Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 125.


__ADS_3

Pukul lima pagi Inda sudah terbangun seperti biasanya. Pinggangnya terasa pegal, bahkan intinya masih menyisakan rasa nyeri. Ukuran tubuhnya yang kecil membuat Baron begitu leluasa membolak-balikkan nya, bahkan mengangkatnya hingga bermain di gendongan Baron. Sesuatu hal yang biasanya hanya ada di ilusi Baron akhirnya bisa dia praktekkan kepada istrinya itu. Hal itu membuat Inda kewalahan hingga enggan sekali bangkit dari pembaringannya.


Inda menatap lekat wajah suaminya yang masih terlelap. Seulas senyum terurai di bibirnya, namun sedetik kemudian senyuman itu menghilang begitu saja. Inda takut setelah bangun nanti Baron akan kecewa pada dirinya. Apakah pergulatan dua ronde itu terjadi karena Baron benar-benar menginginkan dirinya atau hanya karena nafsu belaka?


Sudahlah, setidaknya Inda sudah jujur sebelumnya. Terima atau tidak biar waktu yang menjawabnya.


Inda mendorong pelan tubuh Baron agar menjauh darinya, dia beringsut hendak turun tetapi tangan kekar itu malah menariknya hingga terjatuh di atas dada bidang suaminya itu.


"Mau kemana?" gumam Baron dengan suara beratnya, matanya masih tertutup dengan sempurna.


Inda mencoba beranjak namun tangan Baron malah melingkar erat di pinggangnya hingga tak bisa kemana-mana.


"Kak Baron, lepasin aku! Aku harus mandi dan menyiapkan sarapan untuk semua orang." pinta Inda sembari menarik diri untuk menjauh.


"Gak boleh, kamu harus tetap di sini bersamaku!" ucap Baron menahan istrinya agar tidak pergi darinya.


"Kok gak boleh? Ingat Kak Baron, aku hanya pelayan di sini!" jelas Inda dengan bibir mengerucut.


"Pelayan juga manusia kan? Apa kamu gak capek? Kata Aina boleh libur untuk beberapa hari ini, nikmati dulu kebersamaan kita!"


Baron menarik Inda semakin dekat dan memeluknya seperti guling. Jangankan untuk bergerak bernafas saja rasanya begitu sulit.


"Kak Baron, kamu ini kenapa sih?" Inda menautkan alisnya bingung.


"Gak papa, aku hanya ingin memeluk istriku dan memeranginya sekali lagi." jawab Baron enteng lalu mengecup kening Inda dengan sayang.


"Sekali lagi?" Inda mengulangi kata itu dengan mata membulat sempurna. "Kak, semalam udah dua kali loh. Apa kamu gak lelah? Aku udah gak kuat," imbuh Inda.


Baron menyeringai licik. "Jangankan dua kali, sepuluh kali pun aku kuat asal kamu sanggup."


"Dasar gila! Kamu mau bunuh aku secara perlahan?" ketus Inda dengan bibir mengerucut.


"Membunuh dengan kenikmatan apa salahnya? Abisnya kamu bikin aku gemas." Baron mempererat pelukannya seperti ular piton melilit mangsanya. "Kenapa kamu bohong sih sama aku?" imbuh Baron dengan kening mengkerut.


"Bohong? Kapan?" Inda lagi-lagi menautkan alisnya bingung.

__ADS_1


Baron menghela nafas berat dan menatap Inda dengan intim. "Kamu sebenarnya kenapa sih? Kenapa tega sekali mempermainkan aku?"


Inda semakin kebingungan, dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan suaminya itu. "Kak Baron, ngomong tuh yang jelas, aku gak ngerti!"


Baron kembali mengatur nafas dan mengelus pipi Inda dengan tatapan sendu. "Katanya kamu pernah dijual dan udah gak perawan lagi, tapi buktinya aku lah yang mendapatkan kesucian mu pertama kali. Kamu ini bodoh apa oon sih?"


Mendengar itu, tubuh Inda langsung bergetar hingga mengguncang tubuh kekar Baron. Wajah mungil itu berubah pucat hingga membuat Baron merasa iba lalu membelai rambut Inda dengan sayang.


"Kamu itu masih perawan Inda, aku lah yang membobolnya semalam. Kenapa kamu bisa beranggapan bahwa kamu udah gak suci lagi?"


Air mata Inda akhirnya mengucur deras. Apa dia sedang bermimpi? Atau Baron hanya ingin menyenangkan hatinya saja? Inda belum bisa mempercayai ucapan suaminya itu.


