
"Cukup bicaranya, ayo jalan!" ajak Airlangga menengahi obrolan mereka.
Airlangga, Leona, Arhan dan Aina masuk ke mobil yang sama, sementara Hendru dan Nayla masuk ke mobil lainnya. Tidak lama, kedua mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah.
Di mobil depan, Arhan sibuk membahas kelanjutan hubungan Nayla dan Hendru. Semua orang sepakat untuk menikahkan mereka berdua.
Sementara di mobil belakang, Nayla nampak canggung memikirkan kejadian tadi. Di satu sisi, dia sebenarnya bersedia menerima Hendru sebagai suaminya. Di sisi lain, dia merasa tak pantas bersanding bersama Hendru.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Hendru sembari melirik ke arah Nayla.
"Tidak ada, fokus saja menyetir mobilnya!" jawab Nayla sembari fokus menatap jalanan yang mereka lalui.
"Apa kamu sudah memikirkan permintaan aku tadi?" tanya Hendru yang masih penasaran dengan jawaban Nayla.
"Sudah, aku juga sudah menentukan jawabannya." sahut Nayla dengan datarnya.
"Apa jawabannya?" tanya Hendru yang semakin penasaran.
"Nanti saja, aku tidak mau menjawabnya sekarang!" sahut Nayla yang membuat Hendru semakin penasaran.
"Nayla, apa kamu sengaja mempermainkan aku?" geram Hendru dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Boleh dong mempermainkan emosimu sekali-sekali?" jawab Nayla sembari tersenyum kecil.
"Oh, jadi begitu ya. Baiklah, aku tidak akan memaksamu menerimaku. Terserah kamu saja, aku tidak peduli lagi!" ketus Hendru, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.