Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 121.


__ADS_3

Sudah jam 10 malam, tapi Arhan dan Hendru masih saja menahan Baron di ruang keluarga. Baron bahkan sudah berulang kali memberi kode kepada kedua sahabatnya itu, tapi Arhan dan Hendru malah acuh tak acuh saja pada dirinya.


Nyatanya Arhan dan Hendru sengaja mengerjai Baron, keduanya tau bahwa Baron sudah tidak sabar ingin memakan wanita cantik yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Apalagi Arhan tau pasti kalau Baron ada masalah dengan li*bido nya sejak mengkonsumsi minuman sialan waktu itu.


"Arhan, Hendru, anak kalian nangis tuh. Liat dulu! Kasihan istri kalian, mereka pasti kecapean," seru Baron mengalihkan perhatian Arhan dan Hendru agar dia bisa pergi dari sana.


Manik mata Baron berulang kali melirik arah jam yang terpajang di dinding, tapi masih saja kedua pria itu mengajaknya ngobrol sembari menikmati minuman yang ada di gelas masing-masing.


"Mana ada, mereka udah pada tidur jam segini." jawab Arhan yang masih ingin berlama-lama di sana karena dia sendiri sedang menahan diri untuk tidak mendekati Aina yang masih dalam keadaan lemah.


"Ya udah, aku ke paviliun dulu ya. Ngantuk soalnya," imbuh Baron yang sengaja menguap di hadapan Arhan dan Hendru agar bisa lepas dari mereka.


"Baru jam sepuluh Baron, biasanya kau kuat begadang sampai pagi. Lagian minumannya belum abis, sayang ditinggal." timpal Hendru yang membuat Baron langsung terdiam kehilangan akal. Hendru sendiri tengah menahan diri karena istri tercintanya sedang dipagar palang merah.


Baron menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, bagaimana cara melumpuhkan dua orang pengacau itu agar melepaskan dirinya sesegera mungkin. Sudah jelas malam ini adalah malam pertama baginya, tapi dua cucunguk itu tak memberinya kesempatan untuk pergi.


Jarum jam terus berputar hingga menunjuk angka 12. Kali ini Baron benar-benar mengantuk dan sudah kehilangan kesabarannya, apalagi tubuhnya mulai terasa gerah setelah menghabiskan beberapa gelas minuman.


"Aish, aku gak tahan lagi. Kalau kalian masih mau tetap di sini terserah kalian saja, aku pergi dulu." Baron bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga tanpa harus mendengarkan kedua pengacau itu.


Tiba di paviliun, Baron mengusap wajahnya dengan kasar saat mendapati Inda yang sudah terlelap di atas kasur. Rahangnya mengerat kuat saking jengkelnya mengingat kelakuan Arhan dan Hendru yang jelas sengaja mengerjai dirinya.

__ADS_1


"Brengsek, ini semua gara-gara mereka." umpat Baron merutuki dua sahabatnya itu. Apalah daya Baron tidak tega mengganggu tidur istrinya yang terlihat begitu lelap.


Setelah mengunci pintu, Baron melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Meski sudah larut dia terpaksa berjibaku di bawah guyuran air sembari memainkan juniornya. Malam yang harusnya menjadi malam panas untuknya dan wanita yang baru saja dinikahinya akhirnya hancur hanya karena ulah dua pria menyebalkan itu.


Baron berbaring di samping Inda setelah melakukan pelepasannya sendiri. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Inda dan memeluknya erat sembari mengecup tengkuk istrinya itu. Sabar, hanya itulah kata yang terngiang-ngiang di benaknya saat ini.


Pagi hari Baron terbangun dari tidurnya dan mendapati kasur yang sudah kosong, tidak ada Inda di sampingnya. Manik mata Baron berguling liar menatap sekelilingnya, tetap sama kosong tak berpenghuni.


"Inda, kamu di dalam?" seru Baron yang kini sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Setelah cukup lama berdiri, Baron memutuskan untuk membuka pintu dan mendorongnya. Masih dalam keadaan yang sama tidak ada Inda di mana-mana. Baron menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Harapan ingin bermanja-manja dengan sang istri akhirnya sirna begitu saja.


