
Satu minggu sudah berlalu, perawatan putri kecil Aina sudah dihentikan. Berat badannya pun sudah mulai naik. Bayi mungil itu sudah dibolehkan untuk dibawa ke ruangan Aina. Arhan sendiri yang akan menjemputnya ke ruangan bayi, bermaksud ingin memberi surprise untuk istrinya yang selalu murung jika dadanya mulai terasa nyeri.
"Abang keluar sebentar ya, Aina istirahat aja! Abang gak lama kok," jelas Arhan sembari mengusap kepala Aina dengan sayang.
"Abang mau kemana?" lirih Aina dengan bibir sedikit maju.
"Mau nyari cewek cantik yang bisa dipeluk dan dicium, abisnya yang ini gak bisa diapa-apain." seloroh Arhan sembari tertawa kecil.
"Plak!"
Sebuah pukulan melayang di dada Arhan, saking kerasnya Arhan pun merintih menahan sakit. "Aduh, Aina kasar banget sih? Udah kayak petinju aja," keluh Arhan sembari memegangi dadanya yang terasa panas.
"Dasar suami gak tau diri! Udah tua, punya istri lebih muda, punya dua anak, tapi otaknya masih aja gak beres. Kurang apa lagi Aina hah?" geram Aina dengan tatapan mematikan.
"Hahaha, jangan marah-marah gitu dong sayang! Ntar cantiknya hilang," goda Arhan sembari mencolek dagu Aina, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Gak usah sok ngerayu, pergi aja sana! Mau main perempuan lagi? Silahkan!" ketus Aina sembari membuang pandangannya, lalu memilih tidur dan memunggungi Arhan.
"Yaelah sayang, gitu aja ngambek. Kayak Aksa aja," goda Arhan.
Aina tak menyahut, dia malah menutup kupingnya dengan bantal. Kesalnya sudah menjalar hingga ubun-ubun.
Melihat Aina yang begitu, Arhan pun tersenyum sumringah, lalu meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
"Baron, tolong jangan tinggalkan Aina dan putraku di dalam. Aku ke ruangan bayi sebentar, mau ngambil putriku!" seru Arhan kepada Baron yang selalu siaga di depan ruangan Aina.
"Siap Bos, pergi saja!" sahut Baron dengan entengnya.
Arhan memukul perut Baron seperti biasanya, keduanya tertawa untuk sesaat. Setelah itu Arhan melanjutkan langkahnya menuju ruangan bayi.
"Pagi Sus, apa putriku sudah bisa dibawa?" ucap Arhan dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Sudah Tuan, silahkan!" Suster itu pun memberikan bayi kecil itu ke tangan Arhan. Dengan penuh rasa haru Arhan pun mengambil putrinya, lalu mencium pipinya dengan sayang.
Sudah dua minggu usia putrinya, baru hari ini Arhan bisa menyentuhnya dan memeluknya. Mencurahkan rasa sayang yang sudah lama dia tahan.
Puas melepaskan rasa rindunya, Arhan pun berbalik dan menggendong putrinya menuju ruangan Aina. Berharap setelah ini tak ada lagi halangan yang merintangi kehidupan keluarga kecilnya.
Sesampainya di depan pintu, Arhan menghentikan langkahnya saat Baron menghadang jalannya.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut.
"Boleh aku gendong sebentar? Aku tak tahan melihat anak kecil, rasanya pengen aku makan saja." ucap Baron dengan gigi mengerat kuat.
"Makan, makan, kau pikir putriku rendang?" ketus Arhan sembari memukul perut Baron.
"Hahaha... Abisnya putrimu sangat menggemaskan. Bikin aja lagi, yang ini biar untukku saja!" seloroh Baron dengan tawanya yang menyeramkan.
"Mendengar tawamu aja putriku sudah ketakutan, mana mau dia bersamamu? Lagian jika kau suka anak kecil, kenapa tidak menikah aja?" gerutu Arhan.
"Menikah?" Baron menautkan alisnya. "Gak ah, aku tidak mau terkekang. Wanita itu banyak maunya, bikin pusing aku aja nanti." imbuh Baron.
"Kalau begitu nikmati aja kesendirian mu itu, nanti kalau udah tua jangan nyesel gak ada yang jagain!"
Arhan tersenyum miring, kemudian melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Baron yang tengah terpaku di tempatnya berdiri.
"Tok Tok Tok"
Arhan meraih kenop pintu dan mendorongnya pelan.
"Halo, pagi Mama. Putri cantik Mama datang," seru Arhan dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Aina terperanjat, namun tak mau menoleh ke arah suaminya. Dipikirannya, Arhan pasti tengah mempermainkan dirinya lagi.
