Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 80.


__ADS_3

Aina terbangun dari tidurnya sesaat setelah merasakan nyeri yang begitu menyiksa. Bukan pada perut, melainkan pada dada yang kini tengah mengeras dengan sempurna. Benar-benar nyeri hingga peluh pun bercucuran di dahinya.


Sibuk dengan pesta pernikahan Nayla membuatnya lupa kalau dirinya masih menyusui Aksa, terakhir kali bocah kecil itu menyusu di siang hari. Setelahnya tak lagi sebab Inda memberinya susu formula, sampai di kamar pun ternyata Aksa sudah tertidur dengan lelap, tak sempat menghisap ASI sang mama.


"Aduh..., au...,"


Rintihan yang lolos dari mulut Aina sontak membuat Arhan terjaga. Meski dirinya sangat lelah, dia tetap bangun mengingat keadaan istrinya yang belum kuat sepenuhnya. Arhan selalu siaga tanpa lelah sedikitpun, menjadikan momen kehamilan Aina kali ini sebagai ladang untuk menebus kesalahan di masa lalu.


"Sayang, Aina kenapa?" tanya Arhan dengan mata separuh terbuka. Setelah mengucek matanya, Arhan segera duduk dan menatap Aina dengan intens. Ada rasa takut bercampur panik mendengar rintihan Aina yang menusuk relung hati.


"Bang, tolongin Aina dong! Ini nyeri banget Bang, Aina gak kuat." rengek Aina sembari memegangi dadanya. Keringat jagung sudah membanjiri tengkuknya, mengalir begitu saja di belahan dadanya.


"Glek!"


Arhan meneguk ludahnya dengan susah payah saat menyaksikan separuh dada istrinya yang terbuka, membengkak, penuh dan keras. Tiba-tiba saja otaknya travelling kemana-mana, rasa dahaga seketika begitu terasa di tenggorokannya.


"Apa seharian ini Aksa gak *****?" tanya Arhan, lalu melepas kancing piyama yang dikenakan Aina hingga gunung kembar itu nampak jelas di matanya.


"***** Bang, tapi siang aja." lirih Aina dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.


Tanpa basa-basi Arhan dengan cepat mengeluarkan sepasang benda tersebut dari sarangnya, mendekatkan wajahnya lalu menghisap ujung dada Aina dengan lahap. Hanya ini satu satunya cara agar Aina bisa merasa lebih baik.


"Pelan-pelan Bang, sakit!" rintih Aina sembari menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang.


Setengah jam berlalu, Aina mulai merasa enakan. Balon yang tadinya mengeras, kini sudah normal seperti biasanya setelah dihisap bayi tua itu. Sialnya, justru kini Arhan lah yang menegang. Tiang surga miliknya mengeras begitu saja.


"Aahh..., Lega...," Aina menghela nafas panjang sembari membenarkan bra yang dia kenakan, bahkan tak menyadari bagaimana kusutnya wajah Arhan saat ini.


"Makasih ya Bang, tidur lagi yuk!" ajak Aina sembari meluruskan posisi tidurnya.


"Tidur?" Arhan mengerutkan keningnya.


"Iya Bang, ayo tidur! Aina ngantuk banget." Tanpa tau bagaimana tersiksanya Arhan saat ini, Aina memejamkan matanya kembali. Bahkan masuk ke dalam selimut dan memunggungi Arhan.

__ADS_1


"Ah sial, apa aku harus melepaskannya sendiri? Tidak, tidak, sudah jelas lubangnya ada di sini." batin Arhan menggerutu, kesal melihat istrinya yang tidak peka sama sekali. Sementara tiang surganya sudah sangat ingin dimanjakan.


Arhan segera membaringkan tubuhnya di samping Aina, memeluknya dari belakang lalu mengelus perut Aina. Pelan-pelan tangannya semakin turun dan menyentuh serabi tembem milik istrinya. Ah, Arhan semakin tak terkendali saat jemarinya menyentuh kelopak mawar di dalam sana.


Aina menggeliat geli, sekujur tubuhnya meremang merasakan sensasi yang luar biasa. Berusaha tenang, namun akhirnya kalah dengan permainan jari Arhan yang tiba-tiba membuatnya mende*sah.


"Aahh...,"


Aina membuka matanya perlahan, jiwa kewanitaannya meronta-ronta meminta lebih. Entah kenapa sejak hamil anak kedua ini, tubuhnya ingin selalu dibelai dan dimasuki oleh Arhan. Entah pengaruh hormon atau memang tubuhnya yang terlalu sensitif.


Tanpa berucap, Aina segera berbalik. Memandangi mata Arhan sehingga larut dalam keinginan yang kian menuntut. Tak tau harus berkata apa, namun tiba-tiba saja Aina membuang selimut hingga jatuh di lantai.