"Tapi waktu itu-"


"Berarti waktu itu kamu belum diapa-apain, mungkin aja kamu gak sadar jadi gak tau apa yang terjadi sebenarnya. Aku yang mendapatkannya, aku yang mengambil kesucian mu pertama kali. Suamimu ini Inda, bukan orang lain."


Inda memanyunkan bibirnya dengan air mata yang terus berjatuhan lalu memeluk Baron dengan erat. "Kak Baron, aku-"


"Udah, gak perlu nangis! Mulai sekarang lupain kejadian kelam itu! Ingat, hanya aku yang pernah menyentuhmu!"


"Aku mencintaimu Kak Baron, jangan pernah tinggalkan aku ya!" lirih Inda sesegukan.


"Teg!"


"Ngomong apa sih? Meski kamu gak perawan sekalipun aku gak akan pernah ninggalin kamu, apalagi udah jelas begini. Kamu pikir aku ini bodoh?" Setelah menyentil kening Inda, Baron pun mengecupnya dengan penuh rasa sayang dan kebahagiaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aina tengah berada di sebuah gedung mewah bersama Arhan dan rekan bisnis suaminya. Malam ini bertepatan dengan ulang tahun perusahaan jadi semua pengusaha sukses tanah air berkumpul menghadiri acara tersebut.


Awalnya biasa saja, Aina terlihat begitu bahagia menyambut kolega suaminya. Namun saat seorang model papan atas tiba di aula tersebut wajah Aina berubah masam, apalagi saat wanita itu mendekati suaminya. Cium pipi kiri cium pipi kanan, bahkan keduanya saling bergandengan tangan dan membiarkan Aina begitu saja.


"Sayang, Abang ke hotel dulu ya."


Ucapan Arhan itu membuat darah Aina mendidih seketika, apalagi saat sepasang manusia itu berjalan meninggalkan gedung. Jantung Aina semakin memanas menyaksikannya.

__ADS_1


"Arhan, kau berani meninggalkanku hanya demi wanita itu?" teriak Aina sangat lantang, suaranya nyaris menghilang saking sesaknya menahan amarah yang memuncak hingga ubun-ubun.


"Arhan... Arhan..."


"Deg!"


Aina terduduk lesu bermandikan keringat jagung. Matanya mengerinyam hebat, deru nafasnya terdengar bergemuruh.


Aina menatap sekelilingnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Untung cuma mimpi," gumam Aina dengan nafas tersengal.


Aina beranjak meninggalkan tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci wajah, Aina keluar dan meneguk segelas air mineral yang ada di atas nakas.


Segera Aina mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arhan. Berhubung jam baru menunjuk angka enam, tentu saja Arhan begitu lambat mengangkatnya. Jam segini dia masih tidur dengan pulas.


Aina mendengus kesal, bisa-bisanya Arhan tidak menjawab telepon darinya. Hati Aina semakin memanas karena takut mimpi itu menjadi nyata.


Berulang kali Aina menghubungi Arhan hingga akhirnya telepon itu tersambung juga. Namun kemarahan Aina semakin menjadi-jadi saat mendengar suara wanita yang begitu lembut dari balik sana.


"Halo," sapa wanita itu dengan suara lembutnya.


Aina mengepalkan tangannya erat. "Siapa kau? Dimana suamiku?"


"Maaf, Anda siapa ya? Siapa suami Anda?" jawab wanita itu.


"Hei, kau jangan macam-macam ya! Kenapa ponsel suamiku ada padamu? Ingat, Arhan itu sudah punya istri dan anak! Apa kau tega menghancurkan rumah tangga kami?" bentak Aina yang sudah tersulut emosi. Air mukanya menyala merah saking tak kuat menahan diri.


"Oh, jadi pria tampan ini suamimu. Maaf, aku gak tau. Pesonanya begitu memukau, aku gak bisa menolak godaannya." jawab wanita itu dengan entengnya.


"Godaan?" Aina menggertakkan giginya kuat. "Apa kalian baru saja-" Aina tidak berani melanjutkan ucapannya, rasanya begitu sakit hingga menusuk ulu hati.


"Maaf, suami Anda masih tidur. Nanti kalau dia bangun, aku akan menyuruhnya menghubungimu!"


Belum sempat Aina menjawab, sambungan telepon itu sudah terputus lebih dulu. Aina menggenggam ponselnya dengan kuat dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

__ADS_1


__ADS_2