Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 123.


__ADS_3

Setelah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, mereka semua berkumpul sejenak di ruang tengah. Terdengar gelak tawa yang membuat suasana di dalam rumah itu kembali damai dan hangat.


Inda sendiri sudah kembali tersenyum dan tak hentinya menempel di lengan Baron, sementara Baron sendiri begitu leluasa melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Inda. Hal itu membuat Arhan dan Hendru merasa iri karena tak bisa melakukan hal yang sama terhadap istri mereka.


"Semua udah clear kan? Kalau begitu aku ke kamar dulu istirahat, rasanya pegel banget abis nguras emosi."


Aina meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju lift. Tidak lama, Nayla ikut menyusul karena juga ingin tidur siang bersama putri kesayangannya.


Siang hari Baron membantu Inda memindahkan barang-barangnya ke paviliun, mulai hari ini dan seterusnya keduanya akan tinggal di sana.


Sebenarnya Arhan sendiri sudah menyiapkan kamar untuk mereka di rumah besar itu, namun Baron menolak dengan tegas karena merasa lebih suka tinggal di paviliun. Selain lebih nyaman, pergerakannya tentu akan lebih leluasa di sana.


Di kamar atas, Aina tengah berbaring di atas ranjang. Kehamilannya yang ketiga ini menjadikan dirinya lebih sering lelah dan membutuhkan istirahat yang cukup setiap harinya.


Arhan yang baru saja membersihkan diri di kamar mandi mendekatinya dan duduk di sisi ranjang. Baru saja ingin membaringkan tubuhnya, Aina sudah lebih dulu mencegatnya.


"Ingat, satu bulan penuh gak boleh tidur di ranjang ini!" seru Aina sembari berbalik dan menatap manik mata Arhan dengan tajam.


Arhan terperangah dan kembali meluruskan posisi duduknya. "Sayang, kan Abang udah minta maaf. Kenapa hukumannya masih dilanjutin?"


Aina menyeringai menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi. "Gak ada hubungannya sayang. Minta maaf merupakan suatu keharusan karena udah melakukan kesalahan, namun hukuman akan tetap berjalan sesuai dengan kesepakatan. Siapa suruh bikin rusuh?"


Arhan mendengus kesal sembari mengusap wajahnya berkali-kali. "Sayang, jangan kejam gini dong! Aina gak kasihan sama Abang? Lagian Aina sedang hamil kan, Abang gak mau ninggalin Aina sendirian. Nanti kalau Aina sakit gimana? Terus kalau Aina pengen gimana?"


Aina membulatkan matanya dengan sempurna sembari meraih perut Arhan dan mengapit kecil dengan jemarinya.


"Aduh... Sakit sayang," rintih Arhan sembari mengusap perutnya.


"Abang dengar Aina ya! Kalau Aina sakit ataupun pengen, Aina pasti manggil Abang. Tapi-"


"Tapi apa sayang?" potong Arhan yang sudah tak sabar ingin mendengar pengampunan dari Aina.

__ADS_1


"Hehe, gak jadi deh. Ya udah, selamat hidup membujang suamiku sayang."


Aina tertawa kecil sembari mencubit hidung Arhan gemas lalu memutar tubuhnya kembali dan mulai memejamkan matanya.


"Aina gak adil, Abang kan udah minta maaf sama Inda dan Baron. Kalau Aina gak menghapus hukuman itu, Abang lebih baik minggat aja dari rumah ini. Abang mau tinggal di apartemen aja sebulan ini." lirih Arhan dengan air muka memelas.


"Ya udah, pergi aja! Lagian Aina gak butuh Abang kok," sahut Aina enteng.


Arhan mengepalkan tangannya erat, enteng sekali Aina bicara seperti itu pada dirinya. Apa Aina benar-benar tidak membutuhkan dirinya di masa-masa seperti ini? Yang Arhan tau Aina lebih manja dan selalu ingin berada di dekatnya saat berbadan dua seperti ini.


Ya sudah, tidak apa-apa kalau Aina memang menginginkan ini. Arhan ingin lihat, sampai mana Aina sanggup bertahan.


"Ya udah, Abang pergi ya."


Arhan memilih bangkit dari duduknya dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Kemeja putih lengan pendek dan celana jeans hitam membuat tampilannya terlihat begitu gagah meski di usia yang tidak muda lagi. Bahkan ketampanannya masih bisa mengalahkan anak muda di luar sana.


