Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 111.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah empat bulan saja Baron meninggalkan rumah itu. Kini hidupnya sudah kembali seperti semula meski sesekali bayangan Inda masih menjelma di ingatannya. Dia terpaksa mengkonsumsi obat penawar jika sewaktu-waktu li*bi*do nya kembali memuncak.


Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Aksa yang ke tiga. Sementara Avika sendiri sudah berumur satu tahun. Keduanya lahir di bulan yang sama, yang membedakan hanya tanggalnya saja.


Sedangkan putri kecil Hendru yang bernama Inara Putri sudah berusia empat bulan. Rumah itu semakin ramai dengan suara tangisan dan tawa putra putri mereka. Apalagi beberapa hari yang lalu Airlangga dan Leona baru saja mendarat di ibukota. Membuat suasana rumah semakin ramai dan hiruk.


"Mbak, tolong dibungkus yang rapi ya!" Baron memberikan dua boneka hello kitty berukuran besar dan satu sepeda motor remote kepada pelayan toko.


Dia tau hari ini Aksa ulang tahun, dia ingin menitipkan kado tersebut kepada anak buahnya untuk diberikan kepada Aksa, Avika dan juga Inara.


Meski Baron tidak tinggal di rumah itu lagi, tapi dia selalu mendapatkan informasi dari anak buahnya mengenai pertumbuhan Aksa yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Dia bahkan memiliki foto ketiga bocah itu.


Pukul 3 sore, sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang. Baron turun dan disambut oleh anak buahnya yang selalu berjaga di rumah itu.


"Sore Bos," sapa Dori dan Andi bersamaan.


"Sore, tolong berikan kado ini pada Aksa, Avika dan juga Inara!" Baron menurunkan satu persatu kado yang dia bawa dari dalam taksi.


"Kenapa bukan Bos saja yang memberikannya langsung?" tanya Dori mengerutkan keningnya.


"Aku buru-buru, ayo bawa ke dalam!" Setelah memberikan ketiga kado itu, Baron kembali masuk ke dalam taksi, beberapa detik kemudian taksi itu menghilang dari hadapan kedua anak buah Baron.


Dori membawa kado yang berisikan sepeda motor remote, sementara Andi membawa dua boneka hello kitty itu ke dalam. Keduanya langsung memasuki rumah yang mana semua keluarga tengah berkumpul untuk merayakan ulang tahun Aksa dan Avika.


"Permisi Tuan Arhan, ini ada titipan kado buat Aksa, Avika dan juga Inara." ucap Andi sembari meletakkan kado tersebut di atas sofa, sementara Dori meletakkan sepeda motor remote itu di lantai.


"Kado dari siapa? Kalian jangan sembarangan menerima titipan apapun dari luar sana, siapa tau isinya-"


"Tidak Tuan, ini dari Bos Baron. Tidak mungkin dia menaruh bom di dalamnya." potong Dori menjelaskan.

__ADS_1


"Baron?" Mata Arhan membulat dengan sempurna, begitupun dengan yang lain. Sementara Inda sendiri nampak gelisah dengan tangan saling meremas. Sudah lama sekali dia tak mendengar nama itu.


"Dimana dia? Kenapa kalian tidak membawanya masuk?" cerca Arhan dengan tatapan horor.


"Dia sudah pergi, sudah kami ajak masuk juga, tapi beliau menolak dengan alasan terburu-buru. Kalau begitu kami permisi dulu, gerbang kosong soalnya." Dori dan Andi membungkukkan punggungnya, kemudian berlalu meninggalkan rumah besar itu.


Arhan terperangah sembari mengusap wajahnya berkali-kali, segera dia merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Baron. Beruntung kali ini Baron mengangkat panggilannya.


"Brengsek, kenapa menitipkan kado itu pada anak buah mu hah? Kau sudah tidak menganggap ku lagi," bentak Arhan dengan suara lantangnya.


"Hahaha... Jangan marah-marah Tuan Arhan, nanti cepat tua!" seloroh Baron dengan tawanya yang lantang.


"Kembali sekarang juga! Aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari mulutmu itu." geram Arhan.


