
Pagi hari, Arhan dan Aina bangun dari tidurnya. Sesuai permintaan Arhan semalam, mereka benar-benar melakukannya 2 ronde.
Aina menggeliat sembari mengusap pinggangnya yang terasa ingin copot, lututnya pun berasa goyah. Dia tak sanggup berdiri ulah keganasan Arhan tadi malam.
"Pagi sayang, bagaimana tidurnya semalam?" sapa Arhan dengan suara seraknya, lalu mengecup bibir Aina penuh kelembutan.
"Nyenyak, tapi tubuh Aina rasanya remuk semua," sahut Aina dengan wajah cemberut nya.
"Hahaha, kok wajahnya gitu sih? Aina marah ya sama Abang?" tanya Arhan, dia terkekeh melihat ekspresi Aina yang begitu.
"Tidak Bang, untuk apa Aina marah? Bukankah sudah kewajiban Aina melayani Abang? Sekarang bantu Aina ke kamar mandi ya, Aina pengen berendam sebentar sama air hangat!"
Mendengar itu, seulas senyum terukir indah di wajah Arhan. Dia turun dari tempat tidur, kemudian menggendong Aina dan membawanya ke kamar mandi.
Arhan mendudukkan Aina di dalam bathtub, lalu menyalakan air hangat. Dia pun ikut berendam bersama istrinya di dalam sana.
"Mana yang pegal? Biar Abang urut!" ucap Arhan yang kini sudah duduk di belakang Aina.
"Semuanya," jawab Aina sembari bersandar di dada suaminya.
"Hehehe, dasar manja!" ucap Arhan sembari mencubit hidung Aina gemas.
"Gak papa dong manja sama suami sendiri, masa' manjanya sama orang lain sih?" celetuk Aina sembari tersenyum kecil.
"Hust, bicara apa sih? Cuma Abang satu satunya tempat Aina bermanja, tidak ada orang lain!" ketus Arhan, dia pun menggigit telinga Aina gemas.
"Hahaha, jangan Bang! Geli,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar lain, Nayla baru saja terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, dia tergugu melihat Hendru yang masih terlelap sembari memeluknya.
"Astaga, apa yang terjadi semalam? Kami tidak melakukannya kan?" batin Nayla penuh tanda tanya.
Tanpa berpikir, Nayla langsung saja mendorong Hendru hingga tubuhnya menggelinding jatuh ke dasar lantai. Nayla menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, kemudian memeriksa pakaiannya dari dalam sana.
"Ahh," rintih Hendru.
Hendru membuka matanya perlahan, kemudian mengusap kepalanya yang tak sengaja membentur lantai.
__ADS_1
"Nayla, kenapa mendorongku?" tanya Hendru dengan wajah cemberut nya.
"Hendru, semalam kita tidak melakukan apa-apa kan?" tanya Nayla dengan wajah begitu serius.
"Kenapa menanyakan itu?" tanya Hendru balik.
"Jawab saja pertanyaan ku Hendru! Jangan berbelit-belit!" ketus Nayla sedikit kesal.
Hendru melipat kedua tangannya di sisi ranjang, lalu menekuk dagunya di atas tangan. Dia menatap Nayla dengan intim, seulas senyum terukir indah di wajahnya.
"Maaf Nayla, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Kamu selalu saja menggodaku, apa lagi yang bisa ku lakukan?" jelas Hendru dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dasar brengsek! Kenapa melakukan itu padaku?"
Nayla mengambil guling dan memukulkannya ke kepala Hendru berulang kali. Bahkan sampai kapas di dalam guling itu berhamburan, Nayla tak mau berhenti memukul Hendru.
"Nayla, kendalikan dirimu!"
Hendru bangkit dari duduknya dan bergegas menahan tangan Nayla. Pelan-pelan dia pun menekan tubuh Nayla hingga keduanya terbaring di atas kasur. Hendru pun dengan leluasa menindih tubuh Nayla.
"Jangan sentuh aku Hendru, aku tidak mau lagi melihat wajahmu!" bentak Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Bohong, aku tidak mungkin meminta itu. Pasti kamu sendiri yang memaksaku!" bentak Nayla yang sudah tersulut emosi.
"Loh, kenapa menyalahkan aku? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Kalau mau menyalahkan, berarti ini salah kita berdua." ucap Hendru sembari tersenyum sumringah.
"Hiks Hiks" Tangisan Nayla mengalun merdu di telinga Hendru.
"Aku benci kamu Hendru, aku benci. Kenapa mengambilnya dengan cara seperti ini?" isak Nayla sembari memukul dada Hendru berulang kali, dia tak menyangka Hendru sanggup melakukan ini padanya.
