
Usai membersihkan diri, Aina duduk di depan cermin menggunakan lingerie tipis berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Dua bola yang bulat berisi menggantung indah tanpa bra, semakin indah dengan hiasan kelereng yang menonjol di dalam sana.
Aina menatap lekat perutnya yang kini semakin membuncit, lalu mengusapnya pelan. Merasakan setiap gerakan yang dilakukan sang buah hati di dalam sana.
Tujuh bulan sudah Aina merasakan nikmatnya mengandung sang buah hati tercinta, selama itu pula perubahan sikap dan fisiknya tak terkendali. Emosi yang kadang suka naik turun, rasa ingin dimanja dan diberi perhatian lebih, bahkan rasa takut kehilangan terkadang timbul begitu saja di benaknya.
"Kenapa Aina masih duduk di situ? Katanya mau tidur," seru Arhan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Tubuh tinggi dengan otot yang mengeras di titik tertentu membuat ketampanannya kian terpancar sempurna. Belum lagi rambut basah yang masih acak-acakan, membuat mata Aina membulat tanpa kedip.
"Bang...," panggil Aina dengan manja.
"Apa sayang?" sahut Arhan yang kini tengah berjalan menuju lemari pakaian.
"Aina boleh minta sesuatu gak?" tanya Aina sedikit ragu.
"Katakan saja! Aina mau apa?" tanya Arhan yang masih fokus mencari pakaian tidur.
"Sini dulu!" panggil Aina.
"Apa sayang?" Arhan menutup kembali pintu lemari dan berjalan menghampiri Aina.
Setelah Arhan berdiri di belakangnya, Aina pun menarik tangan Arhan agar pindah ke hadapannya.
"Aina mau apa sayang?" tanya Arhan sambil membungkukkan tubuhnya. Mengangkat dagu Aina, lalu mengesap bibir istrinya dengan lembut.
Seulas senyum terukir indah di bibir Aina. "Aina mau eskrim,"
"Eskrim?" Arhan mengerutkan keningnya.
"Tumben malam-malam begini Aina minta eskrim? Besok aja ya! Sekarang yang lain dulu, bukankah biasanya Aina suka yang panas-panas?" tawar Arhan.
"Aina maunya sekarang," rengek Aina begitu manja, persis seperti Aksa saat menginginkan sesuatu.
"Iya, iya, jangan ngambek gitu dong! Abang pakai baju sebentar," Arhan ingin beranjak menuju lemari pakaian, namun tangan Aina malah melingkar di pinggangnya.
"Abang mau kemana?" tanya Aina dengan bibir mengerucut.
"Katanya mau eskrim? Biar Abang belikan sebentar di depan!" sahut Arhan.
"Gak usah!" tahan Aina.
__ADS_1
"Loh, kok gak usah?" Arhan mengerutkan keningnya, kian hari keinginan Aina membuatnya semakin bingung.
Aina melepaskan pelukannya, dengan cepat tangannya bergerak menarik handuk yang masih melilit di pinggang Arhan.
"Sret!"
"Sayang?" Mata Arhan membulat sempurna dengan mulut sedikit menganga. Tak percaya, mendadak tiang kejantanannya menunjuk wajah Aina yang masih duduk manis di hadapannya.
Tanpa permisi, Aina menyentuh benda tersebut dan memainkannya dengan tangan. Membuat Arhan ngilu hingga mengerang dengan dahsyatnya. "Aahh,"
"Jleb!"
Arhan semakin terkejut saat benda miliknya menghilang di tenggorokan Aina. Sungguh diluar pemikirannya, tidak jijik kah Aina melakukan itu.
"Aahh...," Arhan kembali mengerang menikmati hisapan Aina yang begitu kuat, mendadak sekujur tubuh Arhan dibuat ngilu.
"Sayang... Aahh...,"
Sesaat dunia seakan berhenti berputar, sungguh begitu nikmat tiada duanya.
"Cukup sayang! Lama-lama Abang bisa mati berdiri ulah Aina,"
Tak kuasa menahan tegangan tinggi yang sudah ingin meledak kapan saja, dengan cepat Arhan menarik lengan Aina hingga berdiri sejajar dengan dirinya.
