
Setibanya di depan perusahaan, satu persatu dari mereka mulai turun dari mobil dan menggandeng pasangan masing-masing.
Airlangga berjalan lebih dulu bersama Leona, Arhan dan Aina menyusul di belakang mereka. Sementara Hendru dan Nayla nampak canggung satu sama lain. Hendru bersikap cuek sebab masih kesal terhadap Nayla.
"Nayla, gandeng dong tangan Hendru nya!" ucap Aina yang sudah berdiri di sisi Arhan.
"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri!" sahut Nayla yang bersikap tak kalah cuek dari Hendru.
"Ya sudah, kalau begitu jalan saja sendiri!" ketus Hendru dengan tatapan masamnya.
"Astaga, kenapa kalian jadi kekanak-kanakan begini?" keluh Arhan sembari menautkan alisnya.
"Jalan saja, tidak penting membahas ini!" ketus Hendru sembari melangkahkan kakinya.
Melihat Hendru dan Nayla yang sama-sama keras kepala, Arhan dan Aina hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkahnya menuju gedung aula.
Di dalam sana, para tamu sudah mulai berdatangan. Arhan menghampiri satu persatu koleganya dan mengenalkan Aina kepada mereka.
Sementara Nayla memilih duduk berjauhan dengan Hendru. Keduanya seperti kucing kucingan menuruti ego masing-masing.
"Malam Tuan Arhan, selamat atas kesuksesannya." sapa seorang kolega yang nampak seumuran dengan Arhan.
"Terima kasih Tuan Mike, selamat juga untuk anda." sahut Arhan, lalu mengenalkan Aina kepada beberapa orang yang berdiri di sana, termasuk pasangan mereka.
Setelah cukup lama bercengkrama, Arhan membawa Aina duduk di meja VVIP, meja khusus yang disediakan untuk Airlangga dan keluarganya.
Mengingat hari yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, Airlangga diminta naik ke panggung membuka acara, kemudian melanjutkannya dengan acara inti.
Di tengah acara yang sedang berlangsung, Aina memanggil Nayla dan memintanya bergabung. Namun gadis itu menolak karena tak mau duduk bersebelahan dengan Hendru.
Tidak lama, seorang pengusaha muda dan tampan melangkah menghampiri Nayla. Karena melihat gadis itu tak memiliki teman ngobrol, pria itu meminta izin untuk duduk bersama Nayla.
"Permisi Nona, boleh aku duduk di sini?" sapa pria itu.
"Silahkan," sahut Nayla sembari tersenyum kecil.
"Gadis secantik anda kenapa duduk sendirian saja? Dimana pasangan anda?" tanya pria itu.
"Tidak ada, saya sendirian." jawab Nayla apa adanya.
"Kenalkan, nama saya Deni. Kalau boleh tau nama anda siapa?" tanya pria itu sembari mengulurkan tangannya.
"Nayla," Nayla mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Deni.
__ADS_1
"Nama yang indah, seindah orangnya." ucap Deni memuji Nayla.
Dari kejauhan, Aina dan Arhan saling melempar pandang. Keduanya tersenyum melihat Nayla yang tengah didekati pria lain. Sementara Hendru sama sekali tak menyadari itu.
"Mati kau Hendru, lihatlah wanita mu itu! Apa kau tidak cemburu?" ucap Arhan memanasi asisten pribadinya itu.
"Serasi banget ya Bang," tambah Aina yang ikut memanasi Hendru.
Mendengar itu, Hendru bergegas memutar pandangannya ke arah Nayla.
"Deg"
Seketika rona wajah Hendru berubah drastis, matanya membulat dengan rahang mengerat kuat. Darahnya tiba-tiba mendidih melihat Nayla mengumbar senyuman manisnya di depan pria itu.
"Apa-apaan ini?" gumam Hendru sembari mengepalkan tangannya erat.
"Jangan salahkan dia, kau sendiri yang memberi peluang kepada pria itu!" ucap Arhan sembari tersenyum miring.
"Diam lah!" Hendru mendorong kursinya dengan kasar, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Nayla.
Melihat kemarahan di wajah Hendru, Arhan dan Aina kembali saling memandang dan melempar senyum.
"Rasain, sok jual mahal sih." umpat Arhan.
