
Azka menatap ke arah Marvin dengan serius, "Pah aku belum bisa percaya, kalau Arga benar-benar sudah tiada" ucap Azka.
"Tapi kenyataannya Agar sudah tidak ada dan lihat ke adaan Nela sekarang" balas Marvin.
"Pah kali ini, aku tidak akan membahas tentang Nela, karena sangat sulit untuk membuat Nela bangkit kembali, itu akan memerlukan waktu yang lama. Kedatangan ku menemui Papah ingin membahas Jansen group saat ini" sambung Azka.
"Kamu benar Azka itu yang sedang papah pikiran sekarang, dewan direksi di Jansen group saat ini saling merekomendasi kan, pemimpin baru yang akan mengantikan posisi Arga" timpal Marvin.
"Kalau begitu izinkan Azka yang mengantikan posisi Arga Pah" ucap Azka dengan serius.
Marvin langsung memalingkan pandangan nya ke sembarang arah, "Kamu jangan bercanda Azka, dalam situasi seperti ini" balas Marvin.
"Aku serius Pah, apa Papah tidak percaya padaku?" tanya Azka.
Marvin kembali menatap Azka, "Aku tentu sangat mempercayai mu Azka, tapi bagaimana dengan Ricardo group?" tanya balik Marvin.
"Pah kedatangan ku kesini, aku sudah memikirkannya matang-matang, kalau Ricardo group akan aku serahkan pada orang kepercayaan papah Steven, sampai Gala bisa mengantikan diriku di Jansen group" jelas Azka.
Marvin kemudian berdiri dan berjalan duduk di samping Azka, "Azka, Papah tidak akan mencegah keinginanmu itu, karena kamu adalah pria dewasa yang memikirkan semua hal sebelum bertindak, jadi aku percayakan Jansen group padamu jagoan papah" ucap Marvin sambil menatap Azka penuh harapan.
Azka tersenyum mendengar Marvin masi manggilnya dengan panggilan kecilnya, "Papah" ucap Azka.
Marvin merangkul pundak Azka, "Azka kamu akan selalu menjadi jagoan Papah sampai kapan pun" sambung Marvin.
"Makasih Pah, atas kasih sayang yang Papah berikan selamat ini padaku" balas Azka.
"Kamu tidak ingin menemui Nela, saat ini dia butuh sahabat nya" ujar Marvin.
"Iya Pah, aku memang berencana menemuinya setelah menemui Papah" timpal Azka.
"Temui lah, saat ini Nela sedang ada di kamarnya" ucap Marvin.
"Baik Pah, aku permisi ke atas dulu menemui nya" balas Azka, kemudian meninggal kan ruangan Marvin.
__ADS_1
**
Marvin bejalan naik ke kamar Nela sambil membawa makan di piring, kemudian perlahan membuka pintu kamar Nela yang tidak terkunci.
"Nela aku masuk yah" ucap Azka, tapi Nela tidak menjawab.
Azka melihat sekeliling dan melihat Nela sedang duduk melamun di balkon kamarnya, Azka kemudian menghampiri Nela dan duduk di sampingnya, lalu meletakkan makanan yang di bawah nya di atas meja.
Nela tidak bergeming dengan kedatangan Azka yang duduk di samping nya, tatapannya menatap kosong ke depan.
"Nela, aku sangat mengerti perasaan mu, tapi Arga akan sedih melihat mu seperti ini" tutur Azka, tapi Nela belum juga bergeming.
"Nela kamu harus segera bangkit, Gala masi butuh kasih sayang Mamahnya" sambung Azka.
Nela langsung meneteskan air matanya saat mendengar nama Gala, Nela kemudian mengusap air matanya dan melihat Azka dengan tatapan kosong, "Gala, hiks...hiks... hiks... " tangis Nela kembali pecah.
Azka mengambil sapu tangan di saku jasnya, lalu mengusap air mata Nela dan menatap Nela penuh iba.
Setelah melihat Nela sedikit tenang, Azka kemudian mengambil piring yang di bawanya tadi dan menyodorkan sendok ke mulut Nela, "Nela makan lah sedikit" bujuk Azka.
Azka kemudian meninggalkan kediaman Marvin setelah menyuapi Nela makan meski tidak seberapa.
Setelah kepergian Azka, Nela masuk ke kamar Gala dan melihat Gala yang sudah tertidur di temani oleh Kirani.
