Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
MAWAR MERAH


__ADS_3

Hari ini Kirani mendatangi kantornya terlebih dahulu untuk memeriksa semuanya, sebelum mengantarkan putrinya ke sekolah.


Kirani dan Nela masuk bersama dan di sambut oleh asisten pribadi nya, "Selamat datang nyonya Karin(nama Kirani sekarang)" sahut Yanti(nama asisten Kirani).


"Iya Yanti aku cuma sebentar" jawab Karin sambil duduk di meja kerja nya, sementara Nela duduk di sofa menunggu mamahnya.


Yanti kemudian menghampiri Nela, "Nela mau apa biar tante ambil Iin?" tanyakan Yanti lalu duduk di samping Nela.


"Tidak ada tante, Nela hanya nungguin mamah" jawab Nela.


"Yanti apa ini?" tanya Karin sambil memberikan sebuah berkas.


Yanti melihat berkas itu, "Oh ini berkas salah satu media terbesar, yang mengetahui kedatangan Nyonya Karin datang ke indo dan ingin mewawancarai anda" jelas Yanti.


"Tolak" jawab singkat Karin.


"Tapi nyonya ini bukan wawancara tunggal, melainkan banyak desainer dan pengusaha yang juga di undang di acara itu" ucap Yanti menunduk.


"Cari tau siapa saja pengusaha yang bersedia terlihat di acara itu" ujar Karin.


Yanti kemudian membuka berkas itu dan membaca semua pengusaha yang terlibat, Karin hanya diam mendengarkan dan tidak mendengar nama Marvin Jansen yang bersedia hadir.


"Baik siapkan dirimu kita akan datang" ucap Karin lalu berdiri.


"Baik Nyonya" balas Yanti sopan.


"Ayo sayang kita ke sekolah" panggil Karin pada Nela.


"iya mam" jawab Nela kemudian berdiri menghampiri Karin.


*nama Kirani pakai nama Karin saya, biar author tidak bingung nulisnya dan yang bacanya juga tidak bingung*


Karin kemudian menyuruh sopir untuk mengantarnya ke salah satu sekolah ternama, untuk mendaftar kan sekolah putrinya yang masi kelas 1 SD.


Di lampu merah ternyata ada yang menawarkan bunga dan coklat, karena kebetulan besok adalah hari Valentine.


"Mami Nela mau beli bunga" pinta Nela karena melihat orang membawa bunga di luar mobil.


Karin kemudian menurunkan kaca mobilnya, "Mas kasi bunganya satu dan coklat nya" ucap Karin sambil memperbaiki kaca matanya.


"Ini nyonya" ucap penjual itu lalu memberikan setangkai bunga mawar dan coklat.


Karin mengambilnya dan memberikan uangnya, "Ambil kembaliannya saja mas" ucap Karin.

__ADS_1


"Terima kasih nyonya" balas penjual itu. Kemudian lampu sudah berubah menjadi hijau dan mobil pun melaju pergi.


Nela kemudian mengambil bunga di tangan Karin dan menciumnya.


"Sayang kamu suka bunga mawar?" tanya Karin.


"Iya mam" jawab Nela lalu melihat keluar kaca.


Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di halaman sekolah ternama itu, Karin dan Nela turun dari mobil, tapi Nela masi memegang bunga mawar yang di beli Karin tadi.


Karin langsung membawa putrinya keruang Kepala sekolah yang sudah dihubunginya terlebih dahulu, tiba-tiba di perjalanan ada anak yang membawa minuman dan menabrak Karin membuat bajunya kotor.


"Anak-anak kalau jalan hati-hati yah jangan berlarian" nasehat Karin.


"Iya tante" balas anak itu ketakutan dan berlalu pergi.


"Nela kamu tunggu mami di sini yah, jangan kemana-mana, mami mau ke toilet" ucap Karin.


"Iya mam" jawab Nela lalu duduk di kursi yang ada dekat situ, kemudian Karin berlalu pergi.


Setelah kepergian Karin, ada dua anak perempuan yang mendekati Nela, "Hei kamu, kamu anak baru yah" tanya dua anak itu.


"Iya nama saya Nela" jawab Nela.


"Karin" jawab Nela.


