
Setelah kepergian dokter itu, Marvin dan Kirani kembali berpelukan. Zara mendekati mereka.
"Marvin, Kirani aku pulang dulu, pasti Azka khawatir dengan keadaan Nela" pamit Zara.
"Hati-hati dijalan Zara" ucap Marvin.
"Iya Vin" balas Zara, kemudian ingin berjalan pergi.
"Zara tunggu" panggil Kirani, membuat Zara menghentikan langkahnya.
Kirani berjalan mendekati Zara lalu memeluknya, "Zara makasih yah" ucap Kirani sambil melepaskan pelukannya.
"Sama-sama Kirani, aku pulang yah" ucap Zara kemudian berjalan pergi.
Sementara Marvin yang melihat kedua wanita itu, terlihat terharu karena sebelumnya mereka selalu berdebat mulut.
"Kirani, ayo sayang kamu makan dulu" panggil Marvin.
Kirani menghampiri Marvin, "Kita temui putri kita dulu Vin" ucap Kirani.
"Ayo sayang" sambil merangkul pundak Kirani, kemudian keruangan Nela.
Saat ini Marvin dan Kirani sudah ada di dalam ruang rawat Nela, sementara Nela belum siuman.
Marvin yang melihat istrinya tidak ingin melepas tangan Nela, Marvin yakin kalau Kirani tidak mungkin meninggal putrinya untuk sekedar makan, jadi Marvin memutuskan memesan makanan untuk Kirani.
Tidak lama kemudian makanan pesanan Marvin sudah tiba, tapi ternyata Kirani sudah tidur di kursi sambil memegang tangan Nela.
Marvin kemudian menggulung lengan bajunya, lalu berniat membangunkan Kirani untuk makan.
"Sayang" panggil Marvin sambil mengusap kepala Kirani.
Kirani kemudian terbangun dan merasakan tangan Marvin yang mengusap kepalanya, "Sayang kamu makan dulu" timpal Marvin.
"Tapi Vin" balas Kirani, tapi Marvin langsung mengangkat keduanya lengannya untuk berdiri dan duduk di sofa.
Kirani diam saja karena dia masih sangat sedih, sementara Marvin menyiapkan makanan untuk Kirani lalu memberikan pada Kirani.
"Ayo sayang kamu makan dulu" ucap Marvin sambil menyodorkan sendok di depan mulut Kirani.
Kirani kemudian melihat Marvin, "Tapi Vin kamu juga belum makan" tanya Kirani.
"Oke kamu makan dulu baru selanjutnya baru aku yang makan" balas Marvin.
Kirani membuka mulutnya dan memakannya, kemudian Kirani mengambil sendok di tangan Marvin, lalu memberikan makanan pada Marvin.
Marvin juga makan dan pada akhirnya mereka makan bersama dan setelah selesai makan Marvin menarik Kirani untuk berbaring di pahanya.
__ADS_1
"Sayang kamu tidur dulu, gantian biar aku yang jaga Nela" ucap Marvin.
Kirani tidak bicara apa-apa, dia menurut saja baring di pangkuan Marvin, perlahan-lahan matanya terpejam.
Marvin kemudian mengambil HPnya dan melihat kabar terbaru, ternyata di luar rumah sakit sudah banyak awak Media yang menunggu dirinya.
*********
Keesokan harinya Nela sudah siuman, Marvin dan Kirani sedang berdiri di sampingnya dan dokter sedang memeriksanya, beserta dua orang suster mendampingi nya.
"Bagaimana keadaan putih saya dok" tanya Marvin.
"Keadaan Nela baik tuan Marvin, hanya saja dia harus banyak istirahat dan jangan mengatakan berita yang akan mengejutkannya dulu, sampai kesehatannya berlangsung membaik" jelas dokter laki-laki yang menangani Nela.
"Baik dok terima kasih" sambung Marvin.
"Baik saya permisi dulu" pamit dokter itu kemudian berlalu pergi.
Setelah kepergian dokter itu, baru lah Kirani terlihat tersenyum melihat putrinya, "Sayang maafkan Mami yah" ucap Kirani.
"Tidak apa-apa Mam, Nela senang karena ada om tampan di sini, jagain Mami dan Nela" ucap Nela masi lemah.
"Iya gadis manis nya Pa... Om" ucapan Marvin terputus sambil melihat Kirani, teringat kata dokter untuk tidak mengatakan berita yang mengejutkan.
"Mulai sekarang Om akan selalu bersama Nela" sambung Marvin.
