
Mobil yang dikendarai Arhan berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan sesuai permintaan Avika. Gadis centil itu ingin mengunjungi area bermain anak yang ada di lantai tiga. Karena malam ini adalah waktu untuk anak-anak, Arhan pun mengikuti apapun kemauan mereka.
Setelah turun dari mobil, Arhan menggandeng tangan Avika dan Inara di setiap sisi. Sementara Aina menggandeng tangan Aryan dan berjalan bersebelahan dengan suaminya itu. Di belakang, menyusul Dori dan Andi yang siap mengawal pergerakan ketiga tikus kecil itu.
Tiba di lantai tiga, Avika, Aryan dan Inara berhamburan memasuki area bermain anak tanpa mempedulikan kedua orang tuanya yang masih berdiri di luar. Arhan dan Aina hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.
"Dori, Andi, kalian berdua jangan sampai lengah! Awasi kemana pun mereka melangkah!" seru Arhan memberi perintah.
"Siap Tuan," sahut keduanya bersamaan. Dori masuk ke dalam area bermain anak sementara Andi berjaga di luar.
Keadaan di dalam area bermain anak memang tidak terlalu ramai, tapi tetap saja Arhan harus waspada mengingat wanita yang pernah menjadi istrinya itu masih berkeliaran bebas sejak kejadian empat tahun yang lalu.
"Mama, Papa, sini!" sorak Avika sembari mengangkat tangannya ke udara. Gadis centil itu tengah berdiri di atas papan perosotan dan siap meluncur ke bawah.
Arhan terperanjat hingga lamunannya memudar, lalu menatap Aina yang masih berdiri di sebelahnya. "Aina masuklah ke dalam, temani anak-anak main sebentar!" pinta Arhan, kemudian mengusap kepala Aina pelan.
Aina menautkan alisnya. "Emangnya Abang mau kemana?"
"Gak kemana-mana sayang, Abang di sini nungguin kalian." jawab Arhan.
Aina memelototi Arhan dengan bibir mengerucut. "Masuk aja sama Aina! Kapan lagi Abang bisa main sama mereka? Tiap hari sibuk terus,"
Mendengar itu, mata Arhan membulat dengan sempurna. "Masa' Abang ikut main sih, malu-maluin aja."
Air muka Aina tiba-tiba menggelap mendengar jawaban Arhan. "Malu?... Takut ketahuan kalau udah punya anak?" Aina menyikut lengan Arhan dan meninggalkannya begitu saja.
Arhan menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar. Mana mungkin dia malu bermain dengan anaknya sendiri? Hanya saja dia tidak terbiasa masuk ke tempat seperti itu.
Khawatir masalah ini kian melebar, Arhan pun menyusul Aina dan ikut bermain bersama mereka.
Aina mengukir senyuman sinis dengan mata menyipit memandang Arhan. "Kenapa ikut masuk? Tunggu di luar aja biar dikira bujangan sama orang-orang. Sekalian tebar pesona sama para gadis di luar sana."
"Hahahaha..." Arhan malah tertawa melihat air muka Aina yang sangat menggemaskan.
"Mama, sini!" panggil Aryan yang tengah bermain di area mandi bola.
__ADS_1
"Iya sayang," Aina meninggalkan Arhan dan berjalan mendekati Aryan.
"Papa, tangkap Avika!" sorak gadis kecil yang sudah siap meluncur dari atas papan perosotan.
Arhan terperangah saat tiba-tiba saja Avika sudah melompat, untung saja sebelah tangannya cepat menyambut tubuh bontot si centil itu.
"Avika sayang, pelan-pelan Nak! Untung Papa cepat bergerak, kalau gak mungkin kepala Avika udah membentur lantai." gumam Arhan dengan air muka panik.
"Hahahaha... Maaf ya Pa," Setelah mengatakan itu, Avika melompat turun dari gendongan Arhan dan berlari menyusul Inara yang tengah melukis.
Inara memang sedikit berbeda dari Aryan dan Avika. Sejak umur tiga tahun bakat melukisnya sudah kelihatan. Saat di sekolah pun Inara selalu mendapat nilai tertinggi diantara teman sekelasnya.
Dilihat dari kebiasaannya ini, sepertinya suatu hari nanti Inara akan menjadi pelukis hebat jika dia menyalurkan bakatnya. Dari sekarang saja dia sudah sangat telaten dan lihai memainkan jemarinya saat memegangi kuas.
"Inara, apa kamu gak capek melukis terus? Main yuk!" ajak Avika.