"Sssttt, jangan seperti itu Bang! Kasihan Hendru, pasti hatinya tengah dibakar api cemburu" ucap Aina.
"Sudahlah, tidak usah membahas mereka!"
Di meja lain, Nayla nampak begitu leluasa mengobrol dengan Deni. Tidak lama, Hendru datang dan menggenggam tangan Nayla.
"Sayang, ngapain di sini? Ayo ikut aku!" ajak Hendru sembari tersenyum.
"Hendru, apa-apaan ini?" tanya Nayla sembari menautkan alisnya.
"Jangan marah dong sayang! Aku tadi cuma bercanda," tambah Hendru yang membuat Nayla semakin kebingungan.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Deni penasaran.
"Saya tunangan Nayla, anda sendiri siapa?" sahut Hendru dengan pertanyaan pula, lalu menatap Deni dengan tajam.
"Oh, jadi anda tunangan Nayla. Maaf sudah mengganggu, aku pikir Nayla sendirian di sini." ucap Deni, kemudian memilih bangkit dari duduknya.
Setelah Deni menjauh dari keduanya, Hendru menatap Nayla dengan tatapan mematikan. Amarahnya semakin memuncak melihat gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Nayla gugup.
"Apa begini sifat mu yang sebenarnya hah? Hanya karena pertengkaran kecil, semudah itu kamu berpaling dariku?" ketus Hendru penuh kekesalan.
"Apaan sih Hendru? Jangan berpikir sejauh itu! Kami hanya ngobrol, tidak lebih." jelas Nayla dengan wajah cemberut nya.
"Ngobrol apanya sampai senyum-senyum seperti tadi? Kamu pikir aku tidak lihat," ketus Hendru yang semakin tersulut emosi.
"Terserah kamu saja, percuma juga aku jelasin!"
Nayla menyentak tangan Hendru dengan kasar, kemudian meninggalkan meja penuh kekecewaan.
"Tunggu Nayla!"
Melihat Nayla yang merajuk, Hendru pun kehilangan akal, kemudian menyusul Nayla yang sudah meninggalkan aula.
"Nayla, jangan marah gini dong!" bujuk Hendru sembari berlari kecil, kemudian meraih tangan Nayla dan menariknya hingga langkah gadis itu terhenti.
"Apa lagi Hendru? Aku lelah berdebat terus denganmu," keluh Nayla dengan tatapan sendunya.
Hendru mengusap ujung kepala Nayla dengan lembut, kemudian membawa Nayla ke dalam dekapan dadanya.
"Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud mengajakmu berdebat. Aku tidak suka melihatmu bersama pria tadi, jujur aku cemburu." ungkap Hendru menyatakan perasaannya.
"Kenapa kamu cemburu?" tanya Nayla sembari tersenyum kecil.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja karena aku mencintaimu, alasan apa lagi?" Hendru mengacak rambut Nayla gemas, kemudian mencubit hidung Nayla hingga memerah.
"Sakit Hendru," keluh Nayla, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Hendru.
"Makanya, jangan seperti tadi lagi! Hanya aku yang boleh menikmati senyuman mu ini!" tegas Hendru penuh penekanan.
"Iya, iya, maaf ya." ucap Nayla sedikit manja.
Mendengar itu, Hendru kembali mengecup pucuk kepala Nayla, kemudian turun hingga punggung gadis cantik itu.
Setelah meluruskan kesalahpahaman diantara mereka, keduanya kembali masuk ke dalam aula, kemudian berjalan menghampiri meja VVIP yang dihuni Arhan dan Aina.
"Nah, udah baikan?" tanya Arhan dengan tatapan tak biasa.
"Cukup Tuan, jangan memancing keributan di sini! Kami baik-baik saja, iya kan Nayla?" ucap Hendru seperti tak terjadi apa-apa diantara dia dan Nayla.
"Iya, kami baik-baik saja kok." sambung Nayla, kemudian duduk di samping Aina.
__ADS_1
"Ya sudah, nikmati saja acaranya!" tambah Aina yang sedari tadi tak melepaskan genggamannya dari tangan Arhan.
Arhan menatap Aina dengan intim, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang. Sesuai permintaannya di rumah tadi, dia benar-benar tak membiarkan Aina berjauhan dengan dirinya.