"Hueeeek... Siapa juga yang cemburu? Jangan kegeeran!" ketus Aina dengan datarnya.
"Putri Papa dengar kan? Mama Ina tuh keras kepala, gak mau ngakuin perasaannya sendiri. Waktu Papa di luar kota aja Mama Ina nangis minta Papa cepat pulang, katanya kangen, gak bisa tidur kalau gak ada Papa. Eh, sekarang malah sok jual mahal."
Seakan tak pernah bosan mengerjai istrinya, Arhan terus saja menyindir hingga Aina benar-benar geram. Dia pun berbalik dan mencubit pinggang Arhan sekuat tenaga.
"Hmmm... Rasain ini, nyindir aja terus!" geram Aina tanpa melepaskan cubitannya.
"Au, aduh, sakit sayang. Ampun, Abang lagi gendong putri kita ini." ucap Arhan sembari memutar tubuhnya.
"Deg!"
Aina terlonjak dan segera melepaskan cubitannya saat melihat bayi mungil di pelukan Arhan, matanya membulat sempurna dan berkaca-kaca seketika itu juga. "Abang bohong, tadi katanya nyari cewek cantik." rengek Aina dengan bibir manyunnya.
"Hehe... Jangan nangis dong sayang! Ini cewek cantiknya udah Abang bawa, bisa dipeluk dan dicium sepuasnya. Aina masih cemburu?" seloroh Arhan sembari tertawa kecil, lalu menciumi putrinya berkali-kali.
__ADS_1
"Jahat banget sih jadi suami. Sini, Aina juga pengen gendong!" ketus Aina yang masih menyisakan rasa kesal di hatinya.
"Gak mau, abisnya Abang udah dua kali dicubitin." tolak Arhan dengan wajah cemberut nya.
"Abang...," rengek Aina dengan manjanya, kemudian duduk di samping Arhan.
"Peluk dulu, terus cium! Baru Abang berikan si cantik ini sama Aina," tawar Arhan sembari tersenyum miring.
Aina memajukan bibirnya kembali, lalu mengangguk lemah. Dia pun melingkarkan tangannya di pinggang Arhan dan memeluknya erat. Setelah itu mencium pipi Arhan dengan bibir lembutnya.
"Udah kan?" bisik Aina.
"Kok cuma sebelah doang? Sebelah lagi dong, nanti pipi Abang bisa miring." seloroh Arhan yang tak hentinya menggoda Aina.
Meskipun kesal, terpaksa Aina mencium pipi Arhan yang sebelahnya lagi. "Udah?" lirih Aina.
"Keningnya belum," ucap Arhan.
"Muach...,"
"Hehe, bibirnya?" Arhan pun memajukan bibirnya sampai monyong.
"Muach...,"
"Kurang terasa sayang, yang agak lama dong!" pinta Arhan.
"Mulai deh mesumnya," keluh Aina.
"Ya udah kalau gak mau," Arhan pun menjauhkan dirinya dari Aina.
"Iya, iya, sini!" ketus Aina dengan tatapan membunuhnya.
Aina mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Arhan sedikit lama. Sayangnya Arhan tak mau melewatkan kesempatan itu begitu saja, dia pun menekan tengkuk Aina dengan sebelah tangannya.
Arhan melu*mat bibir Aina dengan rakus, candunya seakan tak bisa di tahan lagi. Dengan nafas yang kian memburu, Arhan menghisap bibir Aina tanpa ampun. Menjulurkan lidahnya dan memporak-porandakan rongga mulut Aina, lalu menyedot ludah mereka yang sudah membaur di dalam sana. Aina pun dibuat sesak bukan kepalang.
Sadar akan kedua orang tuanya yang tengah bercumbu mesra, sang putri pun menangis dengan lantangnya. Membuat Aina dan Arhan terlonjak hingga pagutan mereka pun terlepas seketika.
"Hahaha... Putri Papa nakal ya, gangguin kesenangan Papa aja!" seloroh Arhan, kemudian menggigit hidung putrinya gemas.
__ADS_1
"Nah, makanya jangan mesum terus isi otaknya. Liat kan, putri Mama memang pintar. Sini, gendong sama Mama dulu ya!"
Aina mengambil alih putrinya dari tangan Arhan, lalu mendekapnya dengan hangat. Tak lupa Aina menciuminya dengan sayang. Puas melepaskan kerinduannya, Aina pun membuka kancing piyamanya. Berharap sang putri mau menerima ASI darinya.