Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 109.


__ADS_3

Hendru yang malam ini harus menginap di rumah sakit menghubungi Inda dan memintanya menyiapkan pakaian ganti. Hendru juga meminta Inda untuk memberikannya pada Baron, biar nanti Baron yang mengantarnya ke rumah sakit.


Setelah menyiapkan semua yang diminta oleh Hendru dan memasukkannya ke dalam tas, Inda pun mendatangi paviliun yang ditempati Baron.


Inda bergeming mendapati tatapan Baron yang aneh pada dirinya. Sejenak suasana menjadi canggung karena keduanya tak ada yang berani bersuara. Sementara Baron sendiri sudah mulai pusing menahan hasrat yang semakin berkecamuk di dirinya.


Bayangan tadi kembali menari-nari di pelupuk mata Baron, bibir Inda yang begitu seksi membuat Baron ingin sekali melahapnya tanpa ampun. Belum lagi pemandangan indah yang menonjol di dada Inda, membuat Baron semakin kacau tak menentu.


"Maaf kalau kedatanganku mengganggumu. Aku hanya ingin mengantarkan tas ini. Tuan Hendru memintamu mengantarnya ke rumah sakit." kata Inda sembari menyodorkan tas berukuran sedang itu ke tangan Baron.


Baron menerima tas itu dan menaruhnya di sudut pintu.


"Permisi," Inda berbalik dan mulai mengayunkan langkahnya.


"Tunggu, Inda!" seru Baron yang membuat langkah Inda terhenti.


Baron menyusul Inda dan menarik tangan gadis itu memasuki paviliun. Dengan cepat Baron menutup pintu dan menguncinya.


"Baron, apa yang kamu lakukan? Buka pintunya!" Inda mendorong dada Baron dan berusaha meraih kunci yang masih menggantung di daun pintu.


Segera Baron menarik kunci itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. "Inda, aku ingin bicara denganmu. Tolong, dengarkan aku!"


"Tapi gak harus di sini juga bicaranya, di luar kan bisa." geram Inda dengan tatapan tajamnya.


"Gak bisa Inda, aku maunya di sini." Baron menarik tangan Inda, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat.


"Lepaskan aku Baron, apa yang kamu lakukan ini salah!" Inda meronta-ronta ingin membebaskan diri, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan tenaga Baron.


"Aku pasti melepaskan mu, tapi tolong dengarkan aku dulu! Setelah ini aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi dari rumah ini, kau tidak akan melihatku lagi."


Baron mempererat pelukannya dan membenamkan wajahnya di pundak Inda. Mungkin pilihan terbaik adalah menghindar daripada harus tersiksa setiap kali melihat wajah gadis itu.

__ADS_1


Inda terdiam dan pasrah saat Baron mengusap kepalanya, mengusap punggungnya bahkan mengecup tengkuknya yang ternganga.


Setelah melepaskan pelukannya, Baron mendudukkan Inda di sofa, lalu Baron pun berjongkok di hadapannya dan menggenggam tangan Inda dengan erat.


"Maaf jika kehadiranku sudah membuatmu gak nyaman. Aku yang salah karena menaruh hati padamu sejak pertama kita bertemu. Aku memang bukan orang baik, aku penjahat berdarah dingin. Tapi perasaanku padamu gak jahat, aku sungguh mencintaimu. Seumur hidup baru kali ini aku jatuh cinta pada seorang wanita. Jika cinta ini salah, maka aku akan menguburnya dalam-dalam." Baron mengecup punggung tangan Inda dengan lembut.


"Baron, aku-"


"Tidak perlu mengatakan apa-apa padaku. Sekarang aku lega karena sudah mengungkapkan isi hatiku padamu. Boleh aku mengecup kening mu sekali saja?" pinta Baron dengan tatapan tak biasa.


Inda bergeming mendengar permintaan Baron. Dia tidak tau harus menjawab apa.


Tanpa adanya jawaban, Baron segera bangkit dari jongkoknya dan menarik lengan Inda hingga posisi keduanya sejajar. Baron mendaratkan kecupan sayang di kening Inda selama beberapa detik, kemudian memeluknya dengan erat.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Baron melepaskan pelukannya dan membawa Inda kembali ke pintu. Baron mengeluarkan kunci dari kantong celananya dan membuka kembali pintu paviliun itu.