Nela menatap wajah putranya, "Sayang maafkan Mamah Nak, Mamah terlalu larut dalam kesedihan dan melupakan dirimu, mulai hari Mamah akan bertahan untuk mu" ucap Nela sambil mengelus pipih Gala dengan penuh kasih sayang. Kemudian Nela berbaring di samping putranya.
**
Azka tidak langsung pulang ke apartemen nya, melainkan pulang ke rumah Zara orang tuanya.
Azka masuk ruangan pribadi nya yang tidak pernah di lihat Nela selama ini dan ruangan itu terlihat penuh dengan foto-foto Nela dan Azka, mulai mereka TK sampai Nela belum menikah.
Azka kemudian berjalan ke salah satu foto, saat mereka awal-awal masuk kuliah, di mana dirinya baru merasakan cintanya pada Nela.
__ADS_1
"Nela, aku tau saat ini kamu sangat terluka dan tidak ada satu orang pun yang bisa membantumu selain diri kamu sendiri, hanya waktu yang bisa mengobati lukamu itu, jadi aku harap kamu bisa secepatnya bangkit kembali" ucap Azka pada foto Nela.
"Aku memang sangat mencintai mu Nela, tapi aku tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk masuk dalam kehidupan mu dan akan lebih baik kalau kamu tidak pernah tau perasaan ku, jadi biar lah ku pendam sendiri rasa ini. aku akan membantu mu bangkit dari mimpi buruk mu Nela, tapi sebagai sahabat" sambung Azka.
Setelah meluapkan semuanya, Azka meninggalkan ruangan itu dan masuk dalam kamarnya, karena malam ini Azka akan menginap di rumah tersebut.
****
Keesokan harinya Azka baru saja selesai mandi dan memilih pakaian yang akan di pakainya. Azka terlihat sangat tampan dan lebih rapi dari hari-hari biasanya, karena mulai hari ini dia akan memimpin Jansen group dan harus terlihat lebih berwibawa, karena bagaimana pun Jansen group jauh lebih besar di bandingkan Ricardo group.
Azka sudah sampai di perusahaan Jansen group dan kabar tentang pengangkatan nya untuk menggantikan alm Arga sudah tersebar di suruh pegawai Jansen group. Para dewa direksi tidak ada yang berani berkomentar karena yang memutuskan adalah CEO Jansen group sendiri, lagi pula semua orang juga sudah tau siapa Azka Ricardo, seorang pria yang sudah dianggap Marvin sebagai putra nya sendiri.
Azka langsung masuk dan di samping dua orang bodyguard, Azka langsung naik di ruangan Marvin yang sudah menunggu nya, lewat lift khusus CEO.
Setelah itu Azka dan Marvin menuju pertemuan dewan direksi dan Ryan juga sudah ada di ruangan itu.
Kedatangan Marvin dan Azka di sambut oleh para Dewan direksi dengan berdiri dan Marvin kemudian duduk di kursi nya, di susul Azka duduk di samping nya, kemudian para dewan direksi kembali duduk di tempat.
Marvin melihat sekeliling dan mulai bicara, "Selamat pagi semua, kedatangan saya ke Jansen group hari ini, tentu kalian sudah mengetahui, tentang pengangkatan Azka Ricardo yang akan mengantikan jabatan Alm Arga sebagai Direktur Utama Jansen group" ucap Marvin dengan wibawanya yang tidak pernah pudar.
"Apa ada yang tidak setuju?, silakan kan beri komentar" tanya Marvin sambil melihat sekeliling.
Semuanya diam tidak ada yang berani protes, meski sebagian ada yang tidak setuju, karena mereka punya pilihan sendiri.
"Baik karena tidak ada yang bicara, jadi saya artikan kalian semua setuju dengan pengangkatan Azka Ricardo sebagai direktur utama Jansen group saat ini" sambung Marvin.
Semua nya menyahut setuju dan Marvin memerintahkan semuanya untuk meninggalkan ruangan pertemuan kecuali Ryan.
"Azka, aku percaya padamu jangan kecewakan Papah" ucap Marvin pada Azka, setelah semua orang sudah meninggal kan ruangan itu.
"Baik Pah" balas Azka dengan tegas.
"Ryan, antar Azka keruangan nya" perintah Marvin dan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Siap Bos" balas Ryan.
Tinggal lah Ryan dan Azka saling bertatapan, belum ada yang bicara.