"Iya sayang" lalu mencium kening Nela yang terbalut perban.
Tiba-tiba dari arah pintu datang lah Elmira dan Ryan terlihat terburu-buru, sedang membawa bingkisan Buah lalu meletakkan nya di atas meja samping tempat tidur Nela.
"Ada apa kalian, kaya di kejar setan?" tanya Kirani.
"Jangan tanya, di luar ada puluhan awak Media yang menunggu kalian" jawab Elmira.
Kirani langsung menatap Marvin dengan khawatir, Marvin lalu merangkul pundaknya, "Kamu jangan khawatir Kirani, serahkan semuanya padaku" ucap Marvin.
"Ryan katakan pada mereka untuk bubur hari ini, karena besok baru ada konferensi pers untuk mengklarifikasi yang sebenarnya terjadi" perintah Marvin.
"Baik bos, saya keluar sekarang" ucap Ryan kemudian kembali keluar dari ruangan Nela di rawat.
Elmira melihat Nela, "Apa kabar Nela manis" tanya Elmira pada Nela sambil mengelus pipinya.
"Nela baik tante, hanya saja kepala Nela sedikit sakit" jawab Nela.
"Nela istirahat yah, biar cepat sembuh" sambung Elmira.
Nela kemudian melihat ke arah Kirani, "Mam aku ngantuk" ucap Nela.
__ADS_1
"Yah sudah, kamu istirahat sayang" ucap Kirani.
Sementara di luar Ryan sedang berbicara dengan para awak media, "Saudara-saudari semuanya, besok akan di gelas konferensi pers oleh CEO Jansen group untuk mengklarifikasi semuanya, kami akan mengirim undangan kepada kalian secepatnya, jadi sebaiknya kalian bisa pulang dulu hari ini" jelas Ryan.
Serentak semua wartawan bubar dan tidak ada yang berani berkomentar lagi, kemudian Ryan menarik nafasnya lega dan kembali masuk ke dalam rumah sakit
Saat ini Nela sudah tertidur dan keempatnya sedang duduk di sofa.
"Kirani, Pak Marvin sebaiknya kalian pulang saja dulu untuk ganti baju, biar aku yang jagain Nela selagi tidur" ucap Elmira.
Marvin menatap Kirani, "Iya sayang kita pulang saja dulu" timpal Marvin.
"Iya sudah Ra kami pulang dulu, titip Nela" ucap Kirani.
kemudian Kirani dan Marvin berjalan keluar, jadi tinggal lah Ryan dan Elmira.
"Yah sudah sayang aku ke kantor dulu" ucap Ryan.
"Iya kak Ryan hati-hati di jalan" balas Elmira.
"Aku pergi" lalu mengecup bibir Elmira, kemudian berjalan keluar.
Dan saat ini Marvin dan Kirani masih ada di mobil perjalanan pulang, "Marvin kita mau kemana, ini bukan jalan ke rumahku?" tanya Kirani.
"Tenang saja sayang, aku tidak mungkin menculik mu" jawab Marvin.
"Vin aku tanya serius" sambung Kirani.
"Kita ke rumah utama sayang" ujar Marvin sambil mengusap kepala Kirani.
"Tapi Vin... " ucapan Kirani terputus.
"Jangan tanya lagi, sekarang turuti aku saja sudah cukup aku mengikuti permainanmu selama ini" ucap Marvin sambil fokus mengemudi.
Kirani langsung diam mendengar ucapan Marvin.
Setelah beberapa saat kemudian, mobil Marvin sudah sampai di rumah utama, Marvin dan Kirani langsung turun dan masuk kedalam.
Marvin langsung mengajak Kirani naik ke kamarnya dan perlahan Marvin membuka pintu kamarnya.
Kirani melangkah masuk dengan mata berkaca-kaca karena terharu, bisa kembali melangkahkan kaki di kamarnya bersama Marvin.
"Sayang aku tidak mimpikan, bisa berada di kamar ini lagi" tanya Kirani.
"Kamu tidak mimpi sayang, ini semua nyata" jawab Marvin sambil mengusap air mata haru Kirani.
"Ternyata kamar ini tidak ada yang berubah dan sangat bersih, seakan-akan ada yang tempati rumah ini" ucap Kirani.
__ADS_1
"Rumah ini memang tidak pernah kosong dan pembantu di rumah ini masi sama, yang kurang hanya raga kamu, tapi hati kamu selalu ada di sini" jelas Marvin sambil menarik tangan Kirani dan meletakkan di dadanya.