
Malam kian mencekam, cuaca di dalam kamar terasa dingin menusuk tulang. Nayla berbaring di atas tempat tidur, dia termenung di dalam pemikirannya sendiri.
Sementara di kamar lain, Hendru sengaja membuka tirai jendela. Matanya tak henti menatap kamar Nayla, berharap bisa melihat gadis itu meski dari kejauhan. Namun ternyata harapannya sia-sia belaka, batang hidung Nayla tak nampak sedikitpun.
Di kamar lain, Aina menekuk kakinya di ujung sofa sesaat setelah menidurkan Aksa di atas kasur. Bola matanya berguling liar menatap pemandangan di luar sana.
"Apa yang Aina lihat sayang?" tanya Arhan yang baru saja keluar dari kamar mandi, kemudian ikut duduk di samping istrinya.
Arhan meluruskan kakinya dan bersandar pada gagang sofa, kemudian menarik pinggang Aina hingga duduk diantara kedua pahanya, lalu melingkarkan tangannya di perut Aina.
"Ada apa sayang? Aina lagi mikirin apa?" tanya Arhan dengan dagu yang bertumpu pada pundak Aina, lalu menyibakkan rambut istrinya.
"Tidak ada apa-apa Bang, Aina sedang menikmati pemandangan di luar sana." sahut Aina, kemudian menyandarkan punggungnya di dada Arhan.
"Oh, Abang pikir Aina sedang memikirkan sesuatu. Soalnya wajah Aina terlihat aneh," ucap Arhan, kemudian memeluk Aina dengan erat.
"Aneh bagaimana? Perasaan Abang aja kali," cetus Aina, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Arhan yang melingkar di perutnya.
"Bisa jadi, hehehe." Arhan tertawa geli.
"Pokoknya, Aina gak boleh mikir yang aneh-aneh! Kalau ada masalah atau apapun itu, Aina harus ngomong sama Abang, jangan dipendam sendiri!" pinta Arhan, dia ingin Aina terbuka kepadanya.
"Iya sayang, Aina tau itu kok. Abang tidak perlu khawatir!" sahut Aina dengan manja, kemudian mendongakkan kepalanya menghadap Arhan, lalu mencium pipi suaminya dengan lembut.
"Sekali lagi dong, Abang kurang dengar tadi." pinta Arhan dengan seulas senyum yang terpahat di wajahnya, hatinya berbunga-bunga mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Aina barusan.
Aina beringsut dari duduknya, kemudian menatap Arhan dengan intim. "Iya Abang sayang, hehehe."
Aina tertawa geli mengatakan itu, rasanya seperti ABG kemaren sore yang tengah dimabuk cinta.
"Loh, kok ketawa sih? Aina ngerjain Abang ya?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya.
__ADS_1
"Tidak, untuk apa Aina ngerjain Abang malam-malam begini. Ujung-ujungnya Aina juga yang jadi sasarannya, hahahaha." Aina terkekeh begitu lepas, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Arhan.
"Hahahaha, iya juga sih. Sepertinya Aina sudah hafal betul bagaimana Abang." ucap Arhan, kemudian mencubit hidung Aina gemas.
"Tentu saja, Aina bahkan sudah sangat hafal luar dalamnya Abang. Jadi setiap gerak gerik Abang Aina sudah tau, hehehe."
Aina kembali tertawa dengan lepas, hal itu membuat Arhan benar-benar gemas, lalu mengesap bibir Aina hingga tawa istrinya lenyap seketika.
"Sekali lagi tertawa seperti itu, Abang telan Aina hidup-hidup!" geram Arhan sembari menggertakkan giginya. Jika tidak memikirkan fisik Aina yang lelah, mungkin sudah dia bawa istrinya melayang menggapai surga dunia.
Seulas senyum terukir indah di wajah Aina, dia sangat paham sikap dan karakter suaminya. Dipancing dengan senyuman saja, gairah Arhan sudah menggebu melihat dirinya.
Aina mengencangkan pelukannya, kemudian membenamkan wajahnya di dada Arhan.
"Bang," ucap Aina, suaranya sedikit tertahan karena terhalang dada Arhan.
"Apa sayang? Aina menginginkan Abang?" tanya Arhan menerka-nerka sembari membelai rambut Aina.