"Bang," lirih Aina dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Ya sayang," jawab Arhan dengan santainya.


"Bang," lirih Aina lagi.


Aina memanyunkan bibirnya, kesal melihat sikap Arhan yang seakan mengabaikan dirinya.


"Gak jadi," ketus Aina, lalu berbalik dan membelakangi Arhan kembali.


Arhan tersenyum sumringah, senang karena berhasil mengerjai istrinya. Sebenarnya dia ingin sekali Aina yang memintanya lebih dulu, namun sang istri sudah terlanjur merajuk.


"Sayang," panggil Arhan.


Aina tak menyahut, dia malah menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya tanpa sisa. Entah mengapa emosinya terkadang naik turun jika bersama Arhan. Kadang ingin dimanja, kadang pun ingin jauh-jauh tanpa sebab. Namun saat dirinya ingin dimanjakan dengan sentuhan hangat, Arhan malah mengerjainya seperti ini.


"Sayang, Aina marah ya? Aina gak menginginkan Abang malam ini?" tanya Arhan. Kini tangannya pun melingkar di pinggang Aina, menyelinap masuk meremas balon kenyal Aina bergantian.


"Plak!"


"Jangan pegang-pegang!" Aina menepuk tangan Arhan dan menggesernya agar menjauh.

__ADS_1


"Sayang, jangan marah dong! Abang hanya bercanda," bujuk Arhan, lalu mencium tengkuk Aina, menjilatinya dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas berwarna merah pekat. Sementara tangannya kembali masuk memainkan bagian luar inti Aina.


Tanpa sadar, Aina mulai terhanyut. Rasa kesal yang tadinya menggunung, tiba-tiba hilang seiring sentuhan Arhan yang begitu lembut. Mampu membangkitkan gairahnya yang sudah memuncak.


Aina dengan cepat membalikkan tubuhnya, mengesap bibir Arhan tanpa ragu sedikitpun. Entah setan apa yang hinggap di dirinya sehingga membuat mata Arhan terbelalak.


Dalam hitungan detik Aina sudah duduk di atas perut kotak Arhan, melu*mat bibir sensual suaminya dengan lahap, menjelajahi rongga mulut Arhan hingga saling membelit lidah. Ludah yang sudah membaur membuat basah bibir keduanya.


Arhan tak kuasa lagi membendung hasrat yang sudah berkecamuk di dirinya, tangannya bergerak meremas sepasang balon Aina yang bulat berisi sembari sesekali menarik ujungnya.


"Aahh...," Aina melepas pagutannya, sesak memang sesak, namun tak membuatnya berhenti sampai di sana.


Saat Arhan melahap habis balon kenyal miliknya secara bergantian, Aina memicingkan mata, sungguh nikmat yang tak bisa diungkap dengan kata.


Apalagi saat tiang surga Arhan mulai masuk menusuk pertahanannya, membuat tubuh Aina bergetar dengan sedikit jeritan kecil nan menggoda.


"Aahh..., Sayang..., Em..., Yes...," Mulut Aina tak bisa diam, membuat Arhan semakin gencar menusuk inti istrinya semakin dalam. Bahkan gerakan pinggul Aina yang lincah seakan menjadi daya tarik sendiri untuk Arhan.


Aina berbalik dan memunggungi Arhan, tangannya bertumpu di dada bidang suaminya. Sementara kakinya bertumpu di paha Arhan.


"Aahh..., Ya...," Aina semakin tak kuasa menahan suaranya, bahkan saat menggigit bibirnya pun suara menggoda itu tetap saja lolos dari mulutnya.


Sedetik kemudian Arhan membalikkan tubuh Aina, menyerangnya dari belakang dengan membabi buta. Butir-butir keringat bercucuran di tubuh keduanya, sangat panas hingga suhu AC pun tak sanggup mendinginkan keduanya.


Hampir satu jam berpacu dengan nafas yang kian memburu, Arhan kembali membalikkan tubuh Aina. Menghantamnya tampan ampun sedikitpun, hingga akhirnya mulut keduanya mengerang bersamaan.


"Aahh...,"


Bola mata Aina menghilang dari tempatnya, sekujur tubuhnya bergetar tak menentu. Sulit diungkap dengan kata betapa nikmatnya pelepasan yang diraihnya. Sementara Arhan sendiri terkapar setelah mencabut tiangnya yang mulai mengerucut.


Sepuluh menit berlalu, Arhan turun dari ranjang dan menggendong Aina ke kamar mandi. Membersihkan tubuh istrinya lalu membersihkan dirinya sendiri.


Kini keduanya kembali berbaring di tempat tidur, suhu ruangan yang tadinya panas kini sudah kembali seperti semula. Keduanya masuk ke dalam selimut yang sama, saling berpelukan menggapai alam mimpi yang indah.

__ADS_1


__ADS_2