Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 118.


__ADS_3

Arhan kembali ke kamar setelah menitipkan Avika pada Leona. Air mukanya menyala dipenuhi amarah yang berapi-api. Dia tak habis pikir kenapa istrinya bertindak senekat itu. Entah apa yang dipikirkan ibu beranak dua itu.


"Braaak!"


Setelah membuka kunci, Arhan membanting pintu hingga membuat Aina terperanjat, lalu menghampiri Aina yang masih menangis di sisi ranjang.


"Gak usah nangis! Aina mau pergi kan? Aina mau ninggalin Abang kan? Kalau begitu pergilah, tapi anak-anak akan tetap di sini bersama Abang." ucap Arhan sembari berkacak pinggang, rahangnya mengerat kuat memandang Aina penuh emosi.


Aina menyapu wajahnya membersihkan sisa-sisa air mata. "Baiklah kalau itu mau Abang, tolong jaga mereka dengan baik!"


Aina bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, dia bahkan tak menatap Arhan sedikitpun. Dia juga tak membawa apa-apa kecuali pakaian yang ada di tubuhnya.


"Aina, kamu mau kemana Nak?" tanya Leona saat menangkap keberadaan Aina yang tengah berjalan menuju pintu utama.


Aina tak menyahut, menoleh pun tidak. Dia terus saja berjalan meninggalkan rumah besar itu dengan tatapan kosong dan langkah gontai.


"Nyonya mau kemana? Nyonya tidak boleh keluar tanpa pengawalan. Di luar berbahaya," ucap Andi yang tengah berjaga di depan, dia bahkan menghadang langkah Aina agar tak keluar dari gerbang.


"Saya bukan Nyonya kalian lagi, tidak akan ada yang peduli meski saya mati sekalipun. Menyingkir lah!" jawab Aina dengan datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Aina mendorong lengan Andi dan melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah yang sudah membuat hidupnya berubah dalam sekejap. Kini semua itu hanya akan menjadi kenangan baginya.


"Aaaaaaaaa..."


"Bug!"


Belum sampai 10 meter Aina berjalan, tubuhnya terpental saat sebuah sepeda motor menabrak pinggangnya. Sang pengendara langsung tancap gas setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.


Arhan membulatkan matanya menyaksikan kejadian itu. Niat hati ingin meminta maaf dan membawa Aina kembali, tapi dia justru dihadapkan dengan kejadian naas yang membuat tubuh Aina tergeletak di aspal. Andi yang mendengar suara benturan juga ikut keluar dan membungkam mulutnya saking terkejut.


"Ainaaaa..."


Teriakan Arhan bergemuruh bak petir di siang bolong. Arhan berlari pontang-panting mengejar Aina yang sudah tidak sadarkan diri. Segera Arhan berjongkok dan memeluk tubuh ringkih istrinya itu.

__ADS_1


"Aina, Aina, bangun sayang! Maafin Abang, Aina." Arhan menepuk-nepuk pipi Aina tapi tak ada respon sedikitpun. Seketika mata Arhan membulat melihat bercak merah yang melekat di rok yang dikenakan Aina.


Nafas Arhan tiba-tiba tersengal dengan mulut menganga lebar. Air matanya tumpah berderai, apa mungkin Aina?!


"Masuklah Tuan, kita harus membawa Nyonya ke rumah sakit!" seru Andi sembari membukakan pintu mobil. Setelah melihat kejadian tadi, dia langsung berinisiatif mengambil mobil di garasi.


Arhan menyapu wajahnya dan segera menggendong Aina ke dalam mobil, lalu mendudukkan Aina di atas pangkuannya. Andi menutup pintu, lalu segera masuk dan duduk di bangku kemudi. Dalam hitungan detik, mobil itu melaju menuju rumah sakit.


Arhan tak hentinya menangis sembari memeluk Aina dengan erat, menyesal pun tak ada gunanya. Kenapa emosinya harus terpancing hingga mengusir Aina dari rumah? Jika saja dia lebih sabar menghadapi istrinya, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Tapi semuanya dikembalikan lagi pada takdir.


Mobil yang dikendarai Andi terparkir asal di depan rumah sakit. Setelah membukakan pintu, Arhan turun dan membopong Aina menuju IGD.


Aina sudah berada di ruangan, dia sedang ditangani oleh dokter dan dua perawat. Di luar sana, Arhan nampak gelisah sembari mondar-mandir layaknya setrikaan.


