Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 115.


__ADS_3

Aina duduk di depan paviliun melihat Aksa yang tengah bermain dengan Baron. Avika yang baru belajar berjalan juga ikut bermain ditemani Inda. Hati Aina hancur lebur melihat tawa kedua anaknya yang begitu lepas. Aina harus menahan diri demi kebahagiaan kedua buah hati yang sangat dia sayangi melebihi dirinya sendiri.


Tak ingin larut dalam kekecewaan yang membelit hatinya, Aina memutuskan untuk ikut bermain bersama kedua anaknya. Biarlah semua mengalir apa adanya, biarlah takdir menentukan jalannya sendiri.


"Baron, Inda, kapan kalian menikah?" tanya Aina yang membuat pipi Inda bersemu merah.


"Apaan sih Nyonya? Jangan bahas itu dong!" keluh Inda tersipu malu.


"Kenapa? Jika memang sudah cocok disegerakan aja, gak baik loh menunda-nunda. Ntar keduluan orang, jaman sekarang banyak loh yang suka sama milik orang lain." seloroh Aina yang tanpa sengaja mengingatkan dirinya akan pengkhianatan Arhan.


"Kamu tenang aja, aku pastikan dalam waktu dekat ini kami akan menikah. Emangnya kamu aja yang ingin bahagia, kami juga." celetuk Baron tanpa tau masalah yang tengah dihadapi Aina saat ini.


"Syukurlah kalau begitu, janji ya akan membahagiakan Inda. Jangan sakiti dia apalagi menduakan dia! Tidak ada wanita yang sanggup melihat suaminya bersama wanita lain, apalagi sampai memberikan miliknya." pesan Aina agar Baron tak melakukan hal yang sama pada Inda.


"Iya Nyonya Arhan, aku janji gak akan pernah nyakitin Inda. Aku sangat mencintai gadis jelek ini," seloroh Baron sembari membentuk huruf V pada jarinya.


"Baguslah, aku pegang janjimu. Semoga aja cintamu benar karena cinta gak menjamin kesetiaan." Aina tersenyum kecil sembari menatap Baron dan Inda bergantian.


Aina mengajak Aksa dan Avika ke kamar untuk tidur siang, namun Aksa menolak dan beralasan masih ingin main bersama Baron. Baron pun tidak keberatan dan mengatakan kalau dia akan menidurkan Aksa sebentar lagi.


Aina membawa Avika ke kamar Aksa, dia lebih memilih tidur di sana dari pada di kamarnya. Aina berbaring sembari menyusui putri kecilnya yang sudah semakin aktif, tak terasa air matanya kembali jatuh mengingat kejadian tadi pagi. Apa dia sanggup bertahan dalam situasi seperti ini? Rasanya begitu berat menjalani hari-hari tanpa mendengar kebucinan Arhan yang selalu saja menjahilinya.


Lama menangisi keadaan, Aina pun tertidur menyusul putrinya yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpinya.


Arhan tiba di paviliun, dia berniat menyusul Aina yang tengah bermain dengan kedua anaknya. Sayangnya yang Arhan temukan hanya Baron, Inda dan Aksa saja. Kemana Aina membawa putrinya? Arhan baru saja keluar dari kamar dan tidak ada Aina di sana.


Arhan memilih duduk di gazebo yang ada di dekat kolam, segitu besarkah rasa sakit yang dialami istrinya hingga memilih menghindar darinya. Arhan tidak bisa seperti ini, dia tidak sanggup menjalani hari-hari tanpa Aina di sampingnya. Arhan harus mencari Aina dan mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak peduli Aina bakalan marah atau apalah, dia harus meluruskan kesalahpahaman ini secepatnya.


"Mama liat Aina?" tanya Arhan saat berpapasan dengan Leona di ruang tengah.


"Mama gak liat, emangnya apa sih yang terjadi dengan kalian?" tanya Leona penasaran.

__ADS_1


"Gak papa Ma, hanya kesalahpahaman aja. Arhan cari Aina dulu ya Ma," Arhan melanjutkan langkahnya menuju lift.


Saat tiba di lantai atas, Arhan berpapasan dengan Nayla yang ingin turun ke lantai bawah.


"Nayla, kamu liat Aina?" tanya Arhan dengan wajah sendunya.


"Tadi Nayla liat ke kamar Aksa Bang. Sebenarnya apa yang terjadi antara Abang dan Aina?" tanya Nayla yang juga penasaran.


"Gak papa, biasa wanita kalau lagi cemburu." sahut Arhan enteng.


"Abang main perempuan lagi?" Mata Nayla terbuka dengan sempurna.


"Hust, jangan asal bicara! Sejak aku menikahi sahabatmu itu, aku gak pernah lagi melihat wanita lain." Arhan melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Nayla begitu saja.


Arhan menekan kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Benar saja, Aina tengah tertidur dengan dada yang masih menganga setelah menyusui Avika. Arhan mendekat dan duduk di sisi ranjang. Matanya berkaca menatap lekat wajah polos istrinya yang jelas sekali menunjukkan kekecewaan.


