Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
DELAPAN TAHUN KEMUDIAN


__ADS_3

Setelah menelpon Ryan, Marvin segera pulang untuk mencari Istrinya, siapa tau Kirani masi ada di rumah.


Dan saat ini mobil Marvin sudah berada di depan rumahnya, Marvin segera turun dan masuk kedalam, tapi langkah Marvin terhenti ketika melihat Bram sedang menunggunya di ruang tamu.


Bram menoleh, "Marvin kamu sudah pulang?" tanya Bram santai.


Sedangkan Marvin sudah menatap nya penuh amarah, kemudian melanjutkan langkahnya menuju Bram.


"Katakan di mana Kirani berada?" tanya Marvin menatap tajam pada pria yang pernah menolongnya.


"Marvin tenang, bukan saya yang memaksanya, saya hanya memberinya pilihan" ujar Bram.


"Maksud om Bram apa?" tanyanya masi menatap Bram.


Bram kemudian berdiri dengan tongkat di tangannya, "Saya hanya memberinya pilihan, antara menyelamatkan perusahaan keluarganya atau meninggalkan dirimu, tapi sepertinya gadis itu memilih pergi" jelas Bram berbohong.


"Stop om Bram, saya tidak mungkin percaya dengan penjahat berdarah dingin seperti mu" balas Marvin penuh penekanan dan semakin menatap Bram dengan tajam.


"Tapi penjahat berdarah dingin ini lah yang menyelamatkan hidupmu" tutur Bram kembali menekan Marvin.


Marvin langsung melemah dan duduk di sofa sambil mengusap rambutnya frustasi, "Kirani sayang kamu di mana sekarang" batin Marvin.


"Saya hanya meminta nya meninggalkan negara ini, tidak memintanya meninggalkan dunia ini" ucap Bram penuh ancaman.


membuat Marvin kembali Menatapnya, "Mau om Bram apa?, katakan!!!!" teriak Marvin.


"Ini permintaan terakhir om menikahlah dengan Zara" ucap Bram, sedangkan Marvin tidak langsung menjawab.


Di saat yang bersamaan Kirani sedang berdiri di ambang pintu dan mendengar permintaan Bram, membuatnya bagai tersambar petir dan menghentikan langkahnya, lalu mundur perlahan dengan mata berkaca-kaca sambil menggeleng, kemudian berlari pergi.


Sementara di dalam Marvin baru menjawab permintaan Bram, "Saya tidak akan menikahi Zara" bentak Marvin.


Beberapa saat kemudian datang lah Ryan setengah berlari, "Bos segera ke bandara, Kirani akan ke negara A dan penerbangannya jam 11:00" ucap Ryan dengan mengatur nafasnya.


Marvin tidak mempedulikan tatapan Bram yang mengamati pergerakannya, dia langsung berlari keluar dan segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Sayang tunggu aku, aku akan segera datang" batin Marvin sambil menekan pedal gas mobilnya.

__ADS_1


Sementara itu Kirani sudah sampai di bandara dan berjalan masuk karena sebentar lagi jadwal keberangkatannya.


"Maafkan aku sayang, mamah tidak ada niat memisahkan mu dengan papamu, tapi mamah tidak ada pilihan lain" batin Kirani sambil memegang perut nya.


Marvin juga sudah sampai di bandara dan melihat jam di tangannya sudah pukul 11:00, kemudian di saat yang bersamaan Marvin melihat pesawat melintas di atas sana.


Marvin langsung menangis dan berlutut di tanah, "Sayang kamu benar-benar meninggalkan aku dan melupakan cinta kita" teriak Marvin.


Sementara di dalam pesawat Kirani melihat ke bawah dan menangis tampa suara, lalu memegang kalung pemberian Marvin di lehernya.


Delapan tahun kemudian


Di bandara internasional terung lah seorang wanita dewasa yang anggun dan cantik, penampilannya layaknya wanita karir pada umumnya, rambutnya di gerai dan kacamata yang melekat di hidung mancung nya.


Wanita itu bersama seseorang anak perempuan yang berumur 7 tahun, anak perempuan itu terlihat sangat lucu dan pintar.


Wanita itu adalah Kirani yang merubah identitasnya menjadi KARIN dan bersama putrinya yang bernama NELA PRINCESS JANSEN.