Menggigit tengkuk Aina hingga menyisakan banyaknya stempel merah pekat, semakin turun dan meremas dua bola kenyal Aina tanpa ampun.
"Aahh... Pelan-pelan Bang! Gak sabaran banget," de*sah Aina dengan suara tertahan.
"Gak bisa pelan sayang, siapa suruh seperti tadi? Nakal...," geram Arhan sembari menurunkan tali lingerie Aina hingga meluncur bebas di dasar lantai.
"Ke kasur yuk!" ajak Arhan yang sudah tak kuat membendung hasrat di dirinya yang kian membara.
"Gak mau, Aina mau di sini aja!" tolak Aina.
"Di sini? Aina yakin?" tanya Arhan memastikan.
Aina mengangguk kecil, kemudian membusungkan dadanya memberi celah agar Arhan menjamah tubuhnya dengan leluasa.
Kembali Aina mende*sah saat mulut Arhan melahap habis bola kenyal miliknya, bahkan tangan Arhan tak luput meremas bagian satunya dan menghisapnya secara bergantian.
"Aahh... Turun Bang! Aina gak kuat lagi,"
__ADS_1
Arhan mengangguk dan melepas hisapannya dari ujung dada Aina. Berjongkok mencium perut buncit istrinya dan turun menciumi inti Aina yang sudah basah. Aroma khas yang begitu menggoda membuat Arhan dengan cepat melahapnya dan menjilatinya dengan gerakan secepat kilat.
"Aahh... Ya...," Aina lagi-lagi mende*sah, kakinya bergetar hebat dengan sebelah tangan yang bertumpu pada sisi meja rias. Sementara sebelah lagi meremas rambut Arhan dengan kuat.
"Aahh...," Sebuah jeritan kecil membuat tubuh Aina merasa lemah tak berdaya, sungguh nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.
"Basah sayang," seru Arhan dari bawah sana. Tak lupa Arhan menghisapnya dengan rakus.
Sedetik kemudian Arhan bangkit dan memutar tubuh Aina menghadap cermin, menggesekkan tiang kejantanannya di belakang sana.
"Jleb!"
"Ah...," Jeritan kecil kembali keluar dari mulut Aina.
Arhan mulai mengayunkan pinggulnya, pelan tapi pasti. Gerakan yang awalnya lambat, mendadak semakin kencang hingga de*sahan Aina semakin menjadi-jadi.
Puas bermain dengan gaya punggung, Arhan duduk di bangku meja rias. Sementara Aina mulai duduk di atasnya.
"Aahh...," Kini giliran Aina yang berlenggak-lenggok mengayunkan pinggulnya, membuat Arhan mabuk kepayang ulah gerakan istrinya yang begitu lincah.
Lebih dari setengah jam berpacu dengan keringat yang sudah mengucur deras, Arhan mengangkat tubuh Aina dan mendudukkannya di meja rias. Menekan kuat hingga akhirnya lahar panas itu menyembur deras di dalam sana.
"Aahh...," erang Arhan dan Aina secar bersamaan.
Setelah menarik tiang kejantanannya, Arhan mengangkat tubuh Aina dan berjalan menuju kasur. Membaringkan Aina untuk meluruskan tulangnya yang kini terasa bengkok. Arhan pun ikut berbaring di sebelahnya.
"Belajar dari mana hingga Aina kepikiran seperti tadi?" tanya Arhan penuh intimidasi.
"Gak ada, mendadak aja terlintas di pikiran." jawab Aina dengan santainya.
"Aina yakin?" tanya Arhan memastikan.
"Yakin dong! Abang curiga sama Aina?" jawab Aina dengan pertanyaan pula, mendadak wajah Aina berubah masam dengan kening sedikit mengkerut dan bibir mengerucut.
"Bukan gitu, Abang cuma nanya." jelas Arhan sembari melingkarkan tangannya di pinggang Aina.
"Nanya dari mana? Itu namanya mencurigai istri. Apa Aina terlihat seperti wanita murahan?"
"Tapi benar, Aina memang wanita murahan. Wanita yang sudah menjual dirinya hanya demi uang."
Aina memutar tubuhnya hingga memunggungi Arhan, lagi-lagi emosinya diuji dengan kata-kata yang seakan menyakitkan untuk dirinya.
__ADS_1