Gadis Virgin Milik CEO

Gadis Virgin Milik CEO
SELAMAT PAGI SAYANG


__ADS_3

"Boleh, apa ade manis" jawab Ryan masi fokus menatap HPnya, tidak berani menatap Elmira yang sangat dekat di sampingnya.


"Memangnya kenapa, aku gak boleh berfikir untuk tinggal bersama pasangan ku nantinya?" tanya Elmira, baru mengingat perkataan Ryan tadi.


"Karena itu gak sehat dan akan mengakibatkan banyak penyakit" jawab Ryan masi fokus menatap HPnya.


"Kalau gak sehat, kan bisa ke dokter aja kak" Elmira kembali bertanya dengan santai.


mendengar penyataan Elmira, Ryan meletakkan HPnya dan menatap Elmira, "Ternyata pikiranmu sangat sempit, belajarlah lebih dewasa pasti pola pikir mu akan berubah" jawab Ryan lalu mengacak-acak rambut Elmira.


"Aku udah dewasa kak, buktinya yang tinggal bersama tampa ada ikatan pernikahan, di lakukan pada orang dewasa" jelas Elmira.


Ryan jadi bingung menjelaskan pada Elmira, karena pola pikir Elmira seperti banyak orang kebanyakan, "Gini ade manis, mau dengerin nasehat kakak gak?" ucap Ryan.


"Boleh, apa salahnya" balas Elmira.


"Gini dek, apa kamu tidak mikir nantinya, kalau pacar kamu meninggalkan mu sebelum kalian menikah?" tutur Ryan.


"Apa kah pernikahan akan menjamin seseorang tidak akan berpisah" pikir Elmira.


"Kamu tidak percaya pernikahan Ra?" tanya Ryan.


"Sepertinya iya buktinya Kirani, orang tuanya rela menukarnya dengan harta, dan orang tuaku meninggalkan aku, alasannya demi kebahagian ku tapi nyatanya aku tidak bahagia" tutur Elmira lalu tertawa hambar.


"Tapi kan sekarang Kirani sudah bahagia dengan pilihan orang tuanya, dan kamu bisa sekolah dengan baik berkat kerja keras orang tuamu" jelas Ryan.


"Apa ada jaminan Kirani tidak akan berpisah, dan apakah orang tuaku perna berfikir dengan pergaulanku selama ini" pikir Elmira.


Dan Ryan sekarang mengerti, kenapa pola pikir Elmira begitu tabuh, karena di sekelilingnya tidak ada keluarga harmonis.


"Sekarang aku mengerti Ra, kenapa pola pikir mu seperti itu" ucap Ryan.


Elmira jadi bingung, "Apa benar pola pikirku tidak baik" tanya Elmira.


"Kamu tidak akan sadar. Mau ikut denganku minggu ini, akan ku buat pikiranmu melihat dunia yang sesungguhnya" ajak Ryan sambil mengusap rambut Elmira.

__ADS_1


Elmira mendapat perlakuan lembut, membuatnya merasakan ada ketenangan di hatinya, kerena orang tuanya tidak ada waktu untuk memberikan itu.


"Aku mau kak" jawab Elmira sambil tersenyum manis.


Ryan yang masi memegang rambut Elmira sambil melihat senyum manisnya, ditambah paha Elmira yang terlihat jelas dan buah dadanya terlihat menonjol di balik kemeja putih yang di kenakan, karena tidak memakai dalaman, membuat junior Ryan bangkit seketika.


Ryan segera melepas tangannya di punggung Elmira dan juga segera berdiri, takut tidak bisa mengendalikan hawa panas yang menjalar di tubuhnya, yang sudah lama tidak tersalurkan.


"Tidurlah sekarang sudah malam dan kamu bisa tidur di ranjang" ucap Ryan lalu berdiri.


"Tapi kak Ryan gue masi mau ngobrol, Elmira belum ngantuk" ucap Elmira sambil mencegah tangan Ryan.


Ryan memejamkan mata, menahan hawa panas yang semakin menjalar di tubuhnya , di tambah Elmira saat ini menyentuh tangannya.


Ryan kemudian menarik nafasnya dan menghembuskan lewat mulut, lalu menoleh melihat Elmira, "Elmira, bos aku itu sangat disiplin dan tegas, kalau aku terlambat ke kantor bisa-bisa aku di kirim keluar kota" ucap Ryan selembut mungkin memberi alasan, agar Elmira tidak ngambek.