"Maaf Tuan Arhan, aku gak bisa. Kalau mau bertemu di luar aja, nanti aku share lok." Baron mematikan sambungan telepon itu secara sepihak yang membuat Arhan semakin kesal.


"Ayo, lanjutkan potong kue nya!" seru Arhan, dia tidak mungkin merusak hari bahagia buah hatinya.


Acara dilanjutkan, Aksa nampak begitu bahagia saat menyanyikan lagu selamat ulang tahun, berlanjut tiup lilin dan potong kue. Semua keluarga bergiliran mengucapkan selamat ulang tahun pada Aksa dan Avika, lalu memberikan kado kepada keduanya.


Malam hari, Aksa begitu bersemangat membuka kado-kado nya. Apalagi saat membuka kado dari Baron, bocah itu sampai melompat kegirangan dan segera menaiki sepeda motor remote itu. Sementara Avika asik memeluk boneka hello kitty berwarna pink itu. Berbeda dengan Inara yang belum mengerti apa-apa.


"Sayang, Abang keluar sebentar ya." pamit Arhan kepada Aina.


"Abang mau kemana malam-malam begini?" tanya Aina.


"Ketemu Baron, nih chat nya kalau Aina gak percaya." Arhan memperlihatkan isi chat nya pada Aina.


"Ya udah, tapi jangan lama ya!" ucap Aina.

__ADS_1


Sebelum pergi, Arhan mengecup kening Aina, Aksa dan Avika secara bergiliran. Kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Setengah jam kemudian, Arhan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe. Segera Arhan turun dan menghampiri Baron yang sudah lebih dulu tiba di sana.


"Dasar pecundang! Ketemu aja harus di luar," geram Arhan sembari menarik sebuah kursi, lalu mendudukinya.


Baron mengangkat bahunya dengan bibir mengerucut. "Terserah kau saja lah,"


"Kemana aja kau selama ini? Aku pikir udah mampus," gerutu Arhan dengan tatapan horor.


"Maunya sih begitu, tapi Tuhan masih memberiku umur panjang. Gimana dong?" seloroh Baron dengan santai.


"Bodoh, kau pikir dengan melarikan diri bisa menyelesaikan masalah? Gak sama sekali," ketus Arhan.


"Kapan aku bilang menyelesaikan masalah?" Baron mengerutkan keningnya. "Aku hanya ingin melupakan gadis itu. Jika aku di sana terus otakku semakin kacau karena gak bisa memilikinya. Kau tau sendiri aku terjebak gara-gara minuman sialan itu, sekarang aja aku harus bergantung pada obat. Jika tidak, aku bisa gila. Aku bahkan sudah mencoba membuka hatiku untuk wanita lain, tapi tetap gak bisa. Naluri ku menginginkan dia, lama-lama aku beneran bisa gila."


"Kalau begitu pulanglah bersamaku, aku yakin kali ini Inda akan menerimamu!" ajak Arhan.


"Gak mungkin. Jika dia mau menerimaku, kenapa gak dari dulu dia lakukan? Dia tidak menginginkan aku karena dia tau aku ini penjahat. Wanita mana yang mau menghabiskan hidupnya bersama pria sepertiku, aku tidak memiliki masa depan."


"Kau salah Baron, Inda sebenarnya juga suka padamu. Hanya saja dia takut membuatmu kecewa, dia memiliki masa lalu yang kelam. Aina sudah menceritakannya padaku, Inda pernah menjadi korban perdagangan manusia. Hal itulah yang membuatnya menolak lamaran mu, dia takut kau tidak bisa menerima keadaannya. Dia merasa kotor, sementara dia tau kau itu masih segel."


"Deg!"


Baron mengelus dadanya yang mendadak terasa sesak. Perih bak dihujam samurai tajam.


Jadi itulah alasan Inda menolaknya. Baron pikir Inda tidak menyukainya dan takut karena Baron merupakan penjahat kelas kakap.


Baron mengusap wajahnya berkali-kali dengan hembusan nafas terdengar berat.

__ADS_1


__ADS_2