
Pagi hari, Aina sudah duduk di meja makan bersama Nayla dan Aksa. Meskipun terasa begitu sepi, Aina berusaha keras menguatkan dirinya.
Semalam dia benar-benar kesulitan memejamkan mata, bayangan Arhan selalu saja menghantui ingatannya. Bahkan setelah melakukan video call sekalipun, tetap saja rasa rindu Aina tak bisa terobati.
Untung saja di kamar masih ada baju kotor Arhan yang belum sempat di cuci, itulah yang menjadi penawar bagi Aina. Aina menciumi baju tersebut, menikmati aroma tubuh Arhan yang masih melekat di sana. Beberapa menit kemudian, barulah matanya bisa di pejamkan.
Saat di meja makan, Nayla tiba-tiba merasa mual saat hidungnya mengendus bau menyengat yang berasal dari dapur. Kebetulan pagi ini Inda sedang menggoreng ikan, bau yang sedap bagi Aina, tapi tidak untuk Nayla.
"Hueeeek...,"
Nayla segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat dia berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
"Hueeeek...,"
Lagi-lagi suara itu membuat Nayla kehilangan tenaganya. Aina yang khawatir segera menyusul Nayla dan mengusap punggung sahabatnya itu.
"Bunda kenapa?" seloroh Aina.
"Gak tau Mama, mungkin masuk angin." jawab Nayla.
"Masuk angin? Mama rasa gak," Aina pun tersenyum kecil sembari terus mengusap punggung Nayla.
"Maksud Mama apa?" Nayla pun menautkan alisnya.
"Sepertinya Bunda dan Mama akan kedatangan anggota baru lagi di rumah ini." jelas Aina yang tak hentinya tersenyum.
"Anggota baru?" Nayla kembali menautkan alisnya.
"Iya, Mama yakin ada adeknya Aksa di dalam sini." Aina mengelus perut Nayla dengan lembut.
"Maksudnya Mama Bunda hamil?" Sontak saja Nayla meninggikan suaranya.
"Iya, diliat dari gejalanya sih seperti itu. Sebenarnya Mama sudah curiga dari kemaren, Mama liat postur tubuh Bunda sedikit berbeda. Tapi Mama gak enak nanyain, takut Bunda nya tersinggung." jelas Aina.
"Masa' sih Ma? Apa ini mungkin?" tanya Nayla dengan lugunya.
"Mungkin aja goblok, kamu kan punya suami. Apa kalian belum pernah main petak umpet?" tanya Aina yang lagi-lagi tersenyum melihat keluguan Nayla.
"Gak pernah, petak umpet itu kan permainan anak kecil. Tapi kalau sama Aksa pernah," sahut Nayla dengan kebodohannya yang abadi.
"Oon banget sih, maksudnya main kikuk kikuk. Masa' gak ngerti sih?" seloroh Aina.
"Kikuk kikuk?" Nayla kembali menautkan alisnya.
__ADS_1
"Astaga Nayla, main ah uh ah uh. Saat Hendru menindih tubuhmu tanpa pakaian, terus kamu men*desah menikmati tongkat keramatnya yang keluar masuk di dalam lubang mu itu. Terus-"
Nayla dengan cepat membungkam mulut Aina dengan tangannya. "Cukup Aina! Aku ngerti,"
"Dasar begok!" Aina mengetuk kening Nayla dan duduk di kursinya lagi. Tidak lama Nayla pun menyusul dan duduk di kursinya.
Sejenak ruang makan terasa hening, yang terdengar hanyalah suara kecapan Aksa yang tengah asik menyantap sarapannya. Sedetik kemudian Aina dan Nayla mendadak tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...,"
Usai sarapan, Aina dan Nayla beranjak dan duduk di ruang keluarga. Keduanya saling bertukar pendapat hingga akhirnya Aina mengajak Nayla ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Nayla yang penasaran tentu saja menyetujui ajakan Aina. Setelah bersiap-siap, Aina menitipkan Aksa kepada Inda. Tidak mungkin mereka membawa bocah itu, takutnya rewel dan mengganggu kenyamanan rumah sakit.
"Pak, tolong antar kami ke rumah sakit ya!" pinta Aina kepada Pak Anang.
"Loh, bukannya jadwal pemeriksaan Nyonya Aina dua hari lagi? Apa Nyonya baik-baik saja?" Pak Anang mengerutkan keningnya.
"Antar saja! Aku sekalian ingin memeriksakan keadaan Nayla." jelas Aina.
"Oh, baiklah kalau begitu."
Pak Anang membukakan pintu mobil. Setelah Aina dan Nayla masuk, Pak Anang menutupnya kembali dan duduk di bangku kemudi.
