
Marvin benar-benar sedih mengetahui Karin sudah mempunyai seorang putri, tapi di sisi lain dia tidak terluka.
“Di mana ayahnya?” tanya Marvin, pura-pura bertanya untuk menutupi kesedihannya.
“Papahnya sedang di luar negri” Jawab Karin berbohong.
“Om tampan sini” panggil Nela dengan wajah yang ceria.
Marvin langsung menghampiri Nela, “Ada apa gadis manisnya om” tanya Marvin sambil mencubit hidup putrinya.
“Kata Azka, rumah om sangat besar yah, apa Nela bisa ke rumah om?” tanya Nela dengan polosnya.
“Boleh nak, apa sih yang gak untuk gadis manis om” jawab Marvin lalu melirik Karin.
“Horeee” teriak Nela antusias.
Karin yang melihat ke akrab pan Marvin dan Nela, membuat Karin tersenyum bahagia.
Sampai acara sekolah selesai Zara tidak terlihat lagi, Marvin dan Karin berjalan beriringan di parkiran sekolah, Nela dan Azka bersama mereka.
"Di mana Zara?" tanya Karin sambil melihat sekeliling.
"Sepertinya sudah pulang" jawab Marvin tidak peduli Zara di mana.
"Aku duluan Marvin" pamit Karin.
"Tunggu Karin, bisa kita makan siang bersama, ada yang ingin aku katakan padamu" ajak Marvin.
"Baik lah" balas Karin.
Marvin kemudian bicara pada sopir Karin, "Pak antar Nela pulang, biar nyonya Karin saya yang antar ke kantor nya" perintah Marvin, kemudian sopir itu melihat Karin dan di balas anggukan oleh Karin.
Karin kemudian membukakan pintu mobil untuk putrinya, Nela pun segera naik, "Dah Azka, dah om tampan, Nela duluan" ucap Nela sambil melambaikan tangannya, lalu mobil pun melaju pergi.
selanjutnya sopir Azka, membuka pintu mobil untuk Azka, "Silahkan naik Den Azka" ucap sopir itu.
Zaka kemudian naik, "Dah pah, dah tante" ucap Azka, kemudian mobil melaju pergi.
__ADS_1
Marvin kemudian mengarahkan Karin untuk naik ke mobilnya dan keduanya pun naik di kursi penumpang, selanjutnya sopir melajukan mobilnya pergi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di restoran kesukaan Karin dan Marvin memesan makanan kesukaan Karin.
Karin diam saja dan berusaha bersikap biasa saja, mendengar Marvin memesan makanan untuknya.
"Oh yah Karin, tempat ini tetap sama yah" ucap Marvin membuka pembicaraan, Karin hanya mengangguk.
"Karin awalnya aku berfikir, untuk mengambil hatimu kembali, tapi setelah mengetahui kalau Nela adalah putrimu, aku menjadi tidak tega mengambil Mamah dari anak semanis Nela" ungkap Marvin.
membuat Karin menatap Marvin tampa berkedip, karena Karin tidak menyangka kalau Marvin akan semudah itu mengatakan semuanya, hanya karena ikatan batin Nela dan Marvin yang begitu kuat.
"Om CEO, andai kamu tau kalau Nela putrimu, pasti kamu tidak akan berkata seperti itu" batin Karin.
"hey jangan menatap ku seperti itu, kamu bisa jatuh cinta lagi" ujar Marvin sambil memperbaiki rambut Karin di telinganya.
Membuat Karin tersadar, "Tidak mungkin, sekarang sudah ada Azka dan Zara dalam hidup mu, mana mungkin aku merusak kebahagian seorang wanita dan anak" balas Karin.
Marvin kemudian yang sebaliknya menatap Karin tampa berkedip, "Kalau kenyataannya Azka dan Zara tidak ada di hidupku, apa kamu akan meninggalkan suami kamu, dan bawa Nela bersamamu, kita biasa hidup bahagia bersama" ucap Marvin dengan serius.
Karin hanya tersenyum, karena mengira Marvin bercanda, "Itu tidak lucu Marvin, kamu mengajak aku selingkuh di belakang Zara" sambung Karin sambil menggeleng.