"Inara belum selesai Kak, Kakak main duluan aja!" Inara nampak fokus sehingga tak melihat Avika sama sekali.
"Huft... Selalu menolak jika diajak main." celoteh Avika dengan wajah cemberut nya. Pipi Avika menggembung seperti bakpao, mulutnya mengerucut bak buah ceri.
Inara meninggalkan lukisannya dan menggenggam tangan Avika. Keduanya masuk ke area trampolin dan melompat dengan riangnya. Tubuh Inara yang gemuk membuat tekanan menjadi kuat hingga Avika beberapa kali jatuh bangun. Namun hal itu malah membuat keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
Beberapa menit berlalu keduanya meninggalkan area trampolin dan berpindah ke area lainnya. Semua permainan di jelajahi oleh mereka sehingga kini tubuh keduanya sudah dibanjiri keringat.
"Aryan, udahan yuk! Kakak udah capek nih," seru Avika yang kini tengah selonjoran di lantai, begitu pun dengan Inara yang sudah tak kuat menahan bobot tubuhnya.
Sedari tadi Aryan hanya bermain sendirian dan minta ditemani oleh Aina. Dia trauma mengikuti kedua kakaknya itu. Terakhir kali bermain, dia pernah terpental ulah kedua bocah gembul itu. Tubuhnya yang kecil selalu saja ditindas oleh mereka meskipun tidak disengaja.
"Oke, Aryan juga udah capek." Aryan juga sudah berkeringat meski tak separah Avika dan Inara.
"Pa, Ma, makan yuk! Inara lapar," Seperti biasa, pikiran Inara langsung tertuju pada makanan setelah selesai menguras energi.
"Ya udah, cuci muka, tangan dan kaki dulu biar segar!"
Arhan membantu kedua gadis bontot itu berdiri dan membawa mereka ke toilet, Aina dan Aryan juga menyusul dari belakang.
__ADS_1
Saat melewati koridor, mereka berpapasan dengan seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya ditutupi masker sehingga perawakannya tak nampak sama sekali. Namun tatapannya terlihat tajam dengan adanya bekas jahitan di area alis. Arhan dan Aina tak memperhatikannya sama sekali, keduanya hanya fokus memegangi anak-anak.
Di toilet, mereka semua masuk ke dalam satu ruangan. Arhan mengangkat satu persatu tikus kecil itu dan membantu mereka mencuci tangan, kaki dan muka lalu mengeringkannya dengan tisu. Setelah itu mereka semua meninggalkan tempat itu dan turun menuju lantai satu.
Di gedung sebelah ada beberapa restoran cepat saji yang menyediakan berbagai macam makanan lokal dan internasional. Avika memilih restoran Italia karena dia ingin makan spaghetti dan pizza. Begitu pun Aryan dan juga Inara.
Tanpa berpikir Arhan langsung saja membawa mereka ke sana. Satu keluarga itu duduk di meja yang sama, sementara Dori dan Andi duduk di meja yang ada di sebelahnya. Arhan membebaskan mereka memesan makanan apa saja sesuai selera masing-masing.
"Dori, Andi, pesan saja apa yang kalian inginkan, tidak usah sungkan!" seru Arhan kepada kedua pria itu.
"Baik Tuan," jawab keduanya bersamaan.
Seperempat jam berlalu, beberapa pelayan mendekati meja mereka dan meletakkan pesanan di atas meja.
Ada gnocchi, ravioli, pasta carbonara, spaghetti dan pizza. Sementara untuk makanan penutupnya ada tiramisu dan gelato.
Saking asiknya menikmati makan malam, tak seorang pun yang menyadari kalau di luar sana ada yang tengah mengintai pergerakan mereka. Matanya dipenuhi dendam yang menyala hingga membentuk lapisan api.
...--------------------------------...
Hai kakak pembaca ku yang setia.
Novel ini mau aku tamat kan di akhir bulan ini ya.
InsyaAllah nanti akan aku lanjutkan untuk part 2 nya yang akan menceritakan kisah Aksa dan ketiga adiknya.
Tapi sebelum itu aku mau menyelesaikan novel yang satunya dulu yaitu "Jodoh di Atas Kertas".
Aku mau fokus satu-satu aja biar gak kerepotan seperti sekarang.
Sebelum aku melanjutkan kisah Aksa, mampir dulu ya di novel "Jodoh di Atas Kertas".
Terima kasih kakak 🤗
Lope lope untuk kalian semua 😘😘😘
__ADS_1