"Apa kak Marvin setegas itu, bagaiman nasib sahabat gue" gumam Elmira, tapi dapat di dengar oleh Ryan.


"Jangan khawatir, dia tidak akan tega dengan istrinya" sambung Ryan.


"Masa wanita di sofa dan pria di kasur, kebalik dong" ucap Ryan.


Elmira mengangguk lalu berjalan ke ranjang, sementara Ryan mengambil selimut di lemarinya.tidak lama kemudian keduanya sudah terlelap.


*******


Pagi hari telah tiba Kirani baru bagun lalu merenggangkan otok-otoknya, "Om Marvin ke mana yah, apa sudah berangkat?" gumam Kirani kemudian berdiri untuk ke kamar mandi.


Ternyata Kirani kesulitan untuk melangkah, "Aah kok sakit" ucap Kirani lalu baru mengingat kejadian semalam, di mana Marvin tidak memberinya kesempatan untuk istirahat.


Kirani tersenyum memegang wajahnya sambil mengingat apa yang dilakukan Marvin semalam , kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Kirani turun kebawah dan melihat Zara sedang duduk mengupas apel di meja makan.


Kirani menghampiri Zara, tapi Zara melihat Kirani menghampirinya dan menyadari cara jalan Kirani yang berbeda, "Ternyata ada yang bangun kesiangan nih, habis di marahi suaminya" sindir Zara.

__ADS_1


Kirani tidak mempedulikan ucapan Zara, dia hanya duduk di depan Zara sambil minum air.


"Apa semalam Marvin menghukum mu, hingga jalanmu bisa berubah begitu" bisik Zara.


Kirani yang sedang minum air dan mendengar pertanyaan Zara, membuatnya tersedak air, "Apa jalanku benar-benar berbeda" tanya Kirani sambil berbisik, takut di dengar para pelayan yang sedang berada di dapur.


"Apa Marvin sekejam itu dan memukulmu?" tanya Zara dengan santai sambil memakan apelnya. Tapi Kirani tidak menjawab karena tidak tau harus menjelaskan dari mana.


"Semalam aku sangat terkejut, ternyata kamu tidak sealim yang terlihat" ungkap Zara.


"Kata siapa gue alim, om Marvin harusnya bangga punya istri, seorang idola kampus seperti gue" ucap Kirani membanggakan dirinya.


"Kamu takut tersaingi dari ku, hingga harus mengatakan itu padaku" sambung Zara.


"Ngapain gue takut tersaingi ama tante Zara, jelas-jelas gue istri sahnya" balas Kirani.


"Hei berhenti memanggil aku tante, dan ingat Marvin itu Cassanova yang tidak mungkin setia pada satu cewek" timpal Zara menaikkan satu oktaf suaranya.


"Pelan kan suaramu dan ingat gue nyonya di rumah ini" ucap Kirani menekan suaranya memperingati.


"Oke aku akui kamu nyonya di rumah ini, tapi kamu tidak bisa mengusirku dari rumah ini kan" balas Zara sinis.


Tiba-tiba Marvin muncul dari ruang kerjanya dengan stelan jas rapi dan langsung merangkul pundak istrinya lalu membungkuk mencium keningnya.


"Selamat pagi sayang, baru bangun yah" ucap Marvin lembut lalu duduk di ujuk meja makan, membuat Zara yang melihatnya menjadi kepanasan.


"Sudah sayang, dari tadi" jawab Kirani lalu melirik Zara sambil tersenyum mengejek, membuat Zara merasa seperti nyamuk.


"Oh yah Vin, aku bisa ikut denganmu ke kantor kan, soalnya mobilku baru keluar hari ini?" ucap Zara.


"Boleh, bersiaplah karena sebentar lagi aku berangkat" balas Marvin.


"Oke Vin" ucap Zara sambil berdiri untuk mengganti pakaiannya, lalu melirik Kirani, membuat Kirani menatap kepergian Zara.


Marvin menggenggam tangan Kirani di atas meja, "Maaf sayang aku tidak bisa menolak sahabatku" bujuk Marvin yang melihat istrinya cemburu.

__ADS_1


Kirani tidak menjawab tapi dia langsung berdiri naik ke kamarnya, membuat Marvin bingung harus menghadapi wanita yang sulit di mengerti.


__ADS_2