"Sudah lah Vin hari ini kamu sangat lucu" timpal Karin sambil tertawa, dan pelayanan pun datang membawa makan.
Keduanya pun menikmati makan bersama, dan sesekali Marvin menatap Karin penuh cinta.
**********
Di perusahaan Jansen group, telah berlangsung rapat oleh pihak-pihak yang terkait termasuk Karin, membahas tentang proyek yang sedang mereka bangun.
Setelah beberapa saat rapat berlangsung, akhirnya rapat di bubar kan oleh Marvin, tinggal lah Karin dan Ryan yang masih bersama Marvin.
Karin membereskan gambar-gambar di hadapannya, "Karin sepertinya kita harus keluar kota meninjau proyek yang hampir rampung, aku tidak ingin ada kesalahan" ucap Marvin, tapi Ryan diam-diam tersenyum, karena sudah tau maksud bosnya mengajak Karin pergi.
"Apa harus bersama aku? " tanya Karin.
"Masa aku harus bersama Ryan" balas Marvin.
__ADS_1
"Biasanya juga bersama Ryan, lengket seperti perangko" gumam Karin. tapi dapat di dengar kedua pria di depannya.
"Apa katamu" ucap Marvin dan Ryan bersamaan.
"gak aku cuma mikir, kenapa Ryan gak nikah-nikah dan lebih banyak bersama bosnya" pikir Karin.
"Maksud kamu apa Karin, Ryan gak nikah karena suka sama aku?" tanya Marvin lalu menatap Ryan hingga mereka bertatap-tapan.
"Ha... ha... ha... " Karin tertawa lepas, "Kalian sangat lucu" sambung Karin.
Marvin kemudian tersenyum melihat Karin yang tertawa lepas, tidak kaku seperti robot lagi.
Perlahan-lahan keceriaan Kirani kembali karena sudah bersama Marvin lagi, meski mereka tidak saling memiliki, begitu pula sebaliknya Marvin sudah sering tersenyum dan tidak sering marah-marah lagi.
"Coba tanyakan pada sahabat mu itu, kenapa aku belum menikah" sahut Ryan.
Karin kemudian berdiri dan duduk di samping Ryan, "Hey Ryan, kamu tau sendiri Elmira tidak percaya pernikahan, eh malah kamu tungguin" ucap Karin, gaya bicaranya persis seperti Kirani yang ceria tampa beban.
Marvin diam saja menikmati sambil melihat Karin dengan melipat kedua tangannya di dadanya, kalau Kirani nya sudah kembali ceria, bahkan sekarang Karin melepas kaca mata berbicara dengan Ryan.
"Tapi aku akan selalu menunggu Elmira, sampai dia siap menikah" ungkap Ryan.
"Marvin kamu dengan apa yang dia kata kan, menunggu seseorang perempuan, bukan nya terbalik, harusnya perempuan yang menunggu laki-laki" ucap Karin beralih pada Marvin.
"Bukan kah memang seperti itu kalau kita mencintai seseorang, akan selalu menunggunya kembali, bukan malah menikah dengan orang lain" balas Marvin menyindir Karin.
Tapi membuat Karin salah paham karena di matanya, Marvin lah yang tidak setia menunggu nya kembali, malah menikahi Zara dan mempunyai anak.
"Ryan kamu dengan apa yang di katakan bos kamu ini, dia malah menyindir dirinya sendiri" ucap Karin sambil menggeleng.
keduanya mulai berdebat, "halo miss Karin, yang menikah siapa?" tanya Marvin.
Karin tidak mau kalah, "Siapa yang menikah?" tanya balik Karin dan kedua tidak menyadari kalau pertanyaan mereka tidak ada yang salah, karena keduanya sama-sama belum menikah.
Ryan yang melihat dua orang yang masih saling mencintai itu berdebat, diam-diam meninggalkan ruangan itu.
Marvin dan Karin tetap saja berdebat dan saling sindir dan tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Pada akhirnya Marvin berkata, "Aku masi mencintai mu Kirani" ucap Marvin dengan wajah serius.
Membuat Karin terdiam dan berdiri meniggalkan ruang itu, Marvin hanya diam melihat Karin pergi.