"Maaf atas kelancangan ku tadi, sekarang pergilah!" Baron mengukir senyum di bibirnya, lalu mengacak rambut Inda seperti tak terjadi apa-apa dengan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam datang menghadirkan sang rembulan yang selalu setia menghias langit. Baron keluar dari paviliun menenteng satu tas di masing-masing tangannya.


Sebelum pergi, Baron menghampiri anak buahnya yang selalu berjaga di gerbang depan. Baron meminta mereka semua menjaga keluarga itu dan jika ada yang mencurigakan mereka harus melaporkannya pada Baron.


Setelah mengeluarkan sepeda motor, Baron menaruh dua tas itu di bagian depan, selang beberapa detik saja motor itu sudah menghilang meninggalkan gerbang.


Baron tiba di rumah sakit. Setelah memarkirkan motornya, dia segera menuju ruangan Nayla dan memberikan tas yang tadi dititipkan Inda padanya. Tidak ada pembicaraan diantara Baron dan Hendru, pria itu langsung pergi begitu saja. Kembali Baron menaiki motornya dan melajukan nya menuju kediamannya.


Di kediaman Airlangga, Arhan dan Aina tengah menikmati makan malam bersama Aksa. Arhan mengerutkan keningnya saat Baron tak kunjung datang menghampiri mereka. Biasanya pria itu paling gercep mengenai urusan perut.


"Inda, Lola, Baron mana?" tanya Arhan kepada kedua pelayan yang masih bergelut dengan urusan dapur.

__ADS_1


"Gak tau Tuan," sahut Lola yang memang tidak tau menahu mengenai Baron.


"Coba panggil dia di paviliun!" titah Arhan.


"Baik Tuan," sahut Lola, lalu meninggalkan dapur melewati pintu belakang.


Inda yang tadinya biasa-biasa saja, kini nampak gelisah memikirkan Baron. Dia ingat Baron mengatakan akan pergi dari rumah itu. Apa Baron benar-benar melakukannya?


Saat ingin menyusul ke paviliun, Inda berpapasan dengan Lola. "Mau kemana?" tanya Lola dengan santainya.


"Gak kemana-mana, mau duduk di taman menikmati suasana malam." jawab Inda berbohong, tidak mungkin dia mengatakan akan melihat Baron.


Lola melanjutkan langkahnya tanpa curiga sedikitpun, dia memang tidak tau masalah Baron dan Inda karena dia merupakan pelayan baru.


"Maaf Tuan, Tuan Baron gak ada di paviliun. Lampu di sana gak ada yang menyala satupun." jelas Lola, kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


Arhan mengerutkan keningnya, begitupun dengan Aina yang merasa aneh dengan situasi ini. Tidak biasanya paviliun gelap, kemana Baron?


"Bang, kemana dia?" tanya Aina membuka suara.


"Gak tau sayang," Arhan mengangkat bahunya.


"Coba telepon! Siapa tau dia ada masalah di luar," saran Aina.


Arhan mengangguk kecil dan meraih ponselnya yang ada di atas meja. Seketika mata Arhan membulat sempurna mendapati notifikasi pesan masuk di layar ponselnya.


"Arhan, tolong maafkan aku! Aku pergi, aku tidak bisa lagi tinggal di rumah itu. Perasaan ini membuatku lemah, aku tidak sanggup melihat wajahnya setiap hari. Hal itu membuatku tersiksa, aku harus berjibaku melawan keinginan yang tidak bisa aku salurkan. Kau pasti mengerti karena kau juga seorang pria. Kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap memantau keamanan di rumah itu. Anak buah ku akan tetap berada di sana. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah pergi tanpa sepengetahuan kalian. Sampaikan salam ku buat Aksa, aku sangat menyayanginya." ~Baron


Arhan terperangah sembari mengusap wajahnya berkali-kali. Kasihan Baron, mungkin dosis obat yang dia minum tempo hari bersifat permanen. Karena itu lah dia selalu tersiksa saat gejolak hasrat di dirinya tak bisa dia salurkan.


Sebenarnya bisa saja Baron melampiaskannya kepada wanita lain, banyak wanita di luar sana yang tergila-gila padanya. Namun sayangnya otak pria itu sudah dipenuhi dengan bayangan Inda.

__ADS_1


__ADS_2