Kenapa hal ini harus terjadi pada Aina? Kenapa Arhan tidak memikirkan sebab dan akibatnya sebelum bertindak?


Setengah jam berlalu, seorang dokter keluar dari IGD. Arhan menghampirinya dengan air muka cemas bercampur takut. Berharap tidak ada yang serius dengan Aina.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arhan harap-harap cemas.


"Deg!"


Jantung Arhan bergemuruh kencang hingga berpacu dengan aliran darahnya yang tiba-tiba memanas, sesaknya terasa hingga ulu hati. Seketika tangis penyesalan keluar dari sudut matanya.


Setelah dokter itu pergi, Arhan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menyesal karena sudah menuruti emosi yang nyaris saja membuatnya kehilangan istri dan calon anaknya.


Kenapa Arhan se ceroboh ini? Kenapa dia sama sekali tidak tau bahwa perubahan istrinya itu disebabkan hormon kehamilan yang membuat emosi Aina tidak stabil.


"Maafin Abang Aina, maafin Abang." lirih Arhan sembari mengusap wajahnya berkali-kali.


Di kediaman Airlangga, semua anggota keluarga panik mendengar cerita dari Baron. Calon suami Inda itu langsung memberitahukan keadaan Aina kepada semuanya setelah menerima kabar dari anak buahnya Andi.


Airlangga yang mendengar itu marah besar dan meminta semuanya menunggu di rumah. Hendru dan Nayla menurut karena mereka harus menjaga Aksa dan Avika di rumah. Airlangga tidak ingin cucu-cucunya tau keadaan sang mama yang bisa saja membuat mental mereka terguncang.

__ADS_1


Siang hari, Airlangga tiba di rumah sakit bersama Leona, mereka langsung menemui Aina yang sudah berada di ruang inap.


"Cleeek!"


Pintu ruangan terbuka lebar, Arhan yang tengah duduk di samping brankar langsung menoleh dan mendapati kedua orang tuanya yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Ma, Pa," lirih Arhan dengan mata yang sudah sembab sehabis menangis.


Airlangga dengan dinginnya menghampiri Arhan dan melayangkan tamparan keras di pipi putra semata wayangnya itu.


"Plaaak!"


Telinga Arhan tiba-tiba berdengung menerima tamparan itu. Tangannya bergerak menyentuh rahangnya yang terasa kebas.


"Pa, jaga emosi Papa!" Leona menahan suaminya agar tidak melakukan itu lagi.


"Dasar anak tidak tau diri. Puas sekarang melihat istrimu terbaring seperti ini, suami macam apa kamu ini?" geram Airlangga yang sudah tersulut emosi.


"Papa, cukup! Jangan bikin keributan di sini, ini rumah sakit!" sela Leona menenangkan suaminya.


"Maafin Arhan Pa, Arhan emang salah. Harusnya-,"


"Harusnya kamu menjaga istrimu dengan baik, bukan malah membiarkannya keluar dari rumah. Masih belum cukup kamu melihatnya hampir meregang nyawa bersama Avika dulu? Sekarang malah membiarkan hal itu terulang lagi." potong Airlangga yang tak memberi kesempatan Arhan untuk berbicara.


Arhan mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksud Papa?"


"Aina sengaja ditabrak, Baron dan anak buahnya sedang mencari pelaku. Kalau kamu tidak bisa menjaga istrimu, biar dia ikut kami ke Korea bersama anak-anakmu. Papa tidak akan mengizinkan kamu bertemu mereka lagi!" gertak Airlangga.


"Pa, jangan! Arhan tau Arhan salah, tolong jangan pisahkan kami! Aina sedang mengandung anak Arhan Pa,"


Airlangga semakin geram mendengar itu. Sekali lagi tamparan keras mendarat di wajah Arhan.


"Plaaak!"

__ADS_1


"Pa, cukup! Jaga emosi papa, tidak baik menyelesaikan masalah dengan kekerasan!" ucap Leona.


Airlangga mengusap wajahnya berkali-kali. "Jika sampai sesuatu terjadi pada cucuku, jangan pernah menganggap ku sebagai orang tuamu lagi!" Airlangga memilih pergi, Leona pun menyusul untuk menenangkan suaminya. Sementara Arhan sendiri terduduk lesu menelaah kata-kata Airlangga barusan.


__ADS_2