
Arhan tak kuasa lagi menahan syah*watnya, sekujur tubuhnya terasa ngilu hingga menyentak sampai ubun-ubun nya. Dia mengesap bibir merah Aina dan melu*matnya dengan rakus.
Sentuhan lembut bibir Arhan membuat bulu kuduk Aina meremang. Dia tak mau kalah, kemudian mengalungkan tangannya di leher Arhan, lalu membalas luma*tan suaminya hingga keduanya saling membelit lidah.
Pagutan itu membuat suasana semakin panas, deru nafas keduanya menyatu dengan hembusan angin yang menyapu dari balik jendela kamar.
Arhan melucuti bajunya yang sudah robek, kemudian mengangkat baju Aina, lalu membuangnya ke lantai. Jakun nya naik turun melihat kemolekan tubuh istrinya yang begitu menggoda.
Arhan mengecup leher Aina dengan lembut, menjilatinya, lalu menggigitnya penuh naf*su. Membuat begitu banyak tanda kepemilikan di sana. Hal itu membuat Aina mende*sah, suara seraknya membuat Arhan kian tergoda.
Aina membusungkan dadanya, memberi celah agar suaminya memainkan dua bola kenyal miliknya. Melihat itu, Arhan pun meremas keduanya. Membuka mulutnya lebar dan melahapnya tanpa ampun. Aina kembali mende*sah menikmati sensasi yang luar biasa dari kelihaian lidah suaminya.
Kini tubuh keduanya sudah polos bak bayi yang baru lahir, tak ada sehelai benang pun menempel di kulit keduanya. Arhan gencar memainkan setiap bagian sensitif istrinya dengan penuh kelembutan.
Puas bermain di atas dan di tengah sana, Arhan membaringkan tubuh istrinya di atas kasur. Dia mengecup perut Aina, lalu memutar lidahnya di pusar Aina. Membuat Aina menggeliat sembari memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Desa*han manja kembali terdengar dari mulut Aina.
Melihat istrinya yang begitu, Arhan semakin turun dan mengecup inti istrinya dengan lembut, menjilatinya, lalu mengobrak abrik benteng pertahanan Aina dengan lidahnya.
Aina menjerit kecil sembari menggigit ujung telunjuknya, matanya tertutup rapat dengan tubuh yang tiba-tiba mengejang. Dadanya berdenyut ngilu dengan kaki bergetar hebat menikmati pelepasannya yang pertama.
Desa*han Aina membuat Arhan semakin menggila, deru nafasnya kian memburu menatap inti istrinya yang sudah basah. Kelopak bunga berwarna pink itu membuat batang rudal Arhan kian mengeras dengan urat menonjol jelas.
Arhan tak kuat lagi menahan li*bi*do nya, dia beranjak dan mengukung tubuh istrinya di bawah kendalinya. Saat batang rudal itu menerobos dinding hangat milik Aina, keduanya mengerang dengan dahsyatnya.
Aina mencengkram lengan Arhan kuat, desa*hannya kian menjadi seiring gerakan yang dilayangkan suaminya. Gerakan yang awalnya lambat, kini semakin kencang menekan tubuh Aina.
Keringat jagung mulai mengucur deras di tubuh keduanya. Kamar yang tadinya hening, kini penuh dengan erangan dan desa*han keduanya yang tiada henti.
Aina menggigit bibirnya saat menikmati pelepasannya yang entah ke berapa kali. Gempuran Arhan membuat tubuhnya kian melemah, dia sudah tak berdaya di bawah kungkungan suaminya.
Satu jam berpacu meraih puncak kepuasannya, Arhan akhirnya menyerah. Tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Aina yang tengah bergetar hebat.
"Akhh," Erangan Arhan membuat Aina mengulum senyumannya.
...****************...
Usai membersihkan diri di kamar mandi, Arhan membopong tubuh Aina dan mendudukkannya di sisi ranjang. Arhan tak hentinya tersenyum sembari memasangkan pakaian Aina yang baru saja dipungutnya dari lantai.
__ADS_1
"Kenapa Abang senyum-senyum sendiri?" tanya Aina sembari menautkan alisnya.
Arhan tak menjawab, dia membaringkan tubuh Aina di atas kasur, lalu berbaring di sebelahnya. Tangannya melingkar erat di pinggang Aina, kakinya membelit paha Aina layaknya sebuah guling.
"Jangan marah lagi ya! Abang tidak ada niat membohongi Aina. Abang hanya tidak ingin kebahagiaan kita terusik gara-gara wanita itu." Arhan mengecup kening Aina lembut.
"Saat ini hanya Aina lah satu-satunya wanita yang ada di hati Abang, selamanya akan tetap seperti itu." Arhan membelai rambut Aina.
Aina mengukir senyum indah di wajahnya, lalu memeluk Arhan dengan erat. Dia bahagia, sangat bahagia mendengar kejujuran suaminya.