Melihat kekecewaan di wajah Nayla, Hendru pun merasa bersalah. Dia mengusap pucuk kepala Nayla dengan lembut, lalu mengecupnya dengan sayang.
"Sssttt, jangan nangis! Aku tidak melakukannya, aku hanya bercanda." ungkap Hendru mengakui kebenarannya.
Mendengar itu, Nayla malah meraung sejadi-jadinya, lalu memukuli dada Hendru berulang kali. "Dasar brengsek! Ini tidak lucu tau,"
Nayla mendorong Hendru dan segera bangkit dari kasur. Saat hendak berlari ke kamar mandi, Hendru dengan sigap menghadang langkahnya dan memeluknya dengan erat.
"Jangan marah dong Nayla! Bukankah kita baru saja berbaikan?" Hendru menjeda ucapannya, lalu mengecup kening Nayla dengan sayang.
__ADS_1
"Aku tidak akan merusak mu sebelum waktunya tiba. Tapi untuk yang satu ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya."
Hendru menyentuh pipi Nayla, lalu mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Perlahan kecupan itu berubah menjadi luma*tan, membuat Nayla terbuai menikmati permainan Hendru yang begitu lembut. Bahkan keduanya tak segan saling membelit lidah.
Karena merasa sesak, Nayla dengan cepat mengalihkan pandangannya hingga pagutan mereka terlepas. Pipinya memerah, dia tak sanggup lagi menatap wajah Hendru.
Tanpa berucap sepatah katapun, Nayla berlari dan masuk ke kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang saking syok nya memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Sementara di luar sana, Hendru tak hentinya tersenyum melihat kepolosan gadis itu. Dia melangkah menuju pintu sembari mengacak rambutnya hingga berantakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Baru saja menapakkan kakinya di dalam kamar, Hendru terperanjat kaget melihat Arhan yang tengah duduk di sisi ranjang.
Hendru mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengerat kuat melihat Arhan yang begitu santainya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bajingan kau Arhan, beraninya kau mengunciku bersama Nayla semalaman." umpat Hendru dengan amarah yang sudah memuncak hingga ubun-ubun nya.
"Santai Hendru, kenapa harus marah? Seharusnya kau berterima kasih padaku, bukankah aku sudah membantumu mendekati gadis itu?" jawab Arhan sembari tersenyum sumringah.
"Bodoh, tapi bukan begitu juga caranya. Apa otakmu tidak berpikir akan resiko yang bisa terjadi ulah kelakuanmu itu?" geram Hendru, jika tidak memikirkan siapa Arhan, mungkin bogem mentahnya sudah melayang bebas di wajah bos nya itu.
"Resiko apanya? Jika hal itu sampai terjadi, kalian tinggal menikah saja! Apa susahnya sih? Toh kalian berdua sama-sama lajang kan?" jelas Arhan dengan santainya.
"Enteng sekali mulutmu berbicara, kau bahkan tidak tau bagaimana sulitnya aku mengendalikan diri di dekat gadis itu. Aku rasanya ingin mati," keluh Hendru, lalu menekuk kakinya di ujung sofa.
"Hahahaha, dasar bodoh! Aku pikir kau akan melakukannya, ternyata dugaan ku salah. Gagal deh rencana membuat pesta setelah tiba di Jakarta nanti." ucap Arhan dengan wajah sedikit kecewa.
"Brengsek kau Arhan! Jangan samakan aku dengan dirimu, aku bisa menghargai wanita!" ketus Hendru dengan tatapan mematikan.
"Hahaha, kau benar Hendru. Saking menghargai wanita, kau bahkan tak mempunyai keberanian mendekati satu gadis saja." Arhan bangkit dari duduknya, lalu menatap Hendru dengan tatapan tak kalah mematikan.
"Ingat Hendru, Nayla itu masih muda dan cantik. Dia bisa saja mendapatkan pria yang lebih muda darimu, tampan, bahkan kaya. Jangan sampai kau menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan ini!" tekan Arhan mengingatkan Hendru.
Arhan menepuk pundak Hendru sembari tersenyum kecil, lalu meninggalkan pria itu begitu saja.
Setelah Arhan menghilang dari pandangannya, Hendru tersandar lesu pada tampuk sofa. Dia mengusap wajahnya kasar, kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Benar juga yang dia bilang, bagaimanapun juga aku tidak bisa melepaskan Nayla. Dia harus mau menerimaku menjadi suaminya." batin Hendru menguatkan keyakinan di dirinya.
__ADS_1