
Baru saja Arhan mematikan mesin mobil, Aina sudah berhamburan keluar saking paniknya memikirkan keadaan putrinya. Aina hafal betul karakter anaknya yang satu itu, kalau sudah menangis akan sangat sulit ditenangkan meski diberi ASI sekalipun.
Arhan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepanikan di wajah istrinya, padahal Aina tau sendiri obat yang paling mujarab untuk menenangkan putrinya hanyalah sang papa.
Sejak bayi Avika sudah terlalu nempel sama Arhan, gadis kecil itu hanya akan diam saat mengendus aroma tubuh sang papa. Arhan memang selalu memanjakan putrinya itu, sedikit berbeda dengan Aksa yang lebih pro pada Aina.
"Avika sayang, ini Mama Nak." Aina langsung mengambil Avika yang masih menangis di gendongan Inda. Sementara Aksa sendiri lagi anteng memainkan mobil-mobilan nya yang sudah berserakan di ruang keluarga.
Segera Aina duduk di sofa dan membuka kancing kemeja yang dia kenakan. Sayangnya Avika menolak dan malah menangis sekencangnya.
"Cup cup cup, sayang Mama jangan gini dong! Maafin Mama ya, ayo ne*nen dulu!" Raut wajah Aina sudah berubah saking khawatirnya melihat sang putri.
Kembali Aina menyodorkan ujung dadanya ke mulut Avika, tapi gadis kecil itu sama sekali tak mau menghisapnya. Tangisan lengking nya malah membuat telinga semakin pekak.
Arhan yang baru masuk hanya bisa tersenyum melihat raut wajah istrinya yang begitu panik, Aina hampir menangis karena tak berhasil menenangkan putrinya sendiri.
"Avika sayang, Avika jangan nangis lagi ya! Sini, gendong sama Papa!"
Arhan duduk di samping Aina dan mengulurkan kedua tangannya. Avika yang sangat mengenali suara papanya langsung terdiam dan mengangkat kepalanya, lalu meraih tangan Arhan.
Avika memanjat perut Arhan dan mengalungkan tangannya di leher papanya itu, lalu merebahkan kepalanya di pundak Arhan. Tak ada lagi suara tangisan, yang tersisa hanya isak yang masih tertahan.
Arhan mengusap punggung Avika agar kembali tenang, begitulah penawar yang paling manjur untuk menenangkan putri mereka. Aina yang melihat itu menitikkan air matanya, terenyuh melihat kedekatan ayah dan anak itu.
"Udah sayang, jangan nangis! Biar Avika sama Abang dulu, Aina makan dulu gih nanti sakit!" Arhan mengusap pucuk kepala Aina dengan sebelah tangannya yang masih menganggur.
Aina mengangguk lemah, perutnya memang sudah sangat lapar. Segera Aina berjalan menuju ruang makan untuk mengisi perutnya. Mumpung Avika masih di pelukan Arhan, Aina pun bisa makan dengan tenang.
"Papa, dede Ika nakal. Tadi Asya dipukul ama dede." ucap Aksa mengadukan perangai adiknya kepada Arhan.
__ADS_1
"Benarkah? Apanya Aksa yang dipukul?" tanya Arhan seakan terkejut mendengar pengaduan putranya.
"Tangan ama peyut, Asya kan tuma mau ajak main bial dede gak nangis lagi." jawab Aksa dengan lugunya.
Aksa yang hampir genap 3 tahun sudah mulai lancar berbicara, hanya saja ada beberapa huruf yang masih belum fasih dia sebutkan.
Aksa meninggalkan mainannya dan memilih duduk di samping Arhan. Arhan pun mengusap kepala putranya dengan sayang.
"Dede Aksa masih kecil, jadi belum ngerti apa-apa. Aksa harus sabar sama dede, gak boleh balas dede ya!"
Aksa manggut-manggut dengan bibir mengerucut. "Asya gak balas, Asya tayang ama dede."
Arhan mengukir senyum di bibirnya, betapa bahagianya dia dianugerahi dua malaikat kecil itu. Arhan menarik Aksa ke pelukannya dan mengecup pucuk kepala jagoannya itu.
