
Aina dan Arhan kembali duduk di kursi mereka. Sementara yang lain masih penasaran menunggu jawaban dari mulut Inda, tak terkecuali dengan Baron yang sudah deg-degan menanti jawaban dari wanita yang dia sukai itu.
Inda masih saja bergeming dengan wajah tertunduk lesu, dia tidak tau harus menjawab apa. Permintaan Baron seperti serangan fajar yang datang begitu tiba-tiba, dia bahkan belum mengenal pria itu sebelumnya. Yang ada Baron malah sering membuatnya kesal dengan candaan recehnya.
Arhan menatap lekat wajah Inda sembari menautkan sepasang alisnya. "Inda, kenapa diam aja?"
Inda terperanjat dan mendongak menatap Arhan. "M-maaf Tuan, aku-"
"Gak usah dijawab! Aku mengerti, maaf karena sudah menciptakan kegaduhan di tengah kalian semua." Baron tersenyum kecut, kemudian memilih bangkit dan berlalu meninggalkan semua orang. Mustahil Inda mau menerima dirinya yang tak memiliki masa depan.
Baron tau dia bukanlah tipe pria idaman Inda. Sebelum mendengar sendiri penolakan dari mulut Inda, lebih baik dia pergi. Baron sadar dirinya tidak pantas bersanding dengan wanita sebaik Inda, jejak kelam Baron tentu menjadi pertimbangan tersendiri di hati Inda.
Arhan menarik nafas dalam-dalam. "Ya udah, sepertinya kita semua sudah tau jawabannya. Kau tidak perlu merasa bersalah, ini hanyalah penawaran, tidak ada yang memaksamu." jelas Arhan.
"Sayang, ayo ikut Abang!" Arhan segera berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Aina. Aina pun meraih tangan Arhan dan mengikuti langkah suaminya menuju lift. Masih ada hal penting yang ingin Arhan bicarakan dengan Aina.
Tidak lama, Hendru ikut bangkit dan menggenggam tangan Nayla. Keduanya meninggalkan ruang makan hingga menyisakan Inda sendirian yang masih terdiam dalam pemikirannya.
Setelah beberapa menit termenung, Inda mengusap wajahnya berulang kali. Dia pun segera berdiri dan merapikan meja dibantu pelayan lain.
Di luar sana, Baron masih termenung di depan paviliun. Cuaca malam ini seakan mengerti akan perasaannya saat ini. Angin berhembus sepoi-sepoi, gerimis mulai turun menembus bumi dan membasahi wajahnya yang tengah menengadah menghadap langit.
"Hahhh... Huhhh...,"
Baron menghirup udara sebanyak-banyaknya, mungkin inilah yang dinamakan tidak berjodoh. Baron berusaha legowo meski harus menelan kekecewaan yang mendalam di hatinya.
Sekali seumur hidupnya menaruh hati pada seorang wanita, namun harapan tinggal harapan saja. Kenyataan jauh menyakitkan dari apa yang dia bayangkan.
Segera Baron beranjak karena hujan semakin turun dengan lebat. Baron membanting tubuhnya di atas kasur dan memilih memejamkan mata. Berharap esok hari semua akan kembali seperti semula. Tidak ada Baron yang lembut, yang ada hanya iblis berwujud manusia.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, Arhan dan Aina sudah berbaring di atas kasur setelah membersihkan diri dan menggosok gigi. Arhan memeluk Aina di dalam dekapannya, sementara Aina masih berpikir sembari memainkan ujung dada suaminya.
"Geli sayang," cetus Arhan sembari menggeliat. Aina tak merespon seakan pikirannya tengah melayang entah kemana. Lama keduanya saling terdiam hingga pada akhirnya Aina pun membuka suara.
"Bang...," panggil Aina dengan suara lembutnya.
"Apa sayang?" sahut Arhan.
"Kasihan Baron ya Bang, apa dia sebenarnya menyukai Inda?" tanya Aina penasaran.
"Ya iyalah sayang, kalau gak suka untuk apa Baron ngajakin dia nikah?" jawab Arhan dengan entengnya.
"Sudahlah, biarin aja! Abang udah berusaha membantunya, kalau Inda sendiri yang tidak mau kita harus apa?" imbuh Arhan.
Arhan membelai rambut Aina dengan jemarinya, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.
