
Siang hari di perusahaan Azka, Azka sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memegang buket bunga, yang berisi kartu ucapan.
Tiba-tiba pintu di buka seseorang, ternyata Bella yang datang dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca, membuat Azka bingung, karena Azka baru berencana menemui Bella dan memberikan bunga yang di pegang nya.
Azka kemudian berdiri dan menghampiri Bella, "Bella selamat yah, kamu lulus dengan nilai terbaik" ucap Azka sambil memberikan bunga yang dipegang nya dari tadi.
Bella mengambil buket bunga itu dan langsung memeluk Azka dengan terisak. Azka yang melihat Bella menangis, hanya mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
Setelah merasakan Bella sudah mulai tenang, barulah Azka bertanya, "Bella ada apa?, cerita dengan ku" tanya Azka sambil melepas pelukannya.
"Kak Azka" Bella mulai bicara, masi terisak.
"Ayo duduk dulu sayang" ujar Azka sambil menuntun Bella duduk di sofa.
Setelah kedua nya sudah duduk, Azka menunggu Bella cerita apa yang sebenarnya terjadi, sementara Bella masih mengatur nafas nya.
"Kak Azka, Papah ingin aku kuliah di luar negeri" ungkap Bella.
Azka yang dari tadi menatap Bella, langsung mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah, setelah mendengar pernyataan Bella.
Azka belum bicara, dia kembali menatap Bella dengan tatapan kosong, yang sedang menunduk, "Bella ini lah saatnya aku harus mengakhiri hubungan kita, sebelum kamu terluka lebih dalam karena sampai saat ini aku belum bisa mencintaimu, kepergian mu akan menjadi keputusan terbaik dalam hubungan kita dan kamu akan mendapat jati diri kamu yang sesungguhnya" batin Azka.
Azka kemudian menggenggam kedua tangan Bella, "Bella, apa kamu ingin mendengar pendapat kakak, pria yang menjadi cinta pertama mu" ucap Azka dengan ragu.
Bella langsung mengangkat wajahnya menatap Azka, "Apa kak?" tanya Bella.
"Bella dalam kehidupan, kita harus menerima kenyataan meskipun terkadang itu pahit dan semua yang ada dalam hidup ini, akan ada yang datang dan pergi, begitu pula cinta" tutur Azka.
"Maksud kak Azka apa?" Bella kembali bertanya.
"Bella aku tidak bisa mencegah mu pergi, karena kamu berhak mendapatkan jati diri mu yang sesungguhnya, menjalin hubungan dengan ku akan membuat mu terluka nantinya, karena sampai saat ini aku belum bisa mencintai mu" ungkap Azka, membuat jantung Bella seakan berhenti berdetak sejenak.
Bella langsung menarik tangannya yang di genggam Azka, dengan air mata yang mengalir di pipinya tampa bersuara dan belum bisa berkata apa-apa, karena shock mendengar pernyataan Azka barusan.
"Bella belajarlah merima kenyataan meskipun itu pahit, kamu masi muda dan kamu berhak mendapatkan pria yang mencintaimu" sambung Azka.
Bella menatap Azka dengan tajam, "Aku terlalu bodoh datang ke sini, yang berharap kakak akan mencegah ku pergi" balas Bella dengan lirih.
"Bella pergilah, jika perasaan kamu masi sama setelah kamu kembali dan aku belum mempunyai pasangan, kita bisa memulai dari awal, bagaimana?" tanya Azka.
__ADS_1
Bella kemudian mengusap air matanya, "Itu sama saja, kakak mempermainkan perasaan aku" balas Bella.
Azka kemudian menarik Bella dalam pelukannya, "Makanya Bella, kamu harus menerima kenyataannya" ucap Azka sambil mengusap rambut Bella dengan lembut.
"Baik, tapi kak Azka harus janji mengantar aku ke bandara" ujar Bella lalu melepas pelukan Azka.
"Aku pulang kak" sambung Bella dan berjalan keluar ruangan Azka dan di balas anggukan oleh Azka.
Setelah kepergian Bella, Azka langsung bersandar di sofa dan menarik nafasnya kasar, "Kamu pasti sangat terluka Bella, tapi aku yakin kamu adalah gadis yang kuat" ucap Azka.