Aina kembali setelah selesai mengisi perutnya, kebetulan Avika sudah tenang dan mulai meminta ASI pada sang mama. Aina mengambil Avika dari pelukan Arhan dan membawanya menuju kamar, Arhan menyusul sambil menggendong Aksa.
Di kamar, Aina membaringkan Avika di atas kasur. Aina ikut berbaring dan membuka kancing kemejanya satu persatu, Avika mengangkat kedua kakinya dan mulai menghisap ujung dada sang mama.
Di paviliun, Baron baru saja pulang dari rumah sakit. Sebelum pulang, dia sempat mendatangi makan ibunya yang sudah cukup lama tidak dia kunjungi.
Baron melepaskan segala isi hatinya di atas pusara sang ibu, memberitahu sang ibu bahwa dirinya menyukai seorang gadis sejak beberapa bulan terakhir. Baron juga mengatakan kalau wanita inilah yang ingin dia nikahi.
Sebelum ibu Baron berpulang, dia sempat menasehati putranya untuk menjadi laki-laki bertanggung jawab. Menikahi wanita baik-baik dan membina keluarga kecil bahagia. Itulah yang menjadi pegangan untuk Baron hingga detik ini.
Baron menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Saat matanya terpejam, Inda naik dan duduk di atas perut kotaknya. Dengan tangan lembutnya Inda menyentuh permukaan dada bidang Baron dan memainkan ujung dada pria itu.
Hembusan nafas Baron mulai tak beraturan, dadanya mendadak ngilu saat lidah Inda menari-nari di ujung dadanya. Sedikit gigitan kecil membuat tubuh Baron bergetar tak menentu.
"Aughhh... Inda...,"
__ADS_1
Baron tak kuasa menahan diri saat tongkat kejantanannya mulai menegang. Segera Baron berbalik hingga tubuh mungil Inda terhempas di permukaan kasur.
Baron mengunci tubuh kecil mulus itu di bawah kungkungan nya, melahap habis bibir seksi merah delima itu dengan rakus dan melu*matnya tanpa ampun. Keduanya saling mengesap, saling membelit lidah dan saling bertukar liur.
Seakan sebuah magnet yang terus menarik dirinya, Baron semakin gencar memainkan tubuh kecil ramping itu. Menjilati dan menggigit tengkuk Inda hingga meninggalkan jejak petualangan yang berwarna merah pekat.
"Aahhhhh...,"
Kini giliran Inda yang mende*sah saat tangan Baron meremas kedua gundukan kenyal yang menganga di depan matanya itu. Baron menghisap puncak gundukan itu dengan liar layaknya bayi yang tengah kehausan. Memutar-mutarnya dengan lidah hingga tubuh Inda menggeliat geli.
Puas menghisap benda kenyal itu secara bergiliran, Baron semakin turun dan mengecup perut rata Inda dengan lembut, lalu memutar-mutar lidahnya di pusar Inda hingga gadis itu tak bisa lagi menahan suaranya.
De*sahan Inda kian menjadi-jadi saat lidah Baron menari-nari di luar intinya, semakin liar lidah Baron menjilati kelopak bunga itu semakin panas pula hawa tubuh Inda menahan gejolak hasrat yang sudah memuncak di dirinya.
Inda meremas rambut Baron dan menekan kepalanya dengan kuat. Jeritan kecil Inda lolos dari mulutnya saat sesuatu yang hangat keluar dari intinya.
"Aahhhh...,"
Baron menghisap cairan hangat itu dan menelannya tanpa jijik. Sementara sekujur tubuh Inda sudah bergetar ulah permainan panas yang diciptakan pria berbadan besar itu.
Baron segera bangkit dan mengarahkan tongkat kejantanannya pada liang sempit yang sudah siap dimasuki. Saat ujung tongkat itu menyeruduk liang sempit Inda,
"Tok Tok Tok"
Baron tersentak kala telinganya mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Sial," umpat Baron sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Baron memperbaiki posisi tongkatnya yang sudah berdiri tegak. Dengan wajah kesal Baron segera bangkit dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Saat pintu terbuka lebar, mata Baron membulat dengan sempurna. Wanita yang tadi ada di mimpinya kini sudah berdiri tegak di hadapannya. Wajah Baron memutih dengan bibir bergetar hebat. Tak tau harus berkata apa karena lidahnya mendadak kelu.