
Setelah film usai, Aina tak melepaskan pelukannya dari Arhan. Keduanya semakin lekat, bahkan saat berjalan meninggalkan gedung itu tangan keduanya saling melilit di pinggang masing-masing.
"Begini ya rasanya berpacaran, Aina tidak pernah merasakan ini sebelumnya." ucap Aina dengan kepala tersandar di bahu Arhan.
"Sama. Jika Abang tau rasanya mengasyikkan seperti ini, mungkin sudah dari dulu Abang mencari pacar. Sayangnya hati ini sudah tertutup sebelum Abang bertemu Aina." sahut Arhan, lalu mencubit hidung Aina gemas.
"Tuh kan mulai lagi. Nanti kalau Aina bahas yang dulu-dulu, Abang pasti marah!" keluh Aina dengan wajah cemberut nya.
"Hahahaha, Abang tidak akan marah kok sayang. Kenyataannya memang Abang salah. Coba kalau kita ketemunya lebih awal, mungkin Abang tidak akan se brengsek itu dulu!" ucap Arhan menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Ya sudah, tidak usah membahas itu lagi! Intinya jangan mengulangi kesalahan yang sama jika ingin rumah tangga kita berumur panjang!" jelas Aina, dia menghentikan langkahnya sejenak, lalu memeluk Arhan dengan erat.
"Tidak akan, asalkan Aina tetap di sisi Abang!" Arhan mengacungkan dua jarinya ke wajah Aina, lalu mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.
Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore, kini keduanya sudah duduk di dalam mobil. Arhan pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
Arhan kembali memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Kali ini dia ingin membawa Aina berbelanja. Sejak menikah, belum sekalipun dia membelikan sesuatu untuk istrinya. Meskipun dia sudah memberikan beberapa card untuk Aina, tapi Aina belum menggunakannya sama sekali.
"Ngapain kita kesini Bang?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.
"Tidak usah banyak tanya, turun yuk!" ajak Arhan. Dia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aina.
Arhan mengulurkan tangannya, Aina pun menyambutnya dengan seulas senyum yang mematikan. Membuat Arhan terpana, kian hari Aina semakin membuatnya tergila-gila.
"Manis sekali, istri siapa sih ini?" goda Arhan, dia tak bisa lagi membendung keinginannya. Tepat di samping mobil, dia pun mengesap bibir ranum Aina dengan lembut.
Aina membuka matanya lebar, lalu mendorong dada Arhan agar menjauh darinya. "Apa Abang sudah gila? Ini tempat umum loh," keluh Aina dengan wajah memerah, tak menyangka Arhan akan senekat itu.
Arhan mengacak rambutnya sendiri sembari cengengesan. "Abang tidak tahan melihat senyuman Aina itu, sangat manis."
"Gombal aja terus, ingat umur!" ketus Aina sembari mengulum senyumannya. Meskipun kesal, tapi sebenarnya dia sangat menyukainya.
...****************...
Kini keduanya sudah berada di dalam mall. Arhan membawa Aina ke lantai 3, sebuah toko perlengkapan wanita. Di sana banyak barang-barang branded incaran para sosialita. Hanya saja sepertinya Aina tidak suka dengan tempat itu, dia tidak membutuhkan barang mahal.
"Bang, ngapain kita ke toko ini?" tanya Aina sembari menahan tangan suaminya, membuat langkah Arhan terhenti seketika.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi sayang, tentunya membeli kebutuhan Aina." jawab Arhan, lalu melanjutkan langkahnya.
"Jangan di sini Bang, di sini pasti mahal. Cari di tempat lain aja yuk!" ajak Aina, dia biasa berbelanja di pasar tradisional. Harga di sana juga lebih murah.
"Kenapa sayang? Di sini saja! Kapan lagi Aina memoroti kantong Abang?" Arhan menautkan alisnya.
"Aina tidak butuh barang mahal Bang! Jangan menghamburkan uang dengan hal yang tidak penting seperti ini!" tolak Aina.
"Sayang, kamu tau kan sekarang kamu tuh istrinya siapa? Abang pengen Aina tuh menyesuaikan diri, kedepannya Aina akan menemani Abang ke setiap acara penting. Masa' istri Abang berpenampilan biasa aja di depan kolega Abang?" Arhan berusaha membujuk Aina.
"Tapi Bang, tetap saja ini namanya pemborosan!" keluh Aina.
"Tidak ada pemborosan sayang! Bahkan jika Aina meminta nyawa Abang sekalipun, pasti Abang berikan!" ucap Arhan, dia pun melanjutkan pencariannya. Memilih berbagai macam perlengkapan wanita, mulai dari pakaian, tas, sendal, sepatu dan lain sebagainya.
Karena Arhan begitu kekeh, Aina pun terpaksa menuruti kemauan suaminya. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Takutnya Arhan tersinggung jika dia menolak terus.
