
Arhan tersenyum sumringah menatap layar ponselnya yang tengah menyala. Meski sekarang dia sedang berada di apartemen, tapi dia masih bisa memantau gerak gerik istrinya melalui kamera tersembunyi yang terpasang di setiap sudut kamar. Arhan tidak menyangka bahwa kamera pengintai yang dia pasang beberapa waktu yang lalu menjadi sangat berguna saat ini.
"Dasar istri keras kepala! Ayo kita liat siapa yang akan mencari siapa!"
Arhan menyeringai sembari terus menatap wajah cantik istrinya yang mulai terlihat mengantuk, namun manik mata Aina masih berguling seakan tengah menunggu dan mencari sesuatu.
"Dasar suami gak punya hati! Udah jelas istri lagi hamil, bukannya ditemani tapi malah keluyuran kemana-mana. Bikin anak aja bisanya." umpat Aina dengan bibir mengerucut, lalu memeluk kedua buah hatinya sembari memejamkan mata.
Aina mulai gelisah karena tidak yakin bahwa suaminya benar-benar tinggal di apartemen. Bisa saja Arhan tengah berada di tempat lain atau mungkin dia sedang bersama seorang wanita mengingat sejak beberapa hari lalu mereka tidak pernah berhubungan badan, kalau Arhan melepaskannya kepada wanita lain bagaimana?
Aina kembali membuka matanya dan duduk sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Hal itu membuat Arhan tertawa terbahak-bahak menyaksikan reaksi istrinya yang sangat menggemaskan.
"Nah, emang enak gak ada suami. Makanya jangan galak-galak! Udah minta maaf juga,"
Arhan terus saja tertawa sembari memegangi perutnya yang terasa menggelitik. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan istrinya kelimpungan seperti itu, tapi dia harus sedikit mati rasa untuk memberi pelajaran agar Aina tak lagi menganggap remeh dirinya. Sudah minta maaf masih dihukum, tentu saja Arhan tidak terima diperlakukan seperti itu.
Di waktu yang bersamaan, Baron dan Inda tiba di paviliun. Sebelumnya Baron sengaja menemani istrinya itu membereskan dapur, dia bahkan tak segan membantu Inda menyusun piring ke dalam lemari.
Baron menghempaskan tubuhnya di atas kasur, seharian membantu Inda membuat tubuhnya lumayan terasa lelah. Tidak hanya memindahkan barang istrinya saja, dia juga membantunya menata pakaian ke dalam lemari dan menata kamar sesuai keinginan istri yang baru dinikahinya itu. Melihat suaminya yang sudah terkapar, Inda hanya tersenyum dan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam berlalu, Inda keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Sepasang piyama pendek bermotif kartun sebatas lutut melekat di tubuh mungilnya.
Dia duduk di depan cermin sambil merapikan rambutnya dan membaluri beberapa bagian tubuhnya dengan lotion. Meskipun statusnya hanya seorang pelayan tapi Inda sangat pandai merawat diri hingga kulitnya tak kalah mulus dengan majikannya sendiri.
"Kak, Kak Baron, mandi dulu gih!" seru Inda sembari menggoyang lengan Baron untuk membangunkannya. Inda tau suaminya sangat lelah, tapi bagaimanapun juga kebersihan tetap nomor satu baginya. Dia tidak suka tubuh yang berkeringat langsung dibawa tidur karena itu tidak akan nyaman.
Baron membuka matanya perlahan. "Uhm, kamu udah selesai?"
__ADS_1
Inda tersenyum kecil. "Udah, mandi dulu gih! Abis itu baru tidur lagi," ucap Inda dengan suara lembutnya.
"Kok tidur?" gumam Baron dengan suara beratnya.
"Kan udah malam. Ngapain lagi kalau bukan tidur?" jawab Inda mengulum senyumannya.
"Olahraga dulu dong, semalam kan gak jadi." jelas Baron dengan wajah menuntut.
"Udah kemalaman, olahraganya besok aja!" sahut Inda dengan polosnya.
"Bukan olahraga yang itu, tapi olahraga-"
"Hust... Ayo, bangun dulu terus mandi!" potong Inda yang tak mau mendengar Baron melanjutkan kata-katanya.
Baron menyeringai dan menarik Inda hingga terjatuh di atas dadanya. Dia menahan tengkuk istrinya itu dan mengesap bibir merah delima Inda dengan lembut. Sejenak Inda terbuai dan membalas lu*matan bibir suaminya, namun sedetik kemudian Inda tersadar dan segera menarik dirinya untuk menjauh. "Udah, mandi dulu!"