"Aina percaya sama Abang, tolong jaga kepercayaan Aina mulai kini dan seterusnya! Aina tidak mau ada orang lain diantara kita, apalagi mantan istri Abang yang genit itu!" ucap Aina dengan bibir sedikit manyun, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Arhan.
"Aina tenang saja, Abang janji! Hati dan tubuh Abang ini hanya milik Aina seorang, tidak akan ada seorang pun yang bisa memilikinya selain Aina!" Arhan beringsut dari posisinya, lalu mengecup hidung Aina penuh kelembutan.
...****************...
Malam berlalu begitu cepat, matahari pagi mulai menyingsing. Aina terbangun, tubuhnya terasa pegal. Sejak semalam Arhan tak berhenti memeluknya layaknya sebuah guling. Membuat tubuhnya terasa kaku karena kurang gerak.
Aina tersenyum memandangi wajah lelap suaminya. Dia menyentuh wajah Arhan dengan jemarinya, lalu mengecup pipi Arhan dengan lembut. Kian hari rasa sayangnya kian tertanam kuat, bersemi indah bak kelopak bunga yang tengah bermekaran.
Usai mandi dan berpakaian, Aina melenggang meninggalkan kamar. Pagi ini dia ingin menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuanya.
Di bawah sana, para pelayan tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Di dapur ada Inda dan Lili, dua orang pelayan cantik yang bertugas dalam urusan masak memasak.
"Pagi Inda, Lili," sapa Aina dengan senyumnya yang sangat manis, lalu berdiri diantara keduanya.
"Pagi Nyonya," sahut Lili.
"Pagi Nyonya, tumben pagi-pagi begini sudah turun?" tanya Inda, keduanya membalas senyuman Aina.
Aina kembali tersenyum. "Pengen bantuin kalian berdua, masak apa kita pagi ini?" tanya Aina, dia menatap meja kompor yang masih kosong.
"Belum tau Nyonya, masak apa ya biar gak bosan?" sahut Inda dengan pertanyaan pula.
Aina melenggang menuju kulkas, memeriksa bahan makanan yang bisa dia masak. Karena persediaan makanan sudah menipis, Aina hanya bisa memanfaatkan sisa bahan yang ada saja.
__ADS_1
Hampir satu jam Aina berjibaku dengan peralatan masaknya. Kini semua makanan sudah terhidang di atas meja makan. Aina duduk sejenak untuk melepas penatnya, wajahnya tampak berkeringat.
"Beruntung sekali Tuan Arhan memiliki istri seperti Nyonya. Tidak hanya cantik, tapi pintar masak juga." sanjung Inda.
"Iya, istri idaman banget." tambah Lili.
"Ah, jangan berlebihan! Lobang hidungku terlalu kecil untuk menampung pujian kalian." sahut Aina, kemudian terkekeh dengan sendirinya.
"Hahahaha, Nyonya bisa aja." Inda dan Lili ikut terkekeh mendengar celetukan Aina.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu bangunin suami tercinta." Aina mengukir senyum di wajahnya, kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang menuju kamar.
Di atas sana, Arhan tengah asik bermain dengan putranya. Tangisan Aksa tadi membuatnya terbangun. Karena tak melihat Aina di kamar, Arhan pun menggendong Aksa dan memindahkannya ke kasur.
"Abang sudah bangun?" sapa Aina dari balik pintu yang baru saja terbuka. Aina menutupnya kembali dan berjalan menghampiri duo pria tampan yang sangat dia sayangi itu.
"Dari mana sayang?" tanya Arhan sembari tersenyum kecil.
"Dari dapur, apa Aksa mengganggu tidur Abang?" jawab Aina dengan pertanyaan pula, lalu duduk di sisi ranjang.
"Tidak, Abang justru senang diganggu sama Aksa. Apalagi diganggu sama Mamanya." goda Arhan sembari mengedipkan matanya, lalu menarik Aina ke dalam dekapannya.
"Gombal ih, ingat umur Bang! Udah tua juga," ucap Aina sembari tersenyum miring.
"Tua tua begini kan masih jos, Aina saja sampai menjerit berulang kali." bisik Arhan tepat di telinga Aina, membuat bulu kuduk Aina meremang merasakan hembusan nafas suaminya yang hangat.
"Astaga Abang, pagi-pagi begini pikirannya sudah kesitu aja. Malu, ada Aksa di sini!" geram Aina dengan wajah merona, kemudian menjauh dari suaminya.
Melihat pipi Aina yang memerah, Arhan pun terkekeh. "Aksa masih bayi sayang, dia belum mengerti. Hahahaha,"
__ADS_1
"Terserah Abang saja!" Aina mengulum senyumannya, kemudian mengambil Aksa dan membawanya duduk di sofa. Saat Aina tengah asik menyusui baby nya, Arhan bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.