Karena sudah terlanjur berada di kamar mandi, Baron pun memutuskan untuk segera membersihkan diri. Padahal Inda sudah diberi waktu untuk istirahat beberapa hari ini, tapi dia justru langsung bekerja meski masih dalam suasana pengantin baru.


Inda tengah menyiapkan sarapan pagi di dapur, air mukanya nampak masam meski tangannya masih asik mengaduk masakan yang ada di atas kompor. Kesal bercampur sedih karena Baron tak mengacuhkan dirinya di malam yang seharusnya menjadi momen terindah untuk sepasang suami istri yang baru saja sah di dalam ikatan suci pernikahan.


"Inda, kok kamu di sini? Bukankah kamu seharusnya di paviliun bersama suamimu? Kenapa malah di dapur menyiapkan sarapan?" cerca Aina yang baru saja tiba di dapur.


Aina sengaja turun lebih awal untuk menyiapkan sarapan menggantikan Inda, tapi dia justru terkejut melihat Inda yang hampir saja selesai menyiapkan sarapan untuk semua orang.


"Gak papa Nyonya, bukankah ini sudah menjadi tugasku?" jawab Inda dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Kok jawabnya gitu sih? Aku memberimu waktu untuk istirahat beberapa hari ini, pengantin baru seharusnya di kamar dulu manja manjaan sama suami." jelas Aina sembari menautkan alisnya.


"Gak ada pengantin baru Nyonya, sepertinya apa yang aku takutkan terjadi juga. Dia bahkan gak menyentuhku sama sekali, entah jam berapa dia ke kamar aku juga gak tau. Dia sengaja meninggalkanku di malam pertama kami. Apa namanya kalau bukan menyesal udah menikahi wanita sepertiku?" lirih Inda dengan mata berkaca. Inda memang selalu terbuka pada Aina, jadi masalah seperti ini sama sekali tidak membuatnya canggung.


Lagi-lagi Aina menautkan alisnya mendengar penuturan Inda barusan. Apa itu benar? Tapi gak mungkin, Aina sama sekali tidak percaya kalau Baron tega melakukan itu pada wanita yang baru saja dinikahinya.


"Ngomongin apa sih? Serius banget kayaknya." Nayla yang baru saja turun ikut nimbrung bersama kedua wanita itu. "Cie cie, ada pengantin baru juga di sini. Gak capek abis olahraga semalaman?" imbuh Nayla sembari tertawa kecil.


"Lola, siapin meja ya! Aku ke kamar dulu," Inda tak merespon ucapan Nayla, dia memilih pergi meninggalkan dapur dan masuk ke kamar yang biasa ditempatinya.


Lola mengangguk kecil dan mulai menyalin makanan yang sudah matang ke dalam piring, lalu menatanya di atas meja makan.


"Ada apa dengannya?" tanya Nayla sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Apa aku salah bicara?" imbuh Nayla bingung.


"Iya, kamu salah bicara. Makanya kalau bercanda tuh liat situasi dulu!" ketus Aina dengan tatapan tajam.


"Loh, salahnya dimana? Bukankah pengantin baru memang seharusnya begitu? Kamu udah ngerasain nya kan? Aku juga begitu sampai gak sanggup berdiri waktu itu," jelas Nayla dengan gamblang.


"Tapi ini beda Nayla, Inda gak sama seperti kita. Baron gak menyentuhnya sedikitpun. Kamu tau betapa terhinanya dia sebagai seorang istri?" gerutu Aina yang mulai kesal terhadap Baron. Aina sendiri kecewa karena Baron tak menepati janjinya yang akan menerima apapun dan bagaimanapun keadaan Inda.


Aina meninggalkan dapur dan berjalan menuju paviliun, bagaimanapun dia harus meluruskan masalah ini secepatnya. Jika Baron tidak menginginkan Inda, lebih baik mengembalikannya pada keluarga mereka. Aina tidak mau Inda menderita saat tak diinginkan oleh suaminya sendiri. Aina tau pasti bagaimana terhinanya Inda saat ini, dia tidak mungkin membiarkan Inda terluka dalam pernikahan ini.

__ADS_1


__ADS_2