Tak tanggung-tanggung, Arhan memilihkan begitu banyak barang sesuai seleranya. Baginya uang tidak jadi masalah, dia hanya ingin Aina berpenampilan sesuai statusnya yang merupakan istri dari pewaris tunggal keluarga Airlangga. Keluarga ternama yang memiliki kekuasaan terbesar di negeri ini.
Usai berbelanja, Arhan meminta pengelola toko membawa barang-barang tersebut ke dalam mobilnya. Kebetulan toko itu adalah toko langganan Leona, jadi antara Arhan dan pengelola toko sudah saling mengenal satu sama lain.
Sekitar pukul 7 malam, Arhan mampir ke sebuah restoran mewah. Sebelum pulang, dia ingin makan malam dulu bersama istrinya.
"Gini banget ya punya suami orang kaya, apa-apa serba mewah." ucap Aina dengan seulas senyum yang begitu manis.
"Loh, kok ngomongnya seperti itu? Aina tidak suka?" tanya Arhan dengan tatapan tak biasa.
Aina menghela nafas berat. "Suka sih suka, tapi terlalu berlebihan aja menurut Aina."
"Tidak ada yang berlebihan sayang! Bukankah Abang pernah bilang, Abang akan menjadikan Aina ratu di hidup Abang! Aina lupa?" jelas Arhan.
"Tidak, Aina masih ingat kok! Mungkin Aina saja yang belum terbiasa." sahut Aina.
Usai makan malam, keduanya memutuskan untuk pulang. Aina mulai resah sebab dadanya terasa tidak nyaman. Mungkin karena sudah waktunya Aksa menyusu.
Sesampainya di dalam mobil, Aina meringis sembari memegangi dadanya. Rasanya benar-benar nyeri, matanya sampai berbinar menahan sakit seperti ditusuk-tusuk.
"Au," rintih Aina.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Arhan, lalu membuka matanya lebar melihat pakaian Aina yang sudah basah.
"Sakit Bang, mungkin karena sudah waktunya Aksa menyusu." keluh Aina, lalu mengusap dadanya pelan.
Melihat wajah istrinya yang begitu, Arhan pun menutup rapat kaca mobilnya. Lalu beringsut merapatkan tubuh mereka.
"Sini Abang lihat!" pinta Arhan, lalu mengangkat baju Aina.
"Apa yang Abang lakukan?" Aina terperanjat kaget dengan mata membulat besar, dia takut Arhan melakukan hal aneh di tempat umum seperti itu.
"Tenang saja! Biar Abang bantu mengeluarkan isinya!" ucap Arhan, wajahnya semakin dekat hingga membuat Aina semakin gelisah.
"Jangan Bang, kita pulang saja!" ajak Aina.
"Sssttt, percaya sama Abang! Jarak dari sini ke rumah cukup jauh, Abang tidak mau Aina tersiksa menahan sakit lebih lama lagi!"
"Tapi Bang...,"
"Diam saja sayang, Abang tau batasannya kok!" ucap Arhan.
Saat kedua bola kenyal Aina sudah ternganga, Arhan pun mengambil inisiatif mengeluarkan isinya. Aina hanya tertegun melihat suaminya begitu sigap mengeluarkan ASI nya yang sudah menumpuk di dalam sana.
Arhan terlihat seperti bayi yang benar-benar kehausan, hisapannya sangat kencang hingga membuat Aina melenguh merasakan nikmat yang tiada tara. Saat merasa mulutnya penuh, Arhan pun melepehkan ASI tersebut ke dalam kantong plastik.
"Cukup Bang, sepertinya sudah mendingan!" gumam Aina, dia mulai merasakan panas di tubuhnya. Sentuhan Arhan membuat gairahnya meningkat seketika. Dia takut Arhan kebablasan, secara keduanya masih berada di luar rumah.
Mendengar itu, Arhan pun melepaskan hisapannya. "Yakin cukup?" tanya Arhan dengan seulas senyum yang sangat menawan.
"Iya, cukup untuk saat ini! Nanti kita lanjutkan di rumah ya!" Wajah Aina memerah mengatakan itu.
"Apa maksud Aina?" tanya Arhan bingung.
"Masa' Abang tidak ngerti sih?" Aina menekuk wajahnya malu.
Melihat rona wajah istrinya, Arhan pun terkekeh dengan sendirinya. Kemudian menutup kembali dada Aina.
"Pintar ya sekarang, udah berani menggoda Abang." Arhan mencubit hidung Aina gemas, lalu mengesap bibir ranum Aina penuh kelembutan.
__ADS_1
"Cukup Bang, jangan dipancing lagi! Ayo jalan!" ajak Aina.
Arhan menggulingkan senyumannya, kemudian menginjak pedal gas dan berlalu meninggalkan parkiran tersebut.