Arhan meluruskan tubuh Aina dan menutup dada istrinya, lalu mengusap pucuk kepala Aina dan mengecupnya.


Air mata Aina menetes mendengar itu. Meski matanya tertutup tapi telinganya masih bisa mendengar dengan jelas. Jantung Aina benar-benar ngilu hingga menyesakkan dada.


"Hiks... Hiks..."


Terdengar isak Aina yang tertahan. Arhan mengangkat kepalanya dan melihat cairan bening mengalir di sudut mata Aina. Segera Arhan menyapunya dengan telapak tangan dan mengecup mata Aina dengan lembut, lalu membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.


"Maafin Abang. Kalau Aina marah, Aina boleh pukul Abang sepuas hati Aina tapi jangan diamkan Abang seperti ini. Lebih baik Abang mati daripada melihat Aina seperti ini. Abang rindu Aina yang ceria, Abang rindu dimarahin sama Aina, Abang rindu wajah cemberut Aina. Abang juga rindu cubitan Aina. Apa Aina-"


Aina mengalungkan tangannya di tengkuk Arhan dan membungkam bibir suaminya hingga ucapan Arhan terhenti di tengah jalan. Aina melu*mat bibir suaminya dengan rakus dan membuka mulutnya hingga keduanya saling membelit lidah. Tidak apa Aina terlihat seperti wanita murahan di depan Arhan asalkan Arhan tak berpaling darinya.


Aina melepaskan tautan bibir mereka dan mendorong dada Arhan hingga beranjak dari tempat tidur. Aina terus menekan dada Arhan dan mendorongnya sampai tersandar di dinding.


"Apa Aina tidak memuaskan?" Tatapan Aina sangat tajam hingga Arhan bergidik ngeri dibuatnya.

__ADS_1


Kembali Aina membungkam bibir Arhan seperti wanita liar yang haus akan belaian. Aina turun dan menjilati leher Arhan, bahkan menggigitnya seperti yang biasa Arhan lakukan.


Tangan Aina kini semakin nakal menggerayangi perut kotak dan dada bidang Arhan, tanpa malu Aina menyingkapnya dan memainkan lidahnya di ujung dada suaminya itu. Kemudian berjongkok dan menarik resleting celana suaminya.


Saat tongkat sakti Arhan keluar dari sarangnya, segera Aina mengemut nya bak permen, menjilatinya bak eskrim dan menggerakkan kepalanya maju mundur hingga benda itu menghilang di tenggorokannya. Arhan sampai menahan nafas saking terhanyut nya dengan kegilaan Aina.


Puas memainkan benda keras itu, Aina melucuti celana Arhan hingga tak bersisa. Aina bangkit dari jongkoknya dan menekan pundak Arhan hingga terduduk di dasar lantai. Arhan terlihat pasrah membiarkan Aina memainkan tubuhnya sesuka hati.


Aina melucuti pakaian bagian bawahnya dan duduk di pangkuan Arhan. Pinggulnya bergerak menggesekkan intinya pada batang rudal yang sudah siap tempur itu.


Segera Aina menuntun batang keras itu memasuki liang sempitnya hingga jeritan kecil lolos dari mulutnya. Aina mengalungkan tangannya di tengkuk Arhan dan mulai menarikan pinggulnya.


"Aughhhh... Aughhhh..."


Tak hentinya Aina mende*sah bahkan menjerit dengan ekspresi wajah yang begitu menggoda. Manik matanya seketika menghilang sembari menggigit bibir bawahnya. Aina semakin mempercepat goyangannya tanpa lelah, memeluk Arhan erat dan menggigit pundak suaminya itu.


"Apa Aina sudah seperti wanita-wanita itu?" lirih Aina di telinga Arhan, namun tetap mengayunkan pinggulnya dengan tempo yang sangat cepat. Arhan sendiri sudah tak tahan melihat istrinya yang begitu menggoda.


Segera Aina berbalik memunggungi Arhan dan kembali mengayunkan pinggulnya tanpa henti. Bahkan Aina menekannya hingga masuk secara keseluruhan.


"Aughhh... Aughhhh..."


Lagi-lagi de*sahan Aina mengalun merdu di telinga Arhan, hal itu membuat Arhan tak bisa diam lagi. Arhan ikut andil menggoyangkan pinggulnya hingga gerakan mereka saling menekan.


Arhan bangkit dan menumpukan kakinya di dasar lantai, sementara Aina sendiri sudah dalam posisi menyungging. Gerakan mereka saling menekan hingga keduanya mengerang bersamaan.


"Aughhhh..."


Segera Aina beranjak dan memasang celananya kembali. Aina berlalu begitu saja meninggalkan kamar Aksa dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Di depan kaca, Aina tersenyum kecut memandangi tubuhnya yang sudah polos.

__ADS_1


"Cih, dasar wanita murahan gak tau malu!" umpat Aina merutuki dirinya sendiri, lalu menyalakan shower hingga mengguyur sekujur tubuhnya.


__ADS_2