Tanpa mempedulikan Aina, Arhan segera mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam kantong lalu mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas.


Saat Arhan melangkah menuju pintu, Aina mengangkat kepalanya dan menatap punggung Arhan dengan sendu. Tapi dia tidak boleh luluh, biarkan saja Arhan pergi. Dia juga ingin melihat siapa yang sanggup bertahan diantara mereka.


"Keras kepala sekali istriku ini, dia bahkan gak menahan ku untuk pergi. Oke baiklah, liat aja siapa yang akan merengek setelah ini." Arhan melanjutkan langkahnya hingga benar-benar menghilang dari kamar.


Di kamar lain, Hendru juga mendapat perlakuan yang sama dari istrinya. Nayla juga menghukumnya sesuai kesepakatannya dengan Aina di bawah tadi. Hendru memutuskan untuk meninggalkan kamar dan kebetulan sekali dia berpapasan dengan Arhan.


"Kenapa mukamu jadi kecut begitu?" tanya Arhan yang sama sekali tidak menyadari bahwa air mukanya juga sama seperti Hendru.


"Kau sendiri kenapa?" jawab Hendru ketus.


"Aku diusir, semua ini gara-gara cucunguk itu. Awas aja, aku akan membalasnya nanti!" geram Arhan sembari mengayunkan langkahnya.


Hendru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Rupanya bukan dirinya saja yang diusir oleh Nayla, tapi Arhan juga diusir oleh istrinya. Segera Hendru berlari menyusul Arhan yang sudah tiba di depan pintu lift.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Hendru sembari mengerutkan keningnya.


"Ke apartemen, biar aja dia merasa kesepian tanpa suami! Siapa suruh main-main denganku?"


Arhan masuk ke dalam lift saat pintunya terbuka lebar. Hendru pun tak mau kalah, dia memilih untuk ikut bersama Arhan untuk memberi pelajaran pada istrinya.


Malam hari, ruang makan terasa sepi tanpa kehadiran Arhan dan Hendru. Aina berusaha terlihat santai sembari terus menikmati makan malamnya, begitu juga dengan Nayla yang tidak mempedulikan suaminya sama sekali. Kapan lagi dia bisa menghukum suami gilanya itu.


"Mana suami kalian? Kok gak ada yang turun?" tanya Baron sembari mengerutkan keningnya.


"Entahlah, mungkin lagi senang-senang di luar sana." sahut Aina dengan santai.


"Senang-senang?" Baron mengulangi kata itu sembari terus menyantap makanannya.


"Hati-hati loh, ingat ucapan papa kemarin. Pelakor bertebaran dimana-mana." seru Baron sembari tersenyum kecil.


"Biarin aja! Siapa suruh kurang ajar jadi suami?" timpal Nayla dengan entengnya.


"Nyonya, aku udah maafin mereka kok. Kenapa harus dihukum?" sela Inda yang tengah berdiri di samping suaminya.


"Inda, kamu lebih baik duduk dan makan. Gak usah mikirin mereka!" seru Aina setelah menyudahi makannya, kemudian membawa Aksa dan Avika ke kamarnya.


Setelah Aina membantu kedua anaknya menggosok gigi dan mencuci muka, tangan dan kaki, Aina menyuruh mereka berbaring di atas ranjang besar miliknya. Mulai hari ini sampai satu bulan ke depan, mereka akan tidur bersama tanpa Arhan di sampingnya.


"Ma, kenapa Papa belum pulang juga?" tanya Aksa sembari berbaring memeluk Aina.


"Papa gak akan pulang. Udah, tidur aja!" sahut Aina sembari mengusap kepala putra sulungnya, lalu mengecupnya dengan sayang.


"Kenapa Ma, kalian berantem lagi?" tanya Aksa ingin tau.


Makin hari Aksa memang semakin lincah berbicara, dia juga selalu ingin tau urusan orang dewasa. Kadang Aina bingung sendiri melihat putranya itu, tapi Aina selalu berusaha tenang menghadapinya.

__ADS_1


"Gak kok, Papa lagi sibuk. Aksa tidur aja, kasihan dede nanti ikut-ikutan mikirin Papa. Aksa tau sendiri kan kalau dede Avika gak bisa jauh dari Papa."


Aksa mengangguk kecil pertanda mengerti maksud ucapan mamanya, dia mulai memejamkan mata sembari terus memeluk Aina. Sementara Avika sendiri sudah lebih dulu tidur setelah bergelayut di dada sang mama.


__ADS_2