Kirani sekarang sudah sukses menjadi desainer terkenal, tapi di kenal dengan nama Karin dan jarang memperlihatkan dirinya di muka umum.


"Mam apa sekarang kita akan tinggal di negara ini?" tanya Nela pada mamahnya.


Kepribadian Kirani yang dulunya ceria, banyak bicara dan keras kepala, sekarang berubah drastis menjadi wanita yang lembut, tegas dan anggun.


*********


Di sebuah rumah yang mewah, sebuah keluarga yang terlihat harmonis sedang menikmati sarapan di meja makan, keluarga itu mempunyai putra laki-laki yang berumur 7 tahun, yang bernama AZKA.


Keluarga itu adalah Marvin dan Zara, Marvin sangat menyayangi Azka, "Azka jagoan papah, apa nilai mu tidak menurun?" tanya Marvin pada anak laki-laki itu.


"Iya pah, malahan semakin naik" jawab Azka.


"Marvin besok ada pertemuan orang tua murid, kamu bisa menemani Azka" tanya Zara sedikit ragu.


"Tentu saja aku akan datang, demi jagoan papah ini" ucap Marvin sambil mengusap rambut Azka.


Seorang sopir mendekat, "Maaf tuan, waktu nya tuan muda Azka berangkat ke sekolah" ucap sopir itu yang bernama pak Yanto.

__ADS_1


"Yah udah pah, mah, Azka berangkat dulu" ucap Azka, lalu salim pada Marvin dan Mamahnya, kemudian mengikuti pak Yanto keluar.


Setelah kepergian Azka, suasana meja makan yang tadinya sangat hangat, berubah drastis menjadi tegang dan dingin.


Marvin langsung merubah wajahnya menjadi serius, dan Zara tidak berani menatap Marvin saat Azka tidak ada.


Marvin menghabiskan makannya dan segera berdiri, "Marvin" panggil Zara.


Marvin menghentikan langkahnya, tapi tidak menjawab Zara, dia hanya menatap tajam Zara.


Zara langsung menunduk, "Setelah pulang kantor, kamu mau kemana?" tanya Zara tidak melihat mata Marvin.


"Zara kamu dengan yah, kamu tidak ada hak menanyakan aku mau kemana dan ngapain, kamu tentu sadarkan bukan, di antara kita tidak ada ikatan pernikahan di mata agama dan hukum" ucap Marvin sambil menunjuk Zara.


Zara sudah tidak berani bertanya lagi, hanya matanya yang terlihat berkaca-kaca.


"Satu lagi yang harus kamu ingat Zara, hubungan kita hanya sebatas kedua orang tua Azka saja, di mata masyarakat" sambung Marvin lalu pergi meninggalkan Zara yang sudah menangis.


Setelah kepergian Kirani, Marvin kembali menjadi pria dingin dan arogan, di mana dirinya sebelum bertemu Kirani.


Setelah Marvin sudah tidak terlihat, Zara meluapkan tangisannya, "Setelah 8 tahun berlalu, aku belum bisa mendapatkan cintamu Marvin dan aku juga sudah kehilangan sosok sahabat yang selalu ada untukku" tutur Zara di selah tangisnya.


Sementara itu Kirani dan putrinya sedang berada di rumah yang cukup mewah, dan berada di kawasan elit.


Kirani masuk di dalam rumahnya dan di sambut dua orang asisten rumah tangga, "Selamat datang nyonya" sambut bik Surti nama ART.


"Kenalkan nama saya bik Surti" ucapnya lagi.


"Kalau saya Bik Ima" timpal ART yang satunya.


"Kami di utus nyonya intan kesini" sambung Bik Ima.


"Baik lah, angkat semua barang saya naik ke kamar" perintah Kirani, lalu berjalan naik tangga.


"Mam rumahnya sangat bagus, kamar Nela di mana?" tanya Nela sambil melihat sekeliling.


"Kamu tidur dengan mamah aja, giman?" ujar Kirani.

__ADS_1


"Tidak mau mam, Nela kan sudah besar" ucap Nela, membuat Kirani jadi gemes dengan putrinya, lalu Kirani mengangkat dagu Nela


"Kamar kamu di samping Mamah saja" ucap Kirani lalu membuka pintu kamar putrinya.


__ADS_2