"Terus nama papah kamu siapa" timpal anak satu lagi dengan polosnya.


Nela tidak menjawab, karena sebelumnya di luar negri tidak pernah ada yang menanyakan nama kedua orang tuanya.


"Jangan-jangan kamu tidak punya papah yah, ha... ha... ha.. " ejek dua anak perempuan itu.


Nela menunduk dengan mata berkaca-kaca, karena dia tidak tau harus menjawab apa.


"Saya papahnya" jawab seorang pria dari belakang, membuat kedua anak perempuan berlari.


Ternyata pria itu adalah Marvin yang menghadiri pertemuan orang tua murid, yang kebetulan Aska juga bersekolah di situ, Marvin kemudian mendekati Nela.


"Gadis manis jangan menangis, kalau menangis nanti jadi jelek" ucap Marvin berjongkok melihat Nela yang masi menunduk.


"Makasih Om" ucap Nela sambil mengusap air matanya dan melihat Marvin.


Membuat tatapan mereka bertemu dan Marvin tidak bisa berkata apa-apa karena ada detak kan aneh di dalam hatinya, melihat tatapan gadis kecil yang pertama kali di lihatnya.

__ADS_1


Nela melambaikan tangannya di wajah Marvin, "Om tampan, ada apa?" tanya Nela.


Marvin langsung tersenyum tapi tidak berhenti menatap mata Nela, karena perasaan yang hancur 8 tahun yang lalu semenjak di tinggal Kirani, tiba-tiba kembali merasa bahagia hanya melihat gadis kecil yang ada di hadapannya sekarang.


"Om tampan, ini untuk om" ucap Nela sambil memberikan bunga mawar yang dipegangnya dari tadi, kemudian mencium pipi Marvin yang dari tadi diam saja.


Marvin tersadar dan mengambil bunga yang di berikan Nela "Nama kamu siapa nak" tanya Marvin.


"Nama saya Nela Om" jawab Nela.


Marvin kemudian mengusap pipih Nela, "Nama yang bagus, mamah kamu kemana?" tanya Marvin.


"Mami pergi ke toilet om, Nela cari mami dulu" jawab Nela kemudian berlalu mencari Karin ke toilet.


Marvin menatap kepergian Nela sambil berdiri dan menatap bunga mawar yang di berikan Nela tadi, kemudian Marvin menuju perubahan jansen group.


Sementara Karin sudah menemui kepala sekolah dan kembali pulang bersama Nela, karena hari Nela belum masuk sekolah.


Saat ini Karin dan Nela berada di dalam mobil, untuk mengantar putrinya pulang dan kembali ke kantornya.


"Mam nama papah Nela siapa?" tanya Nela tiba-tiba.


Membuat Karin bagai tersambar petir, karena ini pertama kalinya putrinya menanyakan hal itu, Karin langsung memeluk putrinya.


"Kenapa kamu menanyakan itu sayang?" tanya Karin dengan mata berkaca-kaca.


"Tadi di sekolah teman-temen menanyakan nama papah Nela mam" jawab Nela dengan polos.


"Nanti kalau Nela sudah besar, mami akan cerita semuanya" ucap Karin sambil mengusap air matanya, masi memeluk Nela.


Karin menatap lurus ke depan, dia tidak pernah memikirkan status sosial putrinya selama ini, karena sebelumnya mereka tinggal di luar negri jadi tidak terlalu mempedulikannya.


Kirani berfikir keras, apa yang akan di katanya kalau Nela bertanya hal yang sama lagi.


"Mam untung tadi ada om tampan yang menolong Nela" cerita Nela lalu melepas pelukan mamahnya.


"Benarkah ada om tampan" balas Karin berusaha tersenyum dan Nela mengangguk.


Sementara itu Marvin sudah sampai di perusahaannya, kemudian berjalan naik ke ruangannya dan masi memegang bunga pemberian Nela sambil tersenyum, karena suasana hatinya kembali bahagia.


Semua pegawainya menatapnya bingung, karena 8 tahun belakangan ini bosnya sangat jarang tersenyum, bahkan lebih sering marah-marah.


Marvin duduk di kursi kebesarannya dan masi memegang bunga mawar itu sambil tersenyum menatapnya, persis seseorang yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2