Beberapa menit berlalu, Baron keluar hanya mengenakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Rambut basah yang masih meneteskan air membuat tampilannya terlihat maskulin, belum lagi dada bidang dan perutnya yang seperti roti sobek, jelas sekali memancarkan aura ketampanannya. Segera Baron menghampiri Inda dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Sayang," gumam Baron dengan suara tertahan. Dia sudah tidak sabar ingin bergulat melepaskan gejolak batin yang sudah semakin menuntut di dirinya.
"Uhm, kenapa Kak Baron?" sahut Inda dengan mata tertutup rapat. Karena kelelahan dia malas sekali membuka mata.
Baron menghampiri wajah Inda dan berbisik di telinganya. "Sayang, kok malah tidur duluan sih? Suaminya mau dianggurin aja? Bangun dong!"
Inda menggeliat dan melipat lengannya di atas wajah.
"Kenapa wajahnya ditutupi gitu? Masa' sama suami sendiri masih malu?"
__ADS_1
Baron meraih tangan Inda dan membuka lipatannya hingga wajah istrinya yang tengah bersemu merah nampak jelas di matanya. Tanpa permisi Baron pun mengecup telinga Inda dengan lembut, bergeser ke pipi lalu berlabuh di bibir mungil Inda yang merah seperti buah ceri.
Baron menjilatinya hingga hembusan nafas Inda menghantam wajahnya. Perlahan Baron mulai mengesap nya lalu melu*matnya bak permen. Rasanya benar-benar manis hingga membuat suhu tubuh Baron memanas. Deru nafasnya kian berpacu dengan detak jantung yang berdegup semakin kencang.
Inda membuka matanya perlahan, tubuhnya mulai melemah menikmati lembutnya sentuhan bibir suaminya itu. Dengan ragu-ragu dia mulai mengimbangi permainan Baron hingga lenguhan keduanya terdengar jelas memecah kesunyian malam.
Tangan Baron mulai bergerak membuka kancing piyama yang melekat di tubuh Inda. Seketika mata Baron membulat menyaksikan betapa indahnya gundukan kenyal milik istrinya, tidak hanya putih tapi juga mulus dan besar.
Baron meneguk liurnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak kering hingga dengan cepat dia kembali mengesap bibir Inda dan menyelami rongga mulut istrinya.
Nafas Baron mulai tersengal saat merasakan pergerakan alam yang berasal dari dalam handuk yang dia kenakan. Baron mulai tak terkendali dan menggigit leher mulus Inda hingga menyisakan banyaknya tanda kepemilikan di sana, kemudian turun dan mengecup belahan dada Inda.
Inda menggeliat dengan sedikit lenguhan yang keluar dari mulutnya. Sentuhan lidah Baron yang tengah mengitari ujung dadanya membuatnya ingin sekali menjerit. Apalagi saat Baron menghisap, menggigitnya dan meremasnya, membuat tubuh Inda merinding merasakan sensasi yang entah.
Baron terus saja turun dan mengecup perut rata Inda, sementara tangannya belum bisa lepas dari gundukan kenyal yang sangat pas di tangannya itu.
Inda semakin menegang saat bibir Baron berlabuh diantara sepasang pahanya. De*sahan kecil lolos dari mulutnya saat lidah panas Baron menjilati bagian luar intinya. Bau semerbak yang menyeruak di hidung Baron membuatnya semakin penasaran, aroma khas itu membuatnya kian menggila.
Baron menekuk kaki Inda hingga lidahnya semakin leluasa bergerak di bawah sana. Inda sampai menjerit merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya bergetar dan mengangkat bokongnya berkali-kali.
Baron yang sudah di ujung tanduk tak sanggup lagi menahan diri, segera dia mengarahkan tongkat misterius miliknya ke inti Inda untuk memulai penyatuan mereka.
Inda menjerit beberapa kali, matanya berkaca menahan sakit yang merobek benteng pertahanannya. Baron merasakan sesuatu yang aneh hingga langsung menghentikan aksinya. Mendadak garis senyumnya terangkat, dia pun mendekati bibir Inda dan melu*matnya dengan rakus lalu mengayunkan pinggulnya perlahan.
"Aughhhh... Kak Baron..."
Dengan semangat juang yang tinggi Baron terus saja menggempur inti Inda bertubi-tubi, kadang menariknya keluar lalu memasukkannya lagi. Begitu berulang kali hingga membuat pipi Inda bersemu merah menahan getaran hasrat yang bergejolak di dirinya. Baron membuatnya basah berkali-kali.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya Baron menyerah dan mengerang saat mencapai puncak kenikmatannya. Tubuhnya bergetar hebat diikuti jeritan kecil yang keluar dari mulut Inda dan keduanya terkapar dengan tubuh yang dipenuhi keringat.