
Mereka berempat menikmati pesta malam ini, di dalam satu meja yang sama.
Dari arah pintu masuk, datang lah sepasang pengantin dan di iringi dengan musik internasional, karena tema pasta malam ini adalah internasional.
Ryan dan Elmira terlihat sangat serasi meski usia mereka berbeda belasan tahun, semua mata tertuju pada kedua pengantin yang sedang berjalan bergandengan menuju, kue pernikahan yang tinggi dan mewah.
Acara pemotongan kue pun berlangsung dan di saksikan Marvin, Kirani, Zara dan Steven dia meja VIP.
"Akhirnya mereka benar-benar sudah menikah" ucap Kirani sambil melihat ke arah pengantin.
"Apa yang membuat mereka harus menunggu selama delapan tahun baru menikah?" timpal Steven bertanya pada Kirani. Zara juga menunggu jawabnya, karena dia juga penasaran penyebab nya apa.
"Karena Elmira sama seperti mu Stev, dia juga tidak percaya pernikahan" jawab Kirani santai sambil menyuap makanan nya.
"Aneh kenapa banyak orang tidak percaya pernikahan" timpal Marvin sambil tersenyum.
"Marvin bukan kah sebelum mengenal Kirani, kamu juga tidak percaya pernikahan" sambung Zara.
"Benar banget Zara, bahkan suamiku ini tidak pernah menghargai wanita sebelumnya" timpal Kirani.
"Hemmm... sudahlah klain jangan membuka aibku malam ini, wibawa Marvin Jansen jadi turun" ucap Marvin.
"Santai saja tuan Marvin, pada intinya kita sama-sama mantan bajingan" timpal Steven.
"Jadi kalian bangga pernah menjadi pria bajingan" ucap serentak Kirani dan Zara, membuat mereka saling bertatap dan kemudian tertawa bersama.
Membuat Marvin menatapnya penuh haru pada Kirani dan Zara, karena ini pertama kalinya dua wanita yang selalu berselisih paham itu, bisa tertawa lepas seperti sekarang.
Steven menyadari tatap Marvin, "Apa pernah anda menyukai sahabat kamu itu" bisik Steven pada Marvin.
"Yang jelas nya aku sangat sayang dengan Zara sebelumnya, tapi baru mengenal cinta saat bertemu dengan istriku" jujur Marvin, masi menatap kedua wanita di depannya.
__ADS_1
"Sekarang kita jujur-jujuran sebagai seorang pria, andaikan Kirani tidak pernah ada dalam hidupmu, apakah kamu akan menerima cinta Zara" tanya Steven dengan serius, membuat Marvin langsung menatapnya.
"Mungkin iya, karena papahnya sangat berjasa pada hidupku" Marvin kembali jujur.
"Wow saya terkejut mendengar nya tuan Marvin" balas Steven.
"Sekarang tuan Steven yang harus jujur, apa pernah kamu menyukai teman baikmu itu" tanya Marvin sambil melihat Kirani, yang sedang asik bicara dengan Zara membahas kelakuan Marvin sebelumnya.
"Iya pertama kali saya melihat dia adalah gadis yang pintar tapi berkepribadian tertutup, jujur saya sangat mengaguminya, tapi dia selalu menganggap ku teman baiknya saja, bahkan kebaikanku selama ini tidak bisa mengalahkan, cintanya untuk mu" ungkap Steven berbicara yang sesungguhnya.
Marvin kemudian tersenyum bangga, karena selama ini Kirani tetap menjaga hatinya untuk nya.
"Dan saya baru menyadari akhir-akhir ini, ternyata Kirani adalah wanita yang berkepribadian ceria dan banyak bicara, sebelumnya sosok Karin sangat tegas dan punya prinsip" sambung Steven menilai Kirani yang sekarang.
Kirani kemudian menatap kedua pria yang selalu berbicara formal saat bicara, kenapa bisa berbicara begitu serius saat ini.
**
Zara dan Steven juga duduk menyaksikan di meja tamu, sementara Marvin dan Kirani sudah tidak terlihat lagi.
Elena dan Ryan mulai melempar bunga pengantin dan orang-orang yang berdiri di belakang berebut bunga, hingga bunga itu terlempar di meja Zara dan Steven.