"Hehehe, Abang cuma bercanda kok sayang. Memangnya Aina mau ngomong apa?" tanya Arhan, kini wajahnya nampak sedikit serius.
"Abang merasa ada yang aneh gak dengan sikap Nayla sama Hendru?" tanya Aina, sudah sedari tadi pikirannya terganggu akan hal itu.
"Kok Aina nanyain itu?" tanya Arhan balik.
"Aina penasaran aja Bang, mereka berdua seperti bermusuhan gitu." jelas Aina.
"Bukan bermusuhan sayang, tapi mereka tuh lagi canggung aja satu sama lain." ungkap Arhan.
"Kok bisa?" Aina kembali mendongakkan kepalanya, menatap Arhan dengan kening sedikit mengkerut.
"Bisa dong, sama seperti kita dulu. Kadang wanita tuh terlalu takut menjalani sebuah hubungan, makanya menganggap semua pria itu bajingan." Arhan menjeda ucapannya, kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aina gak ingat gimana susahnya Abang dulu meyakinkan Aina. Bahkan kata-kata saja tidak cukup," jelas Arhan mengingat perjuangannya mendapatkan hati Aina di masa lalu.
Aina mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian tersenyum dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Arhan.
"Tapi kan ceritanya beda Bang, dulu kita terikat karena satu kesalahan. Ada Aksa juga diantara kita," lirih Aina.
"Nah maka dari itu, seharusnya dulu Aina tidak perlu ragu menerima Abang. Jika saja Aina tidak keras kepala dan kabur dari Abang, mungkin sudah lama kita menikah. Abang juga bisa melihat perkembangan Aksa di dalam perut Aina." jelas Arhan dengan wajah sendunya, ada penyesalan di dalam hatinya karena tak bisa menemani Aina pada masa kehamilannya.
Mendengar itu, mata Aina berkaca-kaca dibuatnya. Dia sendiri merasa bersalah karena sudah membohongi Arhan kala itu. Seandainya waktu bisa diulang, dia tentunya tidak akan kabur dan menghindar dari kenyataan.
"Maafkan Aina ya Bang, Aina salah. Dulu Aina pikir Abang tidak akan menerima Aksa karena tumbuh di rahim wanita yang Abang bayar untuk satu malam. Aina merasa kotor karena sudah menjual kesucian Aina demi uang." Aina menumpahkan air matanya hingga mengalir di dada Arhan.
Melihat kesedihan di wajah Aina, Arhan mengangkat dagu istrinya hingga pandangan keduanya saling bertemu, kemudian menyeka pipi Aina dengan jemarinya.
"Jangan menangis sayang, Abang tidak pernah menyesali yang sudah terjadi. Biarkan semua itu jadi pelajaran berharga untuk kita! Sekarang kita harus menatap ke depan, tidak perlu menoleh ke belakang lagi!"
Arhan mengecup mata Aina, lalu turun hingga bibir ranum istrinya dan melu*matnya dengan lembut. Setelah itu memeluk Aina penuh kehangatan.
Aina tak bisa lagi berkata-kata, baginya Arhan itu ibarat dewa. Tidak hanya gagah, tapi memiliki hati yang begitu lapang. Selain menjadi suami dan ayah yang baik, Arhan juga mampu menjadi sosok seorang kakak baginya. Menjaganya dan melindunginya dengan sepenuh hati.
Aina mempererat pelukannya dan mengecup dada Arhan dengan lembut. Satu satunya pria yang ada di hidupnya dan satu satunya pria yang pernah menyentuhnya. Cinta pertama dan terakhir di hatinya.
"Sayang," ucap Arhan setelah beberapa menit menyatu di dalam kehangatan.
"Iya Bang, ada apa?" tanya Aina yang masih betah menempel di dada suaminya.
"Bagaimana kalau kita comblangin aja mereka berdua. Abang tau Hendru itu pria baik, dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelumnya, apalagi berpacaran."
"Ide yang bagus, Aina setuju dengan Abang. Nayla juga wanita yang baik, dia tidak pernah dekat dengan pria manapun setau Aina."
Keduanya saling melempar senyum, setuju untuk menuntaskan perang dingin diantara Nayla dan Hendru. Sudah saatnya 2 insan itu menata hidup dalam hubungan rumah tangga seperti Aina dan Arhan yang kini tengah berbahagia dengan pernikahan mereka.
__ADS_1