"Sayang, apa Aina udah mikirin nama yang cocok buat putri kita?" tanya Arhan yang sudah sedari tadi ingin membicarakan hal ini dengan istrinya.
"Boleh?" Arhan menautkan alisnya.
"Ya boleh lah Bang, Abang kan Papanya." jawab Aina sembari mengerucutkan bibirnya.
"Putra kita kan King Aksa Airlangga. Kalau putri kita Avika Queen Airlangga gimana?" saran Arhan meminta pendapat Aina.
"Bagus, Aina ngikut aja sama Abang." kata Aina yang menghormati apapun keputusan suaminya.
"Aina yakin?" Arhan mencoba memastikan.
"Iya suamiku sayang, Aina yakin dan setuju." jelas Aina penuh keyakinan.
__ADS_1
"Berarti deal ya sayang?" Kembali Arhan memastikan kepada istrinya.
"Deal sayang, hehe." Aina tersenyum sumringah, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Arhan.
Baru saja namanya disahkan oleh Aina dan Arhan, sang putri langsung terbangun dari tidurnya dan menangis sangat lantang. Membuat kedua pasangan itu tertawa terbahak-bahak.
"Anak pintar, ngerti dia kalau kedua orang tuanya baru aja ngasih nama." kekeh Arhan sembari merenggangkan pelukannya. Aina segera bangun dan mengambil putrinya dari dalam box.
Aina mendekap hangat tubuh mungil putrinya di bagian dada, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Sementara Arhan sendiri ikut duduk di samping istrinya.
"Cantik Mama haus ya?" celetuk Aina sembari mengecup gemas pipi putrinya.
"Iya Mama, sini biar Papa bukain kancingnya!" jawab Arhan menirukan suara anak kecil.
"Gak usah Papa, Mama bisa sendiri kok." tolak Aina sembari tersenyum kecut, dia tau ada udang dibalik rempeyek. Arhan tidak akan tinggal diam kalau sudah melihat dua gundukan kenyal miliknya.
Arhan hanya bisa tersenyum memandangi kedua bidadari penyempurna hidupnya itu, tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk mengungkapkan bagaimana bahagianya dia saat ini. Semua sudah dia miliki, tak ada satupun yang kurang di hidupnya.
Saat benda kenyal itu menyembul dibalik belahan baju yang Aina kenakan, Arhan bersusah payah meneguk ludahnya. Benda yang kian bulat berisi itu selalu saja membuatnya bergairah, tak sekalipun ada rasa bosan memandangi benda itu, apalagi mencicipinya.
"Matanya tolong dikondisikan Bang!" seloroh Aina sembari menahan tawanya.
Arhan memicingkan matanya, lalu mengusap wajahnya hingga beberapa kali. Dia sudah seperti maling yang tertangkap basah tengah mencuri sesuatu. Segera Arhan melempar pandangannya ke arah ranjang Aksa, beralih memandangi putranya yang sudah tertidur pulas sejak sore tadi.
Di kamar sebelah, Nayla masih asik berbincang dengan Hendru. Keduanya tengah membahas kejadian di bawah tadi, ada rasa kasihan di diri mereka melihat Baron yang begitu kecewa setelah mengutarakan isi hatinya kepada Inda.
Sebenarnya Hendru sendiri tau persis bagaimana watak Baron sebenarnya. Baron merupakan tipe pria dingin, kasar, pemarah, namun semua itu hanya berlaku untuk musuh. Dibalik sifat arogannya itu, dia sebenarnya tipe pria penyayang dan lembut kepada wanita.
Hal itu sudah terbukti saat Baron berhasil menjadikan ibunya sebagai wanita paling beruntung di dunia, bahkan sampai akhir hayat ibunya. Sayang sekali Baron belum bisa menemukan wanita yang tepat untuknya.
__ADS_1
Awalnya Hendru merasa senang mendengar Baron mengungkapkan niat baiknya kepada Inda, Hendru tau Inda wanita yang baik dan sangat cocok dengan Baron. Tapi entah apa yang membuat Inda tak menjawab, seakan wanita itu tak bersedia memberi kesempatan kepada Baron. Mungkinkah pekerjaan Baron yang menjadi pertimbangannya? Entahlah, hanya Inda yang tau jawabannya.