Tidak lama, mobil itupun melaju meninggalkan kediaman Airlangga.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada sebuah mobil yang mengikuti dari belakang. "Ikuti mobil itu, jangan sampai kehilangan jejak!" instruksi seseorang.
Sesampainya di rumah sakit, Aina dan Nayla turun dan masuk ke dalam. Sementara Pak Anang memilih menunggu di kantin rumah sakit sembari menikmati secangkir kopi hitam yang sangat nikmat.
Setelah mengambil nomor antrian, Aina dan Nayla duduk di kursi tunggu. Sebenarnya bisa saja Aina minta didahulukan, tapi dia tidak mau karena kasihan dengan yang lainnya. Mereka sudah mengantri lebih dulu.
Satu, dua, tiga, empat dan seterusnya. Akhirnya tibalah giliran mereka pada antrian ke delapan. Keduanya masuk bersamaan karena Aina pun ingin sekalian memeriksakan kandungannya. Terakhir USG, jenis kelamin janinnya belum terlihat karena calon baby nya selalu saja memperlihatkan punggungnya. Sepertinya calon debay Aina ingin memberikan kejutan pada kedua orang tuanya.
Sementara Nayla sedang diperiksa dan berbaring di atas brankar, Aina pun memilih menunggu di meja dokter.
"Dok, saya tidak disuntik kan?" tanya Nayla sembari meremas ujung bajunya. Takut bercampur cemas karena dirinya sangat trauma dengan jarum suntik.
"Tidak, kita hanya akan melakukan USG. Kecuali kalau Anda mau disuntik," seloroh Dokter Anita sembari mengambil jarum suntik dan mengangkatnya hingga Nayla pun menjerit.
"Aaaaaaaaaa...,"
Aina yang tadinya tengah duduk santai, mendadak terlonjak dan segera melihat Nayla.
__ADS_1
"Ada apa Nayla? Kenapa berteriak?" tanya Aina sambil mengerutkan keningnya.
"Dokter itu mau menyuntik ku, aku tidak mau." ketus Nayla dengan bibir mengerucut.
"Hahaha, hanya bercanda saja. Ayo kita periksa dulu!" seloroh Dokter Anita.
"Dasar lebay! Suntik kecil aja takut, giliran suntik besar malah keenakan. Lagi Mas, lagi Mas!" gerutu Aina sembari menjitak kening Nayla.
"Apaan sih Aina? Malu tau," Nayla menyembunyikan wajahnya seperti kukang.
"Suntik aja Dok, biar tau rasa!" Aina pun bersusah payah menahan tawanya, sekali-sekali mengerjai Nayla apa salahnya.
"Jangan Dok!" timpal Nayla segera.
"Ya udah, sekarang diperiksa dulu ya!"
Dokter Anita membalur perut Nayla dengan gel dan melihat keadaan kandungan Nayla melalui layar monitor.
"Ada, masih sangat kecil. Perkiraan baru memasuki usia 6 minggu." ucap Dokter Anita.
"Tuh kan, apa aku bilang. Kamu sih gak percaya," imbuh Aina.
"Jadi benar saya hamil, Dok?" tanya Nayla memastikan.
"Iya, selamat ya. Kenapa suaminya gak dibawa?" jawab Dokter Anita dengan pertanyaan pula.
"Suami kami sedang keluar kota Dok," sahut Nayla.
"Hahaha, kalian ini lucu ya. Istri pada hamil, suaminya pada keluar kota." seloroh Dokter Anita.
"Namanya juga suami bertanggung jawab Dok, kan demi anak mereka juga." sahut Aina.
"Iya juga ya, hehehe." Lagi-lagi Dokter Anita tak bisa menahan tawanya melihat tingkah dua wanita itu.
Setelah Nayla, kini giliran Aina yang diperiksa. Meskipun janjinya lusa, tapi tidak apa. Sudah terlanjur di sana juga.
Sama seperti Nayla tadi, Dokter Anita juga membaluri perut Aina dengan gel.
"Wah, kayaknya calon baby nya udah gak malu lagi. Tuh liat!" Dokter Anita menunjuk layar monitor. "Cantik, pipinya gemesin, hidungnya juga mancung." imbuh Dokter Anita.
"Cantik? Maksud Dokter baby saya perempuan?" Aina membuka matanya lebar.
"Iya, cantik seperti Mamanya."
__ADS_1
Sejenak Aina terdiam, dia mengingat kembali saat Arhan mengatakan ingin sekali memiliki anak perempuan. Ternyata Tuhan mengabulkan permintaannya. Aina rasanya sudah tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini pada suaminya.
Setengah jam berlalu, Aina dan Nayla meninggalkan rumah sakit. Masing-masing dari mereka diberi vitamin oleh Dokter Anita.