Steven segera mengambilnya lalu berdiri dan berjalan ke depan, di susul tepuk tangan pada semua orang yang masih hadir di situ.
MC pun mendekati Steven, "Semoga bisa cepat menyusul seperti kedua mempelai tuan" ucap MC.
"Semoga saja, karena saat ini saya sedang memperjuangkan seorang wanita" ucap Steven sambil melihat ke arah Zara.
**
Acara balum selesai Marvin sudah mengajak Kirani masuk di kamar Suite tempat nya menganti pakaian tadi.
__ADS_1
"Sayang kenapa kita kesini, kenapa kita tidak pulang ke rumah saja" tanya Kirani.
Marvin melepas jasnya dan melemparnya ke atas ranjang king size di samping nya, "Aku iri dengan Ryan bisa menikmati malam pertama di sebuah hotel berbintang, sedang aku tidak pernah merasakan malam pertama di hotel yang semewah ini" ucap Marvin.
Kirani tersenyum dan mengingat malam pengantin nya dulu, Marvin langsung membawanya pulang ke rumah utama, "Kenapa harus iri, kan kata kamu sudah sering menghabiskan waktu bersama wanita-wanita mu di hotel yang mewah" balas Kirani mengulang ucapan Marvin saat itu.
Marvin langsung memeluknya dari belakang, “Sayang sudah dong jangan bahas masa lalu, sekarang katakan apa pernah kamu menyukai Steven sebelumnya?” tanya Marvin, ingin mendengar langsung dari mulut Kirani.
Kirani memutar badannya menghadapi ke suaminya, “Kenapa kamu sangat ingin tau itu sayang” tanya Kirani.
"Karena aku penasaran saja" balas Marvin.
“Walaupun aku ingin membuka hati lagi untuk orang lain, pasti bukan Steven orangnya” Jawab Kirani, membuat Marvin menatap tajam padanya.
“Apa? kamu pernah berfikir untuk menyukai pria lain” tanya Marvin mengintimidasi Kirani, secepatnya Kirani menggeleng.
Marvin melepas satu persatu kancing kemejanya, “Karena kamu pernah berfikir untuk membuka hatimu itu pada pria lain, sekarang rasakan hukuman ku malam ini, akan ku buat kamu tidak bisa berjalan pagi harinya” ucap Marvin pelan sambil melempar bajunya ke sembarang arah.
“Sayang jangan sekarang, yang malam pengantin kan bukan kita” bujuk Kirani agar suaminya tidak melakukannya saat ini.
Marvin tidak mempedulikan ucapan Kirani, dia langsung memeluk pinggang Kirani dan satu tangannya menangkap leher istrinya lalu mencium lembut bibirnya, hingga turun di belahan dadanya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Sekarang Kirani sulit mengatur nafasnya karena ulah Marvin dan perlahan Marvin melepas dress nya, lalu mendorong lembut tubuh Kirani di atas kasus.
Sekarang Kirani sudah berbaring terlentang di atas ranjang dengan ke adaan sudah polos dan hanya menyisakan benda segitiga yang melekat di tubuhnya.
Marvin segera melepas benda segitiga itu dengan agresif, lalu memainkan isinya dengan lidahnya, sementara tangannya sedang asik bermain di buah kenyal Kirani, membuat Kirani menjadi lemas dan sudah tidak bisa berdaya lagi.
Cukup lama Marvin bermain di bagian sensitif Kirani, hingga akhirnya Kirani tidak bisa menahan nya lagi dan merasakan getaran hebat yang luar biasa.
Baru lah Marvin melepaskan mulutnya dan segera melepas celananya hingga sekarang mereka sudah sama-sama polos. Marvin kemudian memutar tubuh Kirani membelakangi nya dan mulai memasukkan senjatanya, di lubang kenikmatan surgawi milik Kirani.
__ADS_1
Marvin perlahan menekan pinggulnya berulang-ulang dan semakin cepat, hingga Kirani tidak bisa menahan jeritan kenikmatan dari mulut nya, membuat Marvin semakin bersemangat menekan pinggulnya berulang-ulang.