*****
Setelah beberapa minggu, akhirnya Bella akan berangkat ku luar negeri dan kabar tentang keberangkatan nya dan berakhirnya hubungan dengan Azka, sudah di ketahui Nela.
Hari ini waktunya Bella berangkat keluar negri dan di antar kedua orang tuanya ke bandara, Bella melihat sekeliling sebelum berjalan masuk.
Tiba-tiba ada yang memanggilnya, "Arabella" suara perempuan.
Bella menoleh, ternyata Nela yang memanggilnya dan Azka berjalan di belakang Nela dengan santai memakai kacamata hitam.
Bella tersenyum melihat kedatangan Nela dan Azka.
"Bella, maaf yah kami terlambat" ucap Nela, saat berada di depan Bella.
"Bella aku sangat menyayangkan berakhir nya hubungan kalian" ungkap Nella, sambil melihat Bella dan Azka.
Keduanya tidak ada yang bicara, "Sebegitu susahnya kah hubungan LDR hingga kalian mengambil jalan ini" sambung Nela.
Pernyataan Nela membuat keduanya, menjadi canggung, pada akhirnya Bella mencoba mencairkan suasana.
"Kak Bella, sebenarnya aku berharap sahabat kakak akan menungguku selesai kuliah" canda Bella dengan melihat Azka, membuat Azka tersenyum.
Azka kemudian melangkah ke depan dan sejajar dengan Nela, "Bella jangan diri kamu baik-baik dan ingat nasehat kakak, tentang pergaulan yang baik seperti apa, dan terakhir belajar yang rajin" ucap Azka lalu mengacak-acak rambut Bella.
"Baik, aku masuk sekarang" balas Bella sambil tersenyum, kemudian berjalan masuk.
Bella dan Azka menatap kepergian Bella, hingga hilang di tengah keramaian.
**
__ADS_1
Malam hari nya Nela dan Arga sedang berbaring di ranjang nya, sementara Arga mengelus perut buncit istrinya.
"Sayang, tadi aku mengantar Bella ke bandara" ucap Nela.
"Terus kenapa sayang?" tanya Arga.
"Kamu tau, hubungan Bella dan Azka benar-benar berakhir" ujar Nela.
Arga tidak terkejut karena dia sudah tau sebelum nya, kalau Azka tidak mencintai Bella, "Itu lebih baik sayang, lagi pula Bella masi sangat muda, perjalanan cinta nya masi panjang" pendapat Arga.
"Iih sayang, kok malah membenarkan keputusan mereka" balas Nela.
Arga kemudian mengelus kepala Nela sambil mencium pipinya, "Sayang selain itu, hubungan LDR memang sangat susah di jalani" timpal Arga.
Tiba-tiba ekspresi wajah Nela menjadi kesakitan, "Sayang kamu kenapa?" tanya Arga khawatir.
"Sayang perut ku mules dan rasanya sangat sakit" ucap Nela dengan merintih.
Arga segera duduk, "Sayang kamu tenang yah, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Arga dengan panik.
"Sayang sakit" rintih Nela memegang perut nya.
Arga tidak berfikir panjang lagi, dia langsung menggendong istri nya turun kebawah dan memanggil sopir untuk mengantar nya ke rumah sakit.
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung di tangani dokter di ruangan VIP, sementara Arga menunggu di luar dengan gelisah.
Arga mengingat untuk menghubungi mertuanya dan beberapa saat kemudian Marvin dan Kirani datang.
"Nak Arga, apa Nela baik-baik saja?" tanya Kirani dengan khawatir.
"Nela sedang di tangani dokter Mah" jawab Arga.
Pintu ruangan Nela tiba-tiba terbuka, keluar lah dokter perempuan, yang menjadi dokter kandungan Nela.
"Dok bagaimana dengan istri saya?" tanya Arga.
Dokter kemudian melihat Marvin dan Kirani, "Maafkan kami, persalinan Nyonya Nela terjadi masalah, jadi terpaksa kami harus melakukan operasi Cesar" ucap dokter itu.
Kirani langsung memeluk suaminya dan Marvin mengusap pundaknya untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Dok lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya" ucap Arga.
"Baik tuan Arga, kami akan mempersiapkan operasinya segera" balas dokter itu, kemudian berlalu pergi.