Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 102.


__ADS_3

Pagi ini suasana sedikit berbeda dari biasanya, tidak ada Baron membuat ruang makan terasa sepi. Biasanya pria itu selalu berkicau semaunya seperti truk yang mengalami rem blong.


Bagi yang lainnya tentu biasa saja, namun tidak dengan Arhan. Semua ini masih menyisakan tanda tanya di benaknya. Kemana Baron semalam? Pulang jam berapa dia? Kenapa pagi ini tidak ikut sarapan bersama? Biasanya Baron berdiri di barisan terdepan jika menyangkut masalah perut.


Usai sarapan, Hendru berpamitan dengan Nayla. Setelah Nayla mencium punggung tangan Hendru, Hendru pun mengecup kening Nayla dengan sayang.


"Mas, nanti beliin rujak ya! Harus pedas," pinta Nayla.


"Jangan pedas dong sayang, bahaya buat janinnya!" larang Hendru.


"Gak mau, Nayla maunya yang pedas." rengek Nayla dengan manja.


"Beliin aja Hendru, itu mungkin keinginan bayimu! Kalau gak diturutin, ntar bayinya ileran." timpal Aina.


"Iya, iya, kalian para wanita memang selalu benar." gerutu Hendru.


"Masih untung istrimu hanya minta rujak, istriku lebih parah dari itu." sambung Arhan.


"Sssttt... Jangan diceritain dong Bang, malu!" Segera Aina membungkam mulut Arhan dengan tangannya.


"Emangnya Aina minta apa aja?" tanya Nayla penasaran.


"Gak ada Nayla, aku cuma minta mangga muda, eskrim. Itu aja kok," jawab Aina tanpa melepaskan tangannya dari mulut Arhan.


Arhan menarik tangan Aina dan membuka mulutnya ingin bercerita.


"Bilang aja semuanya kalau urat malu Abang sudah putus!" Mata Aina melotot tajam dengan bibir mengerucut. Dia segera bangkit dan melangkah menuju lift.


"Nah, merajuk lagi deh." gumam Arhan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


"Hahaha... Rasain!" Hendru tertawa terbahak-bahak, lalu meninggalkan rumah setelah mengecup bibir ranum Nayla.


Arhan ikut berlalu meninggalkan Nayla dan Aksa yang masih duduk di meja makan. Segera dia masuk ke dalam lift menyusul Aina ke kamar mereka.

__ADS_1


"Aina marah lagi?" seru Arhan dari balik pintu yang terbuka sedikit, lalu menghampiri Aina yang tengah berbaring di atas kasur.


"Siapa yang gak marah? Ada kalanya orang lain boleh tau akan sesuatu, tapi gak semuanya juga. Apa masalah pribadi kita juga harus dibicarain sama orang? Itu aib, Abang gak malu." omel Aina dengan tatapan tak biasa.


"Abang cuma bercanda sayang, lagian Abang gak ngomong apa-apa kan? Mana mungkin Abang ceritain masalah ranjang kita sama orang? Itu privasi, cuma kita yang tau."


Arhan menekuk kakinya di sisi ranjang, kemudian menarik tangan Aina hingga terduduk saling berhadapan. Arhan pun menyibakkan rambut Aina ke belakang, lalu menarik tengkuk Aina dan melu*mat bibir ranum istrinya penuh kelembutan.


"Udah ya, jangan marah lagi! Sekarang Aina istirahat dan jangan mikir macam-macam! Abang ke kantor dulu, nanti Abang usahain pulang cepat. Abang mau bicarain tentang nama putri kita." jelas Arhan sembari memeluk Aina dengan erat.


"Abang udah punya nama?" tanya Aina sembari melingkarkan tangannya di pinggang Arhan.


"Udah, makanya nanti kita bicarakan. Sekarang, Abang ke kantor dulu!" Arhan melepaskan pelukannya dan mengecup kening Aina dengan sayang.


Memang sudah seharusnya bayi mungil itu diberi nama. Sudah hampir 20 hari, tapi masih di panggil dengan sebutan putri. Tentu saja orang-orang di rumah masih kebingungan memanggilnya.


Arhan tiba di paviliun mencari keberadaan Baron. Giginya menggertak kuat saat mendapati cucunguk itu dalam keadaan tertidur pulas. Kesal, Arhan pun masuk ke kamar mandi dan mengambil seember air.


"Byuuur!"


"Dasar pemalas! Liat, udah jam 9 pagi masih molor aja! Apa kau ingin makan gaji buta?" geram Arhan sembari melempar ember ke wajah Baron.


Segera Baron mengelak, namun sayang kakinya tersandung hingga tersungkur di dasar lantai. "Au, sial!" rintih Baron sembari mengusap kepalanya yang sempat membentur lantai.


"Hahahaha... Nah, rasain! Enak? Makanya jangan tidur mulu isi otaknya!" Tawa Arhan pecah memenuhi seisi paviliun.


"Kejam kau Arhan, bukannya ditolongin malah diketawain." Baron berusaha bangkit dan mengoceh menuju kamar mandi.


Tidak lama, Baron kembali keluar setelah membuang apa yang seharusnya dia buang. Baron menyeka wajahnya dengan handuk, lalu mengganti pakaiannya yang sudah basah.


"Kemana kau semalam?" tanya Arhan membuka percakapan, lalu menekuk kakinya di ujung sofa.


"Mencari ja*lang," ketus Baron yang masih kesal melihat kelakuan Arhan.

__ADS_1


"Bajingan kau Baron, katanya masih perjaka?" Arhan menautkan alisnya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.


"Cih, kau pikir aku sudi memberikan kesucian ku pada ja*lang bekas mu itu? Sorry ya, tubuhku lebih berharga." Baron melempar handuk ke wajah Arhan, lalu menekuk kakinya di sisi ranjang.


Arhan segera mengelak dan membiarkan handuk itu tergeletak di lantai. Dia bergeming menelaah kata-kata Baron barusan. Apa maksudnya ja*lang bekas mu itu?


Baron menghela nafas berat, kemudian mengusap wajahnya berkali-kali. Dia mulai menceritakan apa yang terjadi dan apa yang sudah dia lakukan semalam. Baron juga menceritakan kalau wanita itu sudah menjadi ja*lang sesungguhnya setelah digilir oleh kelima anak buah Baron.


Arhan terperanjat dengan mata melotot tajam, sementara mulutnya masih menganga lebar. Untung saja tidak ada lalat yang masuk ke dalamnya.


"Gila kau Baron, apa itu tidak terlalu berlebihan? Bagaimana nasibnya setelah ini?" Arhan masih tak menyangka bahwa Baron bisa segila ini.


Dipikiran Arhan, Baron hanya akan menyakiti mantan istrinya seperti yang dilakukan Tasya pada Aina. Jika membunuhnya, Arhan masih percaya karena sebenarnya dia juga ingin melenyapkan iblis betina itu. Tapi ternyata ini lebih kejam dari dugaannya.


"Jangan sok dramatis! Ingat, bagaimana dia menyiksa istrimu sebelumnya? Kau hampir kehilangan Aina dan putrimu. Jika saat itu kau tidak datang tepat waktu, mungkin sekarang kau sudah jadi duda untuk yang kedua kalinya!"


Baron memilih bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Perutnya sudah sangat lapar hingga ingin ke dapur mencari makanan secepatnya.


"Kau mau kemana?" seru Arhan yang masih terpaku di tempat duduknya.


"Mau cari santapan, barang kali di rumah ini ada wanita yang bisa aku makan." seloroh Baron sembari terus mengayunkan langkahnya.


"Brengsek, apa urat malumu udah putus?" teriak Arhan, namun tak lagi terdengar oleh Baron.


Baron tiba di dapur melewati pintu belakang, kebetulan ada Inda yang tengah sibuk membereskan dapur.


"Pagi cantik, apa ada makanan?" sapa Baron dari arah belakang, Inda pun terlonjak saking kagetnya.


Segera Inda berbalik dan menatap Baron dengan tajam. "Cantik, cantik, apa otakmu tidak waras?"


"Ih, jangan galak gitu dong! Ntar cantiknya ilang," goda Baron. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, mendadak mulutnya berubah manis jika bersama Inda.


"Cih, dasar gila!" umpat Inda, lalu berjalan meninggalkan dapur.

__ADS_1


Baron terpaku dalam pemikirannya sendiri, mendadak bayangan semalam kembali bertengger di otaknya setelah menatap wajah Inda tadi.


"Astaga," Baron terlonjak dan mengusap wajahnya berkali-kali. Jadi wanita yang ada di ilusinya semalam adalah Inda. Seketika bulu kuduk Baron meremang, rasanya seperti benar-benar nyata.


__ADS_2