
Usai sarapan pagi, semua orang sudah berkumpul di depan kamar Arhan. Beberapa petugas juga sudah standby di sana. Sudah waktunya mereka semua meninggalkan pulau itu, entah kapan lagi mereka bisa berkunjung ke tempat itu.
"Selamat jalan Tuan, Nyonya, senang bisa menjamu kalian semua di sini. Kami tunggu kunjungan kalian selanjutnya!" ucap seorang petugas.
"Terima kasih untuk jamuan nya selama kami di sini. Maaf sudah merepotkan kalian dengan berbagai macam permintaan." sahut Arhan.
"Sudah kewajiban kami memenuhi keinginan pengunjung. Untuk Tuan Hendru dan Nona Nayla, maaf atas kelancangan kami yang beberapa kali mengerjai kalian. Semua itu murni idenya Tuan Arhan, kami hanya menjalankan tugas!" ucap petugas itu.
"Ya, saya tau itu. Tidak perlu meminta maaf!" sahut Hendru.
Setelah cukup lama berbincang, Arhan dan Aina mulai berjalan menuju dermaga. Yang lain pun ikut menyusul, termasuk beberapa petugas yang membawakan koper mereka.
Di ujung sana, jet pribadi pesanan Arhan sudah menunggu. Setelah memberikan segepok uang untuk tips para petugas, Arhan pun membantu Aina naik ke dalam jet.
"Hati-hati Tuan," teriak para petugas dari bawah sana.
Arhan melambaikan tangannya, begitupun yang lainnya.
Tepat pukul 9 pagi, jet itu pun mulai mengudara menjelajahi angkasa. Arhan duduk bersama Aina dan juga Aksa. Sementara Hendru duduk bersama Nayla.
"Apa Aina tidak takut lagi?" tanya Arhan kepada istrinya, seulas senyum terukir indah di wajahnya.
"Takut sih Bang, tapi tidak separah kemaren." sahut Aina sembari memangku Aksa di atas pahanya.
"Apa Aina mau pindah ke kamar?" tanya Arhan meminta pendapat istrinya.
"Tidak perlu Bang, Aina di sini aja!" tolak Aina, dia ingin belajar menyesuaikan diri.
Arhan melingkarkan tangannya di pinggang Aina, Aina pun merebahkan kepalanya di dada Arhan.
Tidak lama, Aksa menggeliat turun dari pangkuan Aina. Dia berlari menghampiri Nayla yang duduk di samping Hendru.
"Ti, ain ya." ucap Aksa yang bermaksud mengajak Nayla bermain.
"Aksa mau main apa sayang?" tanya Nayla, dia mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di tengah mereka.
"Aksa mau main apa Nak? Mainnya sama Om aja ya!" ajak Hendru.
"Ya," sahut Aksa sembari menganggukkan kepalanya.
Melihat Aksa yang begitu dekat dengan Nayla dan Hendru, Aina pun tersenyum sumringah.
"Kalian tuh udah cocok jadi orang tua. Tunggu apa lagi, sebaiknya menikah saja!" celetuk Aina sembari terkekeh.
__ADS_1
"Apaan sih Aina? Jangan mulai deh!" keluh Nayla dengan pipi merona.
"Benar yang dikatakan Aina, apa lagi yang kalian tunggu? Kalau kelamaan bisa basi, ada aja rintangannya nanti." tambah Arhan.
"Tuan, Nyonya, sebaiknya kalian berdua ke kamar aja deh. Biarkan kami bertiga bermain di sini dengan leluasa!" ketus Hendru mengusir bos nya secara halus.
"Kau berani mengusir kami?" geram Arhan dengan tatapan membunuhnya.
"Bukan mengusir, tapi memberi kalian waktu untuk berduaan. Mumpung Aksa bersama kami," jelas Hendru.
"Hahaha, alasan yang bagus. Bilang aja kalau kau mau bermesraan dengan Nayla!" tebak Arhan.
"Sudah, jangan ribut!" ucap Aina, tiba-tiba dia merasa pusing mendengar perdebatan diantara kedua pria itu.
Aina memegangi kepalanya, kemudian menekannya perlahan. "Bang, antar Aina ke kamar dong! Kepala Aina tiba-tiba pusing nih,"
"Loh, kenapa sayang?" tanya Arhan khawatir.
"Tidak tau Bang, mungkin masuk angin." terka Aina mengingat seharian kemaren tubuhnya kenyang dihempas angin laut.
"Nayla, Hendru, titip Aksa ya. Kami ke kamar dulu!" ucap Arhan.
"Ok, pergilah!" sahut Hendru sembari tersenyum kecil.
Setelah membaringkan Aina di atas kasur, Arhan duduk di sisi ranjang.
"Apanya yang sakit?" tanya Arhan mencemaskan keadaan istrinya.
"Hanya pusing, tapi kok rasanya mutar-mutar gini ya." keluh Aina sembari menekan pelipis dahinya.
"Mau Abang kerokin?" tanya Arhan.
"Boleh, tapi pelan-pelan aja ya Bang!" pinta Aina.
"Ok, tunggu di sini sebentar ya! Abang mau ambil minyak kayu putih dulu,"
Arhan meninggalkan kamar dan berjalan menuju luar. Lalu mengambil minyak kayu putih yang ada di dalam tas milik Aksa.
"Aina kenapa Bang?" tanya Nayla khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya masuk angin." sahut Arhan, kemudian meninggalkan mereka semua dan kembali ke dalam kamar.
Melihat istrinya yang merintih kesakitan, Arhan mulai tidak tenang. Mau ke dokter tapi posisi mereka masih di atas awan. Satu-satunya cara hanyalah mengerok punggung Aina, siapa tau dengan ini rasa sakit Aina bisa berkurang.
__ADS_1
"Aina buka bajunya dulu ya!"
Arhan mendudukkan Aina dan membantu membukakan baju yang dikenakan istrinya, lalu menyuruh Aina tengkurap agar Arhan lebih leluasa mengerok punggung istrinya.
"Ahh, pelan-pelan Bang! Sakit," rintih Aina, dia sampai menggigit bantal saking sakitnya.
"Ini sudah pelan sayang, tahan sebentar ya!" ucap Arhan sembari terus mengerok punggung Aina hingga memerah.
"Astaga sayang, kok bisa separah ini sih? Kenapa diam saja sebelum ini?" Arhan menggelengkan kepalanya melihat punggung istrinya yang benar-benar merah.
"Mana Aina tau Bang, berasa nya kan baru sekarang?" jawab Aina.
Setelah beberapa menit, Arhan kembali membantu Aina mengenakan bajunya, kemudian dia pun berbaring di samping Aina.
"Sekarang Aina tidur aja di sini bersama Abang, ayo tutup matanya!" paksa Arhan dengan sedikit penekanan.
"Kok maksa gitu sih Bang, gak bisa ngomong baik-baik apa?" keluh Aina sembari memanyunkan bibirnya.
"Astaga sayang, kok Aina jadi sensitif gini sih? Apa yang salah dengan ucapan Abang?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
"Gak ada yang salah, Abang kan selalu benar. Yang salah itu Aina,"
Aina memutar tubuhnya dan memunggungi Arhan begitu saja. Entah kenapa dia pengen mewek aja mendengar ucapan Arhan barusan.
"Aina, kok jadi ngambek gini sih sayang? Maafin Abang ya, Abang gak marah kok." bujuk Arhan sembari memeluk Aina dari belakang.
Mendengar itu, Aina kembali tersenyum, lalu menggenggam tangan Arhan dengan erat.
"Cium dulu dong!" pinta Aina dengan manja.
"Mau dicium apanya?" tanya Arhan.
"Apa aja, kalau bisa semuanya." sahut Aina sembari terkekeh.
"Jangan semuanya dong sayang, kita kan masih di atas awan. Tunggu nyampe rumah dulu ya, baru Abang cium semuanya!" goda Arhan sembari ikut terkekeh.
"Mulai deh otak mesumnya berjalan. Maksud Aina tuh semua yang ada di wajah, bukan semua yang ada di tubuh." jelas Aina.
"Oh, bilang dong dari tadi!" Arhan kembali terkekeh dan memeluk Aina dengan erat.
Arhan berpindah ke sisi kanan Aina, lalu menciumi semua wajah istrinya dengan lembut. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir Aina yang merekah. Tidak hanya mengecupnya, Arhan juga melu*matnya penuh kelembutan.
Aina tersenyum bahagia mendapatkan sentuhan suaminya yang begitu lembut. Setelah pagutan mereka terlepas, Aina pun memeluk Arhan dengan erat, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Arhan.
__ADS_1