
Pagi hari, Aina terbangun dan mendapati Arhan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah suaminya terlihat begitu tampan dengan rambut basah dan dada bidang yang menganga.
"Tumben jam segini udah mandi, Abang mau kemana?" tanya Aina yang masih betah berbaring di atas ranjang.
"Mau pergi kencan sama wanita cantik, Aina mau ikut?" jawab Arhan dengan santainya.
"Gak ah, mending di rumah ngurusin anak. Ngapain ikut orang?" sahut Aina dengan bibir mengerucut.
"Orang mana? Ini suami Aina loh," balas Arhan sembari menautkan alisnya.
"Suami apanya? Suami yang suka bagi-bagi, ogah. Mending gak usah punya suami sekalian." Aina berbalik dan kembali memejamkan matanya.
"Hehehe... Ngambek ya, kayak Aksa aja dikit-dikit ngambek." seloroh Arhan sembari menekuk kakinya di sisi ranjang.
Aina tak menyahut, lebih baik dia tidur daripada mendengar celotehan tidak bermutu dari mulut suaminya.
"Sayang, ayo cepat bangun! Abang sengaja loh bangun pagi agar kita gak telat." ajak Arhan yang sebenarnya ingin mengajak Aina weekend di villa.
Sudah lama sekali dia tidak menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Mumpung ada Airlangga dan Leona, jadi dia bisa menitipkan Aksa dan Avika pada kedua orang tuanya itu.
"Malas ah, pergi aja sama wanita peliharaan Abang itu! Ngapain ajak Aina?" tolak Aina sembari menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya.
"Hehehe... Gak ada wanita lain sayang, cuma Aina satu-satunya wanita yang ada di hati Abang. Ayolah, jarang-jarang loh bisa pergi berduaan kayak gini." desak Arhan sembari tertawa cekikikan.
"Bodo amat," ketus Aina yang sudah kehilangan mood nya ulah candaan konyol Arhan.
Arhan tersenyum kecil dan masuk ke dalam selimut. Tangannya mulai gentayangan menyusuri setiap lekuk tubuh Aina yang kini sudah kembali ideal.
"Mau ikut atau Abang masukin sekarang? Ingat, gak ada penolakan!" ancam Arhan sembari memainkan lidahnya di tengkuk Aina, sementara tangannya menyelinap masuk ke dalam segitiga yang Aina kenakan.
"Abang apaan sih? Apa Abang gak malu sama anak? Ntar kepergok lagi," keluh Aina mengingatkan suaminya. Beberapa hari ini Arhan selalu tersiksa saat ingin melepaskan gairah sek*sual nya, kalau bukan Aksa ya Avika yang mengganggu pelepasannya.
"Maka dari itu ikut Abang, Aina gak kasihan sama Abang. Nahan itu gak enak lo sayang, weekend ini Abang mau berdua aja sama Aina. Mumpung ada papa sama mama di rumah." bujuk Arhan.
"Hehehe... Siapa suruh punya anak?" Aina malah menertawakan suaminya.
__ADS_1
"Ih, kok ngomongnya gitu. Anak itu penyempurna, namanya juga masih kecil. Ntar kalau udah pindah ke kamar sendiri baru aman, mau jungkir balik gak ada lagi yang gangguin. Ayolah sayang, udah lama banget loh kita gak pergi berduaan!" desak Arhan dengan wajah memelas.
"Iya iya, ntar kalau Avika rewel kita balik ya." angguk Aina mengiyakan ajakan suaminya.
"Jangan balik dong sayang, suruh nyusul aja!" saran Arhan.
"Ya udah, Aina mandi bentar." Aina menarik tangan Arhan yang masih terselip di dalam segitiga nya, dia bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Di bawah sana, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Baron yang kini tengah berbunga-bunga usai mendapatkan jawaban dari Inda semalam.
"Pagi Tan, Om," sapa Baron sembari tersenyum lebar.
"Eh, Baron. Kamu masih hidup? Om pikir-"
"Papa apaan sih? Gak lucu tau," sela Leona dengan tatapan horor.
"Hahaha... Papa kan cuma bercanda Ma, jangan dimasukin hati gitu dong! Udah lama banget Papa gak liat Baron," jelas Airlangga sembari tertawa terbahak-bahak.
"Gak papa Tan, Tante kayak gak tau kami aja." sambung Baron yang ikut tertawa menyusul Airlangga.
"Tadi malam," jawab Baron santai.
"Untuk apa kau kembali?" Tatapan tajam Hendru membuat Baron tersenyum kecut. "Pergi kayak hantu, pulang kayak setan." imbuh Hendru penuh kekesalan.
"Mas, gak boleh ngomong gitu ih!" sela Nayla yang tak suka dengan cara bicara suaminya.
"Emang kenyataannya gitu kok sayang. Gara-gara ditolak aja udah kabur, dasar banci." ketus Hendru yang masih kesal dengan sahabatnya itu.
"Udah-udah, kalau berdebat terus gak akan ada ujungnya. Sarapan dulu, nanti dilanjutin di ring! Biar Papa yang jadi wasitnya," seloroh Airlangga menengahi.
"Arhan sama Aina kok gak turun ya? Apa mereka masih tidur?" tanya Leona dengan kening mengkerut.
"Biarin aja, ntar kalau lapar turun sendiri!" sahut Airlangga yang mulai menyantap makanannya.
Arhan sudah berdiri di ambang pintu sembari menggendong Aksa, Aina menyusul bersama Avika yang juga ada di gendongannya.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, Arhan tersenyum melihat semua keluarga sudah berkumpul menikmati sarapan mereka. Momen langkah dan begitu indah dipandang mata.
"Pagi semuanya," sapa Aina dengan senyuman manisnya.
"Pagi sayang, kok lambat banget turunnya?" sahut Leona.
"Biasalah Ma, kan ngurusin dua tuyul ini dulu." seloroh Arhan, lalu mencium pipi gembul Aksa dengan sayang.
Arhan dan Aina duduk di bangku mereka sembari memangku Aksa dan Avika. Keduanya ikut sarapan menyusul yang lainnya.
"Pa, Ma, Arhan sama Aina mau weekend di villa. Arhan titip Aksa sama Avika ya." seru Arhan dengan mulut dipenuhi makanan.
"Tumben," sahut Leona sembari melirik keduanya bergantian.
"Mau bikin cucu lagi buat kalian, di rumah digangguin terus. Kapan jadinya?" seloroh Arhan dengan santainya, sementara pipi Aina mendadak bersemu merah ulah ucapan asal suaminya itu.
"Abang, malu tau." Aina mencubit pinggang Arhan saking jengkelnya.
"Aduh, sakit sayang." rintih Arhan sembari mengusap pinggangnya.
"Hahahaha..." Semua orang tertawa melihat ekspresi wajah Aina yang begitu lucu.
"Kamu gak ikut sekalian Hendru?" timpal Airlangga menggoda anak angkatnya itu.
"Gak lah Pa, putriku masih kecil. Baron aja tuh suruh pergi sama Inda, biar nanam saham duluan!" Hendru menunjuk Baron dengan bibirnya.
"Loh, kok aku?" Baron mengeratkan rahangnya kesal.
"Daripada kabur-kaburan lagi, mending cetak dulu biar nancap!" imbuh Hendru yang masih betah dengan mode kesalnya.
"Apaan sih kalian ini? Gak ada seorang pun yang boleh ikut, aku cuma mau berduaan sama istriku!" Arhan menengahi, dia tidak mau acaranya diganggu oleh siapa pun.
"Ya udah, pergilah! Tapi janji harus nambah cucu buat kami ya." Leona tersenyum menatap menantunya yang masih malu-malu.
Usai sarapan, Leona mengambil Avika dari tangan Aina. Airlangga juga mengambil Aksa dari gendongan Arhan. Setelah menciumi kedua bocah itu, Arhan dan Aina masuk ke dalam mobil. Semua orang melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai menghilang meninggalkan gerbang.
__ADS_1
Semua orang berkumpul di ruang tamu bermain bersama Aksa, Avika dan juga Inara. Suara gelak tawa pecah memenuhi seisi rumah. Airlangga dan Leona merasa umurnya kembali muda saat menyaksikan perkembangan ketiga cucunya yang begitu menggemaskan. Apalagi jika ditambah satu lagi, alangkah bahagianya